
"Singkirkan kekhawatiran mu dan nikmati detik yang berlalu. Karena aku adalah milikku"
- RING MY BELL -
Bentangan meja makan berukuran sepadan untuk lima orang, telah menggelar tatanan perkakas dapur dengan segenap sajian yang terhidang mewah. Memaksa Bella untuk menghirup aroma yang sangat menyita banyak gemuruh pada aksi demonstrasi yang dilakukan cacing pita dalam organ perutnya.
Lapar? Jangan ditanya.
Namun agaknya gadis yang masih melekatkan dress anggunnya itu, tidak pantas untuk memprioritaskan aktivitas mengunyahnya. Bahkan rasa lemas akibat ulah rasa lapar yang menggerogoti sistem kekebalan imunnya, tak bisa disandingkan dengan sel-sel dalam tubuhnya mencuatkan perasaan tak tenang pun tak nyaman untuk menciptakan satu dua patah kata—canggung.
Mengetahui jika sang dewa penyelamat tak menampakkan setitik batang hidungnya. Membuat Bella menelan salivanya penuh semangat juangnya, mengalirkan sensasi yang berbeda dari pemikiran sebelumnya.
Bella kira dirinya hanya akan dikenalkan dengan kolega bisnis atau paling tidak Yunki akan memperkenalkan dua tiga wanita simpanannya secara resmi.
Tak bisa disangkal betapa terkejutnya Bella, saat gadis itu menatap nanar sekelilingnya. Bella sudah dibuat tak berdaya, lantaran tidak menyempatkan waktu untuk membungkus limpahan amunisi untuk diterjunkan dalam medan pertempuran yang sengit antara dirinya sendiri dengan tamu sang suami.
Tidak biasanya, jajaran jamuan malam akan membuat Bella sungkan untuk menghias piringnya dengan berbagai kudapan lezat didepannya.
Pun satu rangkaian kegiatan yang hampir membuat Bella mati canggung. Bukan Yunki, apalagi Jae. Tidak, bukan mereka berdua yang menjadi pusat atensi Bella. Kendati ada dua insan beda perawakan, yang memperkenalkan diri mereka sebagai pasangan kekasih.
Persetan dengan semua itu!—Bella tidak peduli. Teramat sangat. Yang Bella pedulikan hanyalah sebuah kebebasan dari jeratan pasang hazel yang mengikatnya dengan sorot tak terartikan dari lain pihak, didepannya.
Semua keraguan dan ketidakpastian yang seharian ini meliputi seluruh saraf pengamatan Bella, terjawab sudah dengan ribuan debar kejut. Jadi, seseorang yang netranya rekam di atas sengat matahari pun saat dirinya tenggelam dalam kesibukan kedai Goo Ahjumma adalah—lelaki yang sama persis seperti yang Bella rangkum saat ini. Di meja makan.
Tidak mungkin! Tidak masuk akal, jika pria itu—
__ADS_1
"Jeon Jungkook, suatu kehormatan untukku bisa mengundangmu di acara makan malam sederhana ini", buka Yunki menutup keheningan, "Ah, dia Bella istriku. Kurasa aku tidak perlu memperkenalkan kalian lebih jauh lagi. Siapa disini yang tidak mengenal Rabella Kim, istri Lee Yunki?!" Jelas Yunki tatkala melihat sorot Jun yang tak lepas memperhatikan Bella.
Apa-apaan lelaki itu?!—sialan Yunki.
"Harap dimaklumi! Bella memang gadis pemalu, jadi agak susah untuk berbaur dengan orang yang menurutnya kurang nyaman", ungkapnya terlalu banyak kalimat bagi benak Bella.
Hah, ungkapan basa-basi jenis apa itu?—Bella tak pernah menemui kalimat pemecah kecanggungan semacam itu. Terlampau kuno untuk sekelas pemegang saham terbesar Yniverse Group—Tentu saja, aku diam saja sejak tadi! Karena kau yang membuatku tidak pernah merasakan kenyamanan—Lee Yunki.
Pemalu, ya?!—nantikan saja! Sesaat lagi Bella akan mempertunjukkan bagaimana sifat pemalu nya terdefinisikan dengan jabaran sesungguhnya.
"Ah, ini makanan kesukaanmu! Makan yang banyak, aku tahu kau belum makan sejak pagi tadi", tutur Yunki untuk Bella yang berada disampingnya, lantas menaruh lauk yang digadang-gadang menjadi makanan kegemaran sang istri di atas perkakas makannya.
"Jangan sungkan dengan Jungkook dan Hyora! Mereka pasti memakluminya", kata Yunki menguar perhatian yang dirasa cukup meyakinkan bahwa lelaki Lee itu bersungguh-sungguh dalam bertutur kata—omong kosong!
Sejak kapan Yunki menguarkan kepeduliannya terhadap sang istri?!—Arwah dedemit mana yang merasuki jiwa keparat itu?!
Apa suaminya itu *****? Bagaimana bisa dirinya mempertontonkan bagian kelam dalam biduk rumah tangganya, disaat pribadi Lee itu sengaja ingin mengumbar kemesraan dihadapan beberapa pasang mata.
"Hyung, kau ini bagaima—"
Serta merta Bella melucuti pengucapan Jae dengan deheman yang mengait atensi seluruh sudut bangku duduk yang terisi di selasar papan makan.
"Aku tidak peduli jika kau masa bodo dengan kehidupan ku! Tapi, setidaknya jaga sikapmu didepan tamu terhormat mu...!", ketus Bella dengan beribu kecamuk yang menghinggapi, lantas menghadapkan bola kebenciannya menyapa sang suami disisi kanannya, "Jangan mempermalukan kebodohan rumah tanggamu sendiri, Yunki-ssi!", ucap Bella dengan sekuat hati.
Batin yang sedari tadi merapal untaian menenangkan seperti—i'm fine dan don't be afraid, tengah merajai level kegeraman Bella terhadap Yunki. Bahkan kala ruas lentiknya meremat udara begitu erat, menampilkan getaran murka diatas pangkuan pahanya, lantas mengabaikan konsekuensinya tatkala buku-buku jemarinya nampak kilapan putih, pertanda bahwa kepalan tangannya memang tidak menyepelekan.
__ADS_1
"Kau ini kenapa? Bukankah kau yang sering mempermalukan rumah tanggamu?", Yunki mengintimidasi, dan Bella yakin jika penghakiman seperti ini tidak ada berlangsung pendek, tepat ketika suara Yunki kembali memberi interupsi.
"Bukankah istriku sendiri yang belum sepenuhnya melupakan masa lalunya? Ah, tidak heran jika kau hanya diam saja sejak tadi!", Tegas Yunki dengan maniknya beralih pandang ke arah Jun, "Kalian pernah berpacaran, bukan?! Tidak mengejutkan saat kuperhatikan kalian saling lempar pandang! Tidakkah kalian saling merindukan setelah beberapa tahun tidak bertemu?", Ringan suami Bella dalam mencipta sulutan amarah.
Bella meradang.
Entah setan mana yang bergelayut menggoda sel otak Yunki untuk berujar demikian.
Apa keparat itu sengaja merancang pertemuan ini?!—tentu saja, tidak heran bila banyak hal aneh yang Bella tangkap semenjak kepergian Yunki tatkala menghadiri acara pertemuan dengan kolega kerjanya—namun berakhir dengan menghadirkan sebuah tonggak kebencian terhadap suami brengseknya itu.
"Kenapa diam saja? Kau tidak ingin meluapkan kerinduanmu dengan mantan pacarmu itu?", Sarkas Yunki dengan penekanan yang sengaja dicanangkan pada akhir kalimatnya.
Semua pihak yang berada dibawah bimbingan meja makan tentu sudah mengetahui, kepada siapa penuturan yang dibumbui senyum kelewat remeh wakil pimpinan Lee tertuju.
Namun melebihi dugaan. Tatkala sikap apatis Bella dileburkan dalam bentuk suapan demi suapan yang terjalin dengan menggebu pun serampangan lantas dengan terampil menggapai sajian lauk yang tertata rapi dalam masing-masing piring.
Cara jitu untuk membangunkan kemarahan singa jantan seperti Yunki, tidak lain hanyalah dengan pengabaian yang tak setitik pun mengait atensi Bella terlampau jauh.
Melahap butiran karbohidrat memang menyita banyak hembusan karbondioksida.
Melebihi berita yang mengungkit perihal masalah ludesnya tiket konser Boyband Korea yang banyak digandrungi kaum milenial. Bella lebih dibuat bergidik kesal tatkala ditengah kegiatan susah payah menelan kumpulan nasi yang terhenti di kerongkongannya, saat rungunya tak bisa mengabaikan vokal teramat mendayu terangkum tepat saat dirinya melayangkan sodoran suap kesekian kalinya.
Sudah lama dirinya tak bertemu tatap dengan wanita pengganggu rumah tangganya dengan Yunki itu.
"Sayang, maaf sudah membuatmu menunggu", Lembut wanita bergaun hitam ketat itu, dengan menyalurkan remang dalam diri Yunki.
__ADS_1
Oh, holy shit!
- RING MY BELL -