
“Apapun yang orang-orang katakan. Aku hanya hidup sebagaimana yang aku inginkan, dipandu oleh keyakinanku sendiri”
- RING MY BELL -
Suasana kembali kondusif, setelah sebelumnya ayah Bella membuat kegaduhan yang mencengangkan bagi tamu yang hadir. Kendati segelintir pihak yang kembali menikmati jamuan mereka, tak sedikit pula yang melanjutkan aktivitas bercengkrama mereka. Pun semakin terlihat berkelas semenjak kehadiran tamu kehormatan, sepasang suami istri yang menempatkan diri di acara sang putri.
"You are Rabella Kim, right?", (Kamu Rabella Kim, kan?) Tanya salah satu tamu yang sengaja menghampiri Bella yang tampak ingin bertegur sapa dengan pengantin wanita, lebih tepatnya penerus StarLA Group kelak—tapi Bella tidak yakin akan hal tersebut. Karena gadis itu lebih meyakini bahwa dirinya tidak akan berkecimpung dalam bisnis keluarga. (Kamu Rabella Kim, kan?)
Pun Bella yakin jika pria berambut pirang itu merupakan salah satu kolega sang ayah di Eropa. Mungkin garis besarnya seperti itu.
"Yeah, that's my name", Bella membalas dengan senyum ramahnya dengan raut penuh tanda tanya besar. (Yeah, itu namaku)
"Congratulation for your wedding", (selamat atas pernikahan mu) ucapnya memberi selamat, serta mengangkat tangannya guna ingin menjabat ruas Bella dan tentu saja gadis itu menangkap sinyal yang diberikan, "By the way, you're so beautiful. I'm serious!", puji pria itu yang terlihat bersungguh-sungguh. (Omong-omong, kau sangat cantik. Aku serius!)
"Really?", Bella merendah. (Benarkah?)
"Of course. It is true what he said", kata lelaki bule itu mantap.
(Tentu saja. Memang benar apa yang dia katakan)
"Ah, thank you so much", jawab Bella tersipu malu. Memang memancarkan sensasi tersendiri jika sanjung puja itu terlontar dari bibir seorang lelaki. Terasa ada getaran yang merambat relung hatinya. Senang, jika kecantikannya juga diakui oleh warga negara asing. (Ah, terima kasih banyak)
Tetapi ada yang janggal dengan lontaran pernyataan pria asing barusan, "He?", Singkat Bella digulung rasa bingung. (Dia)
"Oh, Do you know Jaehyun Lee? He is my friend ", Tanya pria itu lagi. (Oh, apakah kau mengenal Jaehyun Lee? Dia temanku.
"Who?", Bella mencerna nama yang baru saja terekam dalam rongga rungunya, "Lee Jaehyun?", Gadis itu masih belum sepenuhnya memahami.
"Yeah, I heard you guys are very close", sosok tinggi itu memberitahu. (Yeah, kudengar kalian sangat akrab)
"Ah, Really? Sorry, but I don't know who you are referring to", (Ah, benarkah? Maaf, tapi saya tidak tahu siapa yang Anda maksud) Bella memikirkan ulang, sekiranya dirinya melupakan sesuatu yang berkaitan dengan pribadi yang bernama Lee Jaehyun itu, "who is he?", Bella yakin belum bisa meninggalkan rasa penasarannya. (Siapa dia?)
Lee Jaehyun?—Bella sama sekali belum pernah mendengar nama itu. Tapi jika di tanya, apa kau mengenal seseorang yang bernama Shin Jaehyun. Tentu Bella sangat mengenal sosok Shin itu. Tapi marga kedua nama tersebut terlampau berbeda, jika Bella berpikir kedua identitas itu dimiliki satu sosok saja.
Ah, tentu saja. Di planet bumi ini tidak hanya ada satu dua orang yang memiliki nama yang serupa.
"Never mind. Don't think about that, if you really don't know him. But strangely, Jaehyun that I know, says that he really knows you. Really strange, right?", timpal lelaki itu yang belum puas dengan pernyataan Bella. (Sudahlah. Jangan pikirkan itu, jika kau benar-benar tidak mengenalnya. Tapi anehnya, Jaehyun yang kutahu, mengatakan bahwa dia benar-benar mengenalmu. Benar-benar aneh, kan?)
"Maybe, what your friend meant was not me. but, a girl who has the same name as me. The name doesn't only belong to one person, right?", Bella mencerna setiap keraguan dengan berpikir secara rasional. (Mungkin, yang dimaksud temanmu bukanlah aku. Tapi, seorang gadis yang memiliki nama hampir sama denganku. Nama tidak hanya dimiliki satu orang, kan?)
"That is true. Sorry for asking you boring things", ujarnya tidak enak hati, sudah mengorek informasi yang salah. (Benar juga. Maaf sudah menanyakan hal yang membosankan kepadamu)
"It's ok, no problem. No need to hesitate", Bella memahami. (Tak apa, tidak masalah. Tidak perlu sungkan)
__ADS_1
Setelah menghabiskan banyak detik. Kini Bella berhadapan langsung dengan para gadis,yang sebelum ikrar digaungkan, ruang telinga Bella sempat mendengar percakapan mereka. Entah pengungkapan yang menjerumus pada tutur hinaan atau justru sebuah sanjungan. Bella rasa dua hal tersebut tidak ada yang membedakan. Hampir mendekati ambang kemiripan.
"Hai, kalian pasti teman Yunki? Benar?", sapa Bella, "Ah, sebelumnya, terima kasih sudah menyempatkan waktu berharga kalian untuk hadir di pernikahan sederhana ini", orang gila mana yang tidak tahu jika kalimat Bella itu diungkapkan oleh kerendahan hati yang ingin ditinggikan derajatnya.
Sederhana? Oh, ayolah! Bagaimana bisa pesta pernikahan berdekorasi nan mewah ini hanya dibatasi dengan kata 'sederhana'. Mungkin benar adanya, jika ungkapan itu keluar dari mulut gadis yang berasal dari kalangan atas, pun bisa dimaklumi jika gadis yang terlahir dari sendok emas yang mengatakannya.
Dua dari tiga gadis berbeda proporsi tubuh itu menguak tawa hambar. Seolah umpatan yang mereka persiapkan telah tertahan oleh kenyataan. Tentu saja, orang bodoh mana yang berani melantunkan kata kotor kepada putri dari tuan dan nyonya Kim.
Dari banyaknya tahun yang Bella habiskan sebagai seorang anak dari pewaris utama StarLA Group, dalam situasi seperti ini untuk kali perdana Bella merasa menjadi gadis paling beruntung. Bagaimana tidak! Keberuntungan yang sangat jarang ditemui dalam keseharian Bella, pun sekarang gadis itu bisa memanfaatkan pengaruh kedua orang tuanya untuk mendapatkan sebuah pengakuan bahwa dirinya bukanlah gadis sembarangan yang dapat mereka perlakuan seenak jidat.
"Ah, tentu bukan apa-apa. Suatu kehormatan untuk kita bisa menghadiri acara pernikahan pewaris StarLA", balas salah satu dari mereka.
"Benarkah? Tetapi bukan kalimat seperti itu yang kudengar saat acara pemberkatan tadi", tukas Bella yang melenceng dari arah pembicaraan.
"A-apa?", Tanya gadis dengan rambut tergerai dengan sedikit hiasan itu hati-hati pun kurang mengerti apa maksud dari penuturan Bella.
Gadis yang nampak sebaya dengannya itu, terlihat memasang radar antisipasi. Terkecuali dengan wanita yang terbungkus gaun ketat, saat Bella ingin mengadukan kalimatnya. Tertera seperti sedang meremehkan skenario Bella, pun pribadi Kim yang masih dapat mengontrol diri saat menangkap senyum asimetris gadis itu. Terlihat seperti—
kau pikir kau siapa? Jangan anggap aku takut denganmu, sekalipun kau anak presiden!
Tch, sangat mudah terbaca oleh pemahaman Bella. Terbukti dari ekspresi sinis yang gadis itu suguhkan.
"Hei, Rabella Kim!", Panggil wanita yang paling mencolok di antara kedua temannya itu.
Sontak memaksa Bella untuk menghentikan laju kepergiannya. Lantas membawa sorot matanya untuk sekedar mengapresiasi panggilan wanita itu. Terdengar ketus memang, tapi biarlah. Hal seperti ini sering Bella temui jika ada yang mengetahui kebenaran, bahwa dirinya satu-satunya keturunan dari CEO StarLA.
"Jangan berlagak sombong, hanya karena kau pewaris tunggal StarLA!", Ujarnya setelah mendapat tatapan penuh tanya dari Bella, "Kau tidak tahu siapa diriku?", Lanjutnya yang belum mendapat respon dari Bella.
"Hei, Song Ji A. Apa yang kau lakukan, huh?! Kau bodoh atau bagaimana?! Kau tahu siapa dia, tapi kenapa... Astaga!", Bisik salah satu dari sekian gadis. Yang Bella ketahui bahwa mereka satu rumpun, yang tidak jauh berbeda dari orang kurang kerjaan di luar sana.
"Ah, Song Ji A?!", Bella memahami, "Kurasa aku sudah tahu siapa namamu. Tapi, siapapun kau... itu bukan urusanku. Tidak penting!", Ketus Bella terlebih di akhir katanya yang sengaja ditekan dengan ketidakpedulian.
"Aku kekasih Lee Yunki, asal kau tahu", beritahu wanita yang bernama JiA itu, ditengah-tengah kedua temannya yang berucap lirih memperingatkan bahwa gadis Song itu secara tidak sadar telah menggali lubang kuburnya sendiri.
Kembali perjalanan jejak Bella harus dihentikan sementara. Tatkala merangkum omong kosong dari sosok gadis yang baru ditemuinya itu.
Lantas mengukir senyum pongahnya.
Kendati kalimat yang Bella untai di atas ketidakpeduliannya itu, mampu membuat JiA berdecak kesal. Tatkala ucapan, "Ah, benarkah? Selamat kalau begitu. Ku doakan hubungan kalian bertahan lama", mengudara dengan Bella yang menggiring tungkainya menjauhi tiga gadis tak berkepentingan untuk sekedar membuang waktu berharga Bella.
*Sialan!
Rabella Kim. Berani kau berurusan dengan Song Ji A?!
__ADS_1
Tunggu kejutan apa yang akan kuberikan untukmu*.
- RING MY BELL -
"Iya, Jun ada apa?"
Lantunan soprano tiba-tiba mengecai bentangan bising dalam ruangan bergaya modern itu. Memaksa wanita berbalut busana sederhana itu menajamkan indra pendengarannya, lantaran suara bariton diujung intercom terdengar kurang jelas.
"....."
"Iya, Eomma masih ada di acara Bella. Kenapa? Apa terjadi sesuatu denganmu?", Jelas wanita paruh baya yang terlihat kebingungan dengan niat sang anak yang mendadak menelpon di tengah dirinya yang menanti ingin bertemu pandang dengan penghuni baru di keluarga Lee.
"Eomma lupa jika aku mempercepat keberangkatan ku menjadi hari ini?", Dialog Jun yang tertangkap jernih rungu nyonya Jeon, sesaat sebelumnya wanita itu mencari tempat yang dirasa cukup memadai untuk melanjutkan percakapannya dengan sang anak.
DEG!
Jantung ibu Jun bertalu keras menghantam dinding arterinya. Kenapa pula dirinya harus melupakan hari dimana wanita itu untuk kali pertama dalam sejarah hidupnya, akan ditinggalkan oleh anak semata wayangnya jauh di sana. Ah, mungkin lantaran faktor usia yang semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Atau mungkin ibu Jeon itu yang teramat merindukan anak gadisnya yang baru saja menyelesaikan akad nikah.
Perkara yang dirasa kurang signifikan terhadap opsi yang harus diputuskan nyonya Jeon. Merasa bersalah dengan keadaan, pribadi paruh baya itu dibuat pusing harus bagaimana menyikapi keadaan yang tak bersahabat dengannya ini. Jun dan Bella merupakan dua anugerah terindah yang dikarunia oleh sang kuasa padanya. Kedua orang yang dikasihinya itu bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah prioritas yang akan selalu menjadi faktor utama kebahagiaannya.
"Astaga, Jun! Maafkan Eomma. Kau tahu bukan, Eomma tidak bermaksud melupakan keberangkatan mu?", Sesal nyonya Jeon dari hati terdalamnya,"Baiklah, Eomma akan segera pulang. Tunggu sampai Eomma sampai! Jangan pergi dulu! Eomma akan sangat membencimu jika kau meninggalkan Seoul tanpa pelukan terakhir darimu", ancam wanita yang nampak tergopoh-gopoh memasuki naungan yang masih larut dalam kegiatan bincang berbincang.
Ditempat yang berbeda, lebih tepatnya dikediaman keluarga kecil Jeon yang jauh dari peradaban gemerlap pesta pernikahan yang dilangsungkan. Terdapat sosok yang tenggelam dalam kegelapan ruang, hanya cahaya Lazuardi yang mencuri tempat dibalik celah jendela.
Jun melucuti tawa habis pikirnya saat mendengar ancaman sang ibu yang terdengar seperti sebuah permintaan sederhana kepada anaknya untuk tidak pergi sebelum salam perpisahan.
Meremat penuh pertimbangan dalam mengambil alih sebuah keputusan yang terletak pada secarik kertas berukuran panjang, bertuliskan negara yang ingin Jun kunjungi dalam waktu dekat ini.
Amerika Serikat.
Negara Paman Sam itu akan menaungi kehidupan Jun dalam kurun waktu beberapa tahun yang akan datang. Dengan hati yang begitu berat, meninggalkan sang ibu sendiri di kota kelahirannya ini. Pun berharap tidak membawa lembaran hitam, yang sejatinya ingin dirinya musnahkan secepat mungkin.
"Jun, kau masih disana? Kau mendengarkan Eomma?", Nada kepanikan yang didengar Jun melalui getaran suara dari sang ibunda.
Jun mengulas senyum, berharap mampu meredakan sulutan panik sang ibu. Meskipun tidak tersaring langsung oleh pribadi yang dimaksud, Jun tetap bertahan dalam mengukir ekspresi menyunggingkan kedua sudut birahinya.
"Baiklah! Aku tunggu di rumah", timpal Jun memahami.
"Ya sudah, Eomma akan segera pul...."
Kalimat tidak utuh sang ibu membuat nafas Jun tercekat sesak di kerongkongannya, pun menjadikan lidahnya kelu bahkan terlampau sukar hanya untuk menelan salivanya sendiri. Seolah suara diseberang, yang baru saja terserap gendang rungunya kembali menggoyahkan komitmen yang sudah Jun pertahankan sekuat hati untuk tidak mudah terpengaruh oleh rasa rindu yang menggebu diikuti vokal yang begitu hangat untuk didengar.
"Mami?!"
__ADS_1
- RING MY BELL -