RING MY BELL

RING MY BELL
20. Danger


__ADS_3

"Kamu adalah kamu, aku adalah aku. Itu formula rumusnya"


Danger - BTS


- RING MY BELL -


Benak Bella menggaet banyak kesabaran menghadapi ujian yang menerpa lembaran rumah tangganya.


Astaga, buang pemikiran semacam itu!


Dipikir Bella akan bertindak bodoh dengan skenario murahan seperti itu, eoh?!


Tch!—jika seperti ini keadaan yang menggelayuti jejak Bella. Alangkah indahnya dunia tatkala Bella tak mengikutsertakan kebodohannya sendiri. Terlebih-lebih jika termakan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi pengendalian egonya—membungkam mulut ****** itu dengan paha ayam goreng di genggaman, contohnya.


Dasar, gadis kurang belaian!—astaga! Ingatkan Bella untuk berterima kasih kepada anak muda yang dirinya temui tadi siang, Jiho. Lantaran telah merangkai kata yang sangat cocok untuk dilontarkan kepada gadis disamping Yunki.


Apa-apaan itu?! Bella jelas meniti pemahamannya terhadap seringaian yang terukir pada bibir merah sensual wanita itu.


"JiA?! Bagaimana kau bisa—"


Keterkejutan Jae terpotong, dengan kalimat yang mengalun lembut, "Kenapa baru tiba? Apa terjadi sesuatu?", Tanya Yunki penuh kasih atas wanita yang setia membelai punggung pun bahunya dengan sejuta afeksi—menyalurkan jawaban bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Tidak! Untuk apa meladeni permainan yang sangat membuang kesempatan dalam menyuap kekenyangan?! Lebih baik melanjutkan kunyahan yang sempat tertunda, untuk mengisi kekosongan lambungnya dengan kudapan yang terlihat menggoda daripada gadis bercat kuku berwarna hitam elegan itu. Itulah sekiranya hal yang segenap hati Bella tekadkan untuk mengacuhkan konteks perhatiannya.


Dia simpanan atau nenek sihir sebenarnya?—kenapa serba hitam? Ah, sejujurnya tidak ada perbedaan antara kedua hal tersebut.


Sama-sama menyeramkan dan perlu dijauhi.


Namun kegiatan lahap melahap harus diurungkan niatnya. Tatkala wanita bergincu merah menyala itu berucap, "Bella? Kau juga disini rupanya. Kukira hanya aku yang diundang Yunki untuk makan malam, ternyata kau juga", mengandalkan kemampuan untuk membuat Bella benar merealisasikan rencana yang sempat tertunda selama buangan nafasnya meniti kesabaran.


Bella demikian merasa menjadi satu-satunya orang bodoh disini. Tatkala wanita yang berprofesi sebagai simpanan suaminya itu mengukir raut seakan meremehkan Bella. Lantaran dengan mudahnya wanita yang terlihat belahan dadanya itu menaklukkan hasrat seorang Lee Yunki, suami Bella.


Bella hanya bisa terdiam dalam tundukkan pasrahnya, berharap dapat perlindungan dari sang pencerah. Ralat, bukan pasrah. Melainkan memantapkan strategi untuk mencapai timbal balik yang sesuai, bahkan mampu melampaui target yang ditetapkan oleh wanita itu dalam membakar amarah Bella.

__ADS_1


Sunggingan asimetris nampak jelas terpahat anggun, tatkala jemari lentik Bella bermanuver memainkan kudapan yang tak lagi menggugah selera untuk dihuni organ lambungnya. Bibir bersemu basah yang tadinya terkunci rapat, agaknya ingin membukakan jalan untuk kalimat Bella menguar kebenciannya.


Sayang seribu sayang, niat hati ingin merancang sebuah pembalasan atas harga diri yang seolah dipelintir dengan tutur yang tak beretika. Tatkala wanita simpanan itu berucap lebih dahulu, "Sayang, kau tidak lupa kan jika kita mempunyai janji di hotel hari ini?", jujur JiA tanpa ada rasa malu dalam diri wanita itu. Pun nada bicara yang sengaja dibuat-buat untuk membakar cemburu istri Yunki.


Tch, ****** itu pikir dia siapa, huh?!


Tentu saja. Bukankah itu yang sering dilakukan para perbuat suami orang? Meraup atensi dengan seribu satu rayuan maut yang merenggut seluruh hasrat.


Ah, memang pada dasarnya Yunki lah yang terlampau brengsek dari sananya.


Jangan ditanya sudah sebanyak apa untaian serapah yang menghuni benak Bella sejak awal bantalan simpuhnya mengeratkan diri pada bangun duduk!


"Bella, kau tahu—?"


"Aku tahu", potong Bella penuh keyakinan untuk tidak mengizinkan mulut kotor itu mengungkap kata lebih jauh.


Lantas menangkap sorot wanita disamping Yunki dengan penantian yang tak terartikan, apa sekiranya yang dapat Bella ungkap dalam berdebatan batinnya.


"Aku tahu, kau hanyalah ****** murahan yang mengincar laki-laki yang sudah beristri. Aku juga tahu, kau membutuhkan banyak uang untuk kesenanganmu itu. Sangat menyedihkan wanita sepertimu ada di dunia ini!", Tohok Bella menampilkan kilatan amarah yang tak lagi memiliki secercah toleransi—dasar, sampah masyarakat!


Jelas, siapa yang terima jika martabatnya dilabeli bak lepehan permen karet? Tak lagi berfaedah dalam faktor apapun, kendati lebih merugikan orang banyak jika jerat dari lengket bekas kunyahan itu dibuang di sembarang jalan—semacam itulah yang dapat Jun tangkap dari raut mencekam terpatri pada fitur Bella.


Gambaran umum semacam itulah yang menjadi pusat emosi wanita simpanan itu terhadap kalimat yang dilontarkan Bella kepadanya, "Apa maksudmu?!", Kesal JiA membutuhkan banyak pencerahan.


Lagi dan lagi, Bella melukis senyum merendahkan. Lantas membawa hipotesanya untuk membuat sebuah penghakiman yang tak mampu wanita itu sangkal.


"Kau jelas mengetahui apa maksudku! Tapi, jika kau memaksaku untuk memperjelas nya. Apa boleh buat—", Gantung Bella menjunjung rasa penasaran yang teramat dari semua individu. Dipadupadankan dengan kedua sisi bahunya yang bergendik pun air muka yang mempresentasikan sebuah keremeh temehan.


Cukup memakan waktu untuk Bella menggagalkan upaya meningkatkan pemahaman manusia dibalik meja. Dan belum sempat menuangkan ucapannya kedalam sebuah intimidasi. Wanita yang merambah sebagai simpanan suaminya itu, lantas hanya membawa anggapannya sendiri bahwa Bella hanya menyebar kebohongan, "Benar kata Yunki. Kau memang gadis brengsek!", Olok JiA.


"Benarkah?! Kurasa tidak ada bedanya dengan dirimu, setelah apa yang kau tanam dalam rahimmu itu", jeda Bella sebelum menguntai kata secara gamblang, disaat sorotnya menunjuk bukti nyata di area perut wanita itu, "Aku tahu kau hamil", imbuh Bella yang mampu meraih atensi dari Yunki setelah sekian menit dirinya diabaikan oleh pribadi yang sialnya adalah suaminya itu.


"Tutup mulutmu!", Ketus Yunki membela wanita kebanggaannya itu, dan menyudutkan diri Bella yang tak ada indah-indah nya di mata sang kepala keluarga.

__ADS_1


"Kenapa?! Kau pikir aku akan menutup mulutku, sesuai dengan perintahmu itu?! Jangan berharap terlalu tinggi, Yunki-sii!", Ketus Bella tak sedikitpun mengindahkan peringatan yang Yunki sebar lewat sorot tajamnya.


Dari mana Bella tahu?! Tidak ada yang mengetahui kebenaran itu selain dirinya dan wanita berbusana ketat, jiA, simpanannya itu—apa gadis itu diam-diam mencari informasi untuk menjatuhkan reputasiku?!


Kedudukan yang selama ini Yunki agungkan didepan ruang publik, akan musnah berantakan jika kenyataan bahwa dirinya telah membuahi wanita lain terkuak di mata netizen. Sudah pasti tidak ada lagi celah untuk dirinya mengelabuhi para khalayak, apabila kelakuan bejatnya itu terbongkar dari mulut Bella secara langsung.


Dari sudut pandang sang suami, Yunki harus menggali muslihat untuk memperdalam strateginya, "Dan kau tidak lebih berharga dari wanita yang kau anggap sebagai ****** ini", pihak Yunki kepada sang selingkuhan.


Mendadak tikaman Bella yang tersalur melalui sensor yang menyuguhkan binaran menyalak itu, berpindah haluan menjadi lebih mengkhawatirkan sesuatu hal. Pupil yang bergetar berusaha merahasiakan kemelut yang tak ingin kehilangan esensinya. Menahan diri dengan sederet rapalan pengharapan akan realita tersembunyi yang tak dimohonkan untuk dapat terkuak kepermukaan.


Bella mengantisipasi satu kata yang dapat merontokkan dinding pertahanannya yang selama ini dirinya bangun kokoh, meskipun tiupan kencang selalu menerjang ke arah yang tidak disangka-sangka kedatangannya.


Teruntuk Jae, sahabat Bella itu sudah terlampau banyak menghabiskan kesempatan untuk mematrikan fokusnya pada perdebatan sengit semacam ini. Amarah perempuan memang tidak bisa dianggap remeh, terlebih bagi sang sahabat, Rabella Kim. Jika sudah mendapati Bella memasang sungutnya, mau tidak mau pihak yang menjadi sasaran utamanya harus menggelar kewaspadaan yang akurat untuk menghindar dari serangan Bella.


Ah, agaknya tidak demikian terpengaruh bagi Yunki akan kecamuk Bella yang tersirat melalui tatapan matanya. Tak ada gentar diantara kedua belah pihak.


Yunki dan JiA memiliki kartu AS Bella. Titik kelemahan yang tak gentar untuk menjatuhkan seluruh harkat dan martabat Bella.


"Kalian memang breng...!"


Untuk detik ini Bella tak diperkenankan melantunkan makian untuk sepasang kekasih yang terjalin atas dasar hubungan terlarang itu.


Saat dengan nada kejamnya wanita penggoda itu memprovokasi, "Ah, iya. Kudengar kau mandul, apakah itu benar?"


Bukaan kelopak Bella sedikit melebar, bersinergis dengan pupil mata yang bergetar menahan untuk tidak meluruhkan selapis bening yang sudah mengaburkan pandangannya. Mata sehitam hazel itu terlihat memejam sejemang, berusaha mengorek oksigen agar tidak meledakkan ribuan kecamuk yang bersarang dalam kesabarannya.


Apa yang harus Bella jawab?


Tidak?


Iya?


Atau

__ADS_1


Tentu saja?—astaga, itu sama saja bodoh!


- RING MY BELL -


__ADS_2