
"Semakin banyak waktu berlalu, aku semakin hancur"
House of Cards - BTS
- RING MY BELL -
Hahh...
Membosankan.
Satu fenomena yang menemani Bella di atas meja makan hari ini.
Pemandangan yang tak seharusnya mencemari kedua irisnya. Dengan tak sopan, keadaan saat ini menuntutnya untuk mendengus berpadu dengan sorot enggannya. Guna menindaklanjuti apa yang sekarang tengah terangkum begitu jelas dalam tatapan matanya.
Sungguh, ya! Detik-detik dimana denting waktu Bella terbuang percuma, tanpa ada faedah untuk dirinya patrikan lebih lanjut. Bola netranya berotasi, mempresentasikan apa itu definisi rasa malas.
Bukaan bibirnya berdecak samar, tatkala sorot dari sang pengunjung rumahnya. Ah, baiklah. Disini status dirinya tak lebihnya hanya seonggok parasit yang meminta belas kasihan. Dan perlu diingat, kalau bisa harus digarisbawahi lantas dicetak tebal. Bahwasanya kemegahan ini bukan lagi kepunyaan Bella, melainkan sudah berpindah tangan menjadi hak milik sepenuhnya berada di tangan lelaki di ujung sebrang meja, Jun.
Astaga, Bella! Kau harus sadarkan dirimu, agar tak terlalu terjerumus dalam lembah kedunguan.
"Kenapa repot-repot membawa makanan sebanyak ini, Hyo?", Ujar Sunhi yang membawa mangkok berkuah panas dari arah dapur.
Lantas meletakkan kepulan uap itu di atas bangun meja, "Kau tidak perlu melakukan ini. Kau datang berkunjung saja, sudah membuat ibu senang", sambung Sunhi dengan bantalan duduknya mencipta simpuh di samping Bella.
"Aku tidak merasa kerepotan sama sekali, ibu",—apa?! Ibu?, "Aku justru senang jika ibu dan Jun suka dengan masakan ku",—ah, jadi makanan sebanyak ini masakan dia? Not bad.
Terlebih penampakan yang tergenang di dalam mangkok, membuat Bella tergurat kesal.
Memang, sebutan dari hidangan berkuah itu hanya satu—Kimchi Jjigae. Tapi kenapa cita rasa yang berbeda, mampu Bella dapatkan jika dibandingkan dengan kubangan kuah yang menit lalu Bella buang sia-sia.
Sangat jauh perbedaan yang terasa.
Enak!—dan tentu saja cita rasa itu bukan masakan Bella. Siapa yang berpikir demikian? Konyol sekali.
Pun kudapan buatan Bella yang belum sempat dicicipi semua pihak di ruangan ini, sangat jauh dari kata layak makan. Bahkan bila disuruh makan atau kelaparan. Bella lebih memeluk pilihan yang memberatkan organ perutnya—lebih baik lapar daripada keracunan masakan sendiri.
Tch, gadis ini!
Oh, ayolah!—Bella sedang kesal sekarang. Apa perlu lidah sialannya ini, mengatakan hal kontras dengan benaknya yang bergejolak diliputi amarah?
*Enak apanya, huh?!
Astaga, ini memang enak bodoh!
Aish, tau ah*!
Dari pandangan lain. Hyo merasa ada penyebutan yang tertinggal, pun menatap Bella dengan sorot ragu dibalut perasaan tidak enak hati. Lantaran telah melupakan eksistensi penumpang hunian Jun satu itu—dia tinggal di sini?
"Ah, ibu sampai lupa. Bella, dia Hyora teman Jun. Dan Hyo, ini Bella anak ibu",—anak? Apa maksudnya? Ucap Sunhi memperkenalkan satu per satu wanita yang terlihat sebaya di mata ibu Jeon. Setelah merangkum kecanggungan yang menyelimuti kedua gadis cantik itu.
Mendengar penuturan Sunhi, Hyo berusaha membalas setidaknya dengan tutur—ah, begitu. Salam kenal Bella.
Namun sanggahan Bella lebih dahulu tercurah, "Aku tahu", tak mengizinkan Hyo membuka kata.
"Mami ingat, saat aku bermasalah dengan pihak sekolah waktu SMA dulu?", Ungkap Bella tengah menyensor gadis yang duduk di samping satu-satunya sosok pria di rumah ini, Jun. Tepatnya di depan, atau bisa dibilang berseberangan dengan Sunhi.
"Iya, Mami ingat. Saat itu kau cerita, jika kau dihukum karena melakukan perundungan kepada temanmu", Sunhi tak begitu yakin dengan apa yang dirinya ingat.
"Benar. Aku menganggunya bukan karena aku membencinya. Tapi karena dia telah mengusik hubunganku dengan kekasihku waktu itu", dari intonasi bicaranya, terdengar seperti Bella sedang memprovokasi keadaan.
"Benarkah? Ibu kira kau berkelahi dengan teman lelakimu. Ibu tidak tahu kalau kau bersitegang dengan sahabat perempuanmu", Bukan hanya Sunhi yang dibuat terkejut akan perkataan Bella.
__ADS_1
Hyo pun ikut andil besar, tatkala kelopak kejutnya sedikit melebar. Menatap Bella yang tak gentar mengungkap kilas balik sejarah masa lalu.
"Aku tidak berkelahi dengannya, Mi. Lebih tepat jika Mami menyebut aku telah membully-nya", Bella mengungkap kebenaran, "Dan satu yang pasti. Jika aku tidak pernah memiliki sahabat perempuan, sebelumnya. Mami tahu itu".
Sunhi merasa bersalah karena membawa pemahaman yang melenceng dari, apa yang terjadi dengan putrinya, Bella, "Ah, begitu. Maafka—"
"Tidak. Mami tidak perlu meminta maaf seperti itu. Aku yang seharusnya meminta maaf", Bella bertutur dengan tatapan yang saling menusuk tajam sorot Hyo yang tampak bergetar, berusaha menyembunyikan rona kemarahan yang sengaja Bella cuatkan dengan kalimat dramatisnya.
"Apa maksudmu? Ibu tidak mengerti"
Satu yang jelas. Bahwa Bella telah merubah suasana hangat menjadi canggung satu sama lain. Terlebih Hyo yang merasa disudutkan, tatkala mendengar Bella bersuara.
"Maafkan aku, Hyora. Maaf karena tidak berniat meminta maaf sejak awal", dan untaian maaf Bella jelas terdengar tidak berasal dari lubuk hatinya. Hanya melalui perantara mulut yang tak ada makna sesungguhnya. Hyo tahu itu.
Cara frontal Bella pun terlihat seperti seolah mencari pengampunan atas kesalahan di masa lalunya. Namun tidak demikian kenyataannya. percayalah! Bella dan rencana liciknya memang tidak bisa dikesampingkan dengan permintaan maaf yang tak akan dikenankan.
Jika saja Hyo tak berhadapan langsung dengan kondisi tak menguntungkan seperti ini. Akan secara membabi buta dirinya menghujamkan kalimat sarkasme kepada Bella. Tetapi, demi harga dirinya yang tak sebanding dengan image-nya didepan Sunhi, terlebih Jun disampingnya. Hyo hanya mampu memendam amarahnya, meskipun susah payah dirinya meraih kesabaran.
Sejurus dengan kecamuk yang Bella masukkan dalam benak Hyo. Tanpa dinyana pun tanpa didampingi dugaan, interupsi Jun mampu mengalihkan kemelut itu untuk berbalik bersemayam dalam jiwa Bella.
"Apa yang kau lakukan seharian ini?", Dengan intonasi datar yang mengundang Bella untuk menguntai makian.
Tidak terduga. Tentu saja.
"Apa pedulimu?! Lagipula apapun yang kulakukan juga bukan urusanmu!", Ketus Bella tak mengindahkan pertanyaan Jun.
Tch..
Bella terlampau paham, bahwa kalimat tanya yang Jun utarakan hanya menjurus ke arah pembelaan terhadap Hyo.
Sampai sebegitunya.
Ah, Bella lupa. Jika Jun pernah memperkenalkan diri sebagai seorang kekasih dari gadis yang Sunhi katakan bernama Hyora itu. Tidak heran, jika lelaki dihadapannya itu merasa tidak bisa ambil diam melihat tambatan hatinya tersudutkan oleh man-tan pacarnya.
Dan ini saat-saat paling menyebalkan itu hadir tanpa permisi—tch!
"Apa aku harus mengulang pertanyaanku agar kau mengerti?", Tanya Jun berwajah datar namun berusaha menguarkan dominasinya.
"Apa yang harus ku mengerti dari ucapanmu, huh?! Kurasa semua kata yang keluar dari mulutmu tak akan berdampak pada kehidupanku", Bella benar-benar urung bersinggungan dengan jajaran jamuan malam yang sempat menggiurkan bagi organ perutnya, sesaat tadi.
Beranjak dari tempatnya duduk, Bella lakukan. Lantas mencetak jejak dengan amarah yang memenuhi relungnya. Kendati demikian tidak selaras dengan perkembangan langkahnya.
Tatkala Jun berucap, "Apa perlu kutemui Yunki lagi untuk membuatmu mengerti, bahwa memang ucapanku akan berdampak besar bagi kelangsungan hidup mu?"
Memaksa Bella mengurungkan niatnya untuk membuang tempat untuk dirinya berpaku, tepat tiga pijakan yang ditelurkannya.
"Dan kurasa permintaanku pada calon mantan suamimu, memang sudah berdampak pada hidupmu. Bisa dilihat, bagaimana kau bisa berakhir di sini. Di rumahku", retorika Jun dengan menekankan kata terakhir.
Mengingatkan bahwa rumah ini memang sudah menjadi wewenangnya.
*Dia bertemu dengan Yunki?
Apa yang dia minta?!
Dan apa timbal balik yang dirinya pertaruhkan*?
Memang tidak salah perkiraan, jika mereka berdua—brengsek!
"Apa kau memintanya untuk menceraikan ku?!", Bella mendekat menghampiri posisi semulanya, dengan rahang yang mulai tercetak jelas.
Bella benci kondisi ini. Kondisi dimana dirinya dibuat kalut oleh keadaan, terlebih perempuan itu yang tak diperkenankan untuk sekedar memperlihatkan apa itu raut kesedihan. Bukan tidak bisa, tapi lebih tak sudi. Tak ada alasan untuk dirinya memperjelas rasa sedihnya, tatkala Bella menangkap dengan mata telanjangnya bahwa Jun tengah melukiskan seringai dari sisi bibirnya.
__ADS_1
"Apa aku harus memperjelas semua hal yang tak bisa kau mengerti? Kurasa kau cukup cerdas untuk memahami semua ucapan ku"—sialan!
Senjata makan tuan—ya, bisa dikatakan seperti itu, bagaimana Bella termakan oleh omongannya sendiri.
"Tidak perlu diperjelas. Karena dengan begitu, kau tidak akan menderita karena terlalu merindukanku", Bella menyulut kemurkaan.
"Benar katanya, kau memang gadis brengsek", Jun berucap dingin.
Kata siapa, huh?
"Bukankah memang sejak dulu? Kenapa memacari ku, kalau begitu?!", Tempa Bella.
Jun menggendikkan bahunya acuh, "Mungkin dulu aku memang bodoh"
Sialan!
"Apa sekarang kebodohan itu masih melekat dalam dirimu?", Sarkas Bella.
Rahang Jun terlihat mengerat, membuat sudut bibir Bella terangkat remeh.
"Ayolah, Jun. Aku tahu kau masih menyimpan rasa kepadaku. Itu sebabnya kau menyetujui makan malam konyol itu.", Bella membenahi, "Hanya untuk menemui ku, bukan?! Aku tahu itu", tambahnya.
Jun tertawa pongah.
Membuat Bella yang kini beralih mengekspresikan kegeramannya. Tatkala kalimat Jun meluncur sedemikian remeh.
"Sangat disayangkan karena aku bahkan tidak lagi mengingat, ternyata kau dan aku pernah berpacaran sebelumnya", kata Jun.
Kau dan aku?
Bahkan kata 'kita' saja tak lagi Jun gunakan untuk mengarahkan sebutan untuk dirinya dan juga Bella. Apa setidak sudi itu untuk menyatukan penyebutan mereka?
"Entah aku harus berterima kasih atau tidak, karena kau telah mengingatkanku. Tapi yang jelas dan perlu kau ingat, bahwa Jeon Jungkook yang dulu kau kenal sudah mati. Entah dimana dia sekarang, mungkin terlalu hancur telah kau campakkan", Jun bernarasi.
Lalu siapa yang berada didepan Bella sekarang?
Sedikit banyaknya Bella bisa merasakan sensasi berbeda dari Jun saat ini. Benar-benar berbeda. Sorot tajam dan tatapan seakan ingin membunuh pun menguluti Bella, tertera dalam pandangan Jun saat ini. Dimana hal mengerikan seperti itu, tak Bella temukan pada Jun-nya kala dulu.
Apa memang benar—
Jun-nya telah mati.
"Dan kau begitu percaya diri bahwa aku akan merindukanmu, setelah perbuatan konyol mu itu?!" Jun tak memberi kesempatan untuk Bella menguntai kata, "Apa kau sadar, jika kau—?"
"Apa balas dendam yang kau janjikan dulu, sudah akan dimulai dari sekarang?", Potong Bella memborbardir kan kata, "Setidaknya beritahu aku, sebelum kau benar-benar menghancurkan hidupku. Dengan begitu, aku juga akan mengizinkanmu untuk melihat penderitaan ku. Bukankah kau pernah menyinggung soal timbal balik? Kurasa hal itu setimpal", imbuhnya mengimbau jalan pikirannya.
Omong kosong apa yang gadis itu katakan?!
"Apa peduliku dengan omong kosongmu, huh?! Balas dendam?! Tentu saja akan kulakukan, sampai kau tidak berdaya dihadapan ku. Tapi, bermimpi saja jika aku akan memberimu ampun", amarah mulai meniti pikiran Jun, sekali lagi.
"Ah, soal timbal balik. Apapun yang kau lakukan tidak akan setimpal di mataku, setelah kau pergi membawa kebrengsekanmu itu" Jun tak hentinya menohok relung hati Bella.
"Begitukah?", Bella terkekeh miris, "Jika memang begitu, izinkan aku untuk melakukannya denganmu. Untuk yang pertama dan mungkin terakhir kali. Sesuatu hal yang bahkan tak bisa kudapatkan dari suamiku sendiri", Bella meminta.
"Bagaimana? Kau mau melakukannya denganku?", Bella bertanya.
"Tch, makan saja omong kosongmu itu! Aku tidak butuh!", Secara tidak langsung Bella tahu, jika Jun merangkai penolakan terhadap permintaan Bella yang bahkan tak diketahui pasti olehnya.
Tak sampai disitu, kalimat yang Bella untai. Sampai pada akhir kalimatnya dengan intonasi yang terdengar putus asa. Bahkan Jun tak tahu kemana pembicaraan yang Bella arahkan.
"Jika tidak. Apa boleh buat.... aku akan memaksamu"
__ADS_1
- RING MY BELL -