
"Are you calling me a sinner?"
Stigma - V (BTS)
- RING MY BELL -
Lambat laun Bella mulai dibanjiri pemahaman akan tujuan utama Yunki meminang dirinya. Tanpa ada sangkut pautnya dengan perasaan yang tumbuh di antara keduanya—itu mustahil. Namun lebih mengarahkan kepada perjanjian bilateral yang seakan merugikan pribadi Bella. Dan gadis bermarga Kim itu mengetahui arah mana yang menjadi pusat incaran Yunki.
StarLA Group.
Perusahaan yang memiliki valuasi saham dan profit tinggi. Bisnis milik keluarga Kim yang merangkap dalam bidang medical itupun telah sukses mengepakkan sayapnya di kancah Korea Selatan. Ya, perlu diketahui bahwasanya StarLA sejak didirikan oleh leluhur turun temurun, perusahaan asuhan Kim family itu berpusat di Seoul—kota kelahiran Rabella Kim. Tak heran banyak kompetitor yang ingin melihat kehancuran StarLA dengan berbagai taktik dilakukan setiap saat.
Dimulai dari pemikiran itu, Bella mulai meminang pemahaman.
Siapa yang tak ingin menjadi bagian dari kesuksesan StarLA?—Dan pertanyaan rumit itu hanya Bella yang mampu menjawabnya, tentu saja Rabella Kim. Satu-satunya pihak yang tak ingin dipautkan dengan apapun yang bersangkutan atas nama StarLA.
Alasan? Mudah saja. Terlalu muak. Tak mau ambil pusing dengan kompetisi bisnis yang sangat kontras dengan warna hidupnya—tenang dan damai.
"Kenapa aku harus meminta izin, saat ingin bertemu suamiku sendiri, eoh?!", Bentak Bella dengan berbusana yang amat sangat besar perbedaannya jika bersanding dengan balutan yang wanita didepannya kenakan.
Bella tahu. Jika wanita dengan bibir bertinta merah itu nampak memeta detail tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bella tak mau ambil risih. Terlampau banyak tidak mengandalkan kepeduliannya. Toh, sejak dirinya keluar dari hunian Jun, segelintir pasang mata sudah mengamatinya dengan segala afeksi yang tercurahkan lewat perasaan heran dan mencemooh.
"Maaf, nona Kim. Tetapi saya hanya mengikuti perintah, pimpinan Lee", ungkapnya menyimpan rasa sesal lantaran tak memiliki kapasitas untuk sekedar mempersilahkan istri bos-nya memasuki ruangan wakil pimpinan Yniverse Group.
"Apa yang dia perintahkan?! Apa keparat itu sedang ada kunjungan dari ****** simpanannya?!", Lugas Bella dengan intonasi mempertegas.
Wanita yang berprofesi sebagai pegawai Yniverse, terkhusus merambah sebagai sekertaris Lee Yunki itu nampak disergap rasa cengang mendengar pernyataan Bella. Tak mengira bahwa Bella akan memanggil atasannya dengan sebutan tak sepantasnya seperti itu.
"Ah, i-itu...", Gugup sang sekertaris.
Tanpa membaur dengan kelengkapan kalimat sekertaris pribadi Yunki. Bella langsung melenggang menuju singgasana sang suami, setelah mendapatkan pemahamannya sendiri, "Kurasa begitu".
Tepat setelah papan berpelitur itu membangun sibakan pintu, Bella tak lagi dikejutkan dengan pemandangan yang tak jarang pula menjadi suguhan kesehariannya tatkala merangkak sebagai istri keparat Yunki.
Bella yang dicap negatif oleh khayalak publik, namun demikian tak sinkron tatkala Yunki lah yang tengah bercumbu bersama wanita yang persis dengan yang Bella temui di kala makan malam yang tak berjalan mulus kemarin.
Merangkum kejadian tak senonoh itu, Bella hanya mampu mengangkat sudut bibirnya asimetris. Lantas merotasi kan bola matanya, jengah. Pun berjalan mendekat dengan batin yang menjunjung serapah, senantiasa menguntai setiap langkah yang tercurah.
Si ******, Song Ji A—gadis itu lagi!
"Sudah puas?!", Tanya Bella bergantian meringkas tatapan risih dari dua insan kelebihan nafsu, akan kehadirannya yang menyiratkan situasi mengganggu yang terangkum jelas.
"Jika belum, lanjutkan saja! Aku tidak masalah. Juga jangan khawatir, aku bisa duduk di sini, menunggu kalian menyelesaikan hasrat masing-masing", sinis Bella sembari mendaratkan bantal simpuhnya pada bangun sofa, diseberang mereka.
__ADS_1
"Silahkan saja! Lakukan senyaman mungkin, anggap saja aku tidak ada disini", Suruh Bella dengan telapak yang mempersilahkan Yunki dan selingkuhannya melanjutkan pergumulan mereka yang sempat tertunda lantaran kedatangannya—bersikap apatis.
Senyum simpul senantiasa membentang remeh pada pahatan sudut bibir Bella. Senang rasanya mendapati eksistensi Yunki yang menyalak geram lantaran hasratnya belum terlampiaskan dengan baik.
Melihat sang istri tak gentar diposisi duduknya. Tidak mempunyai pilihan lain, Yunki menyebar koneksi untuk mengintruksi sang pelakor melalui sorot netranya pun arahan kepala, untuk wanita itu mengenyahkan diri dari ruang kantornya—dengan berat hati tentunya. Bella tahu itu.
"Ada masalah apa kau kemari?!", Ucap Yunki berperilaku sinis.
Beriringan dengan ruas jempolnya yang mengusap sisa saliva yang tercecer di area sudut bibirnya. Lantas membenahi pakaiannya yang terlihat jelas, sudah sejauh mana permainan mereka. Sangat jauh. Hampir-hampir Bella menelisik dengan picingan mata, dan menemukan bahwa celana bahan Yunki ingin menampakkan aset yang tak berharga bagi Bella.
Terlepas dari penelitian yang Bella telisik, Yunki bisa membaca dengan baik apa keperluan yang mendesak benak Bella untuk berkunjung ke tempatnya bekerja. Apalagi?! Tentu saja, perihal desas-desus gosip yang mencemarkan nama baik Rabella Kim.
"Aku butuh penjelasanmu, Yunki!"
- RING MY BELL -
Suasana di meja makan terasa begitu hening sejak kepergian Bella yang tampak dipertanyakan. Hanya Sunhi yang merasa ada yang salah disini. Gadis yang memutuskan untuk tidak mengisi kekosongan lambungnya itu jelas tidak dalam kondisi baik-baik saja—intuisi seorang ibu tidak bisa dipandang remeh.
Terlebih prahara batinnya menyuarakan aspirasi tak selaras dengan ketenangan yang Jun kumandangkan atas tindakannya. Sunhi tahu betul bagaimana percakapan Bella dan Jun demikian kentara jika mereka tengah dilanda kesenjangan pendapat.
"Kalian bertengkar?", Sasar Sunhi yang tak lagi dapat menanggung beban keingintahuannya.
"Tidak", singkat Jun tak mampu meredam rasa penasaran sang ibu.
"Tidak, Bu!", Jawab Jun sama saja, tidak ada yang beda.
Tak bisa diharapkan memang, "Jawab yang benar!", Paksa Sunhi tak menahu tentang bagaimana ekspresi Jun yang nampak menarik bingung akan sikap Sunhi, sang ibu—aneh!
"Bagaimana lagi aku harus menjawabnya, jika aku memang tidak bertengkar dengannya?!", Tak terima disitu saja, Sunhi melayangkan tatapan telisiknya lebih mendalam.
Mengorek, apakah sang putra tengah melebarkan sayap kebohongan, "Aku belum lama kembali dari Amerika, Bu. Yang benar saja. Bagaimana bisa aku bertengkar dengannya jika kesempatan untuk bertemu dengannya saja sangat singkat?!", jelas Jun namun tidak begitu memperjelas pemahaman Sunhi.
Detik demi detik Sunhi mampu merelakan kekepoan nya akan pertanyaan—apakah Bella dan Jun terlibat pertengkaran?
Namun tidak untuk perkara yang satu ini, saat dirinya kembali bertanya, "Lalu, bagaimana kau membawanya kemari? Kau tidak memaksanya, bukan?!".
"Tidak", malas Jun meladeni ocehan sang ibu.
"Astaga, ini anak!", Jun terdengar memekik tertahan rasa sakit lantaran Sunhi yang melayangkan pukulan di atas lengannya, "Ibu bilang jawab yang benar! Kenapa 'tidak tidak' terus, huh?!", Jengkel Sunhi.
"Astaga, ibu! Apa yang harus ku jawab, jika memang jawabannya 'tidak'?!", Jun tidak habis pikir kenapa semua makhluk berjenis perempuan akan serumit menyikapi hal-hal remeh seperti ini.
"Setidaknya beri penjelasan kepada ibu, kenapa Bella bisa ada di sini dengan keadaan seperti itu!?", Pinta Sunhi kepada Jun tak kunjung menyembuhkan rasa penasarannya, "Kau tidak menyakiti Bella, bukan?!".
__ADS_1
"Tidak, Ibu! Aku menyentuhnya saja tidak, bagaimana bisa menyakitinya!?", Agaknya hari ini Jun akan sering menguntai kata 'tidak' untuk mengurai rasa penasaran Sunhi.
"Tidak menyentuh? Lalu bagaimana kau mengganti bajunya, jika kau tak menyentuhnya?", Hembusan jengah menemani Jun kala sang ibu kembali berujar, "Apa yang kau lakukan pada Bella semalam, huh? Kau tidak me—"
"Eomma—!", Bentak Jun menghentikan laju kalimat Sunhi, "Astaga, apa yang ibu pikiran?! Kenapa berpikiran negatif tentangku?", Protes Jun mengimbuhi.
"Ibu tidak berpikiran negatif tentangmu. Memang apa yang kau lakukan pada bella , sehingga kau mengira ibu akan berpikir negatif padamu?!", Sudut nyonya Jeon yang dibalas helaan pasrah oleh Jun.
Astaga! Lidah Jun sampai terbelit penuturan Sunhi, menjadikan dirinya tak bisa berkata-kata. Hanya mampu memproduksi ludah yang terasa getir diujung pengecapan nya.
"Eomma, tahu?!", lirih Jun membuka diri.
Sunhi mengangguk meskipun sang anak diam terduduk, "Kenapa melakukannya?", Lembut Sunhi.
"Dia terlihat kedinginan, aku tidak bisa membiarkannya memakai gaun itu untuknya tidur", jelasnya kepada sang ibu dengan tundukkan perasaan bersalah.
"Kau bisa memanggil, Eomma. Kenapa tidak melakukannya?", Sudut dalam benak Sunhi masih terasa mengganjal akan pernyataan sang anak, "Tubuhmu dipenuhi aroma alkohol semalam. Ibu tahu itu. Bisa kau jelaskan juga kepada ibu, apa yang terjadi denganmu?"
"Aku baik-baik saja, Eomma. Aku juga tidak—"
Bentakan "Jun!" sukses membuat pemuda Jeon terperanjat ditempatnya bersimpuh. Jika sudah marah, Jeon Sunhi memang tidaklah main-main. Terlebih amarah Sunhi bersatu padan dengan kalimat yang siap menyongsong rongga pendengaran Jun.
"Kau sedang tidak melakukan kesalahan kepada Bella, bukan?!".
Semua pertanyaan yang terlontar dari mulut Sunhi memang memiliki jawaban 'tidak'. Apa yang harus Jun perbuat jika sang ibu demikian meragukan kesaksiannya? Berbohong? Tentu saja tidak. Pengakuan menyeleweng itu hanya akan memperkeruh posisi Jun di mata Sunhi. Namun menerus merangkai kata 'tidak', Jun hanya mendapati raut keraguan dari ibunya.
Lalu apa?!
Apa yang harus Jun katakan untuk membuat Sunhi memendam keraguannya?
Berselang detik mulut Jun kembali terbungkam tatkala Sunhi terlebih dahulu membuka kalimat dengan tempo hati-hati, tanpa menyadari seberapa berat Jun ingin mengungkap kata, "Apa kau melakukannya? Kau tidak me—"
Selapis cairan bening mulai memburamkan penglihatan Sunhi, menahan isak tatkala putra semata wayangnya berucap kasar dihadapannya. Melebihi hal tersebut, Sunhi lebih dikejutkan dengan Jun yang meluapkan emosinya melalui perantara gebrakan meja yang anak lelakinya itu gempur dengan telapaknya.
"Aku tidak memperkosanya, Bu! Apa aku harus melakukannya, agar dapat menjawab 'iya' atas pertanyaan, Ibu?!", Isakan lirih mulai menginterupsi ruang rungu Jun.
Namun lelaki itu tak mengikutsertakan rasa iba nya terhadap hancurnya hati Sunhi mendengar penuturannya.
"Sepertinya jawabanku itu sudah cukup untuk menghapus keraguan ibu, padaku", lantas mengajak tungkainya guna mengikuti jejak Bella.
Pergi meninggalkan Sunhi yang tampak trenyuh dengan kelakuan sang putra, pun dibanjiri linangan air mata yang tak digubris Jun saat sudah lenyap di balik pintu.
- RING MY BELL -
__ADS_1