RING MY BELL

RING MY BELL
7. Don't Leave Me


__ADS_3

"Before it comes to an end,


I wanna know everything"


Don't leave me - BTS


- RING MY BELL -


Hitungan menit telah berlalu meninggalkan peraduannya. Namun pribadi yang pamitnya hanya sebentar, tak kunjung memperlihatkan eksistensinya.


Bukan lelah menunggu, hanya saja Bella khawatir terjadi sesuatu kepada Sunhi. Lima menit sudah, Bella ditinggalkan sendiri dalam kemeriahan acara. Tetap saja, nominal ganjil itu telah merubah tampilan Bella menjadi raut kerisauan.


"Apa Mami diam-diam pulang tanpa memberitahu ku, karena takut kalau aku melarangnya? Bisa jadi, kan?", terka Bella ditengah kemungkinan yang membenarkan adanya konspirasi yang memakan waktu.


Secepat dengan perkiraannya, tanpa memikirkan banyak hal Bella lantas mengajak tungkainya meniti setiap ubin menuju tempat dimana tulisan 'toilet' tertera.


Namun nyatanya realita tak seindah rencana.


Baru dua pijakan yang Bella telurkan, sudah nampak digagalkan oleh bunyi getaran yang tercipta di atas meja disampingnya.


Ponsel Sunhi.


Itu artinya sang mami tak melarikan diri meninggalkan Bella. Ada rasa senang sekaligus lega lantaran nyonya Sunhi tidak kabur dari jangkauan Bella.

__ADS_1


Disisi lain Bella dibuat penasaran, siapa gerangan yang menghubungi mami-nya. Lantas mendorong tubuhnya sedikit condong, guna melampiaskan rasa kepo yang melanda.


Sedikit kelabakan saat layar sentuh itu mempertontonkan nama yang menjadi topik pembicaraan dirinya dan nyonya Jeon tadi. Ingin sekali Bella menjawab panggilan itu, namun rasanya diri Bella tak mampu mendengar suara itu. Secara, naluri Bella belum sepenuhnya melarungkan rasa sesal pun bersalahnya lantaran memutus tali yang mengikat perasaan mereka bertahun-tahun secara sepihak.


Jun.


Lelaki itu yang menelpon.


Meskipun tak secara langsung menghubungi Bella. Nyatanya panggilan Jun itu mampu memberikan sensasi gempita dalam diri Bella. Melihat layar yang bertuliskan Hangul 'anakku Jun' itu saja, sudah dapat menciptakan sunggingan bahagia.


Detik kemudian, suara dering itu kembali senyap. Lantaran pribadi diseberang tak kunjung mendapatkan respon dari panggilan teleponnya. Tiga hitungan singkat setelahnya, layar datar itu kembali memunculkan nama yang sama seperti sebelumnya.


Bulatan berwarna merah dan hijau itu seolah menari-nari mencari perhatian dari seseorang yang melihatnya. Ruas jempol Bella terasa gatal ingin menggeser warna hijau yang memantul-mantul itu, menjawabnya.


"Eomma, sudah sampai mana? Apakah masih jauh? Sepertinya aku tidak bisa menunggu Eomma lebih lama lagi. Aku harus segera berangkat, jika tidak aku bisa terlambat. Penerbanganku sebentar lagi", jelasnya memberitahu.


Namun sesaat Jun menanti jawaban, rungunya tak mendapati kata yang keluar dari mulut sang ibu.


Jun bingung. Bingung harus bagaimana menyikapi keterdiaman sang ibu. Jun berpikir bahwa ibunya mungkin merajuk padanya. Lantaran lelaki itu tak mengindahkan janjinya yang tidak akan pergi sebelum menguarkan salam kepergiannya.


Tak ingin mengubur waktu dalam kebisuan, Jun akhirnya dengan sedikit keresahan, kembali angkat bicara,


"Eomma, sepertinya aku harus segera—"

__ADS_1


"Kau ingin pergi? Meninggalkanku?", Interupsi Bella yang terdengar datar tak berirama.


Bola keterkejutan Jun terbuka lebar, dibumbui dengan rasa kecamuk yang mendadak hadir. Seolah dunia berhenti berotasi saat gendang rungunya merangkum jelas vokal soprano gadis itu.


"Kau memang pengecut Jun!", Cela Bella.


Jun masih setia mengeratkan benda pipih itu pada ruang daun telinganya. Mendengarkan dengan perasaan tidak terima atas penghakiman Bella, "Bagaimana bisa kau pergi meninggalkanku tanpa salam perpisahan, huh?!"


"Apa aku memang tak ada artinya untukmu?", Ucap Bella dengan genangan bening yang memenuhi pelupuk mata, "Sebegitu benci kah  kau terhadap ku, sampai kata selamat saja tak kau ucapkan dihari pernikahanku?! Apa kau juga melupakan hari ulang tahunku?!"


"Bukankah seharusnya semua kalimat yang kau ucapkan, sangat cocok untuk ditanyakan pada dirimu sendiri?", Balas Jun.


Jun tertawa pongah.


"Sangat memalukan mendengar kalimat itu keluar dari mulut gadis yang memutuskan kekasihnya tanpa alasan yang jelas", sarkas Jun menyatakan tidak terimanya dengan cara Bella yang terdengar menghakiminya.


Bella tidak menyangka pun lebih tak percaya, tatkala lelaki yang banyak menghabiskan waktu dengannya itu dengan mudahnya melayangkan kalimat yang sudah tentu akan menyakitkan hatinya.


Bulir air mata seolah menjadi bukti nyata bagaimana lelaki itu telah menohok relung kalbunya dengan senapan kata-katanya. Perlahan namun pasti, menuruni parasnya yang ayu—tidak dapat terhindarkan. Lantas dengan suara paraunya, Bella tetap gigih dalam mengeksekusi setiap pengintimidasian yang Jun hasilnya dari kalimatnya.


"Kau memang brengsek, Jun!"


- RING MY BELL -

__ADS_1


__ADS_2