
"I'm still standing here with my eyes closed. Lost between the deserts and oceans. I'm still wandering, where should I go?"
Lost - BTS
- RING MY BELL -
"Kumohon! Beri aku waktu"
Suara khas dihasilkan dari high heels yang beradu dengan kerasnya aspal. Mengakibatkan terciptanya langkah yang terdengar acak, diselingi deru lelah dengan bulir residu yang merembes keluar melalui pori-pori epidermis.
Bella tidak pernah menduga bahwa pelariannya menyusuri jalanan khusus pejalan kaki di malam hari itu akan semelelahkan seperti ini. Gadis yang masih melekatkan gaun pestanya itu mengira bahwa pijakan yang dirinya tempuh berpuluh-puluh meter panjangnya, hanya akan seperti saat dirinya berlarian di atas mesin treatmiel kepunyaannya di rumah.
Huft! Cara Bella mengeluarkan karbondioksida nampak tersengal-sengal. Riasan yang menggores paras cantiknya itu sudah hilang dilebur keringat yang bercucuran melalui kedua pelipisnya. Surai yang tak lagi bertatakan rapi itu, tidak dipedulikannya saat sudah tergerai acak berantakan dengan kesan lepek.
"Akhh!", Pekik Bella membumbung tinggi mengecai kebisingan kendaraan beroda yang melintas di jalan sekitarnya.
Suara yang selaras jika didudukkan di kursi pesakitan—teramat sakit. Lantaran pergelangan jenjangnya terkilir, akibat dari hak alas kakinya mematahkan perekatnya ditengah jalan. Ah, sempurna sudah! Kesialan yang menerpa diri Bella secara beruntun, tanpa mengindahkan bagaimana gadis itu menjunjung kerja kerasnya selama perjalanan dirinya meninggalkan perayaan pesta pernikahannya.
Konon katanya, jika sol sepatu patah dengan ketidaksengajaan, akan ada mara musibah yang melanda dalam waktu dekat. Itu artinya.....ah tidak-tidak. Bella tidak ingin dirinya kepikiran akan suatu hal yang belum tentu kepastiannya.
Kata siapa, huh?!—nenek moyang? Yang benar saja! Bella tidak percaya akan lantunan 'konon katanya'. Di mata Bella, sesuatu hal dapat terjadi karena kehendak semesta pun takdir yang telah digariskan kamus kehidupan.
Ingin rasanya Bella menangis sekencang-kencangnya, bila perlu dirinya berguling-guling tidak tahu malu ditengah jalan raya. Biarkan para pengguna jalan menunjukkan rasa iba terhadap sosok Bella. Dengan begitu gadis yang sudah letih meniti panjangnya aspal itu, dapat diterima dengan mudah jika mengajukan permohonan tumpangan.
Namun agaknya tubuh manusia yang berbalut setelan formal itu, tak mampu melawan kesenjangan tenaganya yang habis menipis. Bella rela mengorbankan kesadarannya tumbang di jalanan, daripada harus berteriak-teriak tidak menguntungkan bagi kelanjutan denyut nadinya.
Jika saja ada bendera putih dalam jangkauan radarnya, tanpa menunggu lama Bella akan dengan sangat pasrah melambai-lambaikan kibaran kain itu—menyerah, dengan melantangkan suaranya secara sukarela.
Berlari mengejar kenyataan, bukanlah kemampuan yang Bella kuasai. Kekuatan raganya tak sebanding dengan kualitas energi yang tak lagi tersisa sepeserpun—terkuras habis bersama kalori yang terbakar percuma. Kadar glukosa dalam peredaran darah Bella sudah menjerit kehabisan persediaan yang mengandung banyak perisa manis-manis—kue yang ia konsumsi sudah terbuang bersamaan langkah panjang-panjang yang Bella retaskan.
"Astaga! Kurasa baru beberapa meter berlari, tapi kenapa rasanya seperti sedang lomba marathon",—berpuluh kilometer jauhnya. racau Bella yang berupaya mengais udara malam untuk menetralkan sengal nafasnya sebanyak yang dirinya bisa—dua detik setelah mengeratkan tumpuan duduknya pada pinggiran trotoar.
__ADS_1
Bella mengerti, waktu yang dimilikinya saat ini sangat berharga baginya untuk sekedar dibuang tak berguna seperti ini. Namun apa daya, jika pergelangan jalannya terasa kebas pun begitu berat hanya untuk bergeser—jangankan berlari mencipta langkah saja rasanya sudah tak sanggup. Pun gadis yang tengah merentangkan kakinya di bahu jalan itu harus menerima dengan legowo pun tidak perlu terkejut, jika esok pagi dirinya mendapati kakinya akan berukuran sebesar ubi talas bogor.
Bella ikhlas lahir batin mendapati tubuh lunglainya yang tampak berpasrah diri menghadapi terjangan kesulitan dalam mencapai titik tujuannya. Untuk bernafas dalam kedamaian saja sudah cukup menyita fokus Bella, apalagi harus menyaksikan dirinya dalam penderitaan yang nyata dialaminya—yang ada saat membuka matanya Bella sudah berada di ruangan yang dipenuhi obat-obatan dan pekerja medis yang berbalut setelan putih. Ah, membayangkannya saja membuat Bella bergidik ngeri jika harus menelan pil pahit yang menghadirkan traumanya muncul jika mengingatnya.
"Ya Tuhan! Biarkan hamba mu ini bernafas sebentar saja"
- RING MY BELL -
Kebodohan memang selalu mengikuti jejak Bella jika dirinya dihadapankan dengan kondisi yang mengharuskan dirinya tak mengikutsertakan kecerdasannya—tentu saja, bodoh!
Lantaran didalam situasi yang mendesak, Bella diharuskan untuk melakukan segala sesuatu dengan terburu-buru.
Seperti sekarang ini.
Jangankan ongkos untuk gadis itu membayar argo taxi, ponsel saja Bella sudah tak ingat dimana terakhir kali dirinya meletakkan benda berteknologi canggihnya itu.
Dan bodohnya lagi, tatkala gadis Kim itu nampak merutuki hamparan kedunguannya saat mengingat dirinya yang meninggalkan kendaraan bermobil nya dalam keadaan pintu terbuka, lantaran menyandingkan kepergiannya tadi dengan pikiran tertutupnya—tanpa pikir panjang. Dan lebih bodoh dari tokoh kartun yang berteman dengan Spongebob Squarepants, dikala gadis yang kepintarannya di tengah rata-rata itu melupakan hal sakral untuk para pengemudi mobil, yaitu menghilangkan kunci kontak tunggangan beroda empat miliknya.
Ah, sudahlah! Bella lelah memikirkan kemalangan nya yang tak satupun bisa diajak berkompromi.
"Argh, Daddy! Bella ingin pulang saja!", Jeritnya yang tak seorangpun menghiraukannya.
Bella hanya perlu menanti dalam keadaan tenang, kesialan seperti apa yang akan bersua dengan gadis itu nantinya. Percaya tidak percaya, Bella lebih memilih untuk menunggu dengan sabar. Kalau-kalau ada orang baik nan bermurah hati untuk menawarkan bangku penumpangnya yang kosong untuk Bella duduki dengan nyaman.
Hahh!—acap kali Bella menelurkan helaan pasrahnya, berharap semua nasib buruknya segera dibumihanguskan oleh seseorang yang akan menjadi black knight -nya.
Malam sudah berada diambang kelamnya, tidak mungkin kan Bella tidur dengan dinginnya udara yang menerpa helaian gaun pun rambut panjangnya. Bahkan hal konyol seperti itu tidak pernah terlibat dalam perkiraan Bella sama sekali. Bagaimana bisa kekuasaan sang ayah tak berpengaruh sama sekali dalam situasi mengenaskan seperti ini? Setidaknya beri satu celah untuk sekedar menyapa baik ranjang empuknya di rumah, atau paling tidak taburkan kedamaian dan ketentraman untuk menyertai setiap langkah Bella menuju singgasananya.
Apakah rentetan musibah yang terjadi berturut-turut tanpa henti itu merupakan bagian dari karma buruk yang Bella dapatkan? Lantaran mengabaikan pun tidak memperdulikan bagaimana sahutan orang tua dan keluarga Lee guna mencegahnya untuk tidak melancarkan aksi kabur-kaburan nya. Bella menyesal. Sungguh, tidak mengada. Jika mengetahui semesta tak akan mendukung perbuatan egoisnya itu, Bella tentu tidak akan melakukannya.
Ah memang benar. Bukan penyesalan namanya jika dirasakan pada awal keputusan.
__ADS_1
Belum sepenuhnya do'a permohonan itu tersampaikan dengan akhiran 'amin'. Tubuh lelah Bella telah bermandikan cahaya yang dihasilkan dari mobil yang Bella ketahui merupakan keluaran terbaru itu, berusaha mensejajarkan eksistensinya dengan gadis yang berkelakar di tepi jalan.
Tentu saja, reaksi alamiah saat seseorang terpapar silauan cahaya, pasti secara refleks memblokade kelopak matanya yang menyipit itu dengan punggung tangan agar tak menyakiti aset penglihatannya itu.
"Aish, bisa kau matikan lampu sialanmu itu, Ahjussi?! Membuat silau saja", gerutu Bella berdecak kesal tanpa berniat mengeraskan volume suaranya. (paman)
Pun ada alasan, kenapa Bella menyebut pribadi yang menyalakan lampu sen kanannya itu 'Ahjussi'. Lantaran manik sipit Bella samar-samar meringkas bahwa sosok dibalik stir mobil itu berkelamin laki-laki.
Yang Bella lakukan hanyalah mengabaikan hal yang dirasa kurang penting itu. Kendati lebih memfokuskan proses berkabungnya akan musibah yang dialaminya.
Bella merasa pria tersebut tidak memiliki niat baik terhadapnya, maka dari itu gadis Kim harus menegaskan radar kewaspadaannya. Siapa yang tahu jika sosok asing itu akan berbuat yang iya-iya kepada Bella. Terlebih jalanan yang menaungi gadis bersetelan terbuka itu lambat laun mulai lengang, semakin memudahkan bagi lelaki itu untuk melumpuhkan raga Bella.
Pribadi yang perlu diantisipasi itu terlihat memeta keadaan sekitar Bella. Kondisi raga yang nampak kedinginan, dan sepasang benda pembungkus tungkai pun jemari kakinya nampak tergeletak tak dibutuhkan dengan salah satunya yang sudah tak layak pakai.
Mengenaskan. Satu kata itu yang mampu mendefinisikan hidup Bella detik ini. Dan mengejutkannya saat lelaki yang tak berniat menyudahi tatapannya pada Bella itu, dengan sengaja menyunggingkan senyum kelewat remehnya.
"Butuh bantuan, Nona?", Interupsi sang pengemudi yang memberhentikan laju mobilnya, dan masih mendapat hirauan dari Bella, "Nona, kau mendengarku? Kurasa suaraku sudah cukup untuk membuatmu mendengarkan dengan jelas", imbuhnya mengajak gadis yang tak tertarik dengan kalimat yang keluar dari sosok asing dibalik kemudi itu untuk berinteraksi lebih jauh.
"Tidak, terima kasih", tolak Bella tanpa basa-basi, pun tanpa menjunjung rasa penasarannya, siapa gerangan yang menawari tumpangan kepadanya itu—kepala lesunya lebih memilih bersembunyi dibalik sunggihan dua lutut dan lengannya yang dirapatkan.
Apa yang gadis itu lakukan? Bukankah beberapa detik yang lalu, dirinya merapalkan segala bentuk permohonan untuk terbebas pun terlepas dari peran layaknya seorang gelandangan itu—hampir mirip, hanya saja kharismanya tak mendukung gambaran tersebut—masih terlihat seperti anak konglomerat.
"Bee?!", Katanya memanggil.
Denyut jantung Bella tersentak tidak mempercayai kemampuan dengarnya. Apa yang baru saja ia dengar? Bee? Jika disuruh mengingatnya, Bella yakin panggilan itu hanya akan terlontar dari satu pribadi saja. Dan seseorang itu, berasal dari masa lalunya yang ingin diri Bella lupakan jika menyangkut sosok yang menjadi satu-satunya terlintas dipikiran pribadi Kim saat ini.
*Dia?!
Bagaimana bisa dia ada disini*?
- RING MY BELL -
__ADS_1