
بسم الله الر حمن الز حيم
Mbk Sin dan Putri sudah pulang, Zain duduk di bangku teras ditemani kopi latte yang sudah menjadi candunya begitupun dengan kripik kentang buatan Indah yang juga ia bawa keapartementnya yang Indah kasih untuknya.
Zain mengalihkan padangannya dari telfon kesamping tepatnya pada Indah ia menilisik dari bawah keatas, gamis berwarna peach dengan hiasan bunga-bunga kecil pada gamis serta kerudung senada yang menjuntai sampai perut yang dibelakang hingga paha, selempang lucu kecil berwarna hitam terpasang apik disana. Zain mengenyit menatap Indah.
“mau kemana, In serapi ini?” Tanya Zain, Indah yang baru saja selesai mengunci pintu menatap Zain.
“pergilah sekarangkan Weekand sekalian ke mall kota mau beli kebutuhan rumah om” jawab Indah, membuat Zain bersorak dalam hati ‘ kesempatan, tanpa diminta dia yang ngajak walau tersirat’ dalam hati.
Padahal gak ada niatan buat ngajak Zain pergi dengannya dengan maksud tersirat apapun.
“ih om kenapa senyum-senyum sendiri begitu?” Tanya Indah merasa aneh pada Zain seraya memasang helmnya itu, Zain tersenyum namun senyuman itu pudar berganti kernyitan dikening.
“ih aneh deh.. tadi senyum-senyum sendiri sekarang mengernyit, om sakit ya?”
“gak.. itu kenapa kamu pakek helm”
“mentaati peraturan berkendaralah om” jawab Indah seraya melangkah menuju garasi
“tunggu.. kamu mau naik sepada ke kota” Indah menghentikan langkahnya karna Zain ia mengangguk.
“emang naik apa kalo gak naik sepeda om. Tau sendirikan Indah gak punya mobil”
“ada mobil akukan.. gengsi sekali cuman bilang ‘minta tolong anterin ya om’ gitu” ucapnya, seraya menirukan suara indah yang kecil.
__ADS_1
“niatnya emang mau berangkat sendiri kok om, dan kebiasaan juga setiap weekand, lagian Indah gak mau lah berduan dimobil sama om”
“tapi resiko bawa motor sendiri kekota In” nasehat Zain kukuh dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Indah.
“gak papa sudah biasa om.. ada allah yang selalu melindungi kita, udah ah,. Entar keburu siang dijalan kan jauh”
“maka dari itu naik mobil aku ya” usaha Zain
“om…” pinta Indah mengkeret, Zain menghembuskan nafas frustasi ia lupa jika gadis mungil didepannya ini keras kepala.
“oke.. baiklah aku akan ikutin kamu dari belakang”
“serah om deh.. yaudah aku keluarin motor dulu”
“aku gak bisa nyetir om”
“oh oke.. oke..” putusnya.
Merekapun berangkat dengan kendaraan masing-masing dan sesuai kesapakatan makasudnya keputusan Zain, Zain membututinya dengan mobil dibelakangnya. 30 menit perjalan merekapun sampai kekota. Indah memasuki pintu gerbang disebuah gedung yang tdak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, Zain tak banyak bertanya ia menunggu dimobil karna malas turun, dan benar Indah hanya sebentar 10 menit didalam.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka lagi 15 menit mereka berhenti lagi kali ini Zain ikut ia malas menunggu di mobil, ingin tau juga apa yang Indah lakukan di sebuah rumah yang terbagi beberapa ruang disana bukan kamar namun ada beberapa ruangan khusus menjahit, ruangan kedua memotong kain, ketiga menyetrika yang sudah jadi, keempat packing dan dibagian pusat khusus marketing dan Indah masuk kesana Zain menunggu diluar, salah satu orang disana menyuguhkan kopi hitam dan kripik singkong, Zain mencicipi itu namun tak menikmati karna tak seenak kopi latte Indah.
20 menit menunggu akhirnya Indah keluar kali ini ia gatal ingin bertanya.
“kamu ngapain kesini, bukannya hanya staf ya yang boleh masuk?” Tanya Zain saat Indah duduk disebelah meja yang tepat disisi kiri
__ADS_1
“ia memang”
“terus”
“kalo hanya staf yang beloh masuk lalu aku berarti?” tanyanya balik
“staf juga” Indah mengendikkan bahu
“om masih capek?”
“gak sih tadi yang aktivkan kamu aku cuman ngintilan kayak bocah ikut maknya kepasar” sontak jawaban Zain membuat Indah tertawa
“ada-ada aja om.. ini.. kita kemasjid diBandung itu ya om.. udah mau menjelang Dzuhur sekalian makan siang setelahnya”
“oke sip” dengan semangat Zain bangun diikuti Indah yang merasa aneh dengan pria didepannya ini. Malam hari keduanya sampai dirumah Indah, sebelum Zain pulang Indah berkata.
“eumh.. om.. maaf jika perkataan ini membuat om tersinggung cuman…”
“aku ngerti In.. terimakasih sudah diingatkan” jawabnya ia mengerti apa yang Indah cemaskan, memang tidak baik jika dia setiap hari kesini tanpa status apa-apa apalagi dia dan Indah bukan mahram, hanya sekedar kenal dari suatu takdir yang tidak keduanya sangka.
“jika begitu aku pamit ya.. tidurlah dengan nyenyak jangan lupa berdoa, dan jangan lupa kunci semua pintu dan jendelanya assalamu’alaikum” pamitnya,
“eum.. ya om.. terimakasih atas pengertiannya hati-hati waalaikum salam warahmah.” Jawab Indah.
Terimakasih...😊😊
__ADS_1