
بسم الله الرحمن ارحيم
Pesanan datang, Zain menoleh kesamping kiri, matanya terbelalak saat istrinya tak ada disana.
“allahuakbar” pekiknya tertahan ia meraup wajahnya frustasi.
“loh istri kamu kemana A’?” entah kenapa Sila tersenyum tipis dan senang saat istri sahabatnya tak ada disana lagi.
“aku pergi dulu sorry” pamitnya dan beranjak dengan tergesa-gesa dari sana, belum sempat Sila mencegat Zain sudah pergi dari sana.
“mas lihat istri saya?” tanyanya pada salah satu pramusaji
__ADS_1
“yang pakai gamis abu-abu itukan mas, dengan tas selempang berkarakter kucing” Zain mengangguk antusias, ia panic sekali bahkan.
“ia tadi ia menangis dan pergi mengendarai sepeda motor yang sepertinya memang miliknya. Makanya mas.. jangan disisian selagi dia masih ada disisimu.. jangan mendaftar dalam kata penyesalan” ujar lelaki pramusaji itu dan pergi meninggalkan Zain.
Zain berlari dan beruntung ia mendapatkan ojek jadi ia meminta tukang ojek agar cepat. Dengan melihat jam tangan dan benar ia mengabaikan istrinya selama setengah jam ditambah ia baru tau ada perasaan sangat merasa bersalah kali ini.
Zain turun dari ojek ia memberikan uang yang tidak ia lihat jumblahnya dan situkan Ojek ingin memberikan sisa namun uang 50 ribu itu tidak jadi disisa kala si pemilik sudah berlari memasuki rumahnya. Bahkan saat bayar sotonya yang masih belum tersentuh itu Zain membayarkan uang 100 ribu.
“maaf sayang… maafin aku” ucapnya lirih, saat Zain hendak mendekat dan mencium kening istrinya mata sembab yang semula terpejam kini terbuka.
Zain terhenyak saat air mata lolos dari sana, tangan Zain terangkat hendak mengesat air mata itu namun dengan cepat pula Indah menepisnya lembut dan mengesat air mata itu sendiri tapi tetap saja air mata itu dengan nakalnya kembali mengalir.
__ADS_1
“yaallah.. astgafirullah” lirih Indah serak, ia bahkan berbalik memunggungi Zain yang matanya juga berkabut “ allah.. allah” lirih Indah lagi.
Entah kenapa Zain merasa ada yang menusuk jantungnya secara kasar ditambah ada beban berat yang menghimpit hatinya. Zain mengusap air matanya kasar ia naik kekasur berbaring disisi istrinya walau tersisa sedikit dan merengkuh istrinya yang kini bergetar hebat dengan isakan yang memilukan hati.
“sst.. maaf sayang.. maafin aku” ujarnya parau, tak ada jawaban dan hanya isakan disana yang semakin membuat hati Zain terluka.
“ma..”
“aku mohon kali ini jangan bicara dulu Ji.. pliss” pintanya dengan suara tersendat-sendat karna menangis “ aku lelah.. susah nafas jika kamu terus bersuara aku tak akan berhenti menangis, dan itu membuat aku susah bernafas pliss. Jangan mengatakan apapun” pintanya lagi, dan Zain menuruti, ia merengkuh lebih erat dengan kepala yang ia benamkan kekepala istrinya dan malam itu hanya diisi tangis kedua sejoli yang lebih parahnya Zain merasakan sakit saat wanita yang ia jaga dan cintai menangis karnanya ‘ maafin aku sayang’ gumam batinnya.
'Terkadang orang memilih untuk diam dalam amarah dan ada juga orang yang meluapkan amarah. Namun seseorang yang bijak lebih memilih diam agar kemarahan tidak meluap sehingga timbul masalah baru.'
__ADS_1
Terimakasih....😊😊