
"Waiting for you, Anpanman"
Anpanman - BTS
- RING MY BELL -
Seperti jajaran jamur yang tumbuh di musim hujan. Detik di mana binar Bella dibuat gembira, tatkala menangkap sorot mata itu setelah lamanya waktu memisahkan antar keduanya.
Sedikitpun tidak menaruh curiga, bahkan lebih tak percaya akan kenyataan yang sudah tertera di depan mata. Sulit disangka, dari sekian banyaknya detik pun luasnya tempat di pelataran bumi.
Bagaimana bisa?!
Bagaimana bisa dari jutaan penghuni kota, Bella berjumpa dengan—
"Jae?!", Tegur Bella yang melebarkan bukaan netranya, memastikan jika yang dilihatnya itu memang—Jaehyun Shin.
"Syukurlah, setidaknya kau masih mengingat namaku", ucap Jaehyun penuh retorika, dengan senyum yang masih belum berubah—menawan khas Jaehyun Shin.
Tanpa dipersilahkan oleh sang pemilik terlebih dahulu. Bella pun menyelonong masuk, tanpa memperdulikan raut bingung yang terjalin pada permukaan paras lelaki yang Bella panggil Jae itu.
"Cepatlah! Kita ke bandara sekarang juga!", Titah Bella setelah selesai memasang sabuk pengaman dan tak membalas tatapan sosok di kursi utama—terlampau malas.
"Bisa cepat, Tuan Shin?!", seru Bella memutus lamunan Jae.
"Apapun untukmu, Nona Lee", katanya menyetujui permintaan Bella, lantas menghidupkan mesin mobil.
Hening. Tak ada percakapan basa-basi diantara sahabat yang sudah bertahun-tahun tak bertemu jumpa setelah melucuti pakaian masa sekolah menengahnya—perayaan kelulusan.
Pikiran tak mengerti, masih bersemayam dalam benak Bella—apa Jae tahu kalau aku sudah menikah? Ah, tidak mungkin!—bagaimana bisa, padahal aku sama sekali tak mengundang teman SMA kecuali Jun?
Memang sejak keluar dari Seokyo High School, milik keluarga Shin. Bella tak lagi berhubungan dengan almamater seangkatannya bahkan tidak ada kontak satu sama lain, terlebih dengan dua sahabatnya—si brengsek Shin Jaehyun dan si kocak Cho Namjoo.
Sedikit terkejut dibuatnya, manakala dari segala kemungkinan untuk diberi bala bantuan, kenapa harus si Jae sialan diantara jutaan penduduk Seoul yang Bella temui? Takdir? Ah, sungguh lelucon murahan jika menganggap sebuah kebetulan ini adalah takdir tak terduga.
"Kau mau pergi? Dengan pakaian kurang bahan seperti itu?", Buka Jae dengan nada yang memang brengsek sejak dulu.
Sebenarnya, jika dijabarkan dalam sebuah untaian kata-kata, baju yang Bella kenakan tidak seterbuka penggambarannya. Hanya saja, perlu dimaklumi jika semua ungkapan tak mengenakkan itu teruntai dari mulut sialan lelaki Shin itu.
"Kau juga?", Bella bertanya bukan tanpa alasan, sebab netranya sekilas merangkum sebuah pasport dan tiket di dashboard mobil yang menjurus kepergian Jae akan jauh jaraknya.
Onix Jae menatap penuh helaan nafas kearah dua benda yang sempat mengisi penglihatan Bella beberapa saat lalu, "Hmm, untuk apa tinggal di Seoul jika gadis yang ku incar sudah menikah?!"
__ADS_1
Benarkan!
"Kau tahu?", Singkat Bella penasaran.
Jae terkekeh lepas.
"Omong-omong, aku sedang tidak membicarakan mu", Jae berujar.
"Kau sudah tahu kalau aku sudah menikah? Dan... apa kau Lee Jaehyun yang dimaksud?", Tanya Bella sekali lagi.
"Kenapa baru ditanyakan sekarang? Kulihat kau penasaran sejak tadi", ya, Bella mengakui itu, "Dan kenapa aku merasa seperti tak memiliki posisi dalam hatimu. Harus seperti apa aku, agar kau menaruh hati padamu, hmm?",
Apa-apaan dia?! Kenapa jadi melankolis seperti ini?—Sungguh bukan gaya Jae yang Bella kenal selama ini.
"Apa maksudmu?!", Polos gadis yang tak selugu kenyataannya—Jaehyun tahu itu.
"Maksudku... Kau bodoh! Bagaimana bisa aku mengetahui segala hal tentang Rabella Lee, tapi gadis disampingku tak tahu hal dasar tentang kehidupan Lee Jaehyun", jelasnya yang terdengar ambigu bagi pemahaman Bella.
Apa dia menginginkan aku menjadi pendamping hidupnya?— bukan, kan? jangankan istri, pacar saja Bella ogah mengakuinya. Hanya, jika hal tersebut sampai terjadi. Dan Bella jelas memohon agar tidak terhubung dengan Jae, apapun alasannya.
Tunggu sebentar—
Lee?
"Kurasa tidak. Karena tidak ada alasan bagiku untuk mengetahui segalanya tentang dirimu, hal itu tidak penting untuk ku!", Tegas Bella.
"Kau memang Rabella Kim yang kukenal. Tidak berubah sama sekali, masih Bella si gadis brengsek", ucap Jae dengan intonasi mendramatisir di kalimat terakhir.
"Diamlah, brengsek!", Ketus Bella tidak berniat menyanggah penuturan apapun yang keluar dari mulut pribadi di balik laju kemudi.
"Lihat! Bukankah kita serasi, sama-sama brengsek?! Kenapa kita tidak pacaran saja kalau begitu jadinya?", Kelakar Jae melebih-lebihkan gaya bicaranya.
"Tutup mulutmu, jika tidak—"
"Kenapa?! Kau mau ku turunkan ditengah jalan?", Gertak Jae tidak sungguh-sungguh.
"Aku akan menghajar mulut sialanmu itu!", Tukas Bella tidak main-main dalam merealisasikan ucapannya.
"Uwwuu, takut...", Canda Jae bersinergi dengan reaksi tubuhnya yang mendramatisir keadaan.
"Kau ingin ku hajar dimana, eoh?! Katakan!", Seru Bella sampai dibuat kesal karena pergodaan Jae.
__ADS_1
"Disini", seringai Jae hadir tatkala telunjuknya mengarah pada bongkahan bibirnya.
"Hei! Kalau begitu turunkan aku disini!", Putus Bella merasa kesal dengan candaan Jae.
"Baiklah, tidak perlu marah seperti itu, sayangku", reda Jae tidak bermaksud menyinggung gadis di kursi penumpang, "Ada keperluan apa ke bandara? Bukankah Ayah dan Ibu sudah tiba di Seoul?", Tanyanya dengan situasi yang mulai mencair pun stabil.
Terasa begitu familiar memang mendengar birai lelaki sialan itu mengucap panggilan yang sok akrab kepada orang tuanya, terlampau biasa bagi Bella—tidak diambil hati.
"Bagaimana kau tahu?", Baru berada dalam satu jangkauan jarak setelah sekian lama tak bertemu, namun Bella sudah dibuat terkejut berkali-kali oleh makhluk yang memiliki daya untuk selalu menggodanya itu.
"Bukankah sudah kubilang?! Aku tahu segalanya tentang dirimu, Bee! Kau tidak percaya?! Sebaiknya begitu, jika tidak kau akan terkejut saat tahu seberapa banyak informasi yang kutahu tentang kehidupanmu", timpal Jae yang tidak dapat diterima dengan baik oleh pemahaman Bella.
"Kau ini kenapa? Kita baru bertemu setelah hari kelulusan, tapi kau bersikap seperti mengenalku lebih jauh dari diriku sendiri", sanggah Bella membenahi sistem pemahaman manusia yang berlebih kepercayaan diri itu.
"Kita? Kurasa baru pertama kali aku mendengar kau memanggil aku dan kau dengan sebutan 'kita'," ujar pribadi yang serasa hatinya tengah bertaburan bunga kesenangan.
"Kau belum menjawab pertanyaanku", todong Bella akan kalimat tanyanya yang belum terjawab.
"Yang mana? Yang bagian aku mencintaimu atau kau ingin menciumku?", Jae berkelakar.
Bella pun tak ambil peduli, "Siapa Lee Jaehyun itu? Kurasa kau tahu siapa dia"
"Itu aku, Bee", katanya.
"Kau ingin membodohi ku?!", Bella mulai tersulut amarah.
Dan yang membuat Bella ingin merealisasikan rencana yang sempat tertunda, dengan menghajar mulut sialan Jae.
Tatkala—"Aku hanya ingin menciummu", merupakan kalimat yang lelaki itu lontarkan setelah menyambar bibir Bella dengan bibir yang sekarang tengah memahat senyum simpul itu. Seolah lampu merah sedang mendukung tindakan Jae.
Sial, memang!
Bella menyalak jengkel di atas bangku penumpang.
"Kalau ingin ku hajar bilang saja. Tidak perlu bertele-tele", geram Bella sudah melebihi batas normal.
Kekehan kelewat puas muncul dari peraduannya. Jae suka saat-saat seperti ini.
"Aku suka... jika kau menghajarku di atas ranjang. Akan dengan senang hati aku menerimanya"
Dasar brengsek!
__ADS_1
- RING MY BELL -