RING MY BELL

RING MY BELL
25. So What


__ADS_3

"90% dari kekhawatiran adalah rawa imajiner yang kamu buat"


So what - BTS


- RING MY BELL -


Udara musim semi telah membentang di sepanjang kota dengan deru mesin mobil pun pekikan klakson, yang berlomba-lomba menginterupsi ruang rungu orang-orang yang berlalu lalang di tengah pedestarian. Dengan kepalan tangan disarangkan pada kedua sisi saku pakaian hangat—guna mendukung hawa dingin yang menyergap tanpa kenal toleransi.


Derap langkah panjang-panjang yang Bella telurkan pun tak bisa lepas dari debar jantung yang sudah menggila di dalam sana. Mengabaikan bagaimana sapuan dingin menyibak helaian surai, dengan tiupan angin yang berhembus menikam setiap sudut tubuh yang hanya berbalut piyama tipis. Untung seribu untung, Bella masih bisa menyempatkan detiknya bersamaan dengan telapaknya yang meraih coat berwarna senada dengan baju tidur, yang juga Bella pinjam dari Jun. Ah, untuk pakaian tidur sebenarnya Bella tidak berniat hati untuk melantunkan pinjaman, namun dengan brengseknya lelaki Jeon itu seenak jidatnya mengganti gaun hitamnya tanpa gadis itu ketahui—*apa dia melihat semuanya?!


Astaga*!


Bella tahu dirinya tak mempunyai banyak waktu untuk memperdebatkan masalah seperti itu. Gadis Kim itu hanya harus fokus pada tujuannya, saat dengan berat hati Bella melenggang pergi dengan meninggalkan raut sedih pun kecewa Sunhi, ibu Jun. Telapak tangannya sudah gatal ingin membubuhkan tanda memar di sudut bibir Lee Yunki, suami sialan Bella.


Menggelar baku hantam akan lebih seru untuk Bella mencurahkan segala kecamuk yang mengendap dalam jiwanya. Namun kenyataan berbanding terbalik dengan apa yang menjadi angan, tatkala keadaan lebih mendukung pihak lawan dengan memposisikan Bella yang tampak berpasrah agar meredam suara emosinya.


Ditengah perjalanannya sejauh mana Bella ingin meraih tempat pemberhentian bus, istri Yunki itu tak sengaja menumpahkan kekepoan nya dengan berdiam diri untuk mengambil informasi mengenai konferensi pers yang digelar Yunki tanpa melibatkan diri Bella. Sejenak mengamati papan billboard yang memberitakan perihal gugatan perpisahan yang telah Yunki sebar di semua platform.


Brengsek memang!


Namun apalah daya, jika paparazi tengah mengintai di seluruh sudut kantor Yunki. Mengabaikan Bella yang berdiri di balik pohon dengan radar mengawasi keadaan. Entah sejak kapan penutup kepala tersemat nyaman untuk menutupi penyamaran Bella. Berupaya keras menurunkan cuping topi agar tak ada yang bisa menebak siapa gerangan potret dibalik busana gembel itu.


Gembel?!—tentu saja, orang waras mana yang akan berkeliaran bebas dengan balutan compang camping. Ah ralat, tidak sedramatis itu juga sebenarnya. Hanya saja tampilan Bella pagi ini benar-benar mengundang spekulasi negatif.


Ekhm!—berdehem pun menghirup ketenangan agaknya mampu menetralisir ketegangan Bella untuk mengikuti alur kerumunan para pemburu berita, agar terbebas lepas tanpa aral melintang. Dengan begitu Bella mampu mencapai ruangan wakil pimpinan Yniverse Group dengan damai.


Namun tak sesuai ekspektasi, tatkala melintasi rombongan wartawan tak semudah yang Bella bayangkan. Gadis Lee itu kira hanya mampu menghabiskan kurang dan lebihnya lima hingga sepuluh detik, bisa kurang kendati tak melebihi perkiraan.


Tapi...


Apa ini?!


Tubuh manusia berbalut kain kotak-kotak itu terdampar di tengah pembauran dengan raga yang terombang-ambing dalam kebrutalan para pencari gosip.


"Bukankah dia Rabella Kim?!", Teriak salah satu news anchor yang menyaksikan Bella jatuh terjerembab, dengan pengalihan yang gagal terealisasikan secara tidak terduga.


*Ah, sial!...


Bagaimana ini*?!


"Benar dia istri Lee Yunki", tanya  yang sekon lalu tersebar di setiap pemburu informasi, tampaknya mendapat pencerahan atas keraguan mereka. Tatkala topi yang mendukung aksi penyamaran Bella, tersibak jatuh pun menampilkan raut kejut Bella.


Suara cekrek mulai beradu dengan sinar kamera yang membidik segmen terbaik untuk serial hari ini. Rasa-rasanya, apapun yang Bella lakukan hari ini akan menjadi highlight di setiap penjuru kota. Terlebih penampakannya sekarang bak seonggok manusia kurang belaian, seolah mendukung pengumuman gugatan cerai yang Yunki layangkan.


Hidup sengsara setelah pisah ranjang dengan sang suami.


Astaga!—bahkan hal-hal konyol semacam itu jelas terpampang nyata, untuk dijadikan tajuk utama di beberapa portal berita. Bella tak menyangka bahwa pengaruh mendiang orang tuanya akan semenyeramkan, untuk dirinya terapkan dalam kehidupannya. Terlebih Lee Yunki yang digadang-gadang sebagai kandidat utama dalam memegang jabatan sebagai direktur utama StarLA Group.


Tak membutuhkan banyak detik, tatkala Bella bersusah payah menyembunyikan parasnya dari mata kamera, dengan berbagai pose. Tatkala tangan yang dimanfaatkan untuk memblokade titik wajahnya, ada telapak lain yang meraih pergelangan Bella dan membawa tubuh yang tersungkur itu lekas pergi meninggalkan jangkauan wartawan.


"Selain brengsek, kau memang gadis bodoh, Bee!", Ejek sang penyelamat kepada Bella yang masih mengeratkan genggaman tangannya.


Bella sudah menelan bulat-bulat pemahamannya sendiri. Bahwasanya lelaki yang lagi dan lagi menjadi ksatria hitamnya, merupakan sosok yang sama beberapa tahun silam. Siapa lagi yang menguntai panggilan itu jika bukan, Jae?


Aishh... kenapa harus dia, huh?!


"Kau bersekongkol dengannya?!", Interupsi Bella kala dirinya dan Jae sudah jauh dari peradaban bauran awak media, dengan Jae yang setia mengafeksi pergelangannya.

__ADS_1


Tak ada jawaban atas spekulasi Bella. Hanya ada binaran tatap yang Jae layangkan tanpa geming, "Jangan coba-coba memperdaya ku, setelah kau bersekutu dengan keparat Yunki!", Ancam Bella yang bersinergi dengan dirinya yang menangkis dekapan ruas Jae.


"Bee—", Gantung Yunki yang kembali menjerat perpotongan tangan Bella, tidak berniat menyakiti gadis itu. Namun pekikan lirih Bella mampu mempresentasikan sebuah kejut demikian sakit, "—tidak bisakah kau juga memberikan sedikit hatimu untukku?!", keluh Jae dengan intonasi beratnya.


"Apa maksudmu?!", Tanya Bella masa bodo.


"Maksudku, aku menyayangimu", jujur Jae.


"Aku juga sayang padamu, apa lagi?!", Lugas Bella tanpa memperhatikan setiap konsonan yang terlantun.


"Aku tahu... Tapi bukan itu yang ku mau. Tidak bisakah kau memandangku seperti kau memandang Jun?", kesah Jae.


"Kau ingin aku membencimu?!", Bingung Bella dengan nada kejamnya.


"Kau tidak membencinya, hanya saja kau tidak sanggup melupakannya. Aku tahu itu, Bee!", ujar Jae membenarkan adanya kekeliruan dalam perasaan Bella.


"Aku tidak tahu, jika sekarang kau banyak bicara omong kosong. Tidak bisakah kau memberiku ruang?", pinta Bella dengan sejuta pengharapan akan kebaikan Jae, "Aku sedang tidak ingin bercanda denganmu. Berhentilah membual tentang bagaimana aku harus memperlakukanmu. Dan kau tentu tahu apa alasannya", Bella menginginkan secercah asa.


Tepat saat pintu lift tersibak, kendati menampilkan pekerja kantor yang amat terkejut tatkala merangkum sepasang eksistensi yang tengah mengarungi dunianya disudut ruang lift, dengan tubuh Jae yang menyudutkan Bella dengan kungkungan paksa.


"Apa yang kau lakukan?!", ketus Bella berusaha memforsir volume suaranya, agar tak banyak menginterupsi rungu wanita dengan balutan kemeja kantor. Dan Bella tahu dua karyawati itu tengah menajamkan ruang pendengarannya guna mengorek informasi mengenai, apa gerangan yang tengah dilakukan istri pimpinannya dengan pria lain.


Selingkuh.


Satu kata yang tepat menghujam telinga Bella dengan begitu jelas terdengar, kala dua gadis itu tengah berbisik namun penglihatannya tetap mengekor apa yang diperbuat Jae pada Bella.


Bisikan mendayu kini mengintimidasi seluruh raga Bella, teralun begitu dalam dengan tatapan Jae yang jarang Bella dapati, "Memperdayamu, apa lagi?!"


Sumpah serapah senantiasa menjadi lebih bersahabat dengan Bella hari ini. Entah apa kesalahan yang dirinya perbuat di masa lalu, sehingga Bella di rubung sederet permasalahan yang tak bisa lepas dari deru nafasnya.


"Justru, kau... Kau yang akan mempersulit dirimu sendiri. Tidak bisakah kau menerimanya, tanpa membuat keributan?!", resah jae dengan pengamatan yang tak bisa Bella jangkau oleh ketidakmengertian.


Rahang Bella hampir terperosok dalam lembah ketidakpercayaan. Pun Bella masih menimang-nimang dengan penuh penghayatan, tatkala decihan samar memimpin ruang dengar Jae, "Kau serius?! Apa yang kau rencanakan dengan Yunki sebenarnya, sampai kau mati-matian membela keparat itu?", Paksa Bella meminta kepastian.


"Aku hanya tidak ingin—"


"Apa? Kau tidak ingin aku apa? Bahagia? Kau tidak ingin aku merasakan kebahagiaan, begitu?! Apa sebelumnya aku berbuat salah padamu, sehingga kau membenciku sekarang?", Sela Bella mengorek akan kebenaran yang bergelayut tak tentu arah.


"Apa yang kau bicarakan?! Kau tentu tahu, bukan itu—"


"Aku tahu...aku tahu kau bekerja sama dengan Yunki untuk menjebak ku dalam suasana malam itu. Aku cukup tahu, jika sahabatku sendiri telah menusuk ku dari belakang", buka Bella belum sepenuhnya mengakhiri tutur katanya, "Apa semua itu belum cukup untukmu berhenti membuatku menderita?! Sahabat macam apa yang tega menghancurkan kehidupan sahabatnya sendiri, huh?!", Protes Bella mencari pengertian dari sang sahabat, Jae.


"Aku terpaksa—"


Agaknya untuk hari ini, Jae harus menelan bungkam untuk waktu yang cukup besar menyita titik jenuh. Lantaran Bella tak mengedepankan kepentingannya di atas kelengkapan kalimat Jae.


"Terpaksa agar kau juga mendapat bagian atas StarLA?!", Tuduh Bella.


"Apa maksudmu?!", Jae sedikit banyaknya tidak menerima tuduhan yang dialamatkan kepada dirinya.


"Maksudku, kau sama serakahnya dengan Lee Yunki", kata Bella memperjelas untaiannya.


"Aku tidak seperti yang kau pikirkan, Bee!"


"Lalu? Kau jauh lebih buruk darinya, begitu?!"


"Cukup, Bee! Aku tidak suka kau menuduhku seperti itu"

__ADS_1


"Maka, pergilah! Jika kau tidak ingin aku berpikir buruk tentangmu"


"Boleh aku minta sesuatu sebelum pergi dari sini?", Tanya Jae yang dibalas tatapan penuh tanya dari Bella, "Satu hal yang kau lakukan tempo hari, saat kau menyapa lelaki itu", tambah Jae secara gamblang.


*Siapa?...


Jun?! Ciuman, maksudnya?!


Tch...yang benar saja*!


"Kau gila?!", Ungkap Bella tidak habisnya berpikir atas keinginan konyol sang sahabat, "Orang gila mana yang menyapa dengan ciuman?!", cergas Bella.


"Kau...kau yang gila, Bee! Maka dari itu aku memintanya darimu", kukuh pribadi Shin.


Tanpa mengembangkan dugaan sebelumnya, Jae dibuat berdebar bahagia oleh eksistensi dalam kungkungan raganya. Tatkala dengan pasti Bella melingkarkan pergelangan kirinya pada leher Jae. Lantas lengan lainnya yang ditelusupkan pada perpotongan pinggang pria Lee.


Dan yang membuat aliran darah Jae berdesir, mencipta perasaan aneh yang mendadak mengintimidasi seluruh jiwa raga. Pun perut Jae dipenuhi kepakan kupu-kupu, tatkala dengan perlahan deru nafas Bella mulai menyapu permukaan parasnya. Mendekatkan fitur wajahnya dengan masing-masing individu yang mencuri pandang pada bongkahan kenyal—ingin sekali Jae menyesap manisnya bibir Bella.


Godaan bibir yang mengalihkan seluruh dunia Jae. Sedikit tebal. Pas sekali jika bertemu dengan miliknya. Saling beradu mencapai kenikmatan pun kepuasan, yang Jae yakini jika kedua pencapaian itu hanya bisa dirinya dapatkan dari gadis dalam dominasinya, Bella—tidak ada yang lain.


"Kau menginginkannya?", seduktif Bella dengan bisikan yang membuat sesuatu dalam diri Jae meninggi pun menggebu.


Tutur tanya yang Bella tempa pun mendapat anggukan mengiyakan atas keinginan Jae, "Tentu, kau bisa memilikinya. Kapanpun kau mau", Bella mengimbuhi.


Tubuh Jae sudah jauh menegang, dibanding saat dirinya mengunci raga Bella. Pun didukung oleh suara lirih Bella, saat bibir itu bersinggungan langsung dengan cuping telinganya. Meluluhkan seluruh raga Jae untuk tidak berpaling akan sentuhan Bella yang demikian menginvasi kesadarannya.


"Aku bisa memilikinya?", Jae bertanya memastikan.


Bella mengangguk sejemang, diiringi senyum yang terkembang meyakinkan. Jae pun agaknya terpancing untuk mempercayai penjelasan singkat Bella, dengan sulaman senyum membahagiakan bagi sudut hatinya.


"Tentu—", Bella mencipta keyakinan melalui kata. Pun sengaja menggantungkan kalimatnya yang dibalas sorot tanya untuk Jae yang menunggu kelanjutan informasinya.


Ada banyak kekhawatiran yang tersembunyi dalam desahan.


Kumohon, jangan ada tapi!


Namun, untuk kesekian kalinya Jae dibuat terkejut akan tindakan Bella. Tatkala pekikan "Akh!", membumbung di lantai lift dengan reaksi kejut yang menginterupsi penghuni ruang lift.


Jae tidak pernah mengikutsertakan sangkaannya terhadap apa yang akan Bella lakukan pada dirinya. Selain, ya—ciuman. Jae hanya menginginkan bibir tanpa polesan gincu itu memanggut bibir miliknya penuh nafsu yang menggelora.


Namun harapan pun penghayalan yang detik lalu Jae agungkan kini beralih menjadi malapetaka bagi titik yang terkena serangan perih. Entah bagaimana kondisi perutnya sekarang. Ya, bisa dipastikan akan meninggalkan bekas memar. Bagaimana tidak?! Jemari yang tadinya meraba penuh afeksi, beralih menjadi sangat agresif tatkala Bella memilin perut Jae dengan pelintiran memuaskan dari sang penyubit.


Tawa girang Bella kini tak lagi bisa dirahasiakan, tatkala Fortuna berpihak untuk mendominasi permainan. Siapa yang menyangka, jikalau Bella telah mengantongi kelemahan teman sejawatnya ini, tanpa banyak khalayak ketahui.


Lelaki kelebihan hormon yang Bella manfaatkan dengan sedikit sentuhan.


Mudah bukan?!


"Tentu... aku akan mengizinkanmu untuk menciumku, sejauh yang kau inginkan", ucap Bella membuat sensor Jae menyalak kesal, tatkala telapak Bella menyentuh garis rahang Jae dengan ibu jari yang mengelus lembut, "Berimajinasilah, seolah-olah kau benar-benar bercinta denganku, tuan Shin!"


"Baiklah. Nikmati setiap lekuk tubuhku dalam imaji mu, aku tidak akan melarangmu"


Senyum mengejek, Bella tebar sebagai penghantar perginya.


Meninggalkan Jae yang mematung seorang diri, dengan smirk yang terkembang sarkastik.


- RING MY BELL -

__ADS_1


__ADS_2