RING MY BELL

RING MY BELL
9. Hold Me Tight


__ADS_3

"Perpisahan menghancurkanku seperti air pasang.


Aku tahu ini akan segera berakhir, tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi"


Hold me tight - BTS


- RING MY BELL -


"Kau memang brengsek, Jun!"


Kalimat penghakiman Bella terus berputar dalam lingkaran ingatan Jun. Entah mengapa, makian penuh kebencian yang terlontar dari mantan gadisnya itu nampak terdefinisikan oleh sesuatu yang sepatutnya mendapatkan guyonan dari Jun.


Jun tertawa penuh sarkasme dalam gelap kesendiriannya.


Biar saja dirinya dicap orang aneh, atau gila sekalipun. Terlampau tak peduli dengan lingkungan yang tidak menunjukkan itikad baiknya pada kelanjutan hidup Jun nantinya—tanpa ditemani gadis yang tak ingin melepaskan diri dari jeratan memori Jun.


Akhir-akhir ini banyak kejadian yang membuat Jun semacam orang tak berpendidikan. Lantaran sering tersenyum dalam duka, penuh tawa meremehkan diri sendiri.


Benak Jun tak hentinya mengulang praduga yang mendasari putusnya jembatan penghubung antar dirinya juga Bella. kesalahan apa yang dirinya perbuat, sehingga menimbulkan kontroversi diantara asmara mereka? Apa dirinya menjalin hubungan khusus dengan gadis lain? Atau ada kemungkinan Jun telah melakukan hubungan fatal dengan gadis lain tanpa seingatnya, yang akan melahirkan malapetaka dikemudian hari?


Sejauh yang dapat Jun ingat, lelaki Jeon itu yakin bahwa dirinya tidak pernah melayangkan kekerasan dalam jalinan asmaranya dengan Bella.


Ah, dirasa semua sangkaan yang tak mempunyai dasar keakuratan itu, tidak bisa dianggap alasan yang membenarkan akan keretakan jalinan kasih mereka. Lantaran perlu diketahui secara pasti, bahwa dalam kamus besar Jun, pribadi Jeon itu tak akan menerapkan konsep dasar yang mengarah pada hal yang berbau 'perselingkuhan', atau hal yang dapat menyakiti hati Bella. Kata sensitif itu bukanlah style Jun. Terlebih lelaki bermarga Jeon itu tak sekalipun menggugah niatan untuk memperoleh tambatan hati lainnya. Hanya Bella seorang. Rabella Kim yang menjadi dambaan bagi setiap relungnya. Bukan gadis lain. Tidak. Jun tidak ingin gadis lain. Hanya Bella.


Namun semua itu hanya angan yang mengacu ke arah dimana Jun sudah terlambat. Terlambat untuk kembali membawa Bella ke dalam dekapannya.


Cincin bertatahkan permata sederhana itu menjadi bukti sesungguhnya. Bahwa Jun memang tidak main-main untuk dirinya berencana mempersunting seorang gadis, yang menempatkan posisinya pada garda terdalam di lubuk hatinya.


Siapa yang menyangka bahwa hari dimana Bella memberlangsungkan pernikahannya, Jun telah merencanakan untuk melamar sang kekasih secara resmi dihadapan saksi yang sangat besar arti kehadirannya dalam sejarah percintaan yang Jun dan Bella jalani selama ini. Sang ibu, Jeon Sunhi.


Sungguh, skenario pilu yang tidak ada tandingannya jika disandingkan dengan sinema romansa yang Jun perankan.

__ADS_1


Bulatan kecil berselimutkan emas yang cocok disematkan pada lingkar manis Bella. Nyatanya menciptakan efek tabu untuk direalisasikan dalam waktu dekat pun dirasa tak akan pernah melingkar pada gadis manapun.


Sudah sirna. Musnah. Hancur. Tergerus ombak besar yang menggulung harapan menjadikan serpihan tak berguna untuk dipertimbangkan pun dipertahankan.


Jun paham. Terlampau mengerti, harus bagaimana menyikapi segala sesuatu yang tak bersekutu dengan dirinya. Menghilang adalah cara yang tepat pun terbaik untuk dirinya menjauhkan diri dari kejahatan yang tak terlihat secara kasat mata itu—kenangan yang tak hentinya mencuri atensi Jun.


Kenangan yang tidak berniat mengucapkan selamat tinggal


Maka dari itulah, Jun yang harus bernegosiasi dengan dirinya untuk membasmi keraguannya terhadap sang mantan.


Aksesoris jemari wanita itu dinilai tak lagi berguna dalam segala aspek. Membuang barang yang sudah tentu tak memiliki makna, mungkin opsi yang harus dilakukan Jun secara ringan hati—merelakan harapannya terbawa arus debu.


"Kau tidak perlu menyesalinya, Jun! Percayalah! Ini yang terbaik untuk dirimu, jika kau ingin segera melupakannya. Buang semua hal yang menyangkut gadis itu! Dan kau tidak akan pernah menyesal!", Racau Jun bernada parau, dengan  dirinya yang terduduk pasrah, pun menggenggam erat cincin yang bersembunyi diantara dekapan telapaknya.


Menyembunyikan wajah kalutnya dibalik uluran lengannya, dengan isakan yang terdengar mengintrupsi ruangan hening itu. Terlihat seperti seseorang yang tak memiliki gairah dalam melanjutkan perjalanan hidupnya.


Benar, kau tidak akan pernah menyesal!—semoga saja.


- RING MY BELL -


Jangan salahkan, jika ada pihak-pihak yang melontarkan makian serta merta umpatan penuh kekesalan. Disaat melihat ada sosok yang berada dibalik kursi kemudi telah malang melintang di hamparan jalan raya dengan mode ugal-ugalan. Pun terkesan memperkeruh suasana lalu lintas Seoul, saat manusia berbalut busana tak asing itu menyalurkan suara klakson, yang begitu memekakkan telinga itu dengan penuh penekanan—terlihat tak sabaran ingin segera sampai pada tempat tujuannya.


"Hei, brengsek? Bisa tidak kau menyetir dengan benar?!"


Ya, sejauh ini kalimat bualan seperti itu yang mengikutsertakan perjalanan Bella yang terasa tak kunjung menemukan titik sampai. Bahkan segudang cacian pun semua penghuni kebun binatang keluar tanpa celah, menjadi sambutan dari para pengguna jalan untuk sekedar menyadarkan insan dibelakang jok kemudi.


Namun demikian tidak berarti bagi gadis yang bernama Bella itu. Seolah sengaja menulikan seluruh pendengarannya untuk tidak menggubris kebisingan yang mengotori lubang rungunya.


Persetan dengan keadaan yang melingkupi seluruh sudutnya!


Fokus Bella hanya satu. Tiba di bandara tepat pada waktunya, sebelum dirinya dihantui rasa penyesalan yang tak pernah memberi ruang untuk Bella mengakhirinya.

__ADS_1


"Jun akan melanjutkan kuliahnya di Amerika. Dan hari ini adalah jadwal penerbangannya"


Kalimat yang menginformasikan bahwa sahabat hidupnya itu akan pergi jauh ke luar negeri, nyatanya menciptakan efek samping yang sangat dominan bagi Bella. Gadis itu dibuat kalang kabut perihal masalah yang memaksa dirinya untuk mencurahkan segala atensinya—hanya untuk menghentikan laju kepergian Jun atau setidaknya Bella diberi untaian salam perpisahan darinya.


"*Sebenarnya Ibu berjanji kepada Jun untuk tidak memberitahumu masalah ini. Tapi Ibu merasa bersalah denganmu dan juga Jun, jika hanya berdiam diri melihat kalian seperti ini"


"Pergilah! Ucapan selamat jalan kepada Jun, agar tidak ada lagi penyesalan diantara kalian*"


Entah sudah berapa debit air, ttelah menetes dari peraduannya, yang Bella habiskan hanya untuk meratapi kesedihannya. Kala mengingat jika dirinya tidak akan bisa bertemu mantan prianya dalam kurun waktu yang belum sepenuhnya Bella bisa memperkirakan, jumlah harinya yang akan berlalu tanpa sosok Jun yang mengiringi jalannya.


Pandangannya yang kabur dari jangkauan netra, lantaran terhalang oleh kabut kepedihan yang tak kunjung larut. Seolah bukan penghalang bagi Bella untuk membaurkan kendaraannya diantara para pengemudi lainnya. Tak lupa untuk melajukan kuda besinya dalam kecepatan diambang batas normal—tak memperdulikan bagaimana rentetan klakson yang memintanya agar mengemudi sesuai peraturan perundang-undangan perlalu lintasan.


Bukankah segala sesuatu harus sesuai dengan kebutuhan? Pun begitu yang Bella terapkan untuk mengendalikan kuasanya pada tunggangan miliknya. Mengecai bentangan hitam itu dengan spedometer yang tertuju pada nominal angka yang Bella butuhkan. Secepat mungkin agar dirinya mampu mengejar ketertinggalannya.


Satu sampai sepuluh detik berlalu tanpa masalah yang berarti, hingga akhirnya bunyi decitan antara roda mobil dan selasar jalan keluar dengan suara membahana. Tatkala dengan sigap dan tepat waktu, Bella menggagalkan upaya terjadinya kecelakaan yang melibatkan dirinya jika saja tak cukup tanggap dalam menginjak pedal rem dengan debar pemompa hidupnya yang sudah tak lagi bertalu pada kenormalan.


Kemacetan lalu lintas.


Yang jelas terjadi lantaran adanya kecelakaan maut yang berjarak beberapa meter dari tempat kendaraan beroda Bella memberhentikan lajunya—itulah sekiranya informasi yang mampu Bella tangkap dari pengguna jalan lainnya


Hal menyebalkan semacam itulah yang mencari masalah dengan Bella. Entah mengapa situasi dan kondisinya sangat tidak bersahabat dengan Bella. Apa dirinya memang ditakdirkan untuk tidak bertemu dengan Jun sebelum lelaki itu terbang bersama dengan kenangan mereka yang buruk?


Ah, sial!


Ada pengalihan arus lalu lintas, tentu saja. Dimana Bella harus memutarbalikkan roda mobilnya, untuk terhindar dari penutupan jalan yang mendadak terjadi. Dan lebih sial dari apapun, saat mengetahui bahwa jarak yang ditempuh akan semakin memakan waktu yang terbilang cukup besar menyita denting menit.


Meski dapat menjangkau bandara kurang dari tiga puluh menit, detik itu pula Bella yakin jika dirinya akan berakhir pada sebuah nestapa paling buruk dalam hidupnya. Lantaran Bella tak begitu mempercayai kemampuan dirinya sendiri untuk menjangkau destinasinya dengan waktu yang ditetapkan.


Waktu dan jarak yang tidak memungkinkan untuk dicapai bersamaan tanpa adanya sebuah kendala.


"Astaga! Apa yang harus kulakukan?!", Ucapnya dengan otaknya yang mengorek keterangan agar dirinya menemukan jalan keluar yang menguntungkan bagi dirinya sendiri.

__ADS_1


- RING MY BELL -


__ADS_2