
"Semakin dalam kelam, semakin terang cahaya kejora"
Mikrokosmos - BTS
- RING MY BELL -
Keheningan dan tatapan mengintimidasi, merupakan dua hal yang sangat dibenci oleh Bella melebihi apapun. Kau tahu, bagaimana perasaanmu kala dirimu ditempatkan pada posisi dimana kau harus bersaksi atas kejadian yang bahkan kau tidak tahu kesalahan apa yang tengah menderamu.
Dan sekarang Bella terkurung dalam kenestapaan itu. Seolah duduk di kursi eksekusi yang meruntuhkan seluruh pertahanannya.
Ah, Bella sudah malas menjabarkan ujian hidupnya kepada pribadi yang bahkan belum banyak memakan asam garam kehidupan. Kendati pandangan pemuda itu menggubah suasana, tatkala dirinya menanggalkan kacamatanya yang bertengger manis di peraduannya. Lantas mengait segenap atensinya terarah sepenuhnya pada gadis yang menghuni kamar tidurnya.
"Jioo, apa aku menggangu belajar mu?"
Bella tahu bahwa bukan itu maksud dari dengusan panjang Jiho, yang tak lepas memberinya tatapan menuntut. Terlebih jarum menit sudah hampir menghabiskan hitungan waktu tiga puluh, namun Bella belum juga berkeinginan untuk membuka kata.
Jiho tidak lagi terkejut dengan sikap Bella yang enggan mengumbar pandora yang tersembunyi dalam kisah gadis Kim itu selama seharian ini. Tak tahu harus berbuat apalagi jika raut lelah yang Bella suguhkan.
Selain membalas, "Istirahatlah!", Titahnya kepada pribadi yang terlihat ingin menyanggah penuturannya, sebelum anak bibi Goo itu berucap lebih dulu, "Apa kau sudah makan? Sebentar, akan ku ambilkan."
Belum sempat menggenapkan langkahnya, Jiho harus rela menghentikan laju pijaknya lantas merangkum penolakan Bella yang akhirnya terungkap, "Tidak perlu! Maaf sudah merepotkan mu. Aku harus pergi!"
"Kau sudah meminum obatnya?", Dalih Jiho menolak memahami apa maksud dari penuturan Bella barusan.
"Sudah. Kalau begitu, aku harus—"
"Haruskah kau pergi, dengan keadaan seperti itu?!", Ketus Jiho tidak mampu lagi melanjutkan permainan kucing-kucingan tak berfaedah seperti ini.
"Aku baik-baik saja, Jioo. Tidak perlu khawa—"
"Siapa yang baik-baik saja?! Wajah pucat mu sudah menjelaskan semuanya", tukas Jiho yang sedikit meninggikan intonasi suaranya.
Tak ada lagi kata tolakan, hanya tatapan lugu yang Bella sematkan dengan sorot sembabnya. Mau tidak mau, Jiho mengesampingkan keegoisannya dengan bertutur,
"Pergilah jika ingin pergi! Tapi setidaknya makan dulu", tawar Jiho sebelum melanjutkan ketidak perizinannya saat netranya memeta bibir Bella yang tampak meniti bukaan, "Aku tidak akan mengizinkanmu, jika kau tetap keras kepala tidak mau makan!", Tegas Jiho seperti sedang memarahi bocah kecil yang tengah menumpahkan cairan susu ke hoodie kesayangannya pagi tadi.
Entahlah, tidak menahu kenapa Bella malah mengulas senyum manisnya—ingin saja. Merekam pahatan raut pemuda SMA itu yang jelas terlihat seperti renkarnasi Jun. Ah, apa Bella sudah memberitahu hal tersebut? Bahwasanya Jun dan Jiho adalah dua manusia yang memiliki kapasitas otak pun karakter yang tidak berbeda jauh. Bahasa pepatah mengatakan, seperti—pinang dibelah dua.
Tetapi tidak dari segi ego, Jun lebih mendominasi dengan sejuta otoritas yang tidak bisa di ganggu gugat atau tidak mengenankan bagi Bella mencari celah untuk mengajukan bantahan—tentu tidak ada apa-apanya dengan kelihaian Bella memutarbalikkan keadaan dengan permainan katanya. Sikap protektif yang mendarah daging dalam relung jiwanya. Setidaknya itu yang Bella rasakan semenjak menjalin hubungan kasih dengan Jun kala itu—perilaku melindunginya.
Untuk Jiho, tidak bisa dipungkiri bahwa pemuda dengan sejuta pesona itu mampu meluluhkan hati Bella dengan sifat tsundere nya. Terlihat tidak peduli, tetapi menyimpan jutaan perhatian yang jelas tersorot dari visual tampannya itu. Ah, ingin rasanya Bella menjitak kepala anak dibawah umur itu, lantaran telah bersikap sok dewasa.
__ADS_1
Ah, sama saja!—sama-sama menyita debar jantung Bella jika berhadapan dengan mereka.
"Baiklah, terserah kau", paham Bella.
Ada sedikit banyaknya jumlah kelegaan yang mengalir bersama desir darahnya, tatkala meringkas Bella yang masih sanggup memulas senyumnya.
"Tunggu disini!", Pamit Jiho sebelum tenggelam di balik pintu.
Jiho hanya membutuhkan sedikit hitungan menit. Namun seolah titahnya untuk Bella menunggu, tak lagi memiliki nilai peluang untuk pemuda itu menyodorkan sepiring makanan yang tergunduk dengan beberapa lauk kesukaan Bella.
Ah, bukan Bella namanya jika tak membangkang pun tak sudi menjadi sukarelawan untuk mendengarkan sedikit nasihat dari pihak yang memperdulikan bagaimana keberlangsungan hidupnya—dasar, gadis bodoh!
"Kemana dia akan pergi selarut ini?", Gumam Jiho berselimut kekhawatiran akan kondisi pun posisi perempuan yang beberapa tahun lebih tua darinya itu, Rabella Kim.
- RING MY BELL -
Kala malam tak lagi berisikan tentang kerlipan sirius di atas angkasa. Saat gemerisik dedaunan tengah diterpa semilir angin, jatuh lunglai di atas hamparan jalan yang dipenuhi keheningan.
Ah, sial!—selalu saja seperti ini. Itulah sebabnya, Bella teramat sangat membenci kegiatan yang menuntut dirinya untuk terkungkung dalam stiletto nya.
Lagi-lagi harus bermain dengan drama kehidupan.
Telanjang kaki untuk kesekian kalinya.
Derap langkah yang Bella ayunkan nampak tak berirama, lantaran kaki telanjangnya mengundang banyak rasa sakit tatkala berinteraksi langsung dengan kerasnya aspal. Andai drama penolakan tak Bella agungkan, setidaknya ada kehangatan yang tersalur melalui jaket yang sempat ingin Jiho pinjamkan untuknya tadi.
"Ah, sial! Kenapa dingin sekali?!", Keluh Bella dengan raga yang dikekang oleh hawa dingin.
Mata sehitam jelaga Bella nampak meniti perumahan mewah yang terletak di kawasan elite. Ada satu kemegahan yang menarik segenap atensi Bella. Mendadak kepingan masa lalu mencari tempat dalam pikiran Bella. Berbaur dengan desakan air mata yang berselancar ria, diadu dengan dadanya yang mengembang dan mengempis menahan sesak yang menghantam pernafasannya.
Sejauh yang bersarang nyaman dalam ingatan Bella. Hunian bertingkat itu menjadi tempat, dimana gadis Kim tumbuh bersama kenangan yang selalu diagungkan dalam benaknya.
Ya, benar. Rumah yang menjadi tempat tinggal keluarga Kim sejak Bella menginjak masa-masa remaja. Rumah yang menjadi satu-satunya naungan yang paling berkenan pun berkesan bagi Bella pribadi. Rumah yang menjadi pusat gelak tawa yang membungkus kehangatan dalam keluarga Kim kala itu.
Namun detik di mana binaran Bella terarah pada rumah dengan gerbang yang menjulang tinggi didepannya, senyum sumringah tak lagi berkembang pada sudut bibirnya. Hanya ada helaan kesedihan yang tercurahkan lewat realita yang tak lagi bisa digubah menjadi seperti sedia kala.
"Dasar, pria brengsek!"
Bella lelah. Seharusnya raga ringkih nya ini bisa merebahkan rasa lelahnya di ranjang hangatnya. Namun kenyataan tak lagi mengizinkannya untuk berpikir demikian. Mau dikatakan bagaimana lagi, Bella sudah tak memiliki wewenang untuk merealisasikan keinginannya itu.
Segalanya telah menjadi bukan hak milik Bella, setelah Yunki merenggut kepunyaan gadis Kim. Tanpa memperdulikan posisi istrinya yang tak lagi mempunyai tempat berteduh dari kebrengsekan yang Yunki tebarkan.
__ADS_1
"Ya, ampun! Bagaimana ini?!", Bingung Bella tanpa berpadu dengan partikel otaknya yang seolah tak ingin mendukung gambaran pencerahan.
Bodoh rasanya jika Bella terpikirkan untuk memulangkan raganya dalam kediaman Yunki, setelah pergulatan kalimat yang terjadi beberapa waktu lalu.
Jae? Tentu, itu bukan perkara baik untuk kesehatan mental Bella jika harus menyukarelakan benih kekesalannya ditaburi dengan kalimat brengsek Jae yang tentu akan menjadi bagian dalam obrolan mereka nantinya. Dan Bella memilih kemungkinan buruk diperkecil, dengan diurungkan niatnya tatkala ocehan Jae sudah bersarang dalam dekapan benak Bella.
Jiho? Oh, ayolah. Dengan segenap payah Bella meloloskan diri dari anak muda itu. Tidak ingin saja, jika rentetan masalahnya harus dibebankan kepada Jiho. Yang notabenenya, lelaki muda itu sudah dipusingkan oleh serangkaian kegiatan pun pelajaran di bangku sekolahnya.
Lalu kepada siapa lagi, Bella meminta pertolongan atas raga yang sebatang kara ini?
Bella sudah tidak lagi memiliki daftar seseorang yang berminat menaungi dirinya dalam hangatnya hunian rumah.
Kendati demikian tak diberkahi oleh sang pencerah. Tatkala opsi apapun yang berjajar di sepanjang pikiran Bella, tak dapat gadis itu indahkan tatkala nihil merupakan sebuah hasil akhir yang Bella dapatkan. Ingin memaki, namun alangkah baiknya jika dirinya tidak menguarkan sumpah serapahnya.
Tidak lain, hanyalah sebatas raga yang tak lagi didukung oleh tenaga.
Mengingin mencurahkan tangisnya, namun terlihat lucu secara bersamaan. Kedua sudut bibir yang tergurat gelak, dengan raut getir yang menyimpan kecamuk. Jangankan kalimat, katapun sudah tidak bisa mempresentasikan rasa sesak yang memenuhi rongga penghidupan Bella.
"Lengkap sudah—"
Dan, kau tahu? Apa yang membuat kesialan Bella semakin memilin kedukaannya?
Kembali. Bella tertawa miris melihat kebodohannya yang kembali hadir, tatkala dirinya melupakan hal sakral untuk setidaknya dapat menuntun raganya untuk menilik penginapan di sekitar lokasi dirinya berpijak kaki.
"Aish, bodoh sekali kau meninggalkanku dompetmu di rumah Jioo!", Gerutu Bella dengan merutuki kedunguannya yang menjalin hubungan erat dengan segala macam peristiwa.
Pun mengacak surai panjangnya berharap bisa melenyapkan seluruh kemelut di hatinya, "Apa boleh buat—"
Ya, memang apa boleh buat? Jika tubuh lelahnya ingin sekali diistirahatkan dalam segala bentuk aktivitas. Tatkala kelopak sayunya mendapati eksistensi bangku taman. Mendadak menggugah kantuk Bella untuk merebahkan tubuhnya di atas papan duduk di sana.
Astaga!—kenapa skenario kehidupan Bella benar-benar semacam drama melankolis seperti tontonan remaja jaman sekarang, sih?!
Apa mau dikata, tak ada yang bisa dipertimbangkan dalam situasi tidak menguntungkan seperti ini. Semesta sudah menata ruang kelamnya, jajaran kejora sudah menduduki singgasananya. Tidak ada alasan untuk Bella tidak mengikuti jejak intuisinya. Kata hati yang menuntutnya untuk sekedar memanjakan letihnya.
"—jika menjadi gembel adalah jalan satu-satunya", putus Bella pada akhirnya.
Melihat pewaris tunggal StarLA Group tengah meringkuk ditemani temaram lampu taman pun rembulan yang bertahta di peraduannya, cukup mencengangkan bagi siapapun yang memandang jalannya kisah Bella sekarang.
Tanpa diratapi terlalu berlarut-larut. Pun seolah memburu waktu, Bella sudah terpejam menikmati kelana barunya di dunia semu. Dengan kepala bertumpukan kedua belah lengan, pun lutut yang saling menekuk berharap mampu menghemat tempat. Kendati bergerak seinchi saja tubuh ringkuk Bella akan terjerembab jatuh di atas rerumputan yang rindang di bawah sana.
Tak jauh dari jangkauan tidur Bella, ada sorot tak asing sedang memperhatikannya dari tempat pribadi itu mematung. Membidik anggapan bahwa memang penglihatannya tengah dalam mode sadar, kendati benar apa yang menjadi fokus utamanya saat ini. Gadis dengan pelukan gaun yang kala tadi sempat meluangkan, ingatannya untuk memutar kronologi, disaat detik bibir itu bermesraan dengan kepunyaannya.
__ADS_1
"Sedang apa dia disini?"
- RING MY BELL -