
Indah asik bergelung nyaman di kasur dan dibalik selimut tebal, membuatnya semakin larut dalam mimpi. Zain yang baru saja selesai mandi menggelengkan kepala takjub akan istrinya yang sangat suka tidur, lebih tepatnya saat baby bersemayam nyaman diperut istrinya yang kini membesar. Sungguh demi apapun allah memberikan dia dua hadiah tak hanya satu. Dan itu memberikan rasa haru dan bahagia yang membuncah saat pemeriksaan pertamanya beberapa bulan yang lalu
*Back On
“ eh calon orang tua baru udah datang, ayo periksa” ajak Humairoh, Zain duduk sedangkan Indah yang diperiksa.
Dari denyut nadi, darah , berat badan hingga terakhir pemeriksaan usg yang mendebarkan jantung kedua orang tua yang akan menjadi orang tua itu.
“masyaallah lihat bayinya sehat, dan selamat ya udah 8 minggu ini babynya” jelas Humairoh, kedua mata Zain mengembun haru begitupun Indah sehingga tautan tangan mereka saling menggenggam erat.
“eh.. eh… tungu-tunggu”
“kenapa Ra..?” Tanya Zain panic saat nada tak enak didengar dari Humairoh.
“he..he.. sorry.. bukan masalah kok, hanya saja yaallah tabarakallah ya Indah Ka Zain allah titipkan dua malaikat kecil buat kalian, lihat ada dua kantung disana” tunjuk Humairoh dan calon orang tua itu menangis haru, Zain juga sempat sujud syukur.
Back Off*
Zain tersenyum mengingat kejadian itu, dan kini tak berasa usia kandungan istrinya sudah mencapai 4 bulan, bahkan hari ini keluarga dari Aceh dan keluarga dari Jawa akan datang untuk mendoakan ibu dan anak itu diacara 4 bulanan besok.
“hey putri tidur bangun yuk” ujar Zain lembut dan membangunkan Indah dengan mengusap pipinya, Indah yang memang perasa walau kebo sejak hamil tetap mudah dibangunkan.
“euh.. udah jam berapa ji?” Tanya Indah serak suara khas bangun tidur.
__ADS_1
“hampir dzuhur sayang.. bangun yuk.. bentar lagi kita jemput keluargakan dibandara atau Uja disini aja is…” Indah langsung bangun memotong perkataan Zain hingga ia meringis mengusap perutnya karna ceroboh.
“sst.. sorry sayang.. ummi lupa” lugunya, Zain yang sempat kawatir jadi terkekeh kecil.
“masih sakit sayang?” Tanya Zain dia juga ikut mengusap perut yang menonjol besar itu tidak seperti hamil 4 bulan biasanya.
“heum.. tapi kalo udah Uji yang usap mereka jadi tenang,”
“boh ia dong mereka tau kalo yang usap tangan biyanya.., udah yuk mandi.. Uji udah siapin air hangat buat kamu”
“eh.. maaf ya, gara-gar aku suka bubuk kamu lebih banyak bekerja dirumah” ucap Indah tak enak hati.
“udah sayang.. ini sama sekali gak berat buat aku lakukan, jadi its okey.”
“eh…” Indah seperti ragu mengatakannya
“ini.. baby pengen digendong biyanya kekamar mandi” cicit Indah, Zain tergelek.
Ia mencium gemas perut istrinya dan benar ia langsung membopong tubuh yang kini berisi itu.
+++++
Indah dan Zain menunggu kedatangan keluarga dari Aceh dan Jawa. 15 menit menunggu mereka datang yang mana keluarga dari Jawa timur datang terlebih dahulu.
“yaallah ibu ayah.. Indah kangen” pekiknya senang lalu memeluk kedua orang tuanya sekalian.
__ADS_1
“is pelan-pelan nak.. kasian anak kamu nanti.. cucu nenek itu!” ucap ibunya, Indah mengurai pelukan dan tersenyum konyol.
Zain juga dipeluk melepas rindu dengan adik iparnya juga yaitu Bayu yang kini sudah besar tinggi jangan lupa sudah kuliah juga.
“yaallah adek mbk udah bongsor aja”
“is ialah.. mbk aja udah mlendung gini. Uh.. ponakan aku” ucapnya haru seraya mengusap pelan perut kakak perempuannya, kaka beradik yang bertengkar hanya bercanda dan dekat satu sama lain. Ada kakak sepupu dengan suami dan anaknya, serta saudara dari ibu dan ayahnya juga ikut beberapa. Tak lama setalah 5 menit keluarga dari Aceh juga datang. Bahkan kakek dan nenek kedua orang tua abah dan ummah juga datang. Syifa yang kuliah di disainer diParis kini ikut pulang.
“hua… teteh aku kangen” pekiknya senang ia hendak menubruk kuat tetehnya itu namun urung saat melihat perut tetehnya besar ia menatap binar perut kakak iparnya dan mengusapnya gemas.
“masyaallah ponakan aku udah besar aja diperut umminya.. uh gak sabar lihat sikembar gimana nanti”
“kamu gak salam abangmukah” celetuk Zain
“gak usah tak kangenpun” lugasnya membuat Zain mencebik, Syifa terkekeh lalu memeluk abangnya itu.
“selamat ya pak tua udah mau jadi ayah aja”
“pak tua.. abangmu ini masih mudalah”
“yelah-yelah..” ia menatap putra adik iparnya yang jika bertemu keduanya bagaikan tom and jerry.
“eleh.. ada di juga” sindirnya. Dan seperti terlihat Bayu hanya menampil wajah dingin dan datar entah kenapa jika didepan Syifa Bayu berubah menjadi dingin dan datar itulah kenapa Syifa sering jengkel dibuatnya.
“yasudah kita pulang” ajak Zain 3 mobil dengan sopir memuat dua keluarga yang menjadi satu itu.
__ADS_1
Terimakasih....😊😊