RING MY BELL

RING MY BELL
32. Boy Meets Evil


__ADS_3

"This love is another name for the devil


Don't hold her hand


I shouted but turned away from my conscience


The greed would become the trumpet heralding hell"


Intro: Boy Meets Evil - BTS


- RING MY BELL -


Suara yang memekakkan telinga telah meluapkan bumbungan kerasnya. Tatkala dinding dan daun pintu sukses bertabrakan dalam satu waktu. Nafas terengah-engah juga tidak luput dari peraduannya. Sangat kontras dengan posisi gadis disudut ruangan.


Satu onggok daging bernyawa yang tengah berkelana mencari sumber ketenangan.


Di sanalah Bella berada.


Tengah menyimpuhkan diri dengan keheningan yang memenuhi setiap tempat duduknya. Tanpa membaur dengan kebisingan yang Jun gemborkan akibat dobrakan pintu kamar.


Aroma menyengat saluran pernapasan, menjadi suguhan utama tatkala Jun semakin menenggelamkan diri dalam temaram kamar. Mengamati setiap sudut ruangan, dan menemukan suatu kondisi yang sangat—


Berantakan.


Satu keadaan yang jelas telah diperbuat oleh Bella. Gadis yang tengah duduk termenung dengan pandangan kosong yang memenuhi ketidaksadarannya.


Mengesampingkan kondisi tubuhnya yang memancarkan rasa sakit—akibat bertabrakan dengan papan pintu. Jun lebih berminat untuk menghampiri Bella dalam temaram rembulan. Meniti setiap inchi, apabila ada pecahan kaca yang menggores tubuh Bella dengan penuh ketelitian.


Dan gadis itu—


Bella tak menunjukkan raut kejutnya. Hanya melukis raut sendu dengan tatapan sayu. Sangat berkebalikan saat kesadaran berpihak pada Bella—memancarkan sensor tajamnya.


Entah mengapa sudut relung Jun terasa berdenyut nyeri, mendapati lukisan sendu itu tengah menatapnya dalam bisu tanpa menggugah kata.


Tak ingin berlarut-larut dalam deburan resah yang menggelayuti benaknya. Jun membawa sebuah deheman canggung, lantas memalingkan wajahnya sejemang. Berharap debar dalam dirinya, menjauh seiring detik yang berjalan mendahuluinya.


"Apa yang—"


Sekuat hati Jun memberanikan diri untuk mengisi kekosongan. Tetapi Bella tak kalah cepat saat Jun dibuat tersentak ketika tatapan itu kembali memancing pacuan jantungnya.


Menguntai kata, "Kenapa baru sekarang?!", Dengan penglihatan yang tak lepas mengintimidasi seluruh jiwa Jun, dengan godaan yang dibalut rapi dalam sorot menghanyutkan kesadarannya.


Apa maksudnya?—apa Bella memang sedang menunggu kehadiran Jun, atau ada konotasi lain dari kalimat yang tidak lebih seperti sebuah gagasan kekecewaan?


Jun berusaha untuk mencari setitik pengalihan arus suasana yang dirasa kurang kondusif bagi pribadinya. Namun lebih memilih bungkam seribu bahasa. Dan mendekat menghampiri posisi bangku sofa, dan sebelum lengannya terulur untuk mengambil botol arak dalam genggaman Bella. Gadis itu lebih dahulu menyela.


"Kau mau?", Tawarnya dengan ekspresi yang tidak begitu baik untuk keberlanjutan pemompa hidup Jun.


"Tidak!", Tolak Jun akan penawaran Bella atas uluran botol bekas tegukan nya.

__ADS_1


Tetapi demikian tidak sinkron tatkala Jun meraih wine dengan wajah dinginnya.


"Kenapa mengambilnya jika tidak mau?!", Tanya Bella atas kelabilan Jun.


Tatapan yang enggan Jun hujamkan tepat pada pendar mata Bella, kini beralih menatap gadis didepannya, lalu menyebar kalimat, "Kau tidak lihat ibu khawatir padamu?!"


Senyum simpul kini hadir di sudut bibir Bella.


"Lalu... bagaimana denganmu? Apa kau juga khawatir padaku?", Tanyanya dengan wajah polos yang sangat memuakkan untuk Jun rangkum.


Sial!


"Berhentilah berbicara omong kosong!", Tukas Jun ingin membalik badan, namun—


Agaknya pengharapan untuk jauh dari jangkauan Bella, harus segera dibumihanguskan tatkala tepi kemejanya yang agak lusuh ditarik lirih oleh ruas gadis itu.


Teramat sangat tak mengindahkan tungkai Jun, yang sudah menghabiskan menit, berharap mampu menempuh jarak untuk pergi. Setidaknya tak melihat eksistensi Bella yang tampak terkuras kesadarannya. Sangat-sangat tidak bisa diajak berkompromi dengan debar jantungnya yang semakin membabi buta didalam balutan tulang rusuk.


"Bisa temani aku sebentar saja?", Balas Bella akan fitur wajah Jun yang menyiratkan tanya—apa?


"Ayo, tidur. Kau—"


Ingatkan Jun untuk menyumpal mulutnya dengan botol wine dalam rengkuhan jemarinya. Bagaimana bisa—astaga, bukan seperti itu maksudnya!


"M-maksudku kau harus segera tidur. Sekarang sudah larut malam", cicit Jun dengan vokal terbata-bata.


Menandakan adanya serangan gugup yang tiba-tiba menginterupsi.


"Aku tidak akan menggigit mu, tenang saja", ucap Bella sekali lagi memastikan jika keraguan Jun tak perlu diperbesar.


Ya, mungkin hal yang wajar.


Saat Jun nampak menimang atas permintaan Bella, yang tak bisa dipercaya begitu saja tanpa ada niatan terselubung dibaliknya.


Keputusan apa yang harus Jun ambil, untuk menempatkan posisinya di klasemen teraman?


"Baiklah. Aku akan tidur setelah ini", timang Bella bertukar keuntungan.


Ya, setelah ini—tanpa tahu akan menghabiskan berapa banyak denting waktu.


Entah, sihir apa yang menghipnotis Jun untuk menuruti keinginan Bella. Tanpa meminang praduga macam-macam, jenis penyelewengan apa yang akan dipakai Bella untuk mengelabui dirinya.


Dengan kesadaran penuh, pun atas paksaan Bella. Jun membangun simpuh disamping Bella dengan perasaan was-was.


Tanpa diduga pun tanpa dinyana, kurang dari hitungan lima detik, Bella kembali menguasai botol berisi cairan pekat itu dengan sambaran secepat kedipan mata Jun.


Tak ada drama rebut merebut minuman penghilang kesadaran itu. Bahkan dengan bermurah hati, Jun hanya memandangi Bella dengan raut penuh tanya tatkala gadis itu lagi dan lagi menenggak minuman berwarna kelam itu guna menelan seluruh kesadaran yang meliputi.


Membiarkan riak air yang tercipta dalam botol menemani keheningan di antara mereka.

__ADS_1


"Apa kau juga khawatir padaku?", Sela Bella ditengah lelehan alkohol yang menuruni dagunya.


Dan hal sederhana itu mampu membuat Jun menelan ludahnya susah payah.


Entah bagaimana caranya Jun merangkai kata agar tak terjalin kesalahpahaman. Tatkala Bella menguak kembali topik yang kala tadi Jun menyempatkan detik untuk merancang pengalihan.


Namun, tatkala merasa terjebak dalam situasi, Jun hanya mampu memberikan sedikit jawaban, "Emm", untuk menghentikan laju pertanyaan Bella yang semakin membuat Jun tenggelam dalam degup tak terkontrol.


"Kenapa?"


Bukan Bella namanya jika sesuai dengan ekspektasi yang Jun kumandangkan atas keinginan untuk menghindar dari serangan tanya yang tampak ditunggu jawabannya oleh gadis yang lekat dalam menyelami potret Jun.


"Karena ibu sangat khawatir padamu", merupakan jawaban teraman untuk saat ini.


"Ah, hanya karena itu", ada gurat kekecewaan dari paras Bella—bukan karena hal lain ternyata.


Semilir angin terasa berhembus, tatkala melewati jendela yang Jun lihat tengah terbuka lebar dengan tirai yang menari-nari mengikuti irama.


Bahkan sudut mata Jun menyempatkan detiknya untuk menelusuri kamarnya yang sudah diporak-porandakan oleh, tentu saja gadis itu. Bella.


Dimana lampu tidur sudah tergolek pasrah di samping tempat tidur. Pecahan kaca yang Jun yakini berasal dari botol yang sama seperti dalam rematan jemari Bella—sudah sebanyak apa yang dia minum, sebenarnya?


Dan kepingan-kepingan kaca yang Jun tak menahu berasal dari barang apa saja. Tidak cukup hanya dengan serpihan kaca yang berserakan di lantai kamarnya. Ranjang king size-nya pun bernasib serupa, bantal dan selimut dibiarkan terdampar dengan dinginnya keramik.


Pantas saja Sunhi bersikap seperti itu.


Mendengar amukan api kemurkaan Bella, pasti sangat menyesakkan dada ibunya. Terlebih gadis itu yang membuat suasana semakin dramatis, tatkala mengunci diri dengan segala luapan emosi.


Detik jam sudah memutar waktu terlalu lama, kurang lebih empat sampai lima menit, hanya untuk mengarungi kesenyapan yang dipadukan dengan gulita yang mendukung Bella untuk memecah belah sunyi dengan berujar,


"Boleh aku—"


Belum selesai keinginannya tercurah secara tuntas, Jun sudah terlebih dahulu menyela dengan segenap keyakinannya yang nampaknya akan membawa dampak yang menjerumus pada sesuatu hal tak terduga, "Tentu. Kau boleh tidur di—"


Lihat?!


Tentu. Hambar bagi Bella jika dirinya juga tak membalas perlakuan Jun yang tak memikirkan penuturannya terlontar lengkap. Jadi, tidak salah bukan jika Bella mengungkap apa itu sebuah kesetaraan?


Kali ini berbeda dengan apa yang Jun lakukan.


Bukan kata.


Melainkan, sebuah keputusan yang sangat-sangat memacu adrenalin dalam diri Jun. Bahkan tak tanggung-tanggung membuat pemompa hidup dalam rengkuhan rusuk, bertalu dengan kecepatan diambang batas kenormalan.


Tanpa menguntai perizinan, hingga sepersekon kemudian, Jun sudah mendapati aroma alkohol menyeruak memenuhi rongga hidungnya. Memaksa masuk dengan jarak yang cukup beresiko terhadap tubuh Jun, yang sudah merespon tak terkendali.


Pun dengan hembusan seduktif, Bella berbisik tepat bersinggungan secara tidak terkontrol tepat di telinga Jun.


"Di pangkuanmu?! Bagaimana?"

__ADS_1


- RING MY BELL -


__ADS_2