
"Aku menelan kutukan yang mengganjal di tenggorokanku"
I like it - BTS
- RING MY BELL -
"Ah, iya. Kudengar kau mandul, apakah itu benar?"
Mandul?!
Astaga!—omong kosong apalagi yang harus Bella hadapi ditengah kecamuk yang dihadirkan tidak tepat pada waktunya seperti ini?
Sejemang getaran yang merambat di sekitar penglihatannya. Mendadak bersirobok tanpa rencana dengan manik Hyora yang masih setia membisu seribu bahasa disamping Jun—apa benar Hyora adalah sekutunya? Jika benar, kenapa rahasia yang tersedia untuk tidak dibocorkan itu meluber keluar dari lain pihak?
Ah, iya!—Bella lupa jikalau ada satu eksistensi manusia yang perlu dicurigai sebagai kandidat utama atas pembocoran sesuatu yang seharusnya tidak diketahui banyak individu. Dan Bella telah melupakan satu fakta bahwa—Yunki dan JiA telah menjalin hubungan terlarang. Tentu saja, mulut sialan Yunki sudah gatal untuk menjelek-jelekkan sang istri didepan simpanannya.
Apa diam merupakan pilihan yang tepat?—Tentu tidak! Bella bukan kriteria gadis sesabar yang dikira oleh kebanyakan orang. Melebihi apapun, pertanyaan wanita itu terasa lebih seperti cacian akan harkat dan martabat Bella.
"Kenapa? Apa dengan keadaanku ini, kalian bisa berbuat seenaknya?!", Balas Bella beradu dengan bola kemarahannya yang membidik tepat pada saat sunggingan remeh wanita disamping Yunki.
Apa secara tidak langsung, Bella sudah membenarkan bahwa dirinya—?
"Well, aku tidak peduli apapun yang kalian lakukan! Dari awal memang seperti itu, jadi berharap saja aku akan menjambak rambutmu atau menampar wajah sialanmu itu. Jangan bermimpi, aku tidak sebodoh itu!", Geram Bella dengan menebar ketidakpeduliannya lewat kedukaan yang menyesap relungnya. Berpadu dalam bola penglihatannya yang berotasi tidak ingin ambil pusing.
Kendati debar jantung Bella, seketika diguncang oleh pendaran mata dari lain pihak, yang nampak tak dapat diartikan maknanya oleh Bella yang memutus hubungan tatap mereka. Entahlah, Jun tidak menahu persoalan buruk apa yang mendesak benaknya untuk berucap menengahi pertikaian ketiga orang didepan matanya itu, "Maaf, kehadiran saya agaknya tidak dibu—"
Rona kemarahan Bella pun tak lagi bisa disembunyikan. Buntalan pipi yang merah padam, bukan tersipu melainkan tersulut emosi, "Diamlah! Kehadiranmu memang sebuah kesalahan disini. Bukankah kau pernah bilang untuk tidak mau bertemu lagi dengan wanita brengsek sepertiku lagi?!", Cergas Bella dengan jutaan kekalutan yang menyentak kesadarannya.
"Kenapa harus kau yang muncul disini?! Lagipula bagaimana bisa kau mengenalnya, sampai kau bersedia datang ke acara murahan seperti ini?! Pergilah! Entah apa lagi yang akan direncanakan, keparat ini!", Gebu Bella menikam setiap kata penuh penekanan.
Dan untuk Yunki, lelaki Lee itu hanya tersenyum simpul terhadap pemilihan kata yang disengaja sang istri untuk membuat dirinya tampak buruk dalam segala aspek.
Entahlah, Bella tidak paham. Apa yang sebenarnya mengendap dalam pikirannya? Sampai hati gadis Kim itu menohok relung jiwa Jun dengan untaian kejamnya.
Pun pribadi bermarga Jeon itu jelas mengulas keterkejutannya. Belum sepenuhnya melonggarkan pemahamannya atas kalimat panjang yang Bella telurkan untuknya.
Astaga! Apa yang kulakukan?!—Bella benar-benar tidak habis pikir dengan, apa yang dirinya lakukan detik di mana gadis itu melampiaskan segenap kekesalannya terhadap Yunki dan selingkuhannya, kepada mantan yang sudah lama tidak dirinya jumpai dalam pandangan, Jeon Jungkook.
Suasana terlihat menyesap keheningan, sebelum Jun mengintrupsi rungu masing-masing individu, "Baiklah, saya akan pergi", kata Jun berpamitan sembari menatap gadis Han untuk mengikuti intruksinya keluar bebas dari kecanggungan ini.
__ADS_1
Terdengar aneh bagi Bella tatkala Jun menguarkan tutur formalnya. Nampak bukan Jun yang Bella kenal bertahun-tahun lalu.
Memang—manusia berubah seiring memudarnya waktu. Hal tersebut yang Bella dapati dari sosok Jun—berubah. Entahlah, memang Bella yang tidak mahir dalam mempresentasikan hasil bacaan dari ekspresi wajah Jun atau benar adanya, jikalau pemuda Jeon itu memusnahkan segala kisah dengan diri Bella. Lantas tak lagi peduli terhadap tatanan hidup Bella yang mulai meniti kehancuran.
Ya, setidaknya Jun mampu tertawa dalam damai di atas penderitaan yang dialami Bella. Bukankah skenario seperti ini yang Jun inginkan untuk kisah hidup Bella?
Menderita di bawah kendalinya—Untaian itu masih jelas terpatri dalam ingatan Bella.
Roda memang berputar, kadangkala di atas awang-awang pun tak menutup kemungkinan akan berakhir terlindas dibawah. Setidaknya pengungkapan tersebut mampu meliputi kehidupan Jun dan Bella, perubahan yang signifikan dalam jalannya hidup.
"Untuk apa terburu-buru? Kalian bisa menghabiskan banyak waktu berdua", urung Yunki dengan kepergian tamu kehormatannya, "Tidak perlu khawatir, aku yang akan membayar biaya sewa kamar hotelnya", imbuhnya menjawab keraguan yang sempat tersalur melalui pandangan Jun.
Sialan—"Hentikan, omong kosong mu itu!", Ketus Bella yang tidak tahan dengan cara Yunki meluluhlantakkan seluruh harga diri sang istri.
Yunki memang seburuk-buruknya manusia di dunia ini—dalam lukisan mata Bella. Bahkan seekor lalat pun tidak lebih buruk dari kelakuannya itu— perumpamaan yang memang sepadan dengan buruknya perangaian makhluk Tuhan yang satu itu.
Pun demikian tidak berarti apapun bagi Yunki, tatkala pria Lee itu mengumbar tawa congkaknya.
"Kenapa? Jangan bilang, istriku ini tidak tahu hal mendasar dalam hal percintaan", remeh Yunki seiring dengan ruas kanannya yang merogoh saku jasnya, berusaha meraih benda yang bersarang dalam dekapan kantong busananya, "Apa hal seperti itu yang sejauh ini kalian bisa lakukan?", Tanyanya yang lebih seperti meremehkan.
Seluruh individu yang bersangkutan dalam moment ini terlihat merangkum secarik foto yang Yunki geleparkan tepat ditengah-tengah meja yang dikelilingi hidangan yang tak tersentuh tangan kecuali oleh Bella beberapa saat lalu.
Bagaimana bisa Yunki mendapatkan foto itu?!
Bidikan mata kamera yang sama persis yang Jun miliki. Mungkin hingga detik di mana binaran Jun menyorot kearah jepretan polaroid yang Yunki tunjukkan, diri Jun juga masihlah menyimpan salah satu kenangan terindahnya bersama Bella. Memanglah hanya ciuman yang teramat sederhana, namun mampu mengundang denyut tersendiri bagi Bella dan Jun.
"Apa tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan, selain melampiaskan kebrengsekan mu itu kepadaku?!", Dongkol Bella yang sudah tidak kuasa menahan diri untuk tidak meledakkan amarahnya.
"Aku hanya merasa kasihan pada kalian, terlihat seperti belum sepenuhnya melupakan satu sama lain. Koreksi jika aku salah", vonis Yunki membawa prasangka nya tersendiri.
Bella mendesis geram, penuturan Yunki benar-benar menguras emosi. Belum lagi, dengan senyum asimetris yang tergurat nyata pada visual sang suami.
Jangan limpahkan segenap kesalahan kepada Bella, jika gadis itu melucuti satu bogeman tepat di pipi Yunki.
Di sisi lain, Jun nampak mematung di ambang pintu—berupaya menghindar dari kejaran kemelut. Mendengar dengan seksama tanpa ada niatan untuk mengajukan penyanggahan terhadap sosok Yunki. Nafasnya mendengus kesal, dengan mata bulatnya yang menutup kelopaknya sejemang. Pun buku-buku lentiknya meremat udara dengan pelampiasan geram, yang tidak ingin ditindaklanjuti lantaran tak ingin lepas kendali.
"Benarkah? Apa aku harus membuat sebuah pembuktian atas praduga konyol mu itu?", Tantang Bella dengan intonasi penuh keyakinan, "Bahwa aku tidak lagi mempunyai perasaan apapun padanya?!", lanjutnya yang mampu mencipta gelenyar ngilu dalam titik nuraninya.
Kau ini bicara apa, huh?! Apa kau sudah gila?!
__ADS_1
Bella sudah menelan bulat-bulat penjabaran dari tekadnya. Tidak ada lagi kata mundur untuk sebuah pertempuran batin. Terlebih tatapan menuntut Yunki, seakan menjadi cambuk bagi Bella untuk tidak lagi menaruh toleransi dalam benaknya.
Pun mengajak langkahnya guna menuntun raga untuk menjauh dari kungkungan papan persegi. Lantas mendekatkan presensinya menghampiri pribadi yang menanam pijakannya didepan papan pintu.
Jun tentu mewaspadai apa gerangan yang ingin Bella perbuat pada dirinya. Tatkala gadis itu menyapa bola antisipasinya dengan tatapan dalam. Benak Jun menimang-nimang dengan penuh keraguan saat Bella tanpa gentar menghapus jarak antar keduanya.
Apa dia ingin menamparku?—astaga! Hal buruk apa yang akan datang menyambut buruk degup jantungnya yang tak pernah bersahabat jika situasi seperti ini menyapanya.
Alangkah buruknya kualitas pemompa hidup Jun yang sudah tak lagi memiliki tempo yang teratur. Bahkan debar yang detik lalu masih Jun rasakan, sensasi yang mampu membakar hasratnya. Kini jatuh terperosok menuju titik terendah dalam dirinya. Tatkala Bella mempersatukan bongkahan kenyalnya dengan bibir Jun.
Bella menciumnya.
Bahkan Bella tak menggugah niatan guna mengizinkan Jun, agar lelaki Jeon itu mengumpulkan kepingan kesadarannya. Tatkala Stiletto setinggi tujuh sentimeter menjadi saksi bisu atas tungkai Bella yang berjinjit pun beradu dengan mengalungkan kedua lengannya pada leher Jun. Seakan menyamankan posisi untuk menggapai pagutan lebih dalam.
Jun dibuat stagnan ditempatnya berdiri. Bahkan tak ada perlawanan atas perlakuan tak terduga Bella. Pikiran Jun masih belum sepenuhnya mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Dan sialnya, perlakuan Bella berhasil menghantarkan sengatan listrik ke segenap penjuru tubuh Jun.
Tak menampik bahwa Jun merindukan setiap detiknya bersama Bella. Jun bukanlah manusia munafik, hanya saja dirinya pria normal yang juga memiliki sejuta hasrat. Pikiran dan raganya, tak dapat disinkronisasikan terkait fenomena yang terjadi secara tiba-tiba ini.
Dalam benak Jun, dirinya juga ingin merengkuh pinggang ramping Bella dengan segala afeksi yang tercurahkan hanya untuk gadis yang tak lepas mengecap bibirnya. Namun apalah daya Jun, jika tubuhnya justru merespon dengan hal yang berlawanan. Seolah sendi-sendi kehidupannya telah dikendalikan oleh sentuhan demi sentuhan yang Bella salurkan.
Ah, kau memang bodoh, Jun!—bodoh, karena terlalu sering memperlihatkan sisi kelemahanmu jika dihadapkan dengan satu gadis yang masih hidup dalam hatimu. Apa boleh buat, menerima merupakan salah satu jalan untuk tidak lebih jauh menghancurkan perasaanmu.
Merasa sudah terlalu lama menunjang kegiatan pembuktian guna mendapatkan kepercayaan dari Yunki. Pembuktian bahwa Bella tak lagi membangun perasaan apapun terhadap Jun—benarkah? Bella sendiri saja belum sepenuhnya menggenapkan keyakinannya, jika memang dirinya sudah membuang rasa hatinya kepada pribadi Jeon. Ah sudahlah, itu tidak penting! Bella rasa hal berlebihan seperti ini sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kegilaannya.
Hembus sengalnya nampak meniti anti klimaks, tatkala Bella dengan sisa nafasnya berupaya memasok oksigen lebih banyak lagi agar sirkulasi udara dalam paru-parunya kembali menyambut baik. Lain halnya dengan Jun yang tetap mengacu pada keterdiamannya.
Memaksa pantofel yang membalut tungkainya berpaku kaki di tengah Bella yang meremat erat kerah kemejanya, dengan tundukkan lesu didepan dada bidangnya.
Entah, apa yang ada di pikiran Bella saat ini. Atau Jun saja yang terlampau tidak mengerti apa maksud dari penuturan gadis yang hanya berjarak beberapa senti darinya itu. Alih-alih mengajukan permohonan maafnya atas penyatuan dua bibir itu dengan curian sepihak. Atau setidaknya kata 'terima kasih' atas bantuan yang sebenarnya tak benar-benar membantu ini.
Bella lebih tertarik menguntai kata, "Lupakan!"
"Anggap aku sudah mati, seperti yang kau inginkan selama ini", Bella memohon dalam derita.
A-apa katanya?!
Memang...
Kau bukan milikku lagi, tapi kenapa aku merasa ada sesuatu yang diambil paksa dariku?
__ADS_1
- RING MY BELL -