
"A number you can not remember and a pluto of darkness"
134340 - BTS
- RING MY BELL -
Sebuah tangan gagah nan kekar membawa diri guna meraih secarik pemberitahuan yang tergeletak mesra pada hamparan meja. Demikian disinyalir sebagai undangan pernikahan yang sebenarnya tidak ingin dirinya ungkit, semenjak lembaran bernuansa mewah pun anggun itu telah sampai di tangannya beberapa hari lalu.
Dan hari yang tak ingin dinantikan itu telah tiba.
Selagi kedua bola penglihatannya sibuk menggiring lengkungan di antara rangkaian huruf canteria nan indah, yang berhiaskan tinta perak bergaya modern pun menambah kesan elegan dengan lembaran yang beraromakan melati menenangkan itu, dirinya menemukan nama yang sedari awal tengah berhilir mudik dalam kepalanya. Ukiran dari kedua sudut ranum gadis yang identitasnya tertulis dalam undangan itu, kembali menyambut buruk pemikiran sosok tersebut.
"Jun?!"
Cukup sepenggal panggilan tersebut yang terngiang jelas dalam lembaran memori sosok semampai itu. Kendati tak dapat terelakkan jika sebutan dari pribadi yang mana, nama pun marganya tercetak tebal dalam gelaran undangan yang berada dalam genggaman tangannya itu, mampu membuat setiap sudut hatinya merasakan sensasi kehangatan.
Jun suka itu.
Menyukai setiap kali sebutan itu terlantun dari bibir merah bersemu basah gadisnya kala itu. Panggilan yang diperuntukkan pun tertuju hanya untuk dirinya seorang dari gadis itu. Panggilan yang memiliki makna tersendiri bagi Jun, jika gadis itu yang menyuarakannya. Sangat menentramkan kalbu, pun gendang telinganya selalu bergetar saat merekam vokal menyejukkan hati itu.
Namun tidak demikian sama lagi getarannya, saat pendengarannya merangkum semua varian nada yang teralun untuk sekedar menyapa bagaimana dulu suara itu memanggilnya. Terasa kosong tak bermakna, tak lagi hangat. Hanya mampu melukai hatinya yang tak kunjung mengering. Menyisakan satu perasaan yang terasa gersang.
Entahlah! Bagaimana cara Jun mengungkapkan perasaan tersebut. Terlihat seperti meminta sebuah ketenangan pun penjelasan secara bersamaan.
Dan detik ini juga rungunya meminta untuk diperdengarkan lantunan namanya dari gadis yang sebentar lagi akan berakhir di kursi pelaminan. Bukan dengan dirinya, melainkan dengan seorang lelaki yang bahkan pribadi Jun tak mengenal sebelumnya.
Segalanya terasa ambigu bagi pemahaman yang selama ini Jun dalami. Semua hal yang terjadi begitu aneh, ada sesuatu yang mengganjal dalam benak Jun saat gadis yang telah menjalin hubungan dengannya bertahun-tahun lamanya itu mengucapkan kata putus pun kalimat yang terdengar seperti untaian perpisahan dari gadis itu.
Dua tahun.
Entah benar atau tidak. Yang jelas, kurang dan lebihnya dua puluh empat bulan sudah Jun dan gadis yang telah meluluhlantakkan seluruh dunia lelaki itu, menasbihkan diri mereka sebagai pasangan kekasih. Bahkan lagi dan lagi ingatan Jun dirundung akan kenangan-kenangan yang sepertinya akan tetap melekat dalam sanubarinya—seberapa keras Jun ingin mengabaikannya.
Akan sangat membantu jika otaknya hanya memutar masa-masa dimana mereka ditempatkan dalam perdebatan atau hal-hal buruk lainnya. Dengan begitu Jun mempunyai secercah alasan untuk membuang kesempatan dalam mengingat indahnya saat-saat bersama kekasihnya, ah baiklah mantan. Mantan kekasih lebih tepatnya.
Lantas melupakan gadis itu dengan sejuta kebencian yang terjalin dalam jiwanya, alih-alih menggunakan daya ingatnya untuk kembali menghidupkan fase yang sempat menjadi detik-detik paling membahagiakan saat bersama gadisnya dahulu.
Namun bisa apa Jun? Jika partikel dalam otaknya menolak menebar kebencian terhadap sang gadis.
Pun saat dimana gadis itu memberanikan tekadnya untuk menguntai kalimat, yang bertujuan agar Jun menjadi penopang hatinya suatu hari nanti. Ya, Jun membangkitkan kenangan saat kekasihnya melamar Jun dengan segala kegugupan yang melanda. Meskipun setelahnya begitu banyak kebahagiaan, sesaat setelah lisan gadis itu sukses meloloskan kata demi kata yang Jun yakini, sudah dirangkai sebelumnya
"Mau menikah?!"
__ADS_1
Jun ternganga mendengar penuturan yang terkesan seperti pengajuan diri daripada sebuah ajakan. Mengulas senyum menawannya, Jun suguhkan kala itu—tidak habis pikir saja.
"Kau melamarku?", Jun bertanya dengan detak kejutnya.
"Apa terdengar seperti itu?"
Jun bisa merasakan gadisnya sedang gugup kala itu. Jun suka—menggemaskan.
"Denganmu?", Kata Jun.
"Tentu saja. Dengan siapa lagi kau akan menikah kalau tidak denganku, huh?!", Gadis itu mendelik tajam, tidak terima dengan ucapan Jun.
Imajinasi yang sangat menggembirakan bagi benak Jun kala itu. Kendati menjadi rancu untuk keberlangsungan hidupnya sekarang ini. Dari banyaknya denting waktu pum musim yang sili berganti. Bagaimana bisa Jun melupakan dengan begitu mudahnya setelah siang dan malam yang mereka habiskan? Bahkan tiada waktu yang mereka hidupkan tanpa bersama.
Semakin pikirannya ingin memberontak terhadap semua nostalgia itu, semakin sulit pula hatinya menolak lupa akan kebersamaan yang keduanya habiskan satu sama lain.
Penjabaran akan gambaran dan deskripsi perihal kecamuk tersebut, cukup untuk memberikan informasi mengenai sosok yang nampak hancur didepan sebuah lembaran berdesain itu. Binaran lembut yang dipancarkan sesaat menit telah berlalu meninggalkan balutan menghangatkan itu. Menjadikan sorotan yang sarat akan luka yang tak terlihat secara kasat mata.
Jika saja kata 'menghilang' mampu terealisasikan dengan konotasi yang sebenarnya. Jun sangat menginginkan untuk tenggelam di kedalaman Antartika, agar seluruh syarafnya dibekukan oleh dinginnya suhu.
Pun dirinya akan sangat berterima kasih, jika saja bumi ingin bekerja sama agar menelannya bulat-bulat sekarang juga. Tak ayal hanya agar dirinya mampu mematikan semua kepedihan yang menghantam relungnya bertubi-tubi, tanpa ada niatan untuk mengajukan rasa toleransi lagi.
Disaat banyak khalayak yang menginginkan untuk menjadi bagian dari tamu kehormatan pun saksi bisu pertautan bulatan cincin yang tersemat di kedua jemari manis di acara perhelatan termegah dan terbesar sepanjang tahun ini—Royal Wedding yang diadaptasi dari pernikahan Pangerang Henry dan Meghan Markel. Mungkin?!
Pupil yang bergetar dengan semburat merah menahan buncahan yang siap meledak, seperti ranjau yang akan membombardirkan seluruh jangkauan dengan adanya sedikit benturan saja.
Disandingkan dengan genggaman yang semakin mengerat, pun secara otomatis menciptakan guratan acak. Berakibat pada gelaran kertas yang bertahtakan goresan nama pun marga, yang sangat menyebalkan untuk direkam oleh kedua belah displaynya itu terlihat sudah tidak lagi menilik keindahan pada sudut yang diberikan remasan yang teramat kuat.
Sebagai pelampiasan tidak terima dengan kenyataan yang menghantam keras kesadarannya, bersikeras menyingkirkan kedukaan yang memilin pendaran Jun. Seakan menunjukkan betapa mendominasi bagi jiwa dan raganya, saat kekalutan menyentak pemahamannya sendiri.
Tentu, lelaki bernama Jun itu bukanlah pribadi yang mudah terlena akan kelemahan ataupun keterpurukan tanpa alasan yang mendasar untuk membuat dirinya terperosok dalam jurang kehancuran pada hidupnya.
Bisa kau bayangkan?
Betapa hancur dunia yang dirimu bangun susah payah. Setinggi bagaikan bangunan pencakar langit dan dalam hitungan detik berubah menjadi rata dengan tanah. Dan reruntuhan itu menimpa diri Jun. Seolah tidak mengizinkan dirinya mencuri udara penghidupan pun terbebas lepas dari tumpuan yang bisa memutus jiwanya kapanpun relungnya terguncang oleh tekanan menakutkan bagi lembaran hidupnya itu.
Buliran bening yang tertahan dalam getaran kedua pupil itu nyaris berselancar ria menuruni peraduannya. Jika saja sentuhan lirih terkesan lembut menenangkan itu tidak lekas menginterupsi kedua bahu Jun yang juga terlihat bergetar menahan rasa sakit yang merajam hatinya, yang sudah mati sedari dambaannya meninggalkan tempat bersemayamnya tanpa sepatah kata apapun.
"Kau tidak ingin menghadiri acara pernikahannya?", Vokal yang begitu menghangatkan suasana itu, tak lagi melegakan seluruh sudut relung Jun.
Yang ada pribadi Jun tersadarkan oleh kenyataan bahwa dirinya akan dibabat habis oleh realita yang akan terencana beberapa jam, dimulai dari pijakan yang tak lekas merenggangkan diri dari hamparan ubin.
__ADS_1
Raga yang tak lagi memiliki daya tenaga itu hanya bisa menggelengkan kepala dengan lirih. Seolah tidak ada lagi yang tersisa dalam setiap hembus nafasnya yang mulai memberat dengan dada bidangnya yang terasa dihantam beban berton-ton beratnya. Pasokan oksigen yang sangat menipis dengan dirinya yang tidak yakin akan kemampuannya untuk kembali menjalankan tugasnya sebagai manusia setelah kejadian hari ini. Yaitu tetap hidup demi satu anugerah disampingnya, yang tersisa dalam setiap hembusan udara yang menemani jalannya kehidupan.
"Pergilah! Temui dia dan berikan selamat untuknya. Jangan membuat dirimu merasa menyesali keputusanmu suatu hari nanti! ", ujarnya sebelum melanjutkan,
"Mungkin...hari ini menjadi kali terakhir bagi kalian untuk bertemu dan mengucapkan salam perpisahan sebelum kau pergi dan dia menikah", entah mengapa Jun merasa kalimat yang tertangkap rungunya sangat menyakitkan untuk sekedar dipahaminya lebih lanjut.
"Eomma—", Jun membuka diri, "Aku tidak bisa melakukannya. Sangat menyakitkan untuk menemuinya", Jun mengadu bahwa dirinya berada dalam titik terendah dalam hidupnya kepada wanita paruh baya didekatnya secara tidak langsung. (Ibu)
Dengan sekuat hati agar tidak meneteskan cairan memalukan bagi dirinya dihadapan sang ibu, dengan obsidiannya yang menatap hancur pada penyemangat hidupnya itu-terutama disaat-saat seperti ini tengah melanda pikirannya.
Pun dibalas dengan sunggingan menguatkan dari sang ibu, "Bukankah kau sudah berjanji untuk selalu ada disampingnya apapun hubungan kalian? Dan saat ini waktu bagimu untuk membuktikan janji itu"
Jun tertunduk lemas tak bertenaga, untuk sekedar menyapa baik sorot mata sang ibu pun hanya mampu terdiam seribu bahasa. Bukan berarti Jun menghiraukan perkataan yang teralun dari bibir cekatan wanita berumur itu.
Tatkala isakan tercipta diantara keheningan yang menyergap ruangan bernuansa sederhana itu, sudah menjadi jawaban bagi sang ibu untuk memahami benar bagaimana perasaan yang terdengar menyayat hati bagi wanita itu melihat buah kesayangannya tertempa masalah yang menitikberatkan pada rasa sakit yang menikam tajam hatinya.
"Aku tidak sanggup! Aku benar-benar tidak sanggup, Eomma!", Rintihnya yang terus menerus mengulang kalimat yang ranumnya utarakan dikala hati pun pikirannya tak seirama untuk menorehkan sebuah keputusan—Jun teramat menginginkan untuk bertemu pandang dengan gadis yang sudah tak lagi menjadi gadisnya itu, namun apalah maknanya jika relung kalbunya tidak ingin menyaksikan pernikahan sang mantan.
Sang wanita mengulurkan lengannya guna meraih tubuh yang lebih tinggi darinya itu untuk direngkuh dalam hangatnya kasih sayang seorang ibu.
"Ucapan selamat atas pernikahannya. Ibu yakin, dia akan senang hanya dengan kehadiranmu saja. Bahkan dia akan lebih bahagia, jika kau datang sebagai kejutan ulang tahunnya. Kau tidak melupakannya, bukan?", himbau sang ibu.
Tentu saja. Bagaimana bisa Jun melupakan satu fakta tentang hari kelahiran gadis itu? Tidak akan pernah bisa. Jun ingat betul, dimana dirinya ditodong dengan ratusan pemaksaan untuk dirinya menyumbangkan berbagai bingkisan kado untuk bekas kekasihnya itu. Pun demikian tidak ada kepuasan dari sang mantan, saat Jun belum memberikan satu hal istimewa dihari pertama gadis itu menyambut dunianya
"Aku tidak akan berhenti meminta hadiah jika kau tidak melakukan satu hal untukku!", Rengeknya manja.
"Apa?!", Bingung Jun kala itu.
"Cium aku...disini!", Pinta sang mantan dengan jemarinya yang menunjuk-nunjuk bibirnya basahnya, dengan memaju-majukan bongkahan kenyal itu agar Jun segera mewujudkan permintaannya itu.
Sesederhana itu. Bahkan masa itu, Jun tak dapat berkata-kata dengan kepolosan pun kesederhanaannya dalam mencipta sebuah permohonan—gemas bukan main.
Beberapa detik setelahnya, Jun tidak lagi bisa membendung derasnya air mata yang sejak tadi sengaja dirinya tahan agar tak pecah disaat-saat menyulitkan bagi dirinya dan juga sang ibu. Jun terlampau paham jika wanita dalam pelukannya ini, diam-diam meluruhkan bulir kristal yang sama dengannya—melampiaskan tangisnya dalam bisu. Bukankah situasi tersebut dirasa berkali lipat lebih menyakitkan? Teramat.
Kendati banyaknya jumlah sekon telah menjadi duka, disaat sepasang anak dan ibu itu telah tenggelam dalam larutan kepedihan. Dekapan yang semakin menguat, tatkala kedua insan itu saling beradu tangis.
Pun rengkuhan telapak Jun pada selembar kertas tebal itu lambat laun mulai meregang, lantas terhampar di atas dinginnya lantai. Menampilkan dua identitas yang menjadi highlight hari ini. Terpahat begitu epik pada cover undangan, secara berdampingan.
Lee Yunki
&
__ADS_1
Rabella Kim
- RING MY BELL -