RING MY BELL

RING MY BELL
24. O!RUL8,2?


__ADS_3

"Ambil kesempatan dan jangan pernah menyesal"


Intro: O!RUL8,2? - BTS


- RING MY BELL -


"Bisa kita bicara sebentar, Jungkook-sii?!"


Jun masih mencerna keadaan yang benar-benar menyita kewarasannya. Ciuman Bella bukanlah perkara sepele jika diperuntukkan untuk organ hidupnya. Ingin menata ulang debar jantungnya yang telah berdemo di dalam sana. Pun menormalkan sirkulasi udara yang masuk, tatkala dadanya serasa dihantam ribuan beton yang tak mengizinkannya untuk meraih kesadaran.


"Pulanglah dulu! Maaf, tidak bisa mengantarmu", kata Jun kendati tak banyak pihak yang mencuri dengar.


Hyora yang sejak awal hanya sebagai pemanis, bahkan lebih buruk dari anggapan sebagai pembasmi insektisida yang tak berfaedah jika disandingkan dengan perdebatan yang tercipta beberapa waktu lalu.


Melepas jarak setelah kepergian Bella, mungkin Hyora tanpa segan akan menapaki jejak gadis yang sempat meluangkan diri untuk membuat Hyora tercengang atas tindakannya terhadap Jun—pergi juga dari sini.


"Baiklah"—mungkin ini keputusan yang tepat untuk membiarkan mereka menyelesaikan urusan yang belum sepenuhnya terselesaikan.


Setelah tak ada lagi kekhawatiran pun tidak lagi bertempur melawan kecamuk yang dihadirkan dalam sentuhan Bella kala tadi. Jun pun menghela nafas berharap bisa meraup ketenangan jiwa sebelum meringkas langkah mendekati presensi Yunki.


"Sebelum berbicara lebih jauh, bolehkah saya mengajukan saran?", Jun bertanya.


"Tentu. Apapun itu", setuju Yunki dengan telapaknya mempersilahkan.


"Saya sarankan untuk tidak membahas hal penting itu disini. Akan lebih baik jika pembicaraan kita tak banyak diketahui orang lain", saran Jun dijabarkan secara lugas pun mengeluarkan suara pikirannya.


Lebih tepatnya, saat Jun melihat presensi Jae yang nampak penasaran dengan kelanjutan obrolan mereka.


"Hal penting? Apa memang sepenting itu Rabella Kim di hidupmu?", Yunki tak lantas mencipta jawaban atas kalimat saran Jun.


"Apa pertanyaan anda wajib untuk saya jawab?", Jun membimbing pandangannya untuk terarah tepat di mana bayangannya tercetak jelas pada sorot tegas Yunki, "Bagaimana jika saya menjawab 'iya'? Apa jawaban saya akan merubah keadaan? Maaf jika ucapan saya ini sedikit lancang. Tapi jika boleh jujur... tidak ada detik di mana saya tidak memikirkan istri anda."


Yunki hanya merujuk pada senyum simpul atas pernyataan panjang lebar Jun. Sedikit banyaknya mampu memberikan secercah pemahaman tentang bagaimana Yunki mencemooh kejujuran Jun dengan air wajah yang tersemat remeh.


"Apa ucapan saya sedikit berlebihan? Anda tersinggung karena saya masih memiliki perasaan terhadap Bella, istri anda?", Ucap Jun membenahi kesalahan dalam pengambilan kosakata—tentu, dengan intonasi yang tidak nyaman untuk didengar lebih lanjut.


"Tentu saja, tidak masalah", tukas Yunki seakan gadis yang tengah menjadi bahan perundingan tidaklah seberharga yang dirinya perlihatkan di ruang publik, "Ambil saja, jika kau memang membutuhkannya. Ah, satu lagi. Kau tidak perlu seformal itu kepadaku, kurasa usia kita tidak jauh berbeda", imbuh Yunki menjangkit kemelut Jun yang mendesak hadir dalam sanubarinya.


"Begitukah?", Jun mengangguk-angguk mengerti, "Baiklah, jika itu membuatmu nyaman. Tapi kurasa pembicaraan kita sudah jauh melenceng dari tujuan. Apa perlu kita membicarakannya disini saja?", Jun berujar.


"Kurasa tidak begitu. Bukankah memang sejak awal Bella yang menuntunmu untuk mau berbicara denganku", kata Yunki menyudutkan posisi Jun dengan kalimat menohoknya, "Akan lebih baik juga, jika kita menuju tempat yang kau rekomendasikan sebelumnya", tambahnya.

__ADS_1


"Apa tidak masalah, jika tempat pilihanku tidak sesuai dengan seleramu?", timbang Jun dengan membawa anggapan bahwa Yunki akan berakhir tidak berkenan dengan tempat rekomendasikan nya.


"Tentu tidak. Karena aku yakin jika seleramu tidak beda jauh denganku", kata Yunki tak mengantongi permasalahan akan keraguan Jun, "Bahkan dari sekian banyaknya wanita di dunia ini, kau lebih menyukai gadis yang sudah bersuami. Bukankah itu artinya kita satu selera?", mengajak tungkainya meniti pijakan yang Jun ciptakan.


Jun paham. Teramat sangat. Bagaimana kalimat Yunki bukan bermakna sebagai pujian yang akan membuat sudut relungnya berkesan. Melainkan kata perkata yang mengandung banyak keremeh temehan yang sangat konyol untuk dijabarkan secara terperinci. Jun tidak bodoh! Tentu, dirinya juga harus menguatkan kerapuhan hatinya untuk berlaku tegas agar  disegani oleh pribadi yang lihai berkecimpung dalam permainan kosakata.


Namun deru pantofel yang merutuk ubin keramik menyurutkan niat Yunki pun Jun untuk melanjutkan langkahnya. Tatkala suara Jae menginterupsi diantara tapak mereka,


"Hyung, apa aku tidak terlihat di sini, sampai kau mengabaikan ku seperti itu? Kenapa tidak mengajakku?!", Sungut Jae seraya melirik kearah Jun sejemang dengan ekor matanya.


"Tidak perlu! Cari saja kemana gadis itu pergi, dan pastikan dia tidak berulah sesuka hatinya!", Perintah Yunki yang dibalas cebikan kesal dari Jae.


'Gadis itu'?—sulit dipercaya! Seorang pria yang notabenenya sudah menyandang status kepala rumah tangga, menyebut sang istri dengan panggilan 'gadis itu'. Tanpa dinyana, benak Jun ingin mengetahui lebih dalam bagaimana Bella mengarungi bahtera rumah tangganya bersama Yunki. Yang Jun lihat selama ini hanyalah keharmonisan pasangan suami istri tersebut dilatarbelakangi oleh gosip yang beredar media massa.


Jauh dari peradaban yang mampu ditangkap khalayak umum, Jun teramat sangat yakin jika mahligai pernikahan Bella dan Yunki tidak seharmonis kelihatannya—yang selama ini digemborkan dalam ruang publik. Bukan karena persoalan prasangka yang tak bisa Jun buktikan, sudah jelas pergumulan kalimat yang sempat diperdebatkan oleh sepasang suami istri itu tadi sudah cukup menjanjikan untuk menjadi bukti nyata. Bagaimana buruk dan hancurnya keluarga kecil Lee yang mereka arungi selama ini.


Jun tidak ingin menyalahi siapapun, termasuk pribadi yang tengah diperdebatkan oleh benaknya. Meskipun seumur hidupnya Jun tidak pernah sekalipun mencicipi semua hal yang berkaitan dengan ikrar suci, pribadi Jeon sedikit banyaknya memahami benar bahwa membina hubungan yang terjalin atas ikatan pernikahan memang tak semudah membalik telapak tangan.


Terlebih acara pemberkatan yang tidak didasari suka sama suka. Ah, jika praduga yang satu ini Jun hanya mampu meraih pemahamannya sendiri. Lantaran tak ada bukti yang mampu memperkuat hipotesa dari pengamatan bodohnya itu.


Entahlah. Seseorang akan menyemai benih-benih asmara seiring memudarnya waktu. Mungkin juga hal tersebut dirasakan oleh Yunki maupun Bella.


"Ah, Hyung! Aku tidak mau tubuhku menjadi pelampiasan istrimu!", Tolak Jae terdengar ambigu, "Hoho... maksudku... aku tidak mau tubuhku dipenuhi luka memar, karena perbuatan singa betina itu"jelasnya menindaklanjuti pengucapannya yang terasa salah dipendengaran dua sosok didepannya.


Kapan kau pernah peduli, huh?!


"Dan menyerahkannya kepadamu, begitu?", Tanya Jae tanpa diduga.


"Tidak perlu! Cukup tahu keberadaannya saja, dan setelah itu kau yang urus semuanya. Aku tidak peduli!", Acuh Yunki terhadap persoalan yang mengatasnamakan Bella.


Apa memang setidak peduli itu Yunki terhadap istrinya sendiri, Bella?—bahkan sudah beberapa kali Jun mendengar keacuhan Yunki terhadap Bella. Atau lebih mirisnya lagi—apa Bella memang tidak pernah ada nilainya di mata sang suami?


Ah, sudahlah Jun! Ini bukan urusanmu! Kau tidak perlu terlibat dalam kehancuran keluarga itu.


"Aku?! Kenapa begitu?! Kau suaminya dan dia jelas istrimu. Kenapa pula harus aku yang selalu direpotkan oleh kalian?!", Cerocos Jae yang tiada hentinya mengoceh tentang dirinya yang dimanfaatkan sebagai seorang kacung oleh sejoli yang membuat lelaki bermarga Shin dan Lee itu lelah hati.


"Bukankah itu perjanjian kita sebelumnya? Kau bisa mengambil alih gadis itu dan aku mendapatkan apa yang selama ini ku incar?!", ungkap Yunki tak mengantongi permasalahan atas Jun yang mendengar semua hal.


Sekilas namun mampu mengundang kilatan kecamuk. Tatkala pandangan Jae terarah tepat pada bukaan kelopak Jun yang setia menghujam sorotnya, menghadirkan spekulasi yang tak Jae ketahui persis kandungan maknanya.


"Aku tidak pernah mengatakan 'iya' untuk yang satu itu, Hyung! Lagipula aku bisa mendapatkannya tanpa adanya campur tangan darimu", yakin Jae menenteng kepercayaan diri.

__ADS_1


"Kau yakin?", Tanya Yunki dengan sorot remeh pada Jae, "Kurasa tidak akan semudah itu, setelah kau mendapatkan rival seorang dokter lulusan John Hopkins University", provokasi wakil pimpinan Lee dengan penekanan pada setiap lantunan kata, pun intonasi yang didramatisir seolah memang kalimat yang dikuarkan akan menjadi momok menakutkan bagi saudara tirinya, Jae.


"Tch, aku tidak peduli! Kurasa dia tidak akan mudah meluluhkan hati gadis yang telah mencampakkannya", sindir Jae terlampau jelas tertuju pada siapa kalimat sarkas itu.


Meringkas untaian kata yang keluar layaknya sebuah pendeklarasian perang harga diri, Jun hanya menempuh jalur asimetris yang tergurat gelak.


"Mungkin memang benar bahwa lelaki itu telah dicampakkan. Tapi, perlu kau ketahui! Jika seorang mantan akan selalu memiliki tempat tersendiri dalam hati gadisnya", vonis Jun dengan menegaskan otoritas yang tidak bisa dianggap remeh.


Perlu digarisbawahi, terlebih jika memungkinkan agaknya harus dicetak tebal menggunakan tinta permanen. Tatkala Jae mendengar satu ungkapan yang mengarah pada hak kepemilikan.


Apa-apaan itu?!—sudut benak Jae jelas tidak mampu mengingkari adanya secarik amarah, saat rungunya mengartikan kata 'gadisnya' dengan konotasi negatif. Lantaran dirinya tidak akan pernah menerima, jika gadis yang tak lekang menghuni relung kalbunya itu jatuh ke pelukan Jun. Tidak akan pernah rela! Cukup sekali, tak lagi bisa merelakan jika untuk yang kedua kalinya.


"Apa kau begitu percaya diri, setelah Bella mencium mu?!", Tukas Jae dilanda prahara emosi, "Kurasa kau menganggapnya terlalu serius. Dan kau tentu tahu... bagaimana brengseknya Bella. Mudah baginya untuk sekedar menyapa mantan yang lama tak ditemuinya. Kuharap kau tidak terlalu berlebihan dalam menyikapi kebrengsekannya", sarkas Jae dengan segelintir niat buruk.


Sudah terlampau kenyang Jun selalu disuguhkan sudut asimetris yang terpahat epik pada sisi bibir sepasang saudara tiri itu. Pun dengan dominasi yang berusaha dibangun, sekuat harga diri yang tak ingin diruntuhkan—oleh ketiga belah pihak.


Apa membangun perdebatan di tengah kecamuk, merupakan keputusan yang tepat?—ah, tentu saja tidak masalah tatkala perlawanan kata, mulai beradu argumen.


"Benarkah? Apa perlu kita buktikan dengan cara masing-masing, untuk menaklukkan gadis yang kau anggap brengsek itu?! Kurasa kita akan tahu jawabannya setelah keputusannya keluar", lawan Jun dengan belenggu yang belum sepenuhnya tersampaikan tatkala dirinya kembali berargumen, "Kita tunggu saja! Siapa yang penting dalam hidupnya dan siapa yang akan dianggap tak lebih seperti sampah baginya"


Tch!—lelaki itu benar-benar sudah memancing emosi Jae.


"Percaya diri saja kau!"—karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi!


"Kau tidak akan pergi?!", Yunki menyela.


"Tch, pawangnya saja disini. Bagaimana bisa aku membujuknya agar tidak membuat masalah?!", Gumam Jae yang masih sanggup diterima oleh ruang rungu Yunki.


"Bukankah itu keahlian mu?!", Yunki jelas mendengar lirihan Jae yang tertangkap basah sedang menggerutu.


"Keahlianku hanya bermain di atas ranjang, Hyung. Tidak lebih. Kau tahu bagaimana buruknya istrimu itu", beritahu Jae diselingi aksi protes.


Tidak tahu diri, memang!


"Apa maksudmu?!", Singkat kata namun mampu merubah ekspresi Jae yang tadinya bersungut kesal menjadi senyum kelewat kikuk tak sanggup menanggapi pertanyaan Yunki yang seakan menghakimi sekujur pikirannya.


"Maksudku..emm.... ah, sudahlah! Aku pergi kalau begitu!", Jae memang harus membentangkan bendera putih dalam mengibarkan keputusasaannya, lantaran mendapat dukungan penuh dari dua pasang mata yang tak gentar memberinya sensor tajam.


Sekon berikutnya, sosok Jae terlihat berhenti di samping Jun. Dengan tatapan yang dipenuhi hal yang memuakkan.


"Ah, dan kau! Jangan terlalu berharap! Karena kau sudah mati untuk Bella"

__ADS_1


Jae beranjak pergi.


- RING MY BELL -


__ADS_2