
"I want it to disappear like a mirage"
So far away - BTS
- RING MY BELL -
Botol-botol minuman berkarbonasi pun yang mengandung alkohol, menjadi hiasan rumah yang nampaknya dihuni oleh satu onggok manusia yang bersandar di kaki sofa dengan satu pergelangan jenjangnya direnggangkan dengan luasnya lantai dan kaki yang lainnya sengaja dibiarkan tertekuk guna menumpu lengan kekarnya yang meremat kuat kaleng minuman yang tidak lagi berisi.
Bersinergis dengan suara soprano yang mengintrupsi ruang rungunya. Mendobrak masuk ke dalam setiap rongga kehidupan yang penuh dengan berbagai kekalutan mental.
Seluruh penjuru ruangan dalam penjangkauan telah tertempa guyuran cahaya plasma datar dihadapannya, tak luput sinaran itu juga memindai tubuh makhluk yang terlihat seperti tak memiliki gairah hidup.
Sepasang manik sekelam obsidian itu lebih menarik atensi pada bingkai pigura yang tersemat nyaman tak jauh dari layar TV. Tak menampik bahwa celah telinganya masih setia mengeratkan pendengarannya untuk melahap audio yang terdengar begitu nyaring.
Jun sengaja mengeraskan volume, agar semakin kentara tatkala vokal sang pembawa berita yang mengungkit perihal pernikahan seorang putra dari seorang pengusaha konglomerat.
Sudut bibir Jun terangkat miris dengan berbagai kecamuk yang mengobrak-abrik dinding kesabarannya. Ingin sekali, dirinya datang ke dalam ranah acara megah itu dan melihat bagaimana dirinya akan menghancurkan segala kegembiraan yang tampak di setiap pribadi yang terlibat dalam rancangan bodoh itu. Namun bisa apa Jun jika hatinya tak seirama dengan niatan buruknya itu? Tak mungkin bisa dirinya mempermalukan kebodohannya sendiri, terlebih-lebih jika Bella ikut terlibat. Tidak ingin dan lebih tidak rela jika hal tersebut dapat merusak reputasi Bella dihadapan khalayak umum.
Sebesar apapun Jun memproklamasikan kebenciannya terhadap sang mantan. Tetapi tak menampik bahwa ada ruang tersendiri bagi gadis yang telah mengisi kekosongan hatinya selama ini—ingin membenci tapi masih menaruh hati.
Kendati yang Jun bisa perbuat hanyalah sebatas merusak kualitas kesadarannya dengan menghanyutkan kewarasannya kedalam larutan memabukkan yang sengaja dilakukannya untuk menghindar dari segala macam bentuk kekonyolan yang menyertainya. Tak pelak menjadikan sebuah kenihilan, lantaran yang Jun dapatkan hanyalah Kepingan kemesraan yang dirajut dengan bayangan semu yang semakin mengikat kesadarannya—kenangan yang tak ingin kehilangan atensi Jun.
"Rabella Kim—", Jun terus mengulang nama gadis yang telah meluluhlantakkan seluruh asa yang terajut dengan rapi sebelum pribadi Kim itu mengungkap kata 'PUTUS', tanpa penjelasan yang mendetail.
__ADS_1
Seberapa keras partikel otaknya yang cerdas itu Jun rotasi kan dalam menemukan titik terang, akan tetapi realita begitu lihai mempermainkan segala kemungkinan, "Harus ku apakan kau?! Merusak pernikahanmu, atau menghancurkan hidupmu seperti yang kau lakukan pada hidupku, huh?"
Entahlah! Apa sebenarnya yang menjadi dasar dari sebuah pengungkapan yang akan menakutkan bagi yang mendengarnya. Mungkinkah hanya sebuah gertakan yang tak berdasar, guna menenangkan hati yang tak ingin kehilangan seseorang yang sudah dilabeli sebagai hak miliknya—ancaman yang terdengar seperti sebuah permohonan untuk Bella kembali ke dalam pelukannya.
Geraman "Argh!" telah mengungkapkan sebanyak apa rasa frustasi telah menguasai seluruh kinerja sendi-sendi kehidupannya. Pun mengacak surai legamnya dengan arah serampangan, lantas dengan terampil Jun mengudarakan bekas wadah minumannya kearah layar datar beberapa inchi dalam radarnya—cukup memekakkan telinga, demikian membumbung bersandingan dengan suara pekikan yang tertahan di tenggorokannya.
Bayangan disaat Bella menampakkan guratan senyum yang selalu diagungkan akan pesonanya. Tidak rela jika kebahagiaan yang memunculkan senyum manis Bella diperuntukkan tidak untuk Jun, melainkan untuk seseorang yang tidak lain adalah sosok suaminya kelak—tidak seperti sebelum-sebelumnya.
Melihat sekali lagi bagaimana senyum yang tak lagi ilusi itu telah mendominasi permukaan paras Bella, yang terhadang oleh lelehan yang tercipta dari kaleng yang Jun lemparkan tadi—sunggingan yang gadis itu perlihatkan kepada khalayak ramai dalam rangkaian perkawinannya. Hati Jun luluh seketika jika dihadapkan pada situasi yang mampu membuat dunianya hanya tertuju kepada satu sosok, tidak lain dan tentu saja seorang gadis yang bernama Rabella Kim.
Nyatanya, gadis itu cukup ampuh dalam memporak-porandakan hidup Jun hanya dengan untaian kata yang mampu merubah tatanan kehidupan seorang Jun.
Sekali lagi. Jun tidak akan merelakan dunianya diambil alih kuasanya oleh seorang lelaki yang seharusnya tak ikut andil dalam rusaknya hubungan dirinya dan juga Bella. Lelaki waras mana yang akan memberikan dengan senang hati wanitanya, sejauh pikiran berkelana mencari sebuah kerelaan?
Sebelum kembali meloloskan genangan arak didalam tabung kaleng untuk melumasi kerongkongannya yang merasa tercekat, dengan rangkaian kalimat yang pribadi Jun dramatisir agar kembali membakar gempita untuk dirinya bangkit dari keterpurukan. Dibalut senyuman yang nampak seperti tokoh dalam film yang memerankan karakter psikopat.
"Tunggu tanggal mainnya! Akan ku buat semua orang berada pada tempat yang semestinya!"
- RING MY BELL -
Piasan diri yang terangkum dari pantulan cermin, terekam membisu dalam diam sembari menilik sejemang raut kekecewaan terhadap dirinya sendiri yang sejajar dengan kilauan displaynya. Lantas memasrahkan helaan nafasnya dengan sejuta tekanan yang memburah, menjadi kepingan kecamuk yang mengisi setiap sudut relungnya.
Pecahan memori yang memutar ulang kronologi kala dirinya dan Yunki mengikrarkan janji suci pemberkatan mereka didepan berbagai pasang mata. Pun agaknya bukan hanya isapan jempol semata, ungkapan yang menjerumus pada kalimat—penyesalan akan menjadi akhir dari sebuah keputusan.
__ADS_1
Memang benar faktanya.
Bella paham, jika penyesalan tidak akan sejalan beriringan dengan skenario yang telah menjadi garis tangannya. Siapa yang menyangka bahwa dirinya akan berakhir pada sebuah ikatan pernikahan dengan lelaki yang sama sekali tak memiliki tempat dihatinya. Bahkan dengan bodohnya, rela mengorbankan perasaan cintanya demi alasan yang belum jelas kepastiannya.
"Nona Lee?", Panggil salah satu wanita yang terlihat mengenakan pakaian senada dengan sosok yang mendandaninya waktu tadi, tampak memburai lamunan Bella, "Anda harus segera berganti baju", ujar wanita itu sesaat setelah mendapatkan tatapan penuh pertanyaan dari Bella, melalui biasan kaca rias dihadapannya.
Satu lagi. Hal yang harus Bella biasakan untuk selalu menerimanya, jika marga Kim-nya telah berganti dengan marga sang suami seiring pernikahan yang sudah terikrar beberapa waktu berlalu.
Rabella Lee.
Nama yang terdengar tak begitu familiar bagi rongga pendengaran Bella. Meski demikian gadis itu tak lagi bisa berbuat banyak dalam hal yang menyangkut identitas barunya. Sudah saatnya Bella mempresentasikan sebuah kelapangan hati untuk masalah yang satu ini.
Ah, tidak.
Bella lebih suka jika seseorang menjunjung marga Kim daripada nama keluarga yang didapat dari sang suami.
Ingatkan, untuk siapapun itu! Rabella Kim, akan selalu menjadi nama Bella. Tidak sudi menjadi bagian dari keluarga Lee. Apapun alasannya.
Itu, saja!
"Baiklah", terang Bella yang menyetujui permintaan sederhana wanita itu seraya beranjak dari tempat dirinya bersimpuh dengan memindahtangankan gaun yang sama elegannya dengan yang Bella kenakan saat acara perikraran—dengan sejuta keengganannya.
- RING MY BELL -
__ADS_1