RING MY BELL

RING MY BELL
15. Spring Day


__ADS_3

"Berapa banyak kerinduan yang harus gugur seperti salju?"


Spring day - BTS


- RING MY BELL -


Gugusan sakura telah meninggalkan tangkainya, dengan kelopak indahnya berguguran mengotori naungan dibawahnya, bersisihan dengan deru nafas yang terdengar berat. Bunyi tapak sepatu juga memiliki peranan dalam mengecai bumbungan suara mesin berkendara pun pekikan klakson yang menjadi satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan dari hiruk pikuk metropolitan.


Jun nampak terengah-engah merasakan sensasi membakar dari dalam tubuhnya—efek samping dari kakinya yang dipergunakan untuk berlari sejauh mana tujuannya tercapai.


Lengan kekarnya yang berkacak pinggang—istirahat sejenak. Berharap bisa melenyapkan seluruh peluh yang bercucuran tak sopan, pun mengharapkan agar debaran pemompa hidupnya segera merefleksikan diri tatkala kedua iris bulatnya bersinggah pada gadis diseberang sana.


Di persimpangan jalan, Jun yang tengah berdiri dengan pesona gagahnya, berhasil mengamati adanya seonggok manusia yang tak lain adalah salah seorang yang sangat dirindukan oleh hatinya.


Bella. Dialah gadis beruntung itu.


Sudut dalam diri Jun merasakan hal yang sama persis dengan apa yang dirasakannya beberapa tahun lalu—rasa benci namun tak menampik jika dirinya menginginkan pelukan hangat dari Bella.


Ada apa dengan diriku ini?—apa Jun masih belum sepenuhnya melupakan gadis yang berjaya pada kehancuran hidup yang dirinya jalani?—Tidak! Bukan rindu yang kurasakan! Melainkan rasa benci yang takkan pernah bisa kulepas saat melihat gadis itu.


Benar, seperti itu.


Ingat Jun! Kau tidak lagi mencintainya, hanya kebencian yang tersisa dalam hidupmu untuk gadis itu. Iya, seperti itu! Jangan pernah ada kata cinta untuk gadis itu! Dia tidak berhak mendapatkan perasaan tulus nan suci darimu! Lagi.


Namun mengapa Jun merasa trenyuh merangkum seluruh raga itu nampak tak bisa meraih kebebasan dalam mengekspresikan diri—terlihat pucat diselimuti kemelut yang tak diketahui secara pasti oleh Jun.


Bella. Gadis itu terlihat seperti sedang mencari kenyamanan dalam pejaman netranya di bangku halte. Menyanggah kepalanya dengan papan disampingnya, jelas tak menghiraukan banyaknya orang yang berlalu lalang didepannya.


Kendati yang menjadi fokus atensi Jun, saat sorotnya tertuju pada area yang sangat besar menyiratkan adanya rasa sakit lainnya yang dirasakan Bella. Jeans hitam ketatnya nampak terkoyak dengan menghadirkan luka di bagian lutut kanannya.


Pasti sakit!


Mengapa hati Jun terasa begitu ngilu teramat nyeri saat melihat Bella dalam kondisi seperti itu?


Apa aku benar-benar telah melupakannya?—Tidak Jun! Kau hanya tidak berhasil dalam membodohi dirimu sendiri. Terlampau sulit untuk lelaki itu untuk mengikutsertakan kebodohannya dalam perkara asmara.

__ADS_1


Selang sekon pergi meninggalkan denting waktu, di kursi tunggu busway Bella tampak menggeliat mencari kesadaran saat mengetahui kendaraan massal itu sudah mendarat tepat didepannya. Pun sekejap mata memandang jajaran kursi kosong sudah nyaris dipenuhi pengguna transportasi umum itu.


Secepat maniknya merangkum, Bella lantas menghidupkan pemahamannya untuk segera berbaur dengan desakan yang tercipta di pintu masuk bus. Dua detik sebelum Bella memecah kerumunan calon penumpang, dua bola hitamnya menyempatkan pandangannya pada lelaki diujung jalan. Sekilas jarum sekon pula Bella menghapus seluruh pemetaannya terhadap Jun.


Apa itu tadi?! Bukankah dia sempat melihatku?


Lantas apa yang Bella lakukan? Mengabaikan eksistensi Jun? Atau berpura-pura tidak melihatnya? Jun rasa dirinya tak pernah melakukan permak wajah. Namun demikian tidak terlihatkah Jun di mata gadis itu?


Dari sisi pandang Jun, pribadi Jeon itu dengan sedikit banyaknya tak ingin melepas pandang sepersekian detik pun dari esensi Bella. Memaksa pergerakan hazelnya untuk tertuju hanya pada gadis itu. Pun saat tubuh Bella terhalang oleh besarnya bus yang menghadang gerak-gerik penglihatannya.


Saat Bella bergerak menuju bangku kosong disamping jendela besar pun, perhatian Jun tak ingin teralihkan barang sedetikpun. Kendati saat Bella mendudukkan bantalan sintalnya dibangun empuk, tak lupa menyandarkan tidurnya pada kaca penghubung antara dirinya dan dunia luar. Kembali merapatkan kelopak matanya, dan menyambut penjelajahan kelananya di dunia mimpi.


Selama itu pula Jun memperhatikan setiap gerak yang diciptakan Bella dalam jauhnya jangkauan diantara mereka. Pandangannya terlihat menjauh, bersamaan dengan kendaraan beroda lebih dari empat itu menjauh dari peredaran atensi Jun.


Dia sungguh melupakanku.


- RING MY BELL -


Semerbak harum gochujang di atas tungku penggorengan, memenuhi rongga penghirupan para pengujung yang menikmati hidangan mereka, tatkala tersaji sesuai pesanan di atas papan kayu sederhana itu. Jangan alihkan perhatian, saat briket bara sudah mengepulkan asap kenikmatan bagi segelintir penghuni kedai di penghujung jalan sekitaran kawasan.


Kebisingan menyibukkan siangnya, kala pekerja kantoran atau siapapun pihak yang menduduki bangku kosong di kedai pinggir jalan itu, tengah berbondong-bondong ingin didahulukan kudapan pesanannya. Bunyi gemeritik yang dihasilkan dari perkakas makan yang saling bertalu pun mengisi seluruh sudut ruangan, kendati menjadi hal biasa nan wajar ditempat yang sering ramai dikunjungi oleh orang-orang yang ingin mengenyangkan perut kosong mereka.


"Hei! Setidaknya manfaatkan waktu luangmu untuk beristirahat. Bukankah kau mulai bekerja minggu depan? Kenapa repot-repot melakukan hal yang bukan kewajiban mu, huh?", rentetan petuah bijak yang keluar layaknya sesepuh yang melarangnya berbuat yang melanggar norma-norma yang berlaku.


Memang. Jun itu keras kepala dengan kebijakannya. Kendati disamping sifat membandelnya itu, Jun demikian pantas pun sebanding jika disejajarkan dengan workholic lainnya. Kendati sudah berkutat dengan pekerjaannya, lelaki berprofesi sebagai seorang dokter itu demikian sering melupakan waktu berharganya untuk diperhatikan lebih—seiring dengan dirinya yang enggan memprioritaskan aktivitas pribadinya.


Itulah mengapa, sebagai seorang sahabat yang baik dan penuh perhatian. Hyo dengan kepeduliannya, sedikit banyaknya memberi kesempatan untuk meluapkan nasihat-nasihat yang sudah jelas tidak akan didengarkan, masuk telinga kanan keluar telinga kiri, oleh lelaki tak tahu berterima kasih itu.


Pribadi yang dilontarkan kebajikan, hanya mendorong sudut ranumnya membenarkan adanya kesengajaan waktu yang dirinya putuskan, "Kau benar. Tapi aku tidak bisa diam saja saat melihat rumah sakit kekurangan staf medis, bukan?", Jun menimpali.


Hyo yang tak lagi bisa menyanggah penuturan sang sahabat, hanya bisa menengok jarum penunjuk waktu yang melilit pergelangan kirinya, lantas berucap, "Kita masih punya banyak waktu. Ceritakan apa masalahmu, aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku", ujar gadis Han.


Sejak mendaratkan bantalan duduknya di hadapan bangku kedai, Jun hanya menunjukkan raut keengganannya untuk menindaklanjuti suapan yang terasa tak menarik selera pribadi Jeon itu.


Hyo yang notabenenya sudah memahami benar seluk beluk dunia hidup Jun, hanya memasrahkan helaan tak menahu harus berbuat seperti apa agar sosok disebrang selasar meja menautkan segala kesedihannya pada Hyo, sang sahabat—setidaknya Jun sedikit banyaknya menganggap keberadaan Hyo disisinya.

__ADS_1


Setelah cukup lama keterdiaman terjalin, Jun yang menjadi atensi satu-satunya dari Hyo lantas membalas tatapan gadis Han itu dengan menghentikan aktivitas kunyah mengunyahnya perlahan-lahan, "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku baik-baik saja", balas Jun yang kembali menyambut kepulan panas dari gundukan karbohidrat dibawah jangkauan netranya.


"Justru saat kau mengatakan 'aku baik-baik saja', itu yang harus dipertanyakan Jun! Aku yakin ada hal yang mengganggu pikiranmu. Apa semua itu ada hubungannya dengan kepergian mu tadi?", Cecar Hyo yang benaknya dipadati dengan kalimat tanya yang bergelayut menjengkelkan bagi pikiran rumitnya.


Yang perlu gadis itu lakukan saat ini, hanyalah kegiatan 'menunggu'. Hyo harus ekstra sabar jikalau dirinya menginginkan penjelasan secara rinci dari sosok yang memaksa dirinya untuk tidak melakukan kesalahan dalam berucap dan tetap menunggu layaknya seorang ibu yang telaten pun penuh kesabaran dalam menyuapi sang anak yang tidak suka makan sayuran—seolah lauk berkhasiat nan menyehatkan itu akan mengotori mulutnya atau bagaikan monster yang membuatnya tak berdaya jika memaksa diri untuk memakannya.


Nihil. Sesabar seseorang yang menunggu kejatuhan durian dikala bukan musimnya. Tatkala detik Hyo yang dihabiskan penuh kepercumaan, lantaran Jun yang tak memberi kesempatan untuk gadis itu mendengarkan setiap keluh kesahnya.


"Kau tidak percaya padaku?! Apa aku sebegitu tidak pentingnya bagi hidupmu, sehingga aku tak berhak mengetahui masalahmu, begitu?!", Kalut Hyo merasa tak dihargai oleh diamnya lelaki didepannya, "Jawab aku Jun! Apa kau hanya akan diam saja seperti tak terjadi apapun di sekitarmu?", Gadis Han itu mulai terpancing emosinya sendiri.


"Kau tahu? Gadis yang ku ceritakan dulu?", Jun membuka pandora.


"Gadis yang mencampakkan mu dan menikah dengan lelaki kaya itu?", Korek Hyo lebih dalam untuk menggali lubang penasarannya.


Ekspresi kesal yang menggurui permukaan wajah Hyo, seketika larut dalam dirinya yang menyimak penuh keingintahuan akan kelanjutan informasi yang pribadi Jeon junjung.


"Gadis itu muncul kembali. Tidak... maksudnya aku tadi tidak sengaja bertemu dengannya di jalan tadi", lanjut Jun yang sejujurnya enggan untuk membicarakan perihal masa lalunya. Lagi.


"Dia bersama suaminya? Kau melihatnya? Seperti apa tampang pria itu? Apakah tampan, seperti omongan kebanyakan orang?", Tanya Hyo bertubi-tubi sepanjang raut antusiasnya.


Astaga! Mungkin dalam kondisi seperti ini Jun yang harus disalahkan, lantaran sudah memberikan lampu hijau untuk Hyo mengetahui kegusaran hatinya.


Apa tampang lebih penting dari perasaan itu sendiri?!


"Apa hal seperti itu penting untuk dibahas?!", Jun tidak setuju dengan pertanyaan yang diajukan Hyo.


Jun sedikit kesal.


Hyo yang menyadari bahwa situasi nampak canggung saat dirinya secara frontal menyatakan rasa ingin tahunya lebih dalam, "Oh, maaf. Kau tahu, bukan seperti itu maksudku. Hanya saja—", Kikuk Hyo yang tidak lagi bisa berkata-kata.


"Sudah, habiskan makanan mu. Setelah ini kita—"


Belum sepenuhnya membulatkan penuturannya. Jun dibuat bungkam seribu kata, tatkala dirinya menyerap vokal yang menggema dalam ruang rungunya—begitu familiar.


"Goo Ahjumma, Soju!" (Bibi)

__ADS_1


Sedang apa dia disini? Mengikutiku?


- RING MY BELL -


__ADS_2