RING MY BELL

RING MY BELL
6. Mom


__ADS_3

"The first time I met you,


I cried as soon as I saw you"


- RING MY BELL -


"Mami?!"


Seruan itu secara otomatis menghentikan deru langkah yang tercipta dengan menggebu diikuti tolehan kepala, sekedar memastikan jika rungunya tidak salah mendengar suara yang dikenalnya sedang memanggil dirinya.


"Kenapa tidak bilang kalau Mami akan kemari?", Tanya Bella setelah berhasil membuat torsonya berhadapan langsung dengan seseorang yang ditunggunya sejak awal.


Dibalik sambungan telepon, gendang telinga Jun menyerap dengan jelas bagaimana vokal Bella membuat sesuatu dalam diri Jun berdenyut nyeri.


"Mi? Mami baik-baik saja?", Tanya Bella khawatir lantaran wanita yang dipanggil Mami itu tak merespon barang sepatah kata pun.


Hati Jun sudah tak lagi sanggup menahan diri untuk menggoreskan sayatan belati yang terasa begitu perih, disaat suara Bella mengalun dengan cara yang sama menyakitkannya disaat suara itu menggema untuk mengutarakan pengakhiran dari jalinan asmara mereka. Terdengar mengintimidasi seluruh organ tubuh Jun. Kendati demikian, Jun mengesampingkan kerinduannya akan gadis yang memenuhi ruang hatinya itu dengan secara sepihak memutus interkoneksinya. Lantas membanting gawai pintar itu dengan bunyi debum cukup keras di atas papan meja.


Bella masih dibuat bingung oleh sikap nyonya Jeon, tatkala dirinya merasa diacuhkan karena tidak kunjung diberi respon terhadap pertanyaannya. Pun Bella dituntut oleh benaknya untuk melambai-lambaikan telapaknya didepan wajah ibu Jun, menanti sebuah reaksi yang semestinya.


Benar saja. Dengan demikian, tatapan nyonya Jeon yang sebelumnya nampak kosong kembali terfokuskan dengan binarnya yang menyorot lembut kearah tepat bola hazel Bella. Pun disandingkan dengan senyum yang meminta Bella untuk tidak khawatir. Dia baik-baik saja, sensornya mengatakan demikian.


"Kenapa harus bilang dulu padamu? Bukankah sudah menjadi sebuah keharusan untuk setiap orang tua menghadiri pernikahan anaknya?", Katanya memperjelas.


Bella lantas menyunggingkan senyum pahamnya dengan anggukan membenarkan, "Kupikir Mami tidak akan datang", ucap Bella membicarakan perkiraannya tadi.


"Bella. Selamat, semoga kau bahagia dengan kehidupan barumu", ungkap wanita yang sudah Bella anggap sebagai seorang ibu itu, yang mengikutsertakan telapaknya mengusap lembut lengan gadis yang baru menyelesaikan ikrar nya, "Ibu tidak menyangka kau akan mendahului Jun", imbuh nyonya Jeon sembari tertawa getir.


Seketika Bella memudarkan lengkungan sudut bibirnya, diganti perankan dengan air muka yang mempresentasikan rasa bersalahnya yang kembali muncul kepermukaan setelah menyerap kalimat ibu Jun.


Jun?


Membicarakan perihal nama itu, Bella rasa dirinya tak merangkum eksistensi lelaki itu dalam jangkauannya. Apa mungkin manusia satu itu menunggu sang ibu diluar, lantaran tak ingin bertemu pandang dengan Bella? Atau memang sosok yang diharapkan kedatangannya itu sengaja menghindar pun tak lagi ingin berurusan apapun yang menyangkut kehidupan Bella, yang hanya sebatas mantan tak berperikemanusiaan ini?

__ADS_1


Pun dari sudut pandang nyonya Jeon, dirinya meyakini bahwa Jun kala tadi sempat mendengar lantunan Bella lewat sambungan telepon mereka. Tatkala bunyi yang dihasilkan dari benda pintarnya sebagai pengakhiran dari panggilan mereka itu, nampak terdengar setelah Bella mendekat menghampiri dirinya, pun setelah sapaan Bella mengudara.


Sudah pasti Jun gagal dalam menguatkan kerapuhan hatinya, tatkala dirinya mendengar suara Bella.


Suara yang dalam sekejap saja mampu merontokkan dinding pertahanan Jun untuk segera mengenyahkan jangkitan kenangan bersama mantan gadisnya.


"Jun tidak bisa datang. Seharian ini dia sibuk mempersiapkan kebe...",


"Mi, maafkan aku", potong Bella, "Aku tidak bermaksud melukai siapapun. Tanpa memikirkan bagaimana perasaannya... aku sudah membuat Jun terluka. Begitupun dengan Mami. Maaf telah menjadi penyebab kekhawatiran Mami", sesal gadis itu akan dirinya yang merusak kualitas kebahagiaan dua orang yang telah menasbihkan mereka sebagai anggota keluarganya itu.


Nyonya Jeon paham jika gadis yang dianggapnya sebagai darah dagingnya sendiri itu tengah dilanda prahara cinta dengan seorang pria yang nyatanya adalah anaknya sendiri, Jun.


Melihat Bella yang mengharapkan adanya sosok Jun pada pesta pernikahannya, membuat hati wanita itu mencelos berantakan. Tatkala bola penglihatan Bella tak berhenti bergerak mengitari penjuru hingga sudut ruangan tanpa celah sedikitpun—sungguh jelas terlihat bahwa gadis itu sedang mencari eksistensi Jun.


Wanita yang disinyalir memiliki nama lengkap Jeon Sunhi itu, hanya memulas senyum pemakluman atas kalimat yang Bella rangkai, "Tidak, sayang!", Nyonya Sunhi menarik tubuh ramping itu kedalam dekapan tubuhnya, lantas melanjutkan, "Kau tidak bersalah atas siapapun. Ibu paham jika kau tidak akan melukai hati Jun. Ingatlah! Bahwa kau maupun Jun, tidak satupun dari kalian yang melakukan kesalahan dalam hubungan kalian. Semuanya hanyalah jalan takdir, tidak perlu disesali", penjelasan ibu Jun yang berharga dapat melepaskan rasa bersalah pada diri gadis yang merengkuhnya erat itu.


"Minuman anda, Nona", tegur seorang pelayan yang mengecai keheningan sesaat ibu Sunhi dan Bella. Pelayan serupa dengan yang menawarkan cocktail kepada Bella beberapa saat lalu.


Pelukan bagai dikepung rasa rindu itu mau tidak mau harus terburai, bersamaan atensi kedua pribadi itu terfokus pada sosok yang membawa nampan bertatakan beberapa gelas berkaki. Dapat dimaklumi jika terdapat cawan yang berisi air bening, diantara minuman beralkohol itu. Lantaran menit yang berlalu tadi, Bella memesan dua gelas air mineral.


"Ah, terima kasih. Letakkan saja di meja", titah Bella yang dibalas pemahaman oleh sang pelayan.


"Tidak perlu melakukannya. Ibu tidak haus. Ibu juga harus segera pulang, sebelum Jun...",


Lagi. Penuturan ibu Jun yang berharga itu harus kembali disela gadis tak sabaran itu.


"Mami!", Bukan bentakan, melainkan hanya nada panggilan yang ingin diberi pengertian. Anggap saja sebuah rengekan seorang anak saat akan ditinggal pergi, atau bahasa mudahnya disaat anak tersebut tak dibelikan permen kapas kesukaannya pada saat mengunjungi taman wisata.


Ah, rasanya sangat tidak mengenakkan. Lantaran euphoria menyambut kemeriahan menaiki wahana permainan harus disirnakan oleh penolakan sang ibu membelikan camilan favoritnya.


"Bukankah Mami keterlaluan?! Jun sudah bukan anak kecil lagi, dia sudah dewasa. Lagipula, aku masih merindukan Mami", rengek Bella, "Khusus untuk hari ini, seharusnya Mami bersamaku saja. Jangan dengannya!", gumamnya mengimbuhi.


Permukaan paras yang diselimuti raut masam Bella, tak pelak membuat sudut bibir Sunhi terangkat. Tak percaya jika gadis yang saat ini sudah mengemban tugas sebagai seorang istri, masih saja bertingkah menggemaskan dihadapannya.

__ADS_1


Kendati hal yang sama terjadi dengan Bella, mengikuti jejak sang ibu. Menampakkan senyum yang mengembang antusias, diikuti bola netra yang bersembunyi akibat dorongan buntalan pipinya. Keduanya tenggelam dalam kesibukan mengocok perut dipandu gelak tawa—menertawakan sesuatu yang hanya diketahui oleh mereka seorang.


"Sudahlah, perut Ibu jadi sak.... Astaga", pekik nyonya Jeon yang memotong kelengkapan kalimatnya sendiri.


Heran. Sudah berapa banyak jumlah pemotongan tutur kalimatnya hari ini? Agaknya hari ini dirinya memang ditakdirkan untuk tidak banyak bicara.


"Bisakah kau berhati-hati?! Apa kau tidak melihat ada orang di sini?!", Ketus Bella memarahi pelayan yang tak sengaja menumpahkan larutan tak berwarna itu ditempat yang tak seharusnya terkena siraman air. Pun menambah kadar amarah Bella, saat sosok yang menjadi tersangka utama itu hanya diam membisu dalam tundukkan rasa bersalah.


"Kau tidak ingin minta maaf?! Atau kau hanya akan berdiam diri seperti itu terus?", Pertanyaan yang sebenarnya mengarah akan emosi Bella yang keluar dengan sendirinya, saat melihat tak ada pergerakan pun niatan dari lelaki berseragam putih itu untuk mengutarakan permintaan maafnya.


Menurut penelaahan seorang yang sudah makan banyak asam garam, nyonya Jeon menghargai bagaimana cara Bella menjaga dan melindungi orang yang memiliki arti penting dalam kehidupannya. Namun, agaknya sikap yang ditunjukkan gadis itu mengacu pada standar kenormalan—sedikit berlebihan.


Kendati angkara begitu tak terelakkan tatkala Bella kembali berujar, "Kau tidak akan melakukannya?! Kau mendengarku?! Kau bisu atau bagaimana?!", Bentak Bella yang sudah tak ada lagi kata damai.


Namun bahana itu masih sanggup menerima toleransi, lantaran tak banyak mengundang perhatian dari para tamu yang lain, hanya ada satu dua gadis yang menyebar bisikan diantara mereka. Dan lucunya, makhluk-makhluk yang tengah bergosip ria itu tak begitu mengejutkan, lantaran para gadis yang masih belum berganti wajah—mereka yang tadi mendapat skak mat dari Bella.


Merasa keadaan tak berpihak pada Bella, alangkah baiknya jika ibu Sunhi tergerak untuk menghentikan laju amarah Bella sebelum semua hal berujung pada nestapa tak diinginkan, "Bella-ya, sudah. Ibu tidak apa-apa. Kau tidak perlu memperpanjang masalah ini. Dia tidak sengaja menumpahkan minumannya, bukan?", Rujuk ibu Jun yang berupaya agar Bella tak melanjutkan dominasinya.


Bujukan nyonya Jeon sama sekali tak ada setitik pengaruh terhadap gadis yang mematrikan sensor tajamnya pada pelayan itu. Lantas detik selanjutnya kelegaan terasa begitu nyata, tatkala nyonya Sunhi mendengar kalimat yang sejak tadi menjadi tujuan utama Bella.


"Maafkan saya, nyonya. Lain kali saya akan lebih berhati-hati. Kumohon, maafkan saya!", Pintanya memohon. Takut jika istri dari seseorang yang mempekerjakannya itu mengadu kepada atasannya, atau lebih mengerikan lagi kalau Bella membeberkan kecerobohannya itu pada suaminya, Tuan Lee Yunki. Habis sudah hidupnya jika perkara sepele ini akan membawa dirinya ke meja hijau.


"Aku mengerti. Pergilah!", Balas nyonya Jeon menerima uluran maaf sang pembawa minuman. Secepat mungkin untuk meredam situasi yang mampu mengundang banyak spekulasi negatif tentang perlakuan Bella yang dinilai merendahkan harga diri sang terdakwa kasus penyiraman itu. Meskipun tak begitu kenyataannya di mata nyonya Jeon.


Bella itu lain daripada yang lain.


Menurut Sunhi khususnya.


Sampai-sampai hal yang dirasa kurang penting untuk diperdebatkan oleh segelintir orang pun, akan tetap menjadi perkara bagi Bella, sekecil apapun itu. Meski demikian gadis itu tak lantas menjadi pihak yang ingin selalu segala sesuatunya ingin dibenarkan. Bella tidak seperti itu. Rabella Kim, ah baiklah, Rabella Lee merupakan gadis pilihan yang dikirim melalui perantara yang tak terduga dari sang penguasa angkasa. Terlampau berharga pun istimewa untuk disia-siakan begitu saja. Pun baik dengan cara yang sama istimewanya, kendati memiliki jalannya sendiri untuk menebarkan kebaikan diantara orang sekitarnya.


Bella hanya terdiam dalam raut kesalnya, tanpa kata. Seolah untaian katanya ikut terpendam bersama dengan makian yang ingin keluar, jika saja sang mami tadi tak langsung menyela.


"Sudah, jangan cemberut seperti itu! Ibu ketolilet sebentar", pamitnya saat ingin beranjak, lantas melanjutkan sebelum benar-benar menjauh dari hiruk pikuk pesta, "Astaga, kau ini menggemaskan sekali", godanya diimbuhi dengan ruasnya yang menoel gemas buntalan yang tak kalah menggemaskan itu.

__ADS_1


- RING MY BELL -


__ADS_2