
"I call you her,
Cuz you're my tear"
Outro: Her - BTS
- RING MY BELL -
Pantulan bayang terlihat beringsut dari peraduannya. Menjelaskan bahwa sang Surya tengah memancarkan sinar teriknya, guna memanasi pelataran bumi terkhusus bagi penghuni Seoul.
Sneakers bertali yang nampak usang dibawah guyuran mentari, yang berpijar kokoh di atas kepala itu terlihat tak bersemangat untuk menjajaki hamparan jalan hitam putih, zebra cross, didepannya.
Pandangannya tak sejernih kilauan displaynya itu, mungkin atas campur tangan rasa letih yang menjadi satu-satunya tersangka dibalik gontainya langkah yang gadis itu rajut. Kendati demikian terasa aneh tatkala bentangan alisnya yang tertata rapi nampak mengernyit, pun menciptakan guratan menahan rasa sakit yang menerjang organ kepalanya.
Sekuat tenaga gadis itu berjuang untuk mendapatkan langkahnya mencapai penghujung jalan. Mendadak pijakannya terasa begitu berat, kepalanya serasa dihantam sejuta rasa pening. Pemandangan yang terpatri dalam binaran sayunya, tiba-tiba mengaburkan pandangan matanya. Tempat disekitarnya nampak berputar hebat, membiarkan dirinya merasakan sensasi yang sangat besar menyita kesadarannya—pusing.
Sejak tadi telapaknya tak mau melepaskan sarangnya pada sisi yang diserang oleh pasukan yang menyakiti saraf dalam kepalanya—berharap bisa meredam rasa nyeri yang menderanya. Namun agaknya gadis itu tak terlihat mendapatkan sebuah pencerahan.
Tubuhnya limbung.
Dan....
Suara klakson sukses membuat tubuh tak seimbang itu terjerembab di atas panasnya jalanan aspal. Lalu lintas yang padat merayap menjadi terganggu dengan adanya insiden tersebut.
Gadis itu terantuk sengatan aspal cukup keras. Bertubi-tubi pula kepalanya terhantam rasa pening.
Beruntung, Dewi Fortuna memihak pada Jun, lantaran dengan sigap dalam menginjak penuh pedal rem nya.
__ADS_1
Terkejut? Tentu saja, sensasi mendebarkan bagi kedua pihak yang menjadi korban dari kejadian diluar kehendak itu.
"Astaga! Kenapa gadis itu tetap menyebrang disaat lampu hijau sudah mati?", Panik Hyo di kursi penumpang dengan vokal kejutnya, "Apa dia terluka parah? Bagaimana jika terjadi sesuatu hal, dan gadis itu menuntut kita?", Masih dengan nada paniknya tanpa menghakimi.
"Kau tidak menabraknya, kan?", Tutur Hyo yang tak lepas dari rasa kejut pun panik yang mencari dominasi.
Kendati ruang pendengaran Jun seolah diblokade oleh binar penglihatannya yang terfokuskan dengan seseorang yang berusaha keras untuk bangun dari jatuhnya.
Dari sisi luar, gadis yang terperosok jatuh itu memicing kesakitan dengan sekujur tubuh yang sudah tak lagi dalam kondisi baik-baik saja. Penutup kepala, yang tersemat di atas peraduannya itu melesat pergi meninggalkan jangkauan. Lantas sepoi angin yang berhembus, menerpa paras lesunya pun menyapu helaian panjang itu dengan memburah berantakan.
Sosok didalam hunian mobil nampak meremat stir kemudi, penuh keterkejutan diantara rasa tidak percaya pun terlampau jauh dari keyakinan. Jun tidak pernah menyangka, bahwa dirinya memang benar tengah menyaksikan raga yang sama beberapa tahun yang lalu, ditengah jalan itu.
Tanpa menggugah atensi dari gadis yang menghuni jok disampingnya, Jun hanya diam tanpa berkilah dari pangkuan bangku kemudi. Memperhatikan setiap jengkal tubuh manusia yang lamban menangani pergerakan torsonya.
Gadis yang sama dirinya temui beberapa saat lalu di rumah sakit. Gadis dengan balutan warna kelam. Gadis yang tak ingin pergi meninggalkan relung hati Jun. Gadis yang tak ingin Jun temui, sepulangnya dari negara yang menjadi pusat perekonomian dunia—Amerika Serikat.
Sekali lagi. Terpaan kencang kembali menghadirkan dengan teramat jelas, bagaimana wajah itu membenarkan segala prasangka Jun.
Rabella Kim. Ah, ralat, Rabella Lee. Ah, tidak, Jun lebih nyaman dengan marga Bella yang dimilikinya sejak lahir, dibandingkan dengan marga yang disalurkan melalui ikatan yang terjalin atas dasar bahtera rumah tangga itu.
Nama gadis itu yang sedari awal bergulat dengan pikiran Jun. Dan sekarang kebenaran telah terungkap dalam bukaan ketidakpercayaan Jun.
Setelah mendapati dirinya sudah berdiri dengan menggenggam erat kecamuk yang ada, pun tanpa memperdulikan raut kesakitannya. Gadis yang sudah dipastikan bernama Bella itu, nampak membungkukkan setengah badannya meminta permohonan maaf lantaran dirinya teledor dalam mematuhi peraturan jalan.
Lantas mencipta langkah guna menjauhi tempat kejadian perkara. Pun memburai akar kepalanya, yang berhambur terkulai menutupi wajahnya dengan sekali singkap.
Memang benar. Dia adalah Rabella Kim.
__ADS_1
"Kurasa gadis itu tidak dalam kondisi baik. Bagaimana jika kita—"
Tutur kepanikan Hyo nampak tergantung oleh bunyi gaduh yang membumbung ke dalam gendang telinga. Meminta paksa Maserati yang dihuni sepasang sahabat itu, untuk membuka jalan bagi pengemudi lainnya.
"Astaga! Apa yang mereka lakukan! Dipikir jalanan milik nenek moyang mereka apa?! Tidak sabaran sekali!", Justru Hyo yang dibuat kebakaran jenggot mendengar kegaduhan yang mulai melingkupi seluruh sudut kota.
Seolah tak ada pilihan terbaik selain mengajak kendaraannya menjauhkan diri dari segala kebisingan yang terarah untuk lelaki yang masih mengarahkan pupil matanya pada gadis yang semakin tenggelam dalam peredaran atensi Jun—masih ingin melihat presensi Bella lebih lama lagi.
"Kau kenapa? Apa kau mengenal gadis tadi?", Gundah Hyo yang melihat Jun nampak gusar dibalik jerat sabuk pengaman.
Jun menilik sejemang gadis yang menatapnya dengan raut meminta penjelasan. Lantas kembali menautkan geraian atensinya pada hamparan raya didepannya, "Tidak", singkat, padat, namun tak begitu jelas terbaca oleh pemahaman Hyo.
"Kurasa gadis itu tidak asing lagi", selidik Hyo yang berbicara dengan dirinya sendiri, "Oh, bukankah dia... benar, dia Rabella Kim. Tapi, kenapa suaminya membiarkan dia sendiri? Apa dia tidak khawatir kepadanya? Kasihan, wajahnya terlihat pucat", omongnya yang tak melihat gelagat Jun, yang nampak terusik dengan cara Hyo mengeraskan volume suaranya.
Benar. Jun tak lagi bisa menyangkal adanya realita yang dirinya dapatkan secara tidak sadar pun disengaja. Bella yang enggan dirinya temui di hari pertamanya menginjakkan kehidupannya di kota kelahirannya—Seoul, itu telah menampakkan eksistensinya melebihi dugaan Jun.
Bunyi decitan pun tubuh yang sontak terhuyung ke depan, menjadi respon awal terhadap pemberhentian yang Jun lakukan secara tidak terkoordinasi terlebih dahulu. Hanya Hyora, gadis itu yang dikejutkan dalam peristiwa yang Jun perbuat. Hampir-hampir jantungnya melonjak jatuh bersamaan dahinya terbentur dasboard—jika saja sabuk pengaman tak menampakkan kegunaannya.
"Kau bisa menyetir?", Ujar Jun cepat sebelum dirinya disemprot dengan ujaran kebencian dari Hyo.
Bingung. Reaksi yang Hyo suguhkan tatkala keningnya berkerut tak mengerti, "Apa maksudmu? Kau mengejekku atau bagaimana, huh?!"
"Pergilah dulu! Nanti aku menyusul", kalimat terakhir yang Jun kumandangkan sebelum dirinya menghambur keluar dari hunian mobilnya—seolah menjadi salam perjumpaan sebelum dirinya benar-benar menghilang dari radar gadis Hyo.
"Hei, mau kemana kau?!", Teriaknya yang terasa sia-sia saja, lantaran tak mendapati kata yang menjadi jawaban atas keraguannya.
"Tetap saja. Setidaknya beri aku penjelasan atas kepergian mu, Jun", gadis itu menggerutu kesal, lantas beralih menuju singgasana yang sebelumnya Jun tempati.
__ADS_1
- RING MY BELL -