RING MY BELL

RING MY BELL
28. Mi Casa


__ADS_3

"Aku harap semua imajinasi ini tidak berakhir dengan fatamorgana"


Home - BTS


- RING MY BELL -


Suasana yang mengelilingi hunian keluarga kecil Jeon tidak pernah segaduh ini sebelumnya. Dan Jun tahu siapa pelaku utama dalam kebisingan yang menggema di seluruh sudut ruangan. Suara yang mengalun terdengar familiar bagi ruang telinganya.


"Ahh, panas!", Pekik Bella lantaran lidahnya serasa terbakar, dengan mengibaskan tangannya guna meredam rasa membara yang membuat daging tak bertulang itu mati rasa.


"Sudah ibu bilang kau harus meniupnya dahulu. Itu memang panas", ucap Sunhi diselingi kekehan tak habis pikir dengan tingkah laku Bella yang terbilang menggemaskan untuk seumurannya.


"Ibu baru bilang setelah aku mencicipinya. Bagaimana aku tahu?!", Gerutu Bella merasa kecewa atas ketidaktahuannya.


Pipi Sunhi pun mengembang antusias tatkala dirinya tak bisa menyembunyikan lengkungan bibirnya, "Ibu kira kau sudah tahu. Kau lihat? Kompor masih menyala dan kuahnya pun baru saja mendidih. Itu tandanya—"


"Iya, aku tahu. Itu tandanya memang panas", seru Bella dengan kekecewaan akan kemampuannya yang tercurah lewat ekspresi wajahnya.


Sungguh moment langka teruntuk Sunhi menyaksikan secara langsung detik-detik, di mana Bella menyuguhkan binar menggemaskannya. Tidak mengada ataupun berkhayal membuat karangan sendiri, apapun alasannya Sunhi teramat bahagia mampu melihat kembali senyum manis Bella. Yang dirinya rindukan selama beberapa tahun tak berjumpa dengan gadis yang sudah dianggapnya sebagai anak perempuannya, sama halnya Sunhi menganggap Jun sebagai putra kandungnya.


Di ruangan lain dua manusia beda generasi itu tidak menyadari jika rumah ini kedatangan satu makhluk yang—tentu saja yang membeli kemewahan ini dari pundi-pundi pribadinya. Ah, bisa dilihat seberapa besar suksesnya dia sekarang? Bahkan Bella tak pernah menyangka bahwa pengaruh dari mencampakkannya, akan berubah sedrastis ini.


Pun kegaduhan yang tercipta di dapur agaknya sudah sampai pada ruang dengar Jun. Tatkala dirinya menyela waktu untuk menanggalkan coat-nya, namun sorot netranya yang tidak beralih dari aktivitas dapur yang ibu dan Bella, yang entah persoalan apa yang mereka ributkan. Lantas melampiaskan pakaian hangat itu di bangku sofa.


Kemudian mempertajam daya dengarnya, tatkala sayup-sayup percakapan kembali menyelubungi area gendang rungunya.


"Bagaimana? Rasanya sudah pas?", Tanya Sunhi berulang kali tatkala mulut Bella secara berkala mencipta seruputan.


Sulaman alis yang tertata rapi itu mengernyit untuk mendapat jawaban akan kegiatan berpikirnya, "Tidak tahu. Memang seharusnya bagaimana rasanya?", Bingung Bella yang tak hentinya mengecap perisa yang tampak aneh bagi lidahnya.


Sunhi pun tak diberi detik untuk tidak terkekeh geli melihat tingkah polos Bella. Bagaimana hal semudah ini tak diketahui anak gadisnya ini?—"Apa kau belum pernah memasak sebelumnya?", Tanya Sunhi akhirnya.


Bella berdecak jengkel, "Mami, mengejekku?!", tidak terima, tentu saja. Namun masih memasang raut gemasnya, bagi rangkuman Sunhi.


"Jadi kau sudah pernah memasak sup kimchi, sebelumnya?", Tanya Sunhi masih abu-abu.


"Tentu saja—", Jeda Bella tatkala layar displaynya memandang Sunhi kecewa, "—tidak pernah. Sebab itu, aku meminta Mami untuk mengajariku, bagaimana caranya memasak yang enak", Bella memperjelas.


"Tentu ibu akan mengajarimu", ungkapnya yang disambut riuh oleh Bella, "Apa suamimu yang memintamu belajar memasak?", Tanya Sunhi tanpa terduga.


Sontak potret gembira Bella teralihkan dengan raut yang tak Sunhi ketahui arti pastinya. Benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat tatkala deretan gigi berganti sudut yang melengkung sedih.


Apa Sunhi bertanya hal yang salah?


Ah, tahu begini kondisi akan berakhir. Sunhi tak akan meluncurkan pertanyaan sejenis itu. Maaf saja jika kalimatnya benar menyinggung perasaan Bella. Sunhi tak tahu menahu.

__ADS_1


"Maaf, ibu tidak bermaksud—"


"Bukan masalah besar, Mi", tukas Bella memaklumi jika dirinya tak mengambil hati atas penuturan Sunhi.


Entah mengapa seiring berjalannya detik, kedua perempuan itu menggiring gelak tawa ditengah-tengah kepulan panas di atas tungku. Sampai-sampai kehadiran Jun sempat sejenak terhiraukan akan acara menguras kalori itu.


"Oh, Jun?! Kau sudah pulang?", Kejut Sunhi tak menyangka.


Memaksa kegiatan tukar lelucon antara Bella dan Sunhi, mau tidak mau harus menyudahi tawa mereka. Tatkala Jun berjalan ke arah dapur. Dan hanya menjawab "Hmm", atas pertanyaan sang ibu.


Ingin tahu bagaimana reaksi pertama Bella?


Ah, sangat sulit mendeskripsikan gambaran tentang bagaimana respon Bella terhadap kedatangan Jun. Ekspresi layaknya seorang anak kecil yang diberi harapan palsu oleh orang tuanya—kesal. Bukan sedih seperti yang dapat Sunhi rangkum ketika wanita itu salah merangkai kata. Melainkan guratan tawa yang diambil alih oleh sensor tajam, dengan lirikan ekor mata bak laser yang siap menghujam binaran acuh Jun.


Teramat sangat sangat tidak berkenan akan kemunculan lelaki Jeon itu.


Dan... dimana Sunhi sekarang?


Kenapa tiba-tiba eksistensinya bak ditelan bumi?


"Ah, Bella",—ah, itu dia, "Sebentar lagi supnya matang, kamu hanya perlu memindahkannya saja. Setelah itu kita bisa makan bersama", tutur Sunhi dengan ruas-ruas nya yang menjinjing kantong plastik bermuatan banyak.


"Baiklah... tapi—?", Ucap Bella ragu, "Memang rasanya sudah enak?", Sambungnya masih diselimuti keraguan.


Mendapat pertanyaan yang sulit untuk dirinya tebak jawabannya. Bella hanya mampu menggendikkan kedua belah bahunya tak menahu, "Aku tidak tahu", lugunya.


"Kalau begitu tanyakan pada Jun", saran Sunhi bersinergi dengan tungkainya yang meniti ubin.


"Mami, mau kemana?", Cergas Bella sebelum Sunhi pergi menjauh.


Berencana memecah kegundahan Bella, Sunhi pun mengangkat kantong kresek itu guna memperlihatkan apa yang akan dirinya lakukan.


"Membuang sampah", ujarnya memberitahu, "Kau lanjutkan memasaknya, ibu mau membuang sampah sebentar ke depan. Jika butuh bantuan, minta pada Jun".


Lagi-lagi Jun!


Lagi-lagi Jun!!


Apa tidak ada orang selain Jun Jun itu?!


Ah, memang tidak ada. Siapa lagi penghuni rumah ini jika bukan sang pemilik dan sang parasit?


Bella merasa dirinya bisa menyelesaikan pekerjaan ini sendiri, tanpa melibatkan orang yang bernama Jun itu. Mau dikebumikan dimana harga diri Bella, jika gadis itu meminta bantuan kepada Jun? Terkhusus, mau disemayamkan dimana wajah yang menjunjung gengsi itu, jika hal sepele seperti ini saja, tak sanggup Bella selesaikan dengan tangannya sendiri?


Ya, ya ya. Pada akhirnya memang kegengsian lebih diutamakan dari kesulitan itu sendiri. Lebih baik dihadapkan dengan tungku panas yang tak pernah dirinya jumpai sebelumnya, daripada menurunkan egonya untuk sekedar mengumandangkan kata 'tolong'.

__ADS_1


Astaga, yang benar saja!


Misi yang harus Bella jalankan, setelah tenggelamnya Sunhi di balik pintu dengan barang bawaannya adalah mencicipi apakah sup buatannya sudah layak santap atau belum. Jangan sampai karena kelalaiannya, seseorang dalam keadaan terancam keselamatannya—keracunan maksud Bella.


Kerutan pada bentangan dahinya, mempresentasikan kebingungan Bella dalam bertemu titik terang—apakah rasanya sudah pas?


Bella bingung. Benar-benar bingung—sejak kapan sup kimchi berubah rasa seperti ini, huh? Teramat sangat jauh berbeda dari sup yang Bella makan sebelum-sebelumnya.


Bella dalam masalah. Dirinya berada dalam kondisi dilema besar. Apa yang harus dirinya tambahkan kedalam genangan kuah ini? Bumbu apa yang harus Bella taburkan untuk menciptakan cita rasa yang pas dalam takaran semestinya? Sedangkan rempah-rempah yang Bella ketahui hanyalah garam. Selebihnya, gadis itu hanya pernah melihat, tak tahu menahu secara pasti, apa gerangan nama-nama dari jejeran bumbu dapur itu.


Apakah ada orang yang lebih parah dari kemampuan pun pengetahuan Bella ini?!


Jika, iya. Coba beritahu siapa orang malang itu? Agaknya Bella harus berterima kasih kepada orang tak berkemampuan itu. Lantaran dirinya masih memiliki kapasitas diambang rata-rata. Setidaknya seperti itu.


Namun, jika memang Bella satu-satunya tonggak kebodohan di bumi ini. Tak memiliki kesempatan. Sepertinya Bella memang harus berpasrah pun berserah diri akan kemampuan payahnya itu.


Dibelakangnya, Bella tak menahu jika Jun tengah mengamatinya dalam tegukan mineral yang membasahi kerongkongan. Dengan punggung lebarnya yang bersandar pada pintu kulkas, pun tangan gagahnya yang bersemayam di saku jeans kirinya. Bisa dilihat, bagaimana pandangan Jun yang tidak dapat dipisahkan dari sosok yang fokus pada masakan sederhananya itu. Memeta pergerakan Bella yang begitu kerepotan mengurus satu jenis hidangan makan malam mereka nantinya.


"Butuh bantuan?", Jun mengintrupsi ditengah kegalauan Bella.


"Tidak butuh!", Balas Bella cepat pun tak berpaling dari kuah panas itu guna membaurkan dengan indra pengecap nya.


"Kau yakin?", Tanya Jun tidak begitu yakin akan penolakan Bella yang hanya dicengkeram kegengsian.


"Apa aku harus yakin untuk menolak bantuan mu itu?! Jika kubilang tidak ya tidak perlu. Itu artinya aku memang tidak butuh bantuanmu. Kurasa kau cukup cerdas untuk memahami... Astaga!!"


Belum genap kalimat itu tersingkap secara lengkap. Bella sudah dibuat panik akan tragedi nahas yang meliputi kegiatan dapurnya ini.


Oh, ayolah. Apa gadis itu memang tidak tahu apapun tentang urusan dapur? Bisa-bisanya, tanpa perhitungan sama sekali Bella mengangkat pegangan tungku, kendati mengesampingkan kecerdasannya untuk mengetahui bahwa perkakas dapur itu bersifat konduktor. Secara harafiah berarti panci berkuah pekat itu memanglah penghantar panas.


Dan bodohnya Bella bermaksud memindahkan wadah panas itu dengan tangan kosong. Alhasil berceceran lah kuah itu disepanjang lantai dan tempat yang mampu dijangkau oleh sup didih itu.


Tak menunggu gadis itu tersiram kuah panas, dengan sigap Jun menarik pergelangan Bella. Berupaya untuk menjauhkan tubuh perempuan itu, dari tumpahan cairan panas. Pun berakhir punggung Bella yang menubruk keras dada bidang Jun. Menghasilkan bunyi debum tatkala kedua tubuh mereka saling bertautan.


Entah bagaimana dan kenapa, detik dalam penunjuk waktu berjalan begitu lamban. Mengiringi tetesan kuah yang menuruni pantry. Pun pecahan kaca yang dihasilkan dari perkakas minum yang Jun abaikan, tatkala presensi Bella yang jauh lebih penting untuk direngkuh dalam genggamannya.


Kacau.


Satu kondisi yang mendefinisikan keadaan dapur saat ini.


Dan satu-satunya tersangka hanya mampu berkedip dalam keterkejutan. Dengan pergelangan yang setia dikekang oleh jemari Jun, agar tak bertingkah bodoh lebih jauh.


"Kau memang gadis ceroboh!", Bella terpekur ditempat tungkainya menopang tubuhnya.


- RING MY BELL -

__ADS_1


__ADS_2