RING MY BELL

RING MY BELL
31. Dionysus


__ADS_3

"Drink in one hand, Thyrsus on the other


Art splashing inside this clear crystal cup


Art is alcohol too, if you can drink it, you'll get drunk fool"


Dionysus - BTS


- RING MY BELL -


Kelam sudah menyapa peradaban bumi. Deburan resah menerus menghantam relung Jun. Seolah ada yang salah akan perkataan Sunhi beberapa waktu lalu.


Atau hanya sekedar tindakan yang terlampau berlebihan dalam menyikapi hal yang belum menentu kepastian.


Jun tidak tahu.


Tidak menahu harus merespon seperti apa, atas kekhawatiran sang ibu yang jelas-jelas bukan omong kosong belaka. Sampai keadaan menuntutnya untuk berlaku tidak adil akan janjinya yang sudah dirinya ikrarkan untuk makan malam bersama dengan gadis yang sekarang tengah Jun tinggalkan seorang diri di dalam Maserati miliknya, dengan perasaan bingung dibalik kekecewaannya.


Sedangkan sang pengendali mobil, berjalan tergesa demi mencapai tujuannya—menemui Sunhi lalu bertanya apa yang tengah terjadi.


Keresahan Jun tak langsung dirinya luapkan, tatkala merangkum eksistensi Sunhi yang tengah tersedu di balik meja makan. Jun membimbing pandangannya untuk mendapatkan sebuah kesimpulan.


"Dimana dia?!", Tanya itu mengudara setelah mendapat benang merah, dimana Jun melihat sang ibu sudah mempersiapkan dua porsi makan malam.


Tentu, gelaran santap malam itu bukan untuk memenuhi kebutuhan pangan Jun. Pemuda Jeon itu jelas mengingat, sebelum benar-benar membawa Hyo ke dalam ranah restoran, dirinya sudah terlebih dahulu meminta pengertian pada Sunhi jika khusus hari ini dirinya tidak akan makan bersama. Sebelum benar-benar mengurungkan janjinya, sesaat setelah mendapat laporan membingungkan dari Sunhi, ibunya.


Bella—dimana gadis itu?


Sunhi enggan membawa tatapnya untuk membalas kegusaran sang putra. Berupaya keras mengontrol tangisnya, agar tidak terlalu mendalami kesedihannya. Sunhi rasa hanya dengan menguntai kata kejujuran akan menjadi langkah terakhir, sebelum benar-benar terhanyut dalam kecemasan yang memenuhi relung.


"Bella, mengunci diri di kamar. Ibu, sudah berusaha membujuknya untuk mengisi sedikit perutnya. Sejak pagi, dia belum makan apapun. Ibu khawatir... Ibu khawatir Bella terluka Jun", cukup untuk membawa pemahaman Jun kepermukaan. Meskipun suara sumbang yang terlontar, ternyata tak begitu dipermasalahkan oleh rangkuman cerdas Jun.


Jujur.


Bukan drama seperti ini yang Jun mainkan dalam pikirannya, kala tadi menjelajah bentangan raya dengan kecemasan yang melanda sudut relungnya.


Membuang-buang waktu saja!


Seolah diajarkan untuk bersikap sopan, meskipun kondisi tak menuntutnya berlaku demikian. Tetap saja, Jun membawa buku-buku lentiknya untuk mengetuk papan kayu di depannya.


Tak ada respon dari pihak terkait.


Memaksa telapaknya untuk memegang kendali pada knop pintu. Merematnya sejenak, lantas mematahkannya agar terhubung dalam dunia yang Bella naungi.


Namun...


Nihil.


Jeri payahnya selama beberapa jauh perjalanan, seolah tak dihargai oleh Bella. Sang pembuat onar. Sangat-sangat tidak berkorelasi dengan pemilik rumah, terlebih kesabaran Jun demikian menyusut seiring memudarnya keinginan untuk sekedar menengok keadaan Bella.


Jun tidak peduli.


Tak ingin memperdulikan bagaimana keberlangsungan hidup Bella didalam kamar itu.


Tapi...


Kepergian tungkainya seolah dihentikan sementara sampai pandangan Jun bertemu satu analisis. Bahwasanya pikirannya tak ingin lepas dari peranan Bella yang tampak mempermainkan setiap sel otaknya. Lebih-lebih lagi, saat gendang pendengarannya terus saja meliput suara isak yang begitu menyayat hati.


"Ah, sial!", Erang Jun seolah dikalahkan oleh keadaan.


Tentu. Jun tidak ingin berurusan dengan kerusakan aset rumahnya. Terlebih hal-hal, seperti memperbaiki hal yang sengaja dirusaknya, sangat mempengaruhi waktunya untuk terbuang percuma tanpa ada sesuatu yang menguntungkan.


Ah, iya.


Dan, Jun tahu apa yang harus dirinya perbuat. Agar semua berjalan pada tempat seharusnya.


Kini, jemarinya sibuk membedah ruang laci. Sampai benda yang diperlukan muncul dalam pendaran maniknya.

__ADS_1


Kunci.


Dimana kunci duplikat kamar itu?


Jun yakin bahwa dirinya telah menyimpan kunci yang sama persis seperti yang—tunggu!


Ah, sial! Jun kalah cerdas dari gadis itu.


"Hei, buka pintunya!", Teriak Jun diselingi gedoran pintu kamar.


Tak ada sahutan yang Jun inginkan keluar dari mulut gadis didalam sana. Bahkan Jun tak mendapati sebuah kehidupan dalam kamarnya.


Apa yang gadis itu lakukan sebenarnya?


Seolah tak memiliki peluang harapan yang bisa Jun manfaatkan. Tatkala merasa tindakannya kali ini tak mengundang banyak jalan menuju titik terang, "Apa perlu ku hancurkan pintu ini?! Kau benar-benar tidak bisa diharapkan sama sekali. Aku tidak bercanda! Aku akan—"


Astaga, gadis itu benar-benar!


Gila! Jun benar-benar diliput akan ketidakwarasan. Tatkala isi kepalanya tak bisa berpikir jernih. Entah apa yang menyandung kewarasannya, tatkala suara gelegar mulai  mendominasi setiap pasang rungu di rumah ini. Hentakan keras yang Jun layangkan pada daun pintu, hanya mencipta denyut nyeri di bagian kakinya.


Tak patah aral.


Gebrakan pada papan kayu menambah daftar panjang, sisa-sisa tenaga Jun yang sudah terkuras tuntas tanpa setitik keberhasilan. Tatkala pintu yang menjadi pusat pelampiasan kemarahannya tak juga kunjung membuka diri.


Gedoran yang Jun koarkan semakin menggila, pun semakin tak terkendali. Jun hilang kesabaran. Dorongan yang Jun hentakan melalui perantara converse itu, telah menggema di seluruh penjuru ruangan. Bahkan raungan Sunhi semakin menjadi, tatkala suara yang memekakkan telinga itu terdengar begitu menyeramkan.


Dan saat Jun mengikutsertakan torsonya untuk menubruk keras daun pintu, seketika itu pula—


Jun berhasil.


Sukses membuka paksa pintu kamar, meskipun kondisi papan kayu itu sudah cukup mengenaskan. Secepat dobrakan yang Jun cipta.


Akhirnya Jun—


Mampu tenggelam dalam keheningan kamar.


- RING MY BELL -


Tepat sekali. Bella teramat membenci saat dirinya berkutat dengan sengatan alkohol yang menenggelamkan pikirannya pada kedukaan yang memilin pendaran hidupnya.


Sudah jelas apa yang terjadi jika Bella berurusan dengan cairan memabukkan ini. Iya, tentu saja. Itu artinya Bella tidak dalam kondisi baik-baik saja. Ada banyak hal yang gadis itu khawatirkan, selama hembusan nafas masih menyertai posisi jiwanya yang setia melekat dalam tubuhnya.


Selama raganya belum tertimbun tanah. Selama langkahnya belum terlepas bebas dari jerat penderitaan. Bella yakin. Melebihi keyakinannya bahwa dirinya tidak akan hidup tenang setelah melepas ikrar di atas altar bersama Yunki. Jika hidupnya akan semakin diperkeruh dengan banyak kemelut sengsara.


"Eoh, Ahjussi. Bagaimana keadaannya?", tanya Bella ditengah kesadarannya yang semakin beringsut menjauhi pikiran.


Bella belum menangkap penjelasan dari pihak seberang. Hanya dengusan panjang yang Bella dapatkan dari lawan bicaranya. Sebelum berbicara, "Kau mabuk?", Tanyanya balik dengan nada khas orang tua.


"Apa terdengar jelas?", Jujur Bella yang dibalut kekehan pelan.


"Dia baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Dan juga—", Jedanya didukung dengan nadanya yang meninggi diakhir kata.


Dan Bella tentu menunggu kalimat petuah apa lagi yang akan keluar dari mulut sang penelepon itu.


"Cemaskan dirimu sendiri! Jangan terlalu banyak minum! Dan lagi...kau ini anak gadis. Bagaimana bisa kau berperilaku seperti bocah,  huh?! Dan jangan lupa—"


Bella berdecak kesal, "Iya. Aku tidak akan lupa untuk memeriksakan diri. Apa paman, puas?", Bella berujar.


"Tentu saja, belum! Sampai hati kau mengabaikan perintah dokter. Dan sekarang lihatlah apa yang kau lakukan. Apa kau ingin memperburuk keadaanmu sendiri?", Rentetan bijak yang tak menggoyahkan niat Bella untuk mengulas senyum, "Jika besok kau tidak datang juga, aku yang akan menyeretmu langsung. Aku tidak mau tahu!"


"Paman? Apa kau tahu, jika paman ini banyak bicara?! Kau persis seperti...", Bella tak berniat melanjutkan kalimatnya.


"Siapa? Ayahmu? Tentu saja, jauh berbeda. Kau tidak lihat, jika aku ini lebih beruntung dari ayahmu? Setidaknya aku bisa melihat kau masih hidup", sarkas pribadi yang tersalur melalui seluler.


"Hei, Ahjussi! Kau sengaja mengingatkanku padanya?! Benar-benar tidak bisa diharapkan, bapak tua ini", cebik Bella.


"Dasar...kau tidak membuat keributan, bukan? Aku tahu wajahmu sekarang seperti orang bodoh tidak tahu diri! Apa ada orang disebelahmu? Kau bersama Jae?", Tidak perlu dipertanyakan, seberapa kecemasan menyita perhatian sosok dibalik intercom.

__ADS_1


"Tidak ada siapapun yang bersamaku sekarang. Disini gelap, juga berantakan. Aku sendiri, Paman. Apa kau ingin menemaniku?", Ujar Bella meratapi kesendiriannya.


"Siapa orang yang mau berurusan dengan gadis pemabuk sepertimu, huh? Cepatlah pulang! Hubungi suamimu jika perlu", sarannya yang dibumbui kata-kata tak mengenakkan.


Ck...


"Ya, memang benar. Orang gila mana yang mau berurusan dengan ku", Ratap Bella dengan raut yang merengut, "Hei, Hansung-sii! Kau tidak tahu jika keparat itu sudah mengajukan gugatan ke pengadilan? Kau mengejekku atau bagaimana?!", Cibir Bella.


"Kalian ingin bercerai?", Intonasi kejutnya yang tak lagi bisa dibendung, "Ah, syukurlah. Setidaknya keinginanmu akan menjadi kenyataan. Tapi—"


Astaga, dia bersyukur karena Bella ingin diceraikan oleh Yunki? Paman macam apa yang bersuka ria mendengar kemalangan orang terdekatnya?


Astaga, astaga. Tidak dapat dipercaya.


Tapi apa?


"Kau ada dimana? Paman akan menjemputmu sekarang", ucapnya gusar.


Bella tertawa kecil mendengar kekhawatiran lelaki yang dipanggilnya paman itu, "Tidak perlu. Aku ada di rumah, sekarang", tolak Bella secara realistis.


"Rumah? Rumah siapa? Siapa lagi lelaki yang kau bodohi, huh?!", Bingung Hansung lantaran mempercayai bahwa gadis yang tengah bercakap dengannya sudah tidak lagi memiliki tempat untuk berteduh.


"Bukankah kau bilang, suamimu sudah menjual rumah peninggalan orang tuamu?", Gundahnya berkali-kali lipat.


"Rumah orang brengsek!", ketus Bella tak bisa santai.


"Astaga, gadis ini benar-benar! Kau sudah mulai bicara melantur. Seberapa banyak yang sudah kau minum, huh?", Ujarnya diselimuti rasa khawatir.


"Tapi, Paman Hans. Apa kau tahu?", Hirau Bella beralih bahasan guna mencurahkan segala sesuatu yang memendam dalam benaknya.


Paman yang bernama Hansung itu nampak berpikir sejenak. Alur pembicaraan apa yang berusaha Bella bangun.


Mungkin kata tanya, "Apa?!", Akan sedikit memecah rasa penasaran yang sudah menduduki posisi puncak.


"Kenapa... kenapa hidupku selalu dikelilingi pria-pria brengsek, huh? Apa paman tahu jawabannya? Seberapa keras aku mencari jawaban. Tetap saja... tetap saja, otak bodoh ini sulit sekali memecahkannya", gerutu Bella dengan deretan kata yang tak mampu Hans pahami, sepanjang kalimat itu diuntai oleh Bella.


"Kau ini bicara apa, huh?! Sudah, Berhentilah minum dan membual. Cepatlah tidur!", Katanya tidak mau tahu kalimat yang coba Bella tanyakan, "Ah, sebelum itu. Bisa kau jelaskan apa maksud dari video yang tersebar di media sosial? Apa yang kau lakukan, huh?! Kau berbuat apa lagi?", Rentetan tanya yang tiba-tiba terbesit dalam pikirannya.


Hanya ada deru nafas yang mampu Hans terima di tengah hening yang menyelimuti percakapan mereka, "Apa benar kau selingkuh? Itu sebabnya suamimu ingin bercerai denganmu?", omong Hans tanpa difilter terlebih dahulu.


Astaga, bapak tua ini benar-benar tidak bisa diprediksi tutur katanya.


"Paman! Bukankah kau sudah keterlaluan?!", Protes Bella mencari pembelaan diri.


"Apa kau mencintainya? Jika benar kau selingkuh", Tanya Hans gulana.


Bella sejenak berpikir akan kebimbangannya. Menerawang jauh, lebih kearah realita.


Apa aku mencintainya? Siapa?


"Mencintainya? Oh, ayolah Paman! Bahkan dia tidak peduli dengan keadaanku seka—"


Oh, astaga bodohnya. Kenapa berbicara seperti itu, huh?! Itu artinya Bella—


Seketika Bella terdiam tanpa berkutik melanjutkan obrolannya. Tatkala suara gelegar mendadak hadir bersamaan gedoran pintu, meminta agar Bella tak mengurung diri di dalam, "Hei, buka pintunya!"


"Hei, apa terjadi sesuatu? Kenapa bising sekali disana?", Khawatir Hans.


Bella mematikan layar intercom secara sepihak dan tentu secara tiba-tiba. Membuat pihak penelepon mengerutkan bentangan dahinya, tidak mengerti.


Entah sejak kapan, satu lelehan menginterupsi pelupuk Bella tanpa ada peringatan sebelumnya. Seluruh sudut penglihatannya terasa terbakar, mendengar suara bariton itu keluar tanpa mengindahkan posisi Bella saat ini.


"Apa perlu ku hancurkan pintu ini?!—"


Benarkah Bella mencintainya?


Masihkah?

__ADS_1


- RING MY BELL -


__ADS_2