
"I researched, your existence is cheating
If the standard of beauty is symbolized by the ocean,
You're the deep sea itself"
War of Hormone - BTS
- RING MY BELL -
"Di pangkuanmu?! Bagaimana?"
Bukankah sudah terlambat untuk meminta segenap persetujuan, jika apa yang kau inginkan telah terpenuhi tanpa harus menunggu hingga bibir itu berucap 'iya' atau 'tentu saja'?
Tanyakan pada Bella, saat gadis itu mengarungi bahtera mimpi nantinya. Apakah dia sedang mempermainkan hasrat Jun, dengan menarik ulur hormon 'si kecil' yang tak berdosa itu?
Kura-kura dalam perahu
Ya, kira-kira seperti itu
Seperti saat ini—
Sorot menenangkan namun mampu menghanyutkan beberapa keping kesadaran Jun, membuatnya tenggelam dalam lautan candu yang sengaja Bella tuai dalam binar malamnya.
Celah-celah ruas jari Bella pun mengurai rambut yang menjuntai di atas gurat kening tegas Jun, dengan sibakan penuh remang. Lantas mendaratkan jemarinya di belakang kepala Jun. Meremat surai belakang Jun dengan penuh afeksi. Menghantarkan aliran listrik ke seluruh sudut tubuh Jun.
Segalanya telah menjadi terlambat tatkala Jun semakin dihanyutkan ke dalam ranah memabukkan seperti ini. Namun, bersyukurlah karena kesadaran bukan perkara sulit untuk diri Jun pertahankan. Setidaknya masih sanggup menahan setitik gelora, tatkala bibirnya ingin diraup oleh Bella dengan bongkahan milik gadis itu.
Jun masih menjunjung tinggi egonya, dengan memalingkan wajahnya ke sisi kiri.
Secara otomatis pun dengan refleks, kegagalan Bella tidak sepenuhnya dibenarkan. Lantaran bibir beraroma arak itu, beralih rencana untuk membangun libido, pria yang memangku raganya. Dengan mengendus semerbak menenangkan di atas perpotongan leher Jun. Perpaduan Bvlgari yang dilebur bulir residu, seakan menjadikan candu bagi ruang penciuman Bella. Menonjolkan sisi gelap dan misterius dari maskulinitas seorang Jeon Jungkook. Begitu mendamba dengan sejuta hasrat yang siap meledak di atas pangkuan.
Bella suka. Teramat mendamba.
"Kenapa? Kau tidak suka?", Bisik Bella penuh seduktif dengan intonasi menggoda.
Sengaja membangunkan sosok di bawah sana, yang semakin bisa Bella rasakan kehadiran ditengah godaan yang Bella tebar.
Jelas, jika diposisikan sebagai seorang korban, Jun persis seperti laki-laki di luaran sana. Bagaimana pun keadaannya. Apapun resikonya. Jun tetaplah manusia normal yang bisa terhanyut oleh arahan Bella. Terlebih gadis yang tengah bertahta di atas paha kekarnya ini, merupakan sosok yang menyimpan sejuta jerat pesona.
Berani bertaruh nyawa sendiri jika itu memang diperlukan. Bahwasanya, siapapun yang berada dibawah bimbingan Bella saat ini, akan sangat bersyukur. Bahkan rela mengesampingkan harga diri, jika harus bertekuk lutut, memohon atas nama kenikmatan dan kepuasan.
Tetapi, untuk Jun?
Sangat sulit. Namun, tidak menutup kemungkinan. Bella akan berakhir di atas ranjang dengan pergumulan panas. Begitupun dengan Jun yang menjadi pawang atas ledakan gairah keduanya.
Kita lihat saja!
Dan teruntuk Bella. Gadis itu agaknya harus sedikit bersabar untuk membawa ledakan hasrat Jun kedalam dekapan.
"Atau karena kau sudah memiliki kekasih? Dia tidak penting... tinggalkan wanita itu, dan kembalilah padaku! Hmm?", Ucapnya kembali menguar intonasi bisikan seduktif pada untaian permintaan.
Menilik Jun yang setia membuang muka, memaksa Bella untuk tidak kuasa menahan kekehan kelewat pelan.
__ADS_1
"Tidak perlu ragu. Menghabiskan malam dengan sedikit desahan, sangat tidak masalah untukku", lirih Bella sebelum sukses ******* ujung telinga Jun, menyalurkan remang yang disinergikan dengan sengatan gairah yang membakar gempita ke penjuru tubuh.
Hingga pada titik, dimana dinding pertahanan yang tak pernah dirobohkan oleh pihak manapun. Kini bangunan kokoh yang melindungi Jun dari hal-hal mara bahaya seperti ini, sudah hancur lebur seutuhnya ditangan gadis yang bermain-main dengan hasratnya.
Mengejek hormon Jun dengan cara paling berkelas.
Seru, bukan?—tentu, seru bukan main!
Membangkitkan gairah yang terpendam dalam diri Jun, dengan sentuhan pun kecupan yang turut berperan penting untuk mendesak jagoan Jeon untuk bangun, dibawah pangkuan Bella.
Detik berikutnya, adalah segmen yang paling Bella nantikan kejadiannya. Lantaran sukses menggugah birahi Jun, tatkala dengan cergas lelaki dalam dekapan mengait segenap atensinya pada Bella.
Mudah. Hanya dengan gigitan kecil, atas sentuhan penuh afeksi. Bella mampu mengurung sorot Jun lewat pendar matanya.
Tak ingin kehilangan banyak detik untuk terbuang kesempatan. Secepat kilat yang menyambar kewarasan Bella, gadis itu tak pikir panjang lagi untuk menyatukan bibirnya dengan bongkahan manis milik Jun yang membuatnya bergejolak dalam gairah.
Sunggingan penuh kemenangan memaparkan diri, tatkala ******* lembut yang Bella alunkan dengan debar keyakinan mampu memberikan ketegangan dalam diri Jun. Bahkan pria dalam dominasinya ini, tak melontar pergerakan untuk mencipta perlawanan.
Hanya diam menikmati decakan yang Bella teruskan, dengan kelopak mata yang membola guna mengekspresikan keterkejutan. Kendatipun pacu jantung Jun tak bisa berbohong, jika lelaki Jeon ini menginginkan sesuatu yang lebih dari diri Bella.
Menekan tengkuk Jun untuk memperdalam pagutan bukan perkara sukar, untuk Bella lakukan. Lantaran menurut intuisinya, Jun nampak menikmati ******* dan hisapan lembut yang Bella terapkan pada bibir bawah pria Jeon ini.
Itu artinya, Bella mendulang kesuksesan disaat dirinya membangun kenikmatan untuk pribadinya, juga lelaki yang memangku pencipta gairahnya.
Entahlah! Terlepas dari sesuatu hal yang berkecamuk dalam benak Jun. Bella nampak sangat diuntungkan dengan keterdiaman Jun menerima sengatan yang meremang seluruh tubuhnya.
"Bagaimana? Kau menikmatinya?", suara berat Bella mengudara, turut bersinergi dengan hembus udara malam, "Aku tahu, Jun. Sangat paham. Walaupun wajahmu terlihat begitu enggan untuk ku jamah, tetapi reaksi tubuhmu berkata lain"
Merangkum figur Jun yang sudah di ambang titik terendah untuk mempertahankan, apa itu sebuah otoritas harga diri. Bella pun terkekeh melihat tingkah Jun yang terungkap jelas, bahwa lelaki Jeon ini tengah menahan desahan nikmatnya.
"Aku tahu, Jun. Bagaimana pun keadaannya, kau tetaplah manusia normal yang butuh sentuhan", ucap Bella dengan tatapan intens.
Jangan lupakan, bagaimana jemari lentik itu masih bergerilya pada dada bidang Jun. Ingin bersaksi bahwa hentakan jantung di bawah kurungan rusuk, sama kacaunya dengan miliknya.
"Bagaimana? Kau tertarik bermain denganku malam ini? Ku jamin... kau akan mendapat pelepasan terbesarmu. Karena ada aku disini, yang akan menjadi pelampiasan hasratmu", sorot mata Bella terlihat semakin mengintimidasi.
Seakan memperlihatkan kepada lelaki yang memangku beban tubuhnya itu, jika dirinyalah sang penguasa seluruh sudut lantai kamar.
Gila! Ini benar-benar diluar dugaan. Bella dapat merasakan otot bisep pada tubuh lelaki ini. Terlebih tubuhnya begitu keras, untuk ukuran tulang-tulang jemari Bella yang begitu menghayati pengembaraannya pada tubuh manusia gagah ini.
Sedangkan sepasang iris, mengunci binarnya tepat pada sorot tajam Jun yang masih saja lelaki itu pertahankan. Tatapan yang turut dipandu dengan bukaan bibir Bella, terniat seperti sedang melucuti keraguan Jun hingga relung-relung.
"Tidak perlu cemas. Aku bersedia melayani mu malam ini, tuan Jeon", Vokal sensual Bella jelas menjadi titik penghabisan untuk keraguan Jun.
Tak memantik dugaan, bahwasanya Jun akan mencengkram pergelangan Bella. Tatkala ruas berhias cat kuku berwarna bening itu, ingin membuka kancing terakhir yang membungkus tubuh Jun.
Bella berseru disela gemuruh yang memenuhi relung kalbunya, "Bagaimana? Sekarang kau menginginkanku?", Junjungan kalimat yang mampu menggelitik kewarasan Jun.
Percaya atau tidak, perlu diketahui bahwa di dalam benak Bella, gadis itu tengah menjerit lantang untuk merayakan detik kemenangannya. Tatkala menuai hasil yang memuaskan, lantaran telah berhasil menjerat pemuda yang bergelar sebagai mantan kekasihnya itu.
Penantian panjang yang menghabiskan banyak menit, ternyata membuahkan hasil yang lebih besar dari perkiraan.
Pergelangan Bella masih belum lepas dari kurungan jemari kekar Jun. Bahkan dengan suara beratnya, Jun akhirnya membuka kata.
__ADS_1
"Kau terlalu banyak bicara",
Dengan gerakan pasti nan cepat. Jun menarik tangan Bella agar lebih memangkas jarak tubuh keduanya, lantas telapak kanannya merengkuh rahang gadis itu. Dan terciptalah pencapaian gadis dalam pangkuan, "Aku yang akan memimpin malam ini. Jadi diamlah!"
Atas nama pendaran rembulan dan taburan kejora yang berkelimpahan di atas singgasana. Seolah menjadi saksi bisu atas pergulatan lidah keduanya.
Bisa dikatakan jika Bella bukanlah tonggak baru bagi kehidupan Jun. Namun, entah bagaimana. Apapun kejadian yang melibatkan nama gadis itu, seolah menjadi hal baru bagi hidup Jun.
Persis seperti deru nafas Bella yang menyisir parasnya. Menjadi candu baru bagi Jun. Bahkan tak perlu membimbing untuk memuaskan lawan persetubuhan. Memanggut dengan lihai, pun celah bibir Bella yang melontar desah lirih. Tatkala ciuman mereka semakin diperdalam oleh sentuhan jemari yang saling meraba bagian yang mampu terjangkau.
Tak lupa, pucuk hidup yang saling bergesekan tatkala masing-masing peran merubah posisi *******.
Hingga detik-detik sesi peleburan hasrat, yang menghantar rangsang. Pergulatan bibir mereka harus sejenak disudahi, jika keduanya tak ingin meregang nyawa karena alasan konyol—lupa mengais oksigen untuk keperluan paru-parunya, lantaran terlena dalam suasana panas mereka.
Konyol, bukan?
"Tidak ku sangka. Ternyata ada orang yang mampu merubah Jun polos, menjadi Jeon Jungkook yang sangat agresif", lirih Bella ditengah sengal yang membaur bersama.
Iya, dan orang breng*ek itu adalah—
"Rabella Kim. Bukankah tugasmu malam ini hanyalah melayaniku? Berhentilah membual!", Seru Jun mencetak wajah tegasnya.
Bella sukses terkekeh mendengar suara mendayu itu. Seolah sudah tidak lagi bisa membendung gairahnya yang bergelora didalam tubuhnya.
Pemandangan yang Bella rekam dalam sorot matanya kini , merupakan satu dari sekian banyaknya hal yang harus Bella simpan dalam pandora hatinya.
Wajah menggairahkan yang dibalut dengan bibir sensual. Menjadi satu kesatuan yang mendeklarasikan keajaiban dunia kedelapan.
Sungguh, harus dilestarikan dalam dekapan sanubari Bella.
Decakan yang mengiringi pagutan keduanya, kembali menginvasi langit-langit kamar. Dan kegiatan memburah hasrat itu, tak lagi mengenal kata toleransi. Tatkala ciuman yang dihiasi aktivitas melilit lidah satu sama lain. Bahkan tak tanggung-tanggung, Jun mengabsen deretan gigi pun semua titik dalam mulut Bella. Menggelitik hingga langit-langit mulut.
Memperdalam ******* dengan jemari kiri Jun yang beralih mengafeksi lekuk pinggang Bella. Dengan ruas gagah lainnya yang masih terfokus untuk mendekap rahang gadis dalam pagutan.
Beruntung. Dalam hal seperti ini, Bella tergolong kategori gadis yang berpengalaman dalam menangani kasus buncahan hasrat. Jadi, tidak sulit untuk Bella mengimbangi kebrutalan Jun, dalam mencari titik pelampiasan nafsunya.
Ingatkan Bella untuk menguntai penerimaan kasih kepada Jae. Yang menjadikan Bella sosok profesional dalam bidang memuaskan klien di atas tumpuan ranjang.
"Kau hanya perlu mendesah dibawahku, dan meneriakkan namaku disela pencapaian mu. Bagaimana? Kau setuju?", Seduktif Jun ditengah nafas yang memburu tak beraturan.
Sejak kapan bibir seksi itu lihai bermain kata-kata, huh?
Tatapan sendu nan sayu dari sorot Bella, seolah tak berirama dengan sudut bibir yang tertarik asimetris. Membuat Jun mati-matian menahan diri untuk tidak langsung menerkam gadis itu, tanpa lantunan persetujuan terlebih dahulu.
Bukan kesepakatan yang buruk...
"As you wish, baby! Lakukan apapun yang kau mau, aku siap hancur dibawah bimbingan mu"
"Aku milikmu, malam ini", bisik Bella berintonasi sensual.
Serangkaian malam penuh gemerisik angin tak mampu melarang Jun menarik sudut bibirnya. Kala penuturan Bella, sukses mengumpulkan kepingan hasrat Jun yang mendesak ingin segera diledakkan.
"Tentu. Kau akan kembali menjadi milikku. Milik Jeon Jungkook. Seutuhnya."
__ADS_1
- RING MY BELL -