RING MY BELL

RING MY BELL
30. Let Go


__ADS_3

"Dari stereo ke mono, begitulah jalan kita terpisah"


Let Go - BTS


- RING MY BELL -


Terkadang mencari kata yang tepat untuk menyusun kalimat guna melampiaskan sesak yang melanda, jauh lebih memusingkan dibandingkan mengabaikan bagaimana keadaan hidupmu yang terombang-ambing dalam kesesatan.


Seolah alam semesta buta akan derita yang selama ini menghantui setiap jalan yang Bella cipta susah payah. Hingga akhirnya bisa berada pada titik, di mana kesengsaraan melambai padanya tanpa mengenal batas ketidakberdayaannya dalam menyikapi kondisi memilukan ini.


Rencana yang terorganisir dengan baik pun tertata dengan epik, harus dibubar jalankan dengan untaian menyesakkan.


Bukankah di dunia ini banyak orang yang menerapkan sistem timbal balik?


Memang ada banyak kebenaran saat Jun menguntai kalimat itu untuk—siapa lagi kalau bukan gadis yang tengah mengemas keyakinannya untuk meninggalkan apa itu sebuah naungan.


Berjalan menggebu berupaya merutuki hamparan lantai, yang tak mempunyai setitik kesalahan dalam memuncaki kemarahan Bella.


"Mau kemana kau?!", Lagi-lagi suara bariton mampu mengalihkan langkah Bella untuk tidak meneruskan perjalanan pijaknya.


Gadis bodoh!


Jun menjadikan keyakinannya sebagai satu-satunya hal yang harus diperhatikan. Tatkala melihat eksistensi Bella yang sudah menggenggam ponselnya yang gadis itu bawa setelah sekian detik dirinya tenggelam dalam kamarnya.


Kamar Bella, kamar Jun juga. Ah, ralat. Bukan begitu maksudnya. Melainkan, kamar yang sekarang Jun tempati merupakan bekas ruangan yang Bella naungi kala rumah ini belum pemuda Jeon itu alih tangankan. Ya, bisa dibilang seperti itu.


Tak ada kalimat, bahkan Bella enggan merangkai kata hanya untuk menjawab rasa penasaran Jun. Hanya ada tatapan tajam dengan pelupuk yang berupaya keras membendung cairan bening agar tak menjadikan Bella, sosok perempuan yang lemah. Terkhusus di mata Jun.


Putra Sunhi memang cerdas, tapi pertanyaannya barusan membuatnya menjadi lelaki paling bodoh dalam rangkuman Bella—dasar, tidak peka!


Tidak ada jaminan bagi Bella mendapat kesempatan untuk bernafas lega, tatkala dirinya menjawab kalimat tanya Jun. Bukankah sudah sangat jelas bahwa dirinya akan pergi? Apa maksud dari pertanyaan itu?! Apakah menjadi kewajiban bagi Bella untuk memburah penasaran lelaki itu?


Tentu saja tidak!


Pun tanpa membunuh waktu lagi, Bella mengajak tungkainya meniti setiap bentangan keramik dengan perasaan campur aduk. Berusaha bernegosiasi dengan pasang pelupuknya untuk tidak meneteskan air mata. Terlebih saat melihat Sunhi yang tengah ditenangkan oleh Hyo. Lantaran tak kuasa menahan sergapan tangisnya, tatkala dua manusia tidak tahu diri itu terus saja bertengkar dihadapannya.

__ADS_1


Di pandangan lain, Jun belum berpuas diri tatkala merasa terabaikan oleh Bella.


Jun tidak suka diabaikan!


Coba katakan siapa yang tidak kesal jika sengaja diabaikan seperti itu? Tentu tidak ada bukan? Begitupun dengan Jun yang tak terima dirinya merasa terasingkan oleh pasang mata Bella.


Tanpa menghiraukan kondisi sang ibu, Jun beranjak dari simpuhnya lantas menghampiri Bella yang nampak sejenak memperhatikan Sunhi—merasa bersalah sepertinya. Tak menahu mengenai Jun yang tengah mendatangi presensinya berdiri.


Sebelum gadis itu mengukir pijakan, pergelangannya sudah dicengkram erat oleh Jun. Lantas berujar, "Aku akan ikut denganmu, kemana pun kau pergi!", Dengan menyeret tangan Bella menjauh guna mengikuti langkah yang Jun tuai.


Tidak perlu membutuhkan banyak detik pun tanpa pikir panjang, Bella dengan cergas menepis genggaman Jun pada pergelangan tangannya. Tatapan mereka benar tidak bisa diganggu gugat. Sorot yang mengintimidasi satu sama lain.


Pun dengan hembusan emosi, Bella benar tak bisa berpikir jernih, apa yang—"Apa yang kau lakukan, huh?!", Marah Bella berusaha mencari titik kesabaran.


Tanpa berat nyali Jun pun membalas tanya Bella dengan berkata, "Pergi bersamamu, apalagi?!", Dengan raut tenang namun tetap brengsek di mata Bella.


Tentu saja. Reaksi apalagi yang harus Bella canangkan selain tertawa pongah, tatkala mendengar pengakuan Jun saat ini. Benar-benar diluar ekspektasi, terlampau memuakkan, "Tch.. apa kau sudah gila?!",


Pun dengan rahang yang mengerat, ingin sekali mengeluarkan serapahnya. Tatkala Jun semakin besar menyita kesabaran, "Hmm, sudah jelas... siapa yang membuatku gila"


Jun tak memberi waktu untuk gadis itu berpikir, apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Sungguh membingungkan bagi partikel otak Bella.


"Bisa kau biarkan ku pergi, tanpa ada drama murahan seperti ini?!"


- RING MY BELL -


Hari-hari yang Jun habiskan sebagai seorang dokter, mampu dilalui dengan cukup baik. Terhitung mulai hari ini dirinya resmi menjadi staf medis di rumah sakit paling bergengsi di kota kelahirannya, Seoul.


Ada alasan kenapa dirinya bisa terdampar di tempat yang sangat ingin Jun hindari, apapun keadaannya. Tetapi,  lihatlah! Almamater putih bertuliskan StarLA Hospital sudah jelas tersemat nyaman pada rengkuhan tubuhnya. Serta, tak lupa name tag yang bergelayut erat di dekat saku kirinya.


"Jun!", Panggil seseorang dari arah belakang.


Jangan kira Jun lantas dibuat terkejut akan kehadiran gadis dengan perawakan lebih pendek darinya itu. Tidak, tentu tidak. Ada alasan kuat mengapa Jun, dengan tanpa disadarinya mengulas senyum tatkala mendapati seorang sahabat yang sudah membuat janji temu dengan dirinya sebelumnya.


Hyo. Han Hyora.

__ADS_1


Dialah gadis yang membuat Jun harus cepat menanggalkan almamater kerjanya. Seolah tak berlebihan akan hal tersebut, lantaran memang Jun yang sudah kehabisan jam kerja. Dan bisa dikatakan jika dirinya tidak mendapatkan jatah untuk menghabiskan sisa malamnya guna berkutat dengan peralatan medis. Singkatnya, Jun sedang tidak berada dalam kewajiban untuk kerja lembur. Ya, seperti itulah kiranya. Mengapa Jun dapat pulang tepat pada waktu yang dianjurkan sebagai pegawai, terkhusus bagi seorang dokter.


"Makan dimana kita?", Tanya Hyo begitu antusias tatkala memposisikan sabuk pengaman pada tempat semestinya, untuk membuat tubuhnya tetap aman jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi di tengah jalan.


Bukankah memang seperti itu kegunaan dari sabuk pengaman?


"Dimana pun, terserah padamu. Aku tidak masalah", tukas Jun sesaat setelah menyelesaikan hal yang sama seperti yang dilakukan Hyo sebelumnya.


Lantas dengan Richard Mille yang melingkar dipergelangan gagahnya, tanpa menunggu detik terhapus percuma, Jun dengan terampil menancap gas guna membelah jalanan kota yang terbilang sedang sibuk-sibuknya. Disebabkan karena memang kepergiannya, dilancarkan pada jam-jam rawan saat pekerja kantor atau siapapun itu memenuhi bentangan aspal.


Ya, apa boleh buat.


Ah, begitu ya?—"Bagaimana jika di restoran yang ku ceritakan tempo hari? Kudengar makanan disana sangat—"


Dengan cepat Jun memotong pengucapan Hyo. Melalui perantara kata, "Sebentar", saat getaran pada ponselnya memberikan informasi bahwa ada pihak lain yang tengah menghubunginya.


Tak bisa berbuat lebih, Hyo hanya mengangguk sebagai respon, "Baiklah", mengiyakan.


Jun terlihat menyematkan benda yang dipergunakan sebagai alat komunikasi itu, tepat pada lubang pendengarannya. Lantas menyahut panggilan terlebih dahulu, "Iya, Bu. Ada apa?"


"Kau dimana? Cepatlah pulang!"


Jun terlampau fasih dalam memahami, jika sang ibu tengah dirundung kecemasan akan suatu hal yang Jun belum ketahui. Ada yang salah dari nada bicara Sunhi—ada apa sebenarnya?


Sampai dirinya mengorek keterangan dari Sunhi, "Apa ada masalah?", Tanyanya seraya menilik sejemang gadis yang tak lepas menatapnya penuh pertanyaan di kursi penumpang.


Jun membimbing gendang telinganya untuk lebih ditajamkan, tatkala dirinya mendengar suara isakan dari Sunhi di seberang sambungan telepon. Tak berbicara, Jun menyempatkan detiknya untuk menunggu sang ibu menjelaskan apa yang tengah terjadi.


Detik berlalu dalam sembilu. Jun tak kunjung diberi harapan, tatkala Sunhi lebih memilih bungkam dengan sekuat hati nyonya Jeon menahan tangis. Namun malah semakin jelas bagi rongga dengar Jun. Sampai akhirnya Jun berada pada titik dimana dirinya tak punya pilihan lain selain, "Apa gadis itu membuat masalah? Bella pergi dari rumah?!", Jun bertanya dengan intonasi penasarannya.


Detik itu juga Jun mengurungkan niat awalnya—makan malam dengan Hyo. Lantas memutar arah perjalanan, menuju tempat dimana huniannya berada. Tatkala vokal sumbang Sunhi kembali berucap,


"Ibu mohon. Cepatlah pulang!", Seketika membuat debar jantung Jun berpacu dalam tempo tak karuan—harap-harap cemas.


- RING MY BELL -

__ADS_1


__ADS_2