
بسم الله الرحمن الر حيم
Setelah tadi pagi apa yang terjadi Indah tak menyentuh makanan sedikitpun hingga malam hari, dan kembali kekamar hotel setelah menyalami keluarga suaminya yang bahkan baru ia kenal sungguh semua itu membuatnya tidak enak makan sama sekali bahkan setetes airpun tidak berhasil masuk keladam kerongkongan dan tertolak begitu saja sebelum keperut.
Ia membuka pintu kamarnya dengan langkah lesu ia ingin bersih-bersih sekarang, saat cadarnya terbuka kini ia akan membuka kerudungnya namun urung saat ada yang membuka pintu dan mengucap salam, Indah berbalik tepat saat itu seorang lelaki bergamis putih dengan kopiyah berwarna putih berdiri tegap didepan pintu yang sudah tertutup dari dalam, Indah menatap orang itu tak berkedip karna terkejut.
“assalamu’alaikum” salamnya lagi, Indah menundukkan wajahnya, tak mengerti dengan lelaki didepannya ini.
“waalaikumsalam warahmah” jawabnya bergetar.
“In..”
“mau apalagi.. maaf jika bermaksud tidak sopan.. aku perempuan bersuami bukan perempuan laajang seperti dulu.. tolong hargai aku” jelasnya ia berbalik memunggungi Zain.
Yap lelaki itu adalah Zain, ia melihat bahu mungil itu bergetar. Zain mendekat setelah melepaskan sepatu kini kakinya hanya berbalut kaos kaki. Melangkah pasti dan kini ia sudah tepat berada didepan Indah dan benar Indah menangis, tangannya terulur hendak mengesatnya namun Indah yang perasa segera mundur tiga langkah dan mengesat air matanya sendiri.
“pak Zain.. aku tidak ingin menjadi pendosa dengan menodai pernikahanku dengan suamiku” tegasnya.
“dan aku tidak akan membiarkan wanita yang aku cintai setelah ummah menangis” jawabnya ia kembali mendekat. “ aku adalah suamimu.. suami yang baru tadi pagi menghalalkan hubungan kita didepan semua orang dan allah, aku adalah lelaki yang menjabat tangan ayahmu dengan ikrar suci” jelasnya Indah mendongak menatap lekat wajah yang kini berada tepat dihadapannya mencari apakah lelaki didepannya ini berbohong.
“bisakah kali ini untuk tidak mempermainkan hatiku lagi” Zain memberanikan diri tangannya terulur mengesat lembut pipi berair akibat air mata itu Indah memejamkan mata merasapi sentuhan Zain padanya.
“jika aku main-main aku tidak akan menginjakkan kakiku kekamar seorang gadis yang bukan mahramku, kecuali dia sudah halal bagiku. Aku tau halal haram In” jelasnya lembut.
__ADS_1
“lalu.. kenapa hanya aku yang seperti orang bodoh tidak tau siapa yang menjabat tangan ayah.. kenapa ayah memberi tahuku sehari sebelum acara itu berlangsung.. kenapa kamu tidak memberikan aku penjelasan sebelum hari ini terjadi kenapa?” sentaknya ia menangis tersedu “ aku mau kamu nikahi asalkan tidak dengan berbohongkan.. jika kamu jadi aku bagaimana perasaan kamu sekarang”
“jik aku jadi kamu yang ternyata aku juga ikut andil disini aku bahagia” jawabnya seraya tersenyum tatapannya begitu lembut seakan membius Indah menyelam hingga kedasar, Indah memukul dada bidang itu.
“hiks.. kamu bikin kesel, sejak kali pertama kamu juga suka bikin aku kesel.. hiks.. kamu menghilang gitu aja dan ketemunya sudah jadi suami aku gitu.. yaallah..” Zain terkekeh ia membawa Indah dalam pelukannya memberikan ketenangan pada hati yang sedan gelisah didepannya ini.
“ssst.. sorry.. aku akan menceritakan semuanya padamu.. tapi bisakah kita menjalani sunnah dulu” Indah mendongak dalam pelukan Zain tatapannya penuh Tanya
“kita sholat sunnah pengantin” ajaknya dan Indah menurut saja. Keduanya kembali berwhudu’ lalu mengerjakan sholat sunnah pengantin dua rakaat.
Zain berbalik menghadapkan diri didepan Indah yang menunduk.
“tak mau salam dulu, pada suamimu?” Tanya Zain tiba-tiba membuat Indah mendongak lalu menatap tangan kekar yang kini menjulur didapannya.
“assalamu’alaikum ya Zaujati”
“wa..waalaikumsalam Zauji”
“uhibbuki fillah and I love you”
“semoga allah juga mencintaimu yang mencintaiku karnanya.” Jawab Indah lugas dan mereka saling tersenyum hingga sebuah ketukan pintu membuyar keduanya. Zain bangun dan membuka pintu. Sedangkan Indah melipat mukenah dan sajadah yang keduanya pakai.
“sayang kemarilah” panggilnya
__ADS_1
“aku?” Tanya Indah menunjuk diri sendiri
“lalu siapa lagi yang mau dipanggil sayang.. istri kedua..” jawabnya menggoda Indah, kini Indah melangkah cepat dan memukul lengan itu.
“coba aja.. nanti aku juga cari madu buat kamu” jawabnya dan Zain tertawa, ia menarik tangan Indah lembut dan duduk tepat disamping Zain.
“bagus dong biar kuat nanti” Indah menatap Zain heran.
“ayo makan dulu.. kata ibu kamu gak makan sama sekali sedari pagi.. kenapa? Tanyanya kawatir.
“gimana mau makan, tiba-tiba dinikahin pemudanya aja gak tau udah dinikahin aja sama ayah gimana mau makan enak” jawab sarkasme.
He..he.. sorry, aku keburu buat halalin kamu.. aku takut kamu dibawa kumbang lain.. nanti sepulang dari sini kita akan adakan resepsi aku janji”
“sebenarnya tanpa resepsipun tidak apa” jawab Indah
“gak.. itu harus gelarlah pernikahan jika mampu, dan aku mampu buat itu agar tidak timbul fitnah dan semua orang tau kalo kita pasangan yang sudah menikah” jelasnya “udah, sekarang berdoa dan buka mulutnya” titah Zain
“Indah makan sendiri”
“nope.. tak ada bantahan ayo” titahnya tanpa bisa diganggu gugat dan Indah akur saja tak ingin berdebat lagi.
Terimakasih...😊
__ADS_1