
"Goodbye, to me, is tear
Even without my noticing, it comes into bloom around my eyes
Words I could not have told now flow
The lingering love crawls on my face"
Outro: Tear - BTS
- RING MY BELL -
Terik sang Lazuardi mulai membasahi belahan bumi bagian Seoul. Namun, tak menampik kecamuk tatkala sinaran pagi ini tak mendamba secercah harapan semangat untuk gadis yang berkecimpung dalam kegiatan mengunyah santap pagi.
Nampak beringsut menjauhi pemandangan tatap yang sedari tadi mengusik ketenangan jiwanya.
Bella tak ini dilontarkan sederet pertanyaan yang mengulas seputar prahara di dalam kamar tadi malam. Bahkan benak Bella sudah jauh lebih dahulu menyela untuk merutuki ketidakwarasan yang melingkupi setiap tindakannya.
Benar, dan tentu saja.
Bella mengingat kejadian semalam.
Semuanya—mungkin?!
Jangan lantas percaya, karena kebodohan selalu menguntit kemanapun Bella menapak.
Namun...
Sangat jelas terekam dalam memori payahnya. Kejadian yang ingin Bella lenyapkan, lantas dibumihanguskan pada tempat pembaringan terakhir.
"Apa masakan ibu tidak enak?!"
Bubar jalan—
Lamunan yang sejak tadi menggenang dalam pikiran Bella. Sesekon kemudian dibuyarkan dengan lantunan suara mendayu Sunhi.
Wanita satu anak kandung itu, berusaha menyulam senyum diantara kekhawatiran yang menindih benaknya. Teramat paham, jika Bella tengah memanipulasi keadaan.
Ada sesuatu yang menggerogoti pikiran Bella. Namun gadis itu gencar mengumbar ulasan senyum dikedua sudut ranumnya.
Bella tidak baik-baik saja—Sunhi tahu itu.
"Tidak, Mi. Masakan Mami selalu enak, apapun itu", balasnya seraya masih setia mengaduk-aduk dengan sendok, kudapan di atas piring. Tanpa menggugah niatan untuk mengajukan kegiatan mengunyah.
Ingin rasanya Bella mencolok dua bola mata itu. Yang sedari tadi memfokuskan atensinya pada dirinya, terkhusus di bagian pangkal lehernya.
Ah, sial!
Ingatkan Bella untuk lebih berhati-hati pun harus bersikap teliti, sebelum benar-benar duduk di hadapan tiga pasang netra. Dengan—apa yang pria itu lihat, huh?!
Bella membenahi bajunya untuk menutupi bercak ruam keunguan yang jelas tercipta atas kegiatan malamnya bersama Jun kemarin.
Dan lagi,
Hal yang lebih membuat amarah Bella menggondok. Tatkala gadis di sebelah Sunhi itu menyempatkan pandangan, untuk melirik sosok di samping Jun dengan ekor matanya.
Apa-apaan gadis bernama Hyora itu?!
Sejauh yang Bella ingat, dirinya sudah menerapkan ritual paginya untuk pembersihan fisiknya. Jangan salah! Berendam dalam kubangan bathub dengan dipandu lilin aroma terapi, sudah menjadi konsumsi Bella saat pagi menyapanya tadi. Bahkan semerbak harum musk sudah mendominasi sudut tubuh Bella.
Pantas saja sedari membangun simpuh, Jun tak mengalihkan atensinya pada gadis tepat didepannya.
Bella sudah berpakaian rapi.
Mau kemana dia sepagi ini?
"Kau bahkan belum menyentuhnya sama sekali. Bagaimana kau bisa mengatakan masakan ibu itu enak, huh?", Gundukan karbohidrat di atas perkakas makan Bella pun masih belum tersentuh mulut, "Cepat makan dan habiskan", suruh Sunhi dengan intonasi keibuan.
"Iya, Mi. Aku pasti akan—"
Tak diizinkan untuk melayangkan persetujuan untuk melahap habis santap paginya hari ini. Hanya karena getar dering ponsel yang lebih mengait segenap atensi Bella.
Jun yang melihat getaran di atas papan meja, nampak mengernyitkan bentangan dahinya. Penasaran seribu bayangan—siapa yang menelepon sepagi ini?
"Eoh, Paman. Kenapa?" Lirih Bella sedikit menepi untuk menghindari pihak yang mencuri dengar percakapannya.
Paman? Apa sekarang dia menggaet pria berumur?
__ADS_1
Om-om?!
Tidak ada sahutan dari pribadi yang dipanggil paman di sambungan telepon. Memaksa Bella untuk kembali berujar, "Apa paman di rumah? Jika iya, tetaplah disana. Aku ingin menjenguk—"
Bella sesaat membeku di tempat. Mencerna lamat-lamat apa maksud dari penuturan pihak seberang. Lantas tanpa memperpanjang pemikiran semacam praduga negatif, Bella langsung menghambur pergi guna menuruti titah sang penelepon.
"Ke rumah sakit, sekarang!"
- RING MY BELL -
Rapalan pengharapan serta rentetan umpatan, bersamaan dalam mengiringi langkah Bella. Pikiran Bella sudah berkecamuk, kala kata rumah sakit menghantam gendang pendengarannya.
Relung kalbunya semakin mencelos berantakan tatkala pemikiran pemikiran terburuk, bersemayam tak sopan pada benak Bella. Bibir ranumnya pun menerus merapalkan 'tidak', disepanjang tungkai meninggalkan jejak. Bahkan, sorot tatap bak sejernih embun pagi tergantikan dengan sensor kalut. Bisa dilihat juga, bagaimana genangan bening yang sudah menumpuk di pelupuk. Turut bersinergis dengan pupil yang bergetar, ingin menumpahkan segala ketakutan yang merajai relung hati Bella.
Bella takut setengah mati.
Sepatu Flat yang merutuki kecemasan di atas hamparan lantai rumah sakit. Berharap kehadirannya di sini, tak menjadi kali terakhir. Bersyukur jika hari ini menjadi detik kesembuhan bagi semua pihak, terutama untuk hati Bella yang seolah mati ditelan oleh keegoisannya sendiri.
"Bagaimana keadaannya?", Seru Bella tergesa dengan intonasi getar, menandakan adanya serangan panik yang tidak bisa tergambarkan lagi.
"Ayahmu harus segera di operasi"
Mendengar keharusan itu, pikiran Bella serasa dihempas ombak hingga terombang-ambing tak tentu arah. Bahkan tubuhnya terasa dikebumikan oleh sambaran kilat petir, yang menghantam dinding kesadarannya.
Bella tidak ingin kehilangan—untuk kesekian kalinya.
Tidak!
Itu tidak boleh terjadi! Lagi.
Dadanya sesak bukan main merangkum kenyataan itu.
"Tenangkan dirimu! Tidak perlu cemas, serahkan semuanya kepada Paman", ucap Hans berusaha menenangkan Bella. Namun sepertinya gadis itu tak kuasa dibujuk untuk sedikit menghempaskan kekhawatirannya, "Paman janji... ayahmu tidak akan pergi meninggalkanmu", imbuhnya.
Rangkaian kalimat janji paman Hans, membuat Bella mendongak menatap sang pemberi harapan, "Itu harus Paman! Jika kali ini kau sampai gagal, aku akan membencimu seumur hidupku. Ingat itu!", Ancam Bella yang dibalas kekehan dari pribadi berbalut pakaian dokter itu.
Entah kemana arah perbincangan kedua insan beda generasi itu terpaut. Namun mereka demikian larut dalam sendau gurau, yang membawa Bella ikut tertawa dalam getir. Sembari jari lentiknya yang menghilangkan jejak lelehan air mata, yang entah sejak kapan gadis itu berderai dalam tangis.
Astaga, Bella bahkan tak menyadari bahwa dirinya sudah terbawa suasana sampai sedramatis ini.
Dan—Paman Hans melihatku menangis?!
Ah, hilang sudah wibawa Bella, yang selama ini dirinya junjung tinggi.
"Astaga, dalam situasi seperti ini, kau masih malu menangis didepan ku?!", Keluh Hans yang memandangi Bella tengah mengurai air mata yang tadi sempat berjatuhan.
"Kenapa masih disini?! Apa Paman menunggu ayah sekarat dulu, baru mengoperasinya?!", Protes Bella ditengah binar bening yang masih tersisa di dalam sorotnya.
"Kau ini bicara apa, huh?! Paman hanya akan mengontrol operasinya, akan ada dokter yang lebih handal yang akan menangani ayahmu", jelas Hans mengoreksi.
Bella bingung.
Siapa dokter handal itu selain Paman Hans?
Lalu—
"Siapa?!", Bella bertanya, "Kenapa tidak memberitahuku lebih dulu?! Aku kan sudah bilang, jangan menambah orang untuk tahu kalau Daddy masih hidup. Apa Paman mau membongkar rahasia ini, dan menghancurkan semuanya?!", Kesal Bella merasa tak dianggap keberadaannya.
Hans hanya mampu mengulas senyum.
"Kau akan tahu nanti hasilnya. Dia tidak pernah mengecewakan", ujarnya memberi pengertian, "Dia orang yang bisa dipercaya. Paman yakin, Dokter itu pandai memegang janji", imbuh Hans melenyapkan seluruh keraguan yang mengendap dalam diri Bella.
Lalu, untuk apa dia tadi mengumbar janji, huh?!
- RING MY BELL -
Bella tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menata ulang hidupnya, kala jalan untuk dirinya tapaki sudah berada di ujung kehancuran.
Kehilangan akan jauh lebih menyakitkan daripada menerima penderitaan itu sendiri. Pun akan jauh lebih baik, jikalau dirinya saja yang menghilang dari muka bumi ini. Daripada harus menyaksikan, bagaimana orang terkasih perlahan meninggalkan dirinya, satu persatu.
Bella tidak lagi bisa melihat sosok yang sangat penting dalam proses pendewasaannya, harus pergi meninggalkan dirinya lagi. Tanpa tahu apa yang harus Bella perbuat, untuk mencegah petaka yang mengitari sudut kehidupannya.
Cukup sekian lama Bella mengikhlaskan kepergian sang mommy. Entah berapa banyak pula bulir air mata yang Bella habiskan hanya untuk meratapi nasibnya sendiri.
Dan sekarang....
Apa semua harus terulang kembali?!
__ADS_1
Bella belum terlampau siap untuk mengulang skenario memilukan itu lagi.
Salah apa Bella pada kehidupan masa lampaunya?
Apa Bella merupakan gadis pendosa? Lantas kesialan itu menimpa pada renkarnasi Bella sekarang, Rabella Kim?
Astaga, Bella! Apa yang kau pikirkan, huh?
Berhentilah membual! Dan berfokuslah pada kondisi dan situasi sekarang ini. Agaknya merapalkan segala bentuk permohonan, yang harus Bella perioritas kan sekarang ini. Alih-alih memikirkan, bagaimana rasanya kehilangan yang tidak berkesudahan.
"Kau lapar?"
Bella mendongak.
Mendapati eksistensi yang ditunggunya sejak beberapa jam berlalu, dalam keresahan yang melanda. Dan apa yang dirinya dapat—
"Bagaimana operasinya?", Tanya Bella dalam sendu.
Pun berdiri dengan cergas, menanti datangnya sebuah keajaiban dalam rangkaian kalimat yang berharap bisa melenyapkan seluruh kemelut hatinya.
"Paman tunggu di kantin rumah sakit"
Lelaki yang dipanggil paman itupun tidak mempunyai kebebasan dalam mencipta jejak. Tatkala kalimat Bella menginterupsi langkanya, "Paman! Aku sedang tidak ingin bercanda sekarang", ketus Bella tak menginginkan sebuah basa-basi lagi.
Bagaimana bisa dalam situasi genting seperti ini, Hans masih menyempatkan detiknya untuk mengungkap gurauan?!
Bahkan penuturan pria paruh baya itu hanya memaksa degup jantungnya semakin menggila saja dalam menggiring pacuan.
Hanya ada hembusan keheningan.
Diam.
Sejurus dengan pandangan yang saling beradu dalam keterdiaman. Bagi Bella, dirinya tak menahu apa makna yang terkandung dalam sorot mata lelaki yang dipanggilnya paman itu. Lain halnya dengan Hans, yang melihat getaran yang merambat pada pupil gadis didepannya.
Dengan binar berkaca-kaca yang siap meledak jika perkara buruk yang Hans lantunkan untuk memperjelas pertanyaan Bella melalui perantara sensor matanya.
"Operasinya berhasil. Kau tidak perlu khawatir", beritahu Hans akhirnya. Lantaran tak tega menghancurkan secercah harapan dari Bella.
Hahh... Astaga!
Syukurlah.
Lega rasanya mendengar hal-hal baik seperti ini. Pun Bella tidak perlu cemas berkepanjangan, tatkala tatapan Hans mengulas sebuah kejujuran.
Ayahnya baik-baik saja.
Hal tersebut dirasa sudah lebih dari cukup untuk menghapus kesedihan Bella.
"Kalau begitu, ayo kita makan. Paman sudah lapar sejak tadi, kau tahu?!", Ajak Hans sembari membawa tungkainya berbalik arah guna meraih tujuan.
Namun demikian tak berarti bagi Bella. Gadis itu masih setia mematung di tempatnya berdiri. Selaras dengan jejak yang Hans tinggalkan, Bella pun ikut membalik tubuhnya—bertolak arah dimana Hans mencipta langkah.
Di tempat Hans melangkah, laki-laki itu sontak memperlambat proses pijakan tatkala tak mendapati langkah kaki mengikutinya. Pun seolah dibenarkan oleh firasat, Hans mendapati eksistensi gadis yang melangkah semakin jauh dari jangkauan. Dan hanya helaan pasrah yang Hans mampu perbuat.
Sedangkan di sisi lain, Bella nampak gencar melebarkan langkahnya. Dengan menyemai perasaan campur aduk, yang mengisi setiap sudut relungnya.
Namun tungkai yang terbungkus flat shoes itu harus merelakan laju pijaknya. Tatkala sosok lain menampakkan presensinya bersama dokter lainnya, berjalan ke arah Bella, seusai keluar ruang pemulihan pasca operasi.
Bak disambar petir di siang bolong, Bella dibuat tercengang melihat siapa gerangan yang tengah dilihat sepasang bola matanya. Pun seolah diharuskan untuk melebarkan bukaan netranya, tatkala orang yang berusaha dirinya hindari sepanjang paginya, kini berdiri tepat beberapa langkah dari tempat Bella ternganga.
Bella tidak berniat percaya.
Tidak.
Bahkan ketika suara itu mengalun dalam ketenangan.
"Ayahmu baik-baik saja..."
Seketika itu pula, bulir air mata perlahan dengan gerakan pasti, nampak berselancar ria membasahi bongkahan pipinya. Seolah tak lagi peduli jika pertahanannya runtuh di depan laki-laki dengan balutan busana medis itu.
Bibir Bella serasa dibungkam dengan ribuan kenyataan. Tak bisa menguntai kata. Hanya mampu menunjukkan kekacauan dalam kalbunya, melalui lelehan kepedihan.
Jadi dokter handal itu—
Jun?! Dia yang mengoperasi Daddy?
- RING MY BELL -
__ADS_1