RING MY BELL

RING MY BELL
13. Heartbeat


__ADS_3

"Aku pikir aku terperangkap jauh dalam realitas mimpi... Seperti bulan di siang hari"


Heartbeat - BTS


- RING MY BELL -


Beberapa Tahun Kemudian


Ruang lingkup yang dipenuhi rintihan kesakitan dari berbagai jenis luka, ataupun pribadi dibalik almamater putih kebanggaan seseorang yang mengenyam pendidikan fakultas kedokteran itu tengah berlalu lalang dengan raut yang berbeda-beda kepanikan.


Rumah sakit.


Disinilah semua kesibukan yang tak pernah surut setiap detiknya. Ada saja pasien yang berdatangan dengan alasan yang bermacam jenis keluhan sakit. Jangan heran jika banyak Tim medis yang mengharuskan untuk berlarian kesana kemari, pun berteriak-teriak meminta yang lainnya menjalani pemeriksaan terhadap penghuni baru bangsal.


Semerbak wewangian khas obat-obatan juga menjadi dominan di tempat yang seluruh desainnya berinterior putih itu, pun gemeritik antara alat medis saling bertalu begitu sosok dibalik masker dan sarung tangan, tak lupa balutan busana serba hijau yang wajib digunakan sebagai modal untuk memulai peperangan di meja eksekusi—ruang operasi.


"Letakkan monitor disebelah kiri saya!", Perintah sosok itu setelah memasuki ranah hidup atau mati.


Lantas mulai melancarkan misi penyelamatan detak jantung manusia, setelah menghempas nafas keyakinan.


Dan sidang pembedahan pun berlangsung dalam titik fokus yang harus dikendalikan penuh.


"Irigation!", Vokal yang begitu maskulin memecah kebisingan ruangan untuk mengoperasi itu.


"Cut!", Pintanya, "Kau selesaikan!", Titahnya kepada dokter magang.


"Baik, Dok", cergas salah satu sosok penghuni ruangan, menyetujui perintah dokter utama dalam pengoperasian.


Setelah dirasa tugasnya sudah usai. Lelaki itu pun keluar ruang operasi, lantas menanggalkan pakaian medisnya dengan—


Tubuh gagah terbungkus setelan kemeja dengan jeans yang membalut kaki jenjangnya, dipadupadankan dengan almamater kerja yang dipenuhi peralatan yang dibutuhkan pada kantong sakunya, tengah meniti keramik menuju lantai ruangan kerjanya.


Namun demikian tidak dapat direalisasikan dalam sekon berikutnya, saat mendengar nama tanpa marganya diungkapkan dalam sebuah panggilan akrab, "Jungkook-ah?!"


Tak pelak membuat sudut keingintahuannya terbuyar oleh sosok yang mengenakan pakaian senada dengan dirinya-kenalannya ternyata, "Hyo? Ternyata kau, kukira siapa. Ada apa, kau tidak bekerja?"


Dr. Han Hyo-Raa. Rekan kerja sekaligus sahabat satu-satunya Jeon Jungkook yang masih bertahan dalam kurun waktu tahunan tanpa pertikaian yang dapat memutus tali persahabatan diantara mereka.


"Kau pikir sedang apa aku disini? Liburan?", Kata Hyo diluar ekspektasi seorang Jun.


Langkah tungkai yang awalnya dipijakan untuk menuju koridor ruang yang bertintakan namanya, harus segera diurungkan niatnya. Lantas beralih menuju tempat dimana sang sahabat berpangku kaki, "Siapa?", Jun bertanya.


Pribadi yang dilemparkan pertanyaan, membawa refleksanya menoleh ke belakang dimana seorang gadis berpakaian serba hitam terlihat berjalan menjauhi kedua insan satu generasi itu, "Ah, dia? Pasien temanku. Namanya—"


Bukan acara potong memotong pengucapan. Realita yang terjadi, tak lain gadis Han sendiri yang menggantung perlengkapan katanya. Lantaran membawa anggapan bahwa kurang pantas membicarakan tentang privasi yang dimiliki pasien-terlebih itu pasien temannya.


"Kau lapar? Ku tebak kau belum makan siang. Bagaimana kalau makan diluar? Aku punya tempat rekomendasi tempat yang bagus. Ku jamin kau akan suka", ajak gadis Han penuh percaya diri.

__ADS_1


Jujur, Jun penasaran. Entah sejak kapan, penglihatannya menjadi tak seakurat pemahamannya. Padahal secara harafiah, Jun mampu meringkas dengan jelas siapa sosok yang memanggil namanya tadi-dan itu Hyo. Kendati tidak demikian halnya saat Jun tiba-tiba meraih atensinya untuk berfokus hanya pada seseorang yang berperawakan tak asing bagi penglihatannya.


Dari cara gadis itu berjalan, pun bagaimana dirinya menyingkap helaian surainya kebelakang dengan ruas lentiknya. Bahkan rasa ambigu yang Jun rasakan, seolah dibenarkan oleh debar jantungnya yang tak lagi memompa pada kapasitas normal, saat maniknya secara tidak terduga memberikan seluruh fokusnya pada gadis yang masih dipertanyakan identitas pastinya itu.


"Hei! Kau mendengarku?", Bingung Hyo.


Lantas kedua bola atensi pribadi Hyo mengikuti arahan yang Jun berikan. Menengok kebelakang yang membuat lelaki itu tak memusatkan perhatiannya pada kalimat yang sudah terlanjur terkoar.


Kosong. Tidak ada sesuatu ataupun seseorang yang patut Hyo curigai sebagai orang ketiga diantara dirinya dan juga Jun. Hanya ada petugas medis pun khalayak yang tak ada sangkut pautnya dengan kegelisahan yang terpeta pada permukaan tampan itu.


Apa harga kacang akhir-akhir ini melambung naik?—sepertinya tidak. Lantas kenapa Hyo merasa dirinya bagaikan angin lalu yang tak ada maknanya untuk diperhatikan? Atau setidaknya jangan membuat gadis Han itu disangka bak cucian kotor disudut ruangan yang tak ada faedahnya. Ah, untung sahabat. Jika bukan, sudah tak tahu bagaimana nasib telapak kaki Jun jika gadis itu mendaratkan satu hentakan keras.


"Hei! Kau ini mendengar—"


"Iya. Aku mendengar suara cempreng mu itu", sela Jun yang harus mendapat kata "Ishh.." sebagai balasan dari Hyo, pun melanjutkan perjalanan katanya yang belum terselesaikan, "Kurasa aku tidak bis—"


"Tidak. Aku tidak menerima penolakan", telak Hyo yang sudah menduga konspirasi apa yang akan Jun berikan, yaitu sebuah ketidakinginannya mengikuti ajakan sang teman, "Apa sesulit itu mengiyakan permintaan sederhana sahabat sendiri? Kau itu selalu saja seperti itu, tidak mau berbaur dan sulit mendapatkan banyak teman. Pantas saja hanya aku yang bertahan dengan sikap dingin mu itu"


Dirasa Jun perlu cepat dalam mengambil sebuah keputusan. Lantaran salah merangkai kata sedikit saja, gadis yang sepatutnya mendapatkan gelar ratu petuah itu akan membombardirkan seluruh kalimat penuh kebijakan kepadanya. Tentu tidak menginginkannya, bukan?!


"Baiklah", singkat kata namun mampu merubah tampilan memohon yang Hyo dramatisir menjadi senyum suka cita.


- RING MY BELL -


"Bagaimana kau bisa mengenalnya?"


Di samping itu, Hyo hanya menilik sosok disebelahnya dengan sorot tanya yang melingkupi sudut pandangannya. Pun bentangan dahi yang mencipta lipatan akan ketidak mengertiannya. Tak menampik bahwa diri Hyo memang tengah dilanda prahara bingung.


Memahami tak ada bukaan kata dari mulut Hyo. Jun mendapati sinyal bahwa—


"Gadis yang tadi. Kau bilang dia pasien temanmu. Lalu, bagaimana kau bisa mengenalnya?", usaha Jun untuk memperbaiki konsonan katanya agar mudah dipahami oleh sang sahabat.


Tak lantas merangkai jawaban. Hyo nampak berpikir sejenak, mengetahui daya ingatnya yang kadarnya minimum, sebelum benar-benar meluncurkan kalimat, "Entahlah, aku tidak begitu mengingatkan. Yang jelas, seingatku pertemuan pertama kita didasari atas ketidaksengajaan", Hyo berucap setelah gendikan di kedua sisi bahunya.


"Lalu... apa yang kau bicarakan dengannya tadi?", Benak Jun yang diberondong pertanyaan. Namun hanya mampu mengulas seputar hal-hal sederhana nan umum saja.


Bicaralah terkesan basa-basi. Padahal jauh dalam lubuk hati Jun, lelaki itu teramat sangat ingin memburai akar permasalahan dalam benaknya.


"Ah, itu?! Dia hanya ingin aku merahasiakan sesuatu", Hyo menjawab dengan hati-hati pun tidak begitu yakin akan pengungkapan tuturnya barusan.


Sesuatu?!


Tidak. Akan terlihat aneh jika Jun kembali mengulas pertanyaan seputar—apa yang dirahasiakan gadis itu?


"Tapi, kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau juga mengenal gadis itu", kini benak Hyo yang diliputi rasa penasaran, dengan pijakan demi pijakan yang setia menggiring tungkai keduanya untuk mencapai tempat tujuan.


Hyo merasa ada yang ganjil dari pertanyaan Jun sejak awal.

__ADS_1


Ada apa dengan Jun?—lelaki itu bukan tipikal orang yang ingin mengorek lebih dalam tentang urusan pribadi seseorang. Bahkan seonggok pribumi yang tengah menjadi bahan pembicaraan mereka pun tidak terlalu berharga untuk menghabiskan menit keduanya untuk menggelar pembahasan.


"Tidak, bukan apa-apa"—karena aku juga tidak begitu yakin, dia kah orangnya atau bukan.


Hyo hanya mampu memberi anggukan akan penuturan Jun. Berupaya menarik kesimpulan bahwa perkataan Jun memang—bukan apa-apa. Terlihat percaya akan pernyataan lelaki disampingnya.


"Ah, Jun. Apa kau tahu?", Hyo berbicara setelah dirinya juga Jun sudah tenggelam dalam tunggangan pribadi lelaki Jeon itu.


Lantas, Hyo pun melanjutkan sesi peleburan informasi yang dipunyainya.


"Gadis itu... dia yang membully-ku sewaktu SMA dulu. Dan yang membuatku kesal, saat dia menyuruhku untuk menjauhimu. Bahkan dia bilang, kalau kau hanya miliknya. Tidak ada yang boleh menyentuhmu selain dirinya", Hyo mengadu.


Sungguh. Pacuan jantung Jun nampak bertempo berarakan. Tatkala dirinya berusaha menyatukan kepingan puzzle yang sejak tadi membuat ketenangan jiwanya terganggu, dengan kehadiran pecahan memori lantas bersinergi dengan semesta yang memunculkan prasangka.


Pun memaksa Jun menarik benang merah, dimana titik temu bersinggungan dengan jajaran kenyataan yang menguatkan praduga.


"Gila bukan? Maksudku... memang siapa dia?! Sampai begitu yakin kalau kau hanya miliknya. Itu tidak mungkin, karena aku tahu kau tidak akan mempunyai hubungan dengan gadis bermasalah itu", Hyo menggerutu dalam kedongkolan tatkala mengingat kejadian lampau yang membuatnya bergejolak marah.


Hyo tampak gundah, tatkala Jun hanya memupuk hening di balik stir kemudi.


"Benar kan, Jun?", Hyo mencari sekutu dalam ketidaksukaannya terhadap sosok pembicaraan.


Menangkap kekesalan Hyo, Jun nampak menimang dengan segala kebimbangan. Pun tak berkutik dalam menghanguskan detik.


Jawaban singkat pun Jun suguhkan untuk ketentraman batin sang kolega sekaligus teman sejawatnya, "Tentu", tatkala jemari lentiknya mengendalikan kemudi guna membaur dengan pengguna jalan lainnya.


Tentu, aku tidak yakin.


Sekeras apapun Jun menyangkal adanya pembenaran atas kumpulan realita, tetap sukar diperoleh pemahamannya. Namun pemuda Jeon bisa apa? Tak ingin percaya, namun agaknya semua hal terlihat saling berkesinambungan.


Terlebih, nama Rabella Kim menerus terngiang dalam ingatan sanubarinya.


"Jun, awas!!"


Pribadi pemegang kemudi nampak terlonjak kaget mendengar peringatan dari Hyo.


"Kau tidak menabraknya, kan?", Hyo panik.


Tidak demikian dengan Jun.


Lelaki Jeon itu menuntun jantung hidupnya untuk memompa dalam kecepatan dua kali lipat. Tatkala kedua irisnya menengok eksistensi gadis di tengah hamparan aspal.


Jun bergumam dalam keterkejutan,


"Bella?!"


- RING MY BELL -

__ADS_1


__ADS_2