
بسم الله الر حمن الر حيم
Sekolah mulai ramai, walimurid beserta siswa dan siswi antusias. Halaman sekolah sudah dipersiapkan sedemikian rupa bahkan panggung yang tidak terlalu tinggi. Para guru sedang mempersiapkan kedatangan tamu yang akan datang kesekolah ini, dari bupati, pak camat bahkan donator disekolahnya yang akan direnovasi bahkan perlengkapan untuk merenovasi sudah sedekit demi seidkit ada disekolah. Indah dan Zahra berdiri didepan pintu masuk yang dihias.
Keduanya menyambut tamu yang datang. Hingga Indah terpaku akan kedatangan orang yang ia kenal yang beberapa minggu ini tidak pernah telihat lagi olehnya bahkan setelah berganti bulan. Begitupun sebaliknya lelaki itu juga terpaku melihat Indah ada didepannya siapa lagi jika bukan Zain.
“assalamu’alaikum.. sudah lama kita tidak bertemu..” sapanya dengan senyum ramah, Indah langsung tersadar dan menunduk kemudian mengangguk sopan.
Aina menatap gemas keduanya iapun mengambil tindakan mempersilahkan Zain untuk menempati tempat yang sudah disediakan.
“ekhem… yaampun itu kok bajunya mas Zain kok bisa samaan ya ndah.. sama kamu.. Navi gitu”, ujarnya. Indah tak menggubris hal itu sama sekali.
Setelah tamu penting sudah datang para guru juga sudah menempati tempatnya yaitu bangku paling depan, sedangkan sofa yang ada dipanggung ditempati para tamu penting beserta kepala sekolah. Acara demi acara berjalan dengan lancar, perhatian Zain tidak teralihkan dari Indah yang duduk tenang ditempatnya hingga sebuah senggolan disikunya membuat Zain menoleh pada orang yang menyenggolnya.
“belum hahal Zain” tebur Aril, Zain mengangguk mengerti
“kok kalian bisa pakek baju samaan gitu ya” ucapnya tak percaya.
“maksud lo” bisiknya
“noh.. sama-sama Navy” jawab Aril dengan tersenyum penuh arti. Zain menatap kebaya yang dikenakan Indah lalu beralih pada pakaiannya yang menggunakan kemeja Navi dengan lengang yang digulung hingga kesiku serta celana hitam yang cingkrang dari kain.
“jodoh kali ya Ril”
“ngareb aja”
“emang” jawabnya sarkasme.
Acarapun selesai, semua mendapatkan konsumsi dan beberapa tamu undangan juga sudah pada pulang kecuali para guru yang membereskan sesuatu yang harus diselesaikan hingga tuntas. Indah yang merasa lelah duduk di kursi yang sepertinya hanya sendirian disana perisis dirinya. Salah satu siswi mendatangi Indah dengan membawa air miniral gelas.
“buguru ini buat ibu” katanya seraya menyerahakn satu gelas air + sedotan kepada Indah, Indah menerimanya dengan senang hati karna dari awal acara hingga selesai ia sama sekali tidak menyentuh minuman walau disediakan.
“terimakasih cantik…”. Anak itu mengangguk lalu berlari Indah mengikuti kemana perginya anak itu hingga anak itu berhenti karna seseornag yang membuatnya berhenti dan Indah melihat keduanya yang berinteraksi.
“airnya udah RARA kasih om” ucapnya, Indah tentunya terkejut akan perkataan gadis itu, jadi air ini dari dia?” ucapnya dalam hati walau ia sudah meminumnya hingga tersisa setengah.
__ADS_1
“terimakasih ya.. oh ya menurut Rara buguru cantik gak?” tanyanya sedikit melirik pada Indah yang juga menatap mereka.
“ia cantik sekali om.. buguru cantik gak pernah marah sama kita, orang lembut dan penyayang terkadang buguru juga kasih kita hadiah kalo kita berhasil menjawab atau membuat sesuatu yang buguru ajarkan” ceritanya dengan antusias menceritakan Indah, Indah yang mendengar hal itu tertunduk malu.
“kalo sama om, bugurunya cocok gak”
“wah.. berarti yang dikatakan kak putri bener dong om.. kalo om.. calonnya buguru cantik ya”
“doain ya cantik… doain om biar buguru cantiknya mau sama om”, jawabnya. Indah beranjak dari sana dan mendekati keduanya.
“rara.. buguru boleh minta tolong tidak?”
“ia boleh.. minta tolong apa buguru?”
“minta tolong panggilin buguru Ina ya” titahnya dan Rara mengangguk iapun berlari menjahui mereka.
“maksud bapak apa berbicara seperti itu?” Tanya Indah
“tidak ada maksud lagian yang saya maksud juga bukan kamukan.. buguru disini banyak” jawabnya membuat Indah malu karna kegeran.
“oh ya.. saya juga doakan kalo gitu” Indah melangkahkan kaki hendak pergi namun berhenti kala mendengar pertanyaan yang dilontarkan Zain, dimana Indah sudah memunggunginya.
“aku sudah bilang untuk apa aku kecewa, dan untuk apa juga aku menyalah pahami sesuatu yang tidak seharusnya aku salah pahami”
“kenapa kamu selalu berkata begitu” ucapnya dengan nada dingin rahang Zain mengetat, Indah berbalik karna jengkel.
“karna diantara kita hanya sebetas kenal
bapak Zain.. jadi untuk apa aku mencampuri urusan kamu yang tidak berhak untuk aku urusi” jelasnya ia berbalik menghadap Zain.
“oh, hanya sebatas oke.. bahkan panggilan itu sudah berubah ya”
“maaf.. jika itu membuatmu tersinggung hanya saja tidak sopan rasanya memanggil dengan sebutan lama pada orang terhormat seperti anda” ucapnya sarkasme,
Zain menghembuskan nafas jengah
“baiklah terserah kamu.. aku mau Tanya sekali lagi kamu pindah kemana?”
“ketempat seharusnya”
__ADS_1
“apa karna aku”
“kenapa harus.. tentu saja tidak.. sudah seharusnya aku pindah”
“baiklah.. bisa aku tau dimana?” belum sempat Indah menjawab Aina dan Aril mendekati mereka entah bagaimanaceritanya mereka bisa datang bersamaan, Aina bergelayut manja pada lengan Indah
“ndah.. pak ruman yuk, udah lama gak makan mie ayamnya dia”
“pulang aja deh ya”
“gak pokoknya kita makan siang dulu, aku yakin kamu belum sarapankan”
“sok tau”
“tentu aku tau, sejak kamu pindah dari rumah sewa kamu tambah kurus ndah”
“perasaan kamu aja na”
“gak pokoknya kita makan siang dulu, aku gak yakin sama kamu, pulang dari sini bakalan makan, aku sudah bilang kerja boleh tapi jaga kesehatan itu juga penting”
“ia Ai.. oke kita pergi”
“kami boleh gabung?” Tanya Zain
“boleh kok..”
“assalamu’alaikum” langkah mereka terhenti saat seseorang menghentikan mereka dengan suara salamnya yang kalem.
“waalaikumslaam warahmah, eh mas Faris” jawab Indah terakhir
“hai.. apakabar kamu?”
“baik kok mas.. kapan pulang?”
“udah 1 minggu yang lalu, kata ibu kamu pindah, kenapa?”
“heum memang saatnya pindah.. mas mau ikut kami juga makan bareng di bakso pak Ruman” ajak Indah dan Faris mengangguk sedangkan Zain mengepalkan tangan kesal.
Terimakasih...😊😊
__ADS_1