RING MY BELL

RING MY BELL
23. Louder than Bombs


__ADS_3

"Di lautku yang tenang, terkadang ombak akan menerjang"


Louder than bombs - BTS


- RING MY BELL -


Cahaya Lazuardi mulai berebut peran layaknya kumpulan massa yang menyela celah dengan metode paksaan. Tak sanggup mematahkan praduga, bahwasanya dunia tengah bersiap memulai lembaran baru. Suara ricuh kepakan burung pun mendominasi atap bumi di pelataran distrik terelite sepanjang kawasan.


Semerbak Doenjang Jjigae yang menggugah kesadaran Bella. Entah, sejak kapan raga Bella tengah terpatung di depan daun pintu dengan jemari yang enggan melepaskan tautannya pada gagangnya. Masih mencerna apa sekiranya yang dirinya lewatkan, sampai membuat ketidakmungkinan yang membenarkan adanya kemungkinan, benar terjadi.


Ah, benak Bella tidak ingin berpikir impulsif dengan apa yang berporos pada sel otaknya. Menolak percaya bahwa dirinya memang ditempatkan pada naungan, yang semalam terlampau ingin dirinya singgahi.


Ingatkan Bella untuk mencubit epidermis nya untuk mendukung prasangka buruknya, "Akh!", Benar saja. Bella tidak sedang mengarungi samudra mimpinya.


Tidak untuk sekarang, karena lagi-lagi Bella dibuat bimbang dengan kemunculan wanita paruh baya yang menenteng mangkuk seukuran genggaman dengan menghalau kepulan panas itu di atas papan meja.


Kumohon!—jangan libatkan pacuan jantung Bella yang seolah melupakan peran intensitas normalnya. Gerak bola matanya tak teralihkan, bagaimana Bella memeta dengan teliti jika memang penglihatannya tidak mengalami gangguan.


"Jun, cepatlah! Nanti kau terlambat", teriak sosok itu memperingati.


Benar. Tidak salah lagi, memang Jeon Sunhi yang Bella rangkum dalam binar paginya. Bahkan nada keibuan masih Bella temukan dalam kehangatan keluarga kecil Jeon ini.


Salahkah Bella telah terbius oleh keadaan dengan merancang diri untuk mengikuti nalurinya. Meniti puluhan anak tangga dengan jutaan kepercayaan diri yang meruah. Tidak menggugah niat untuk menilik lebih jelas bagaimana penampilannya yang jauh dari kesan mempesona pun berkelas.


Namun, titiannya terhenti. Secara tidak sadar telah menjadikan Bella menegang di tempat. Pijakan yang menggantung di udara itu, nampak memperlambat proses perjalanan tatkala merekam satu lagi sosok yang sudah berpakaian rapi.


Dengan satu kepalan yang bersembunyi dibalik saku piyama yang dikenakannya, Bella benar-benar membisu seribu bahasa di tempat. Bergeming dengan cara mengatur deru nafas yang mendesak tak berdinamika. Berkedip dalam pengamatan yang tentunya mengandung pemahaman yang kadarnya menipis.


Apa mereka yang membeli rumah ini?


"Eomma, sedikit saja. Aku harus cepat, jika tidak aku bisa terlam...", Protes Jun yang tak sanggup melanjutkan kata.


Jun tidak menghadirkan sebuah kejut dalam dirinya, hanya—Ah, ternyata sudah bangun.


Berharap lah ada satu dua patah kata yang menginterupsi diantara Bella dan Jun tatkala mereka melahirkan tatap. Hanya dua pasang iris yang saling pandang, tak lebih. Jangan harap ada makna dibalik kebisuan mereka.


"Cepatlah! Kau bilang tidak ingin terlambat"


Melihat sang putra tak gentar menghadapi terjangan kalimat titahnya. Sunhi terangkat hatinya untuk sejalan dengan pandangan Jun bak komando yang tak boleh terlewatkan. Hingga akhirnya terlukiskan sunggingan lembut, sama persis dengan apa yang Bella rekam dalam memorinya beberapa tahun yang lalu. Lahirnya lengkungan di kedua sisi bibir Sunhi, dengan senyum sumringah layaknya seorang ibu yang mendapati sang buah hati belajar berjalan dengan lincah untuk kali pertama.


"Bella, kau disini?! Kemarilah, kita sarapan bersama!", Girang Sunhi mempersilahkan Bella mendekat.


Dengan senyum paginya, Bella mencipta langkah guna menghadap bumbungan uap dari berbagai varian lauk yang nampak menarik minat. Namun hitungan detik belum sepenuhnya terselesaikan secara sah, tungkai Bella harus benar-benar menghentikan laju pijaknya. Tatkala rungu yang tertutup helaian surainya mendengar dengan jelas, bagaimana Sunhi kembali berujar,


"Kapan kau berkunjung? Seharusnya memberitahu Ibu, supaya Ibu dapat menyiapkan makanan kesukaanmu", tanpa menoleh bagaimana guratan resah tercetak pada visual Bella.


Bella jelas mengerjap tidak percaya, akan keadaan yang melingkupi paginya. Pikirannya telak memaki—shit! Sepasang bola penglihatannya menerawang jauh dengan menekan penuh afeksi pada bibir bawahnya.


Apa mungkin...


"Kau masih menyukai Galbitang buatan Ibu?", Sunhi meluapkan pertanyaan dengan dirinya yang sibuk menata perkakas makan yang akan Bella gunakan untuk bergabung santap pagi.


Tak ada setitik pun respon yang Bella canangkan. Neuron dalam sel berpikirnya berupaya menyudutkan kemungkinan yang Bella dapatkan dari penuturan Sunhi kala detik sebelumnya.


Ah, tidak mungkin...


"Ah, bagaimana mami bisa melewatkan kesempatan untuk menyambut kedatanganmu, huh?!", Ungkapnya menyimpan rasa penyesalan pun kesedihan lantaran tak banyak menghabiskan waktu mengetahui kehadiran sang putri, Bella.


Jadi, benar?!—benar Jun yang...?!


Sejurus dengan keterkejutannya. Bella dengan cergas memandang penjuru raganya, dengan sedikit rasa panik yang mencari tempat dalam benaknya. Pun beralih pada Sunhi yang masih menyibukkan diri dengan menggundukkan butiran karbohidrat dalam naungan mangkuk kecil. Lantas dengan segenap keraguan Bella membimbing pandangannya untuk terarah pada pribadi yang memfokuskan atensinya pada proses berkunyahnya.


Dan diantara aktivitas Jun yang menggiling kudapan agar mampu menuruni kerongkongan dengan lancar, Bella memicing kesal tatkala mendapati secercah kecurigaan terhadap lelaki itu—kenapa dia tersenyum seperti itu?!

__ADS_1


Bella tak membuka praduga lain selain—


Jadi dia yang mengganti pakaianku semalam, dengan piyamanya?!


Bagaimana bisa Bella menganggap remeh prasangka buruknya? Sudah jelas bahwa memang Sunhi tak menahu perihal semua hal yang bercokol dalam benak pun pikiran Bella. Perkiraan yang sempat bersinggah, hanya beranggapan bahwa mami Sunhi lah yang menanggalkan gaun ketatnya.


Sedikitpun tidak menaruh curiga dengan tindakan Jun yang diluar ekspektasi. Karena memang, Jun yang Bella kenal tak akan berani bersinggungan langsung untuk meraba bagian sensitif dalam diri Bella. Dan sekarang berbanding terbalik—ada apa dengan pria itu?!


"Bella, kau tak apa?", khawatir Sunhi lantaran melihat Bella yang seolah kehilangan arah.


Secepat kemungkinan buruk yang berlalu lalang mengejek, searah kemudian Bella meraih alam sadarnya. Mempercepat proses untuk mengubur prasangka yang tak menghasilkan bukti nyata di antara kelananya mencari titik terang.


Tanpa mengikutsertakan beban pikirannya, Bella lantas menghirup oksigen pagi dengan membawa seluruh pengharapan akan ketenangan yang memenuhi jiwanya. Pun berupaya keras untuk mencetak guratan lengkung guna merekah kan senyumnya. Membuang jauh kebenaran yang sempat menohok kesadarannya.


"Ah, tidak mi! Tentu, aku baik-baik saja", kilah Bella tak sepenuhnya salah. Karena memang jasmaninya tak ada yang perlu dicemaskan.


Melainkan kondisi kalbunya yang harus dilakukan meditasi untuk menetralkan kecamuk yang berjamur mengotori peradabannya.


"Syukurlah, mami pikir terjadi sesuatu denganmu", lega Sunhi yang masih membuka kalimat, "Kemarilah! Sebelum makanannya dihabiskan Jun", candanya beriringan dengan telapaknya yang melambai, mengintruksi Bella untuk mendekat menghampiri.


"Eomma!", Protes Jun tatkala acara seruput menyeruput kuah sup direcoki oleh sang ibu.


Ah, jangan terlalu dianggap sebagai kata yang serius! Jun juga terlampau paham, jika Sunhi hanya melontarkan untaian lelucon hanya untuk sekedar mencairkan suasana yang terlihat menarik ketidak kondusifan antara dua insan muda, yang beruntungnya merambah sebagai putra kandung dan gadis yang sudah Sunhi anggap sebagai darah dagingnya sendiri.


"Duduklah!", Pintanya suka cita.


Jangan katakan jika Sunhi melupakan bagaimana menyisipkan gambaran kejutnya. Sungguh, bukan itu maksud nyonya Jeon. Jauh di lubuk hatinya, Sunhi hanya mewanti-wanti dengan kenyataan yang tak seirama dengan anggapannya. Lebih baik tak sedikitpun mengetahui alasan kemunculan Bella yang diluar dugaan, daripada harus menelan pil pahit menyangkut segala aspek yang menyertakan eksistensi Bella tiba dihadapannya.


Percayalah! Hati Sunhi sudah menghangatkan kegembiraannya atas presensi Bella yang dirindukannya. Tak menampik bahwa jauh di dalam benaknya, Sunhi bersikeras menahan keingintahuannya yang mendesak keluar.


Hanya satu. Sunhi tak ingin kehilangan kesempatan untuk memeta sedetail mungkin fitur Bella yang mengembangkan senyumnya. Tak ingin dilunturkan dengan kalimat—apa yang membuatmu kemari? Atau apapun kalimat tanya yang dapat menyinggung perasaan Bella.


Tentu, Sunhi tak ingin merusak kualitas pertemuannya dengan Bella. Hanya dengan penempatan tanya yang tak sesuai tempat pun kondisi.


"Tidak, mi!", Jelas penolakan Bella mampu merenggut seluruh atensi dari Jun dan Sunhi, "Aku harus pergi!", Cergas Bella menengahi ajakan Sunhi.


Dengan keadaan seperti itu?! Yang benar saja!—entah mengapa hati Bella bergejolak geram tatkala bola maniknya membidik senyum asimetris yang Jun sunggingkan ditengah tundukannya.


"Kemana? Kemana kau akan pergi?!", Ujar Jun membuka cakap.


Bella paham betul, bukan perkara tanya yang Jun lontarkan. Melainkan lebih mengarah kepada ejekan yang terbungkus melalui tutur tanyanya. Tentu saja, sebab kemarin malam Jun menyaksikan detik-detik sesi kehancuran biduk rumah tangganya. Dan hal tersebut teramat sangat menjadikan nyali Bella menciut jika harus berhadapan langsung dengan saksi bisu atas perpecahan dalam hidupnya.


Malu setengah mati.


"Kemana saja! Asalkan tidak ada dirimu", ketus Bella bersama pula dengan melukiskan raut masamnya, tak bersemangat dalam menyikapi pertanyaan Jun sejujurnya.


"Sudah, sudah! Tidak perlu berdebat seperti itu! Cepat, habiskan makanan kalian!", Lerai Sunhi tak ingin pertikaian mereka menjadi berlarut-larut dalam memecahkan ego masing-masing.


Bukan maksud ingin menolak kebaikan Sunhi, hanya saja Bella benar-benar ada urusan yang mendesaknya untuk tidak jauh terlarut dalam suasana hangat ini, "Maaf, mi. Aku benar-benar harus per..."


"Kau tidak lihat berita pagi ini?", Interupsi Jun lagi-lagi membuncah kesal Bella. Seolah-olah lelaki Jeon itu memang sengaja menjebaknya dalam situasi ini—dasar!


Tentu saja belum!—bagaimana bisa? Bella tak memiliki peluang untuk mendapat menit percuma. Angkasa masih setia berbaur dengan sengatan vitamin D. Pun demikian Bella dibuat kalang kabut perihal posisi tidurnya yang tak setara dengan kali terakhir dirinya memejam. Bella sedang tidak mengikuti sindrom nenek-nenek—pikun. Jauh melebihi apapun, Bella mampu memeluk kesadarannya. Sadar bahwa Jun lah yang menjadi tersangka utama dalam pemindahan lelap Bella. Lantas, bagaimana cara Bella menikmati hari dengan sesapan kafein pun rundungan berita terbaru pagi ini?!


"Kurasa berita yang kau maksud tidak lebih penting dari—"


"Benarkah?", Benar! Kenapa?!, "Kurasa akan jauh lebih penting jika kau tahu siapa yang menjadi topik hangat pagi ini", tukas Jun seraya berkata lebih lanjut, "Kau tidak penasaran siapa orang beruntung itu?", Goda Jun yang jelas tak menyenangkan bagi relung Bella.


Bella menghela nafas jengah, pun merotasi kan bola matanya tak ada gairah, "Apa-apa kau ini?! Berita apa yang jauh lebih penting dari urusanku, sampai kau ingin sekali aku melihatnya?!", Kesal Bella sampai hati ingin menyambar mulut banyak bicara itu dengan pantat sendok.


Tapi tak bisa direalisasikan karena jemari Bella tak menggenggam benda yang dimaksud.


"Apa kanal berita yang dipenuhi dengan skandal publik figur, atau gosip murahan terkait—"

__ADS_1


Tak ada kata untuk menggenapkan kalimat Bella. Bukan pula Jun yang memutus rantai pengucapannya. Hanya saja ada hal buruk yang terbesit dalam angan Bella—tidak mungkin! Jangan bilang...!


Tanpa membaur dengan rasa penasaran Jun dan Sunhi, lantaran untaian menggantung Bella tak kunjung diselesaikan. Justru tindakan Bella menambah kadar keingintahuan sepasang ibu dan anak itu, tatkala tubuh yang terkungkung piyama kotak-kotak berwarna biru donker itu menghambur pergi ke tempat di mana layar plasma membentang.


Pun tanpa membunuh waktu, ruas jempolnya Bella gunakan untuk menyetel tombol power pada pemindai channel. Betapa terkejutnya pemompa hidup Bella tatkala layar persegi panjang itu menampilkan tajuk informasi mengenai dirinya. Ya, Rabella Kim. Istri dari wakil pimpinan Yniverse Group, Lee Yunki.


Memang hal lumrah dialami Bella jika  kehidupan rumah tangganya sering terpampang di papan platform. Namun lebih mengejutkan dari ledakan bom atom yang meluluhkan lantakkan kawasan Hiroshima dan Nagasaki kala dulu. Bella lebih digemparkan oleh siaran gosip yang mengungkit perihal hubungannya dengan Yunki terancam gagal berantakan.


Tudingan yang tak berdasar itu membuat sisi lain dari Bella menyalak geram.


Skandal perselingkuhan Rabella Kim mencuat ke permukaan—satu topik bahasan yang mengguratkan rasa campur aduk dalam benak Bella.


"Omong kosong apa itu?!", Gumam Bella yang tidak terima dirinya difitnah oleh pihak tak bertanggung jawab.


Vokal yang menggema dalam ruang tengah itu merangsek masuk rongga telinga Bella tanpa bisa terhindarkan. Membahas perihal masalah kesetiaan Bella yang tampak dipertanyakan, pun mencuatkan kalimat yang kurang lebih seperti,


"Perselingkuhan Rabella Kim mengejutkan banyak pihak, terlebih istri dari wakil pimpinan Yniverse Group itu tertangkap basah oleh suaminya sendiri, Lee Yunki. Saksi mengatakan bahwasanya Rabella Kim terpergok selingkuh saat sedang menghabiskan waktu dengan pria yang belum diketahui identitasnya, yang bisa dipastikan sebagai simpanannya itu disebuah hotel privat di daerah Itaewon—"


Benar saja. Wajah Jun memang disengaja di blur, dan Bella tahu siapa pelaku utama dibalik omong kosong itu—Lee Yunki, siapa lagi?!


Pun Bella meremat geram pada sebilah remote guna melampiaskan rasa kecamuk yang mengobrak-abrik kesabaran menghadapi buruknya kelakuan Yunki, suaminya.


Harus ku apakan pria satu itu?!


"Itulah sederet berita terbaru pagi ini. Selanjutnya kita beralih..."


Mati. Saluran televisi yang mendadak redup lantaran Bella mematikan seluruh kehidupan dalam plasma datar dihadapannya. Pun perasaan hormat dan menghargai yang sempat dirinya curahkan kepada Yunki, memaksa dilebur pergi tergantikan dengan rasa benci yang takkan bisa terungkapkan oleh deretan serapah.


Lantas melempar pengontrol saluran di atas bangun sofa, lanjut beralih pada gelaran hidangan yang tersedia, "Makanlah! Setidaknya isi perutmu dengan sedikit—"


Tanpa mengizinkan sekon berlalu percuma, Bella menggiring lengannya guna meraih coat dominasi biru tua, yang menit lalu sempat terpeta oleh manik Bella. Sejemang menangkap sensor Jun yang jelas tengah mengamatinya tatkala gadis Kim itu memindahtangankan barang yang bukan hak miliknya.


Satu detik berlalu selama Bella menghujam permintaan izin dari tatapan matanya teruntuk Jun.


"Nanti ku kembalikan!", Ketusnya.


"Tidak, mi! Maaf, tapi aku harus segera pergi", buru Bella dengan lengannya yang berkutat untuk menenggelamkan diri pada balutan busana hangat.


Baru dua tapak ubin yang gadis berkelahiran Kim itu tinggalkan, lantas langkah berikutnya Bella urungkan. Dengan perasaan ragu-ragu Bella berusaha memutar torsonya mengarah pada satu sosok yang memeta pergerakannya lekat pun Jun yang enggan melupakan makan paginya, tak menggubris keadaan lebih tepatnya.


Sunhi pun mengulum senyum pengertian, tatkala Bella menatapnya penuh rasa bersalah, "Maaf", sesal Bella menyadari.


Lantas berganti pandang dengan Jun yang seolah tak menikmati suasana. Bahak lelaki itu benar-benar urung bersinggungan tatap dengan Bella. Sudahlah, tak perlu dipermasalahkan. Disini Bella bisa dibilang hanyalah sebatas pendatang. Tak pantas baginya untuk menuntut apapun.


"Aku pergi", pamit Bella pada Sunhi yang tak lelah merangkum eksistensinya.


Anggukan perizinan Sunhi menjadi pengiring kepergian Bella, sebelum raga berbalut pakaian Jun itu tenggelam di balik pintu.


Sejurus dengan bunyi debum, cukup mampu mengait atensi Jun. Pemuda Jeon itu hanya mampu menghembus helaan pasrahnya. Berharap hal buruk tidak menampakkan diri di balik tumpukan masalah yang  merundung Bella.


"Apa?! Kau bilang apa tadi?" Bingung Sunhi lantaran dirinya menyakini jika Jun tengah bergumam ditengah kepergian Bella beberapa detik lalu.


"Tidak, aku tidak bilang apa-apa. Mungkin Eomma salah dengar", jelas Jun melanjutkan suapannya.


Sunhi pun tidak mempermasalahkan pemahamannya yang mungkin memang meleset. Lantas mengangguk mengiyakan keraguannya, "Begitukah?"


Tidak! Sunhi jelas tidak salah dengar. Memang Jun tengah berbincang dengan kesadarannya sendiri. Menuntun kepergian Bella yang terasa begitu berat untuk Jun relakan, sebenarnya. Namun apa boleh buat?! Jun tidak terikat hubungan khusus dengan gadis itu. Lebih tepatnya mantan gadisnya.


Ah, konyol sekali memang. Bagaimana Jun yang tak pernah bisa menghapus nama Bella dalam ingatan, pun lebih menyesakkan tatkala hatinya tak mampu menampung wanita lain selain Rabella Kim. Tidak ada.


"Bodoh!"


- RING MY BELL -

__ADS_1


__ADS_2