
"Amarah? Tentu saja kau membutuhkannya"
UGH! - BTS
- RING MY BELL -
"Siapa lagi Jeon Jungkook itu?!"
Yunki murka.
Kendati penyejuk ruangan sudah diatur dalam suhu menurun pesat. Namun agaknya tak berlaku untuk Yunki yang merasa kegerahan saat telapak tangannya dipergunakan sebagai alat untuk melonggarkan dasinya—terasa sesak dengan kondisi yang melanda. Pun menghentakkan tubuhnya di atas kursi kantornya.
Pikirannya pun kalut.
Memijit kedua sisi pelipisnya, tak membuahkan hasil maksimal. Lantaran bagaimanapun juga, tak ada yang bisa dirinya perbuat untuk meredam peredaran darahnya yang menukik tajam keatas.
Nyatanya, mengambil alih sepenuhnya atas StarLA Group tidak semudah dirinya meminta janji altarnya terlaksana dengan Bella sekali rencana. Bahkan dirinya harus menelan pil pahit atas pengunduran batas waktu untuk menyandang gelar sebagai Direktur utama, sepeninggalan orang tua Bella.
"Jeon Jungkook? Tahu dari mana kau nama itu, Hyung?!", Tanya seseorang yang mendadak hadir dalam ruangan berkapasitas cukup luas, untuk ukuran seorang wakil pimpinan Yniverse Group itu. (Sapaan dikalangan laki-laki untuk kakak laki-laki)
"Kau mengenal brengsek itu?", Sergap Yunki tanpa pikir panjang.
Mengabaikan bagaimana sosok tak diharapkan kehadirannya di depan matanya itu, bahkan rasa kesalnya sedikit diredakan dengan mengulik teka-teki yang akan Yunki temukan jawabannya.
Jaehyun. Lelaki itu yang entah sejak kapan sudah menghempaskan tubuhnya di atas bangun empuk bernuansa Velvet pengisi ruangan Yunki. Pun tanpa raut penuh pendosa lantaran masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, kendati sang empu tak pernah menyemburkan kalimat perizinan untuknya.
Itulah Jaehyun—pria brengsek segudang pengetahuan.
"Tentu saja, bagaimana bisa aku melupakannya?!—tidak akan pernah!, Jae berbicara diselingi batinnya yang berkoar.
Membara hati Jae jika gulungan memorinya menyiarkan perihal sosok yang menjadi bahan perbincangan kedua kakak beradik satu ayah itu. Mengingat dengan teramat jelas, bagaimana Jun secara tidak langsung telah merebut hati gadis yang sangat sulit untuk Jae taklukkan sedari dulu—gadis yang semakin sulit direbut dari Yunki, Bella.
Ah, Jae hampir melupakan kenangan saat dirinya dan Jun berkelahi. Lantaran Jae membawa keyakinannya bahwa Jun dengan sengaja mengambil alih perasaan Hyo dengan mengumbar paras paripurnanya dan kecerdasan yang dimilikinya.
Hyo? Ya, Han Hyora, gadis yang sekarang ini dikenal sebagai dokter saraf pun sahabat dekat Jun. Tak lupa, kenalan Jae. Ah, bukan hanya saling berbagi nama, namun tidak dapat dipungkiri bahwa mereka pernah menjalin hubungan lebih dari sekedar kenalan atau bahkan sapaan sahabat. Lebih dari itu. Tiga tahun Jae dan Hyo saling mengenal, tujuh bulan mereka mendemonstrasikan jalinan cintanya. Dan separuh hidup Jae didedikasikan untuk menguar kebenciannya terhadap Hyo dan Jun.
"Siapa dia?! Dan bagaimana kau mengenalnya?!", Yunki bertanya dengan nada memaksa.
Astaga!—Jae tidak semudah itu untuk membuat mulut.
"Hoho, di dunia ini tidak ada yang gratis Hyung!", Jae menekankan bahwa sesuatu hal harus ada timbal balik yang setimpal pun menguntungkan bagi kedua belah pihak terkait.
Bukankah memang seperti itu hukum alam?!
"Kau memang adik paling breng...!"
"Adik tiri, Hyung!", Potong Jae memodifikasi pengucapan Yunki yang dirinya anggap sebuah kesalahan dalam pengambilan kata yang tepat dan akurat.
__ADS_1
Yunki tidak peduli. Title apapun yang dirinya sematkan untuk Jae, seolah mengandung makna yang sama saja—sama brengseknya dengan kelakuan Jae.
Pribadi bersetelan jas formal itu sudah tak dikejutkan oleh perangaian buruk lelaki yang mengaku sebagai adik tirinya itu. Semua hal yang menyangkut aspek kehidupan manusia bernama Jaehyun itu, hanyalah sebuah petaka omong kosong.
Rasanya Yunki masih ingat dengan jelas, bahwa dirinya pernah mengumbar ketidaksetujuannya atas pernikahan Lee Yunjoo, sang ayah, untuk kedua kalinya—Yunki hanya tidak ingin ibunya dimadu. Pun lebih tidak rela jika jatah warisannya berkurang dan jatuh ke tangan seseorang yang tiba-tiba harus dirinya panggil adik itu. Lebih tidak cukup membuat dirinya menerima semua perubahan pada silsilah keluarganya, yang tak dirundingkan dengan kepala dingin kala itu.
"Apa yang kau inginkan?! Cepat katakan!", Singkat Yunki seolah bisa membaca pikiran sang keluarga tiri.
Sosok yang digelarkan jalan lapang, hanya menukikkan sudut bibirnya penuh kemenangan—akhirnya kail pancingnya sudah diterkam mangsa tepat sasaran.
"Mudah saja, kau tinggal—"
Tepat sebelum menit berlalu akan imbalan yang Jae agungkan didepan kakak tirinya itu. Yunki dengan sejuta kedongkolannya yang menyeruak, tatkala sekertaris nya muncul di balik pintu setelah mengetuk tiga kali papan berdesain elegan itu, mengatakan ada rapat yang harus dirinya hadiri beberapa menit lagi.
"Pergilah! Akan kutunggu", suruh Jae yang dibalas sorot tak percaya dari Yunki, "Baiklah. Akan ku jelaskan semuanya. Jangan memandangku seperti kau ingin mencumbu ku, Hyung"
- RING MY BELL -
Pertemuan dengan relasi bisnis sudah terselenggara dengan baik. Kini Yunki kembali menyambut ketenangan di dalam ruang kerjanya.
Bocah tengil itu—Jae. Ternyata tidak hanya bisa membual.
Memang benar eksistensinya masih Yunki temukan, tatkala mengakhiri meeting hari ini. Jangan tanyakan, bagaimana kondisi ruangannya sekarang ini. Kaleng berkarbonasi sudah memenuhi meja kerjanya. Bahkan tak sampai disitu, si Jae itu dengan tidak adanya sopan santun, telah merayu wanita yang tak lain adalah sekertaris Yunki.
Nyaris diujung kenikmatan, tatkala sang sekertaris dibujuk rayu dengan ******* yang Jae salurkan. Namun kedatangan Yunki seolah menjadi bencana bagi hasrat Jae yang terputus di tengah jalan.
Pun sangat memuakkan bagi Yunki, kala pikirannya tak ingin lepas dari kelakuan Jae beberapa waktu lalu.
Melebihi kejengkelan saat mengingat perangaian makhluk yang bernama Jaehyun itu melampiaskan segenap hormonnya di tempat sakral—kantornya. Yunki lebih dibuat geram tatkala mendengar setiap detail penjelasan dari Jae, yang beberapa saat yang lalu sempat tertunda.
Mereka berpacaran.
Bahkan gadis bodoh itu yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu.
Sulit dipercaya.
Yunki pun meraih ponselnya.
Menghubungi seseorang yang sekarang tengah menghuni pikirannya.
"Jangan lupa nanti malam ada acara penting yang harus dihadiri. Jika kau sampai melupakannya, kau akan tahu akibatnya", ketus Yunki sekali nafas.
Lalu memutus sambungan telepon, tatkala tujuan menelponnya sudah tersampaikan. Tak ingin peduli, jika pihak sebrang mengajukan banding atas putusannya.
Yunki tak menyetujui penolakan.
Lantas kembali berjibaku dengan pikirannya yang melayang dalam penjelasan Jae kala tadi. Masih menimang-nimang dengan penuh pematangan perihal kebenaran yang sesungguhnya—bisa-bisa dirinya dibodohi oleh adik tiri sialannya itu.
__ADS_1
Bella dengan lelaki Jeon itu?! Ah, tidak mungkin!
Jika hal tersebut benar adanya—
"Nantikan! Akan ku pastikan kalian menikmati pertunjukan yang ku persembahkan malam ini", Yunki bermonolog.
- RING MY BELL -
M.A.L.A.S
Satu rangkaian perasaan yang tepat untuk disematkan kepada raga yang dikekang erat dress hitam nan elegan itu. Menghadiri acara pertemuan penting bukan kelasnya. Bahkan kala orang tuanya mengajak untuk bertemu kolega yang cukup berpengaruh terhadap perusahaannya saja, gadis itu dengan tegas menyatakan keengganannya.
Dan apa ini?!
"Kau tidak akan turun, cantik?!",
Diam. Satu tindakan yang dilakukan Bella kala kalimat itu menginterupsi kedua cupingnya. Dengan tampilan wajah tertekuk malas untuk bangun dari jerat sabuk pengaman.
"Ayolah, Bee! Kau tidak akan terus berdiam diri di dalam mobil, bukan?", Mohon Jae dengan dirinya yang mengulurkan telapaknya guna mengajak gadis keras kepala itu keluar dari nyamannya jok penumpang.
Kendati bukan hanya kemalasan yang menguasai seluruh raganya, lantaran lebih memuakkan dari riuhnya acara, tak lain sosok yang terus memohon untuk Bella menurut padanya—Jae sialan!
"Kau ingin ku panggilkan Yunki Hyung?", Ancam Jae.
Yunki? Dimana pula brengsek satu itu?!
Bisa-bisanya lelaki yang sialnya suami Bella itu merombak total rencananya, dengan diri Bella yang berakhir dikuasai oleh adik tiri dari kepala rumah tangganya itu.
Bella memicingkan kelopak matanya geram, tak ada sangkaan sekaligus tak pernah berkeinginan untuk menjadi kakak ipar dari seorang Jae.
Sekedar informasi! Beberapa tahun lalu, tepatnya dua tahun setelah Bella gagal dalam mencurahkan salam perpisahan dari dan untuk Jun kala itu. Sepulangnya Jae dari luar negeri, lantas keluarga Lee mengadakan acara makan malam yang rutin setiap bulannya. Dan betapa mengejutkan untuk Bella saat itu, kala wajah yang dirinya kenal sebagai sahabat karibnya itu memperkenalkan diri dihadapan sanak keluarga bahwa dia adalah Lee Jaehyun, anak dari Lee Yunjoo—ayah mertua Bella.
Dan sejak kejadian tak disangka itu terjadi, hidup Bella serasa berada dalam naungan neraka—menderita. Tak sanggup menahan segala kebrengsekan yang Jae perbuat pada dirinya.
Dan sekarang, agaknya Bella tak bisa lepas dari ikatan yang kakak beradik itu pererat dalam membunuh jiwanya secara perlahan.
"Astaga, sekarang kau malah melamun. Hei, Bee!", Bentakan lirih yang mau tidak mau harus Jae perbuat.
"Aku tidak akan turun jika kau terus saja memanggilku seperti itu!", Sepakat Bella.
"Baiklah, sayang! Kemarilah!", Jae bersikukuh atas panggilan yang mencerminkan perasaannya itu.
Bella menyalak geram.
"Hei, brengsek!"
- RING MY BELL -
__ADS_1