
"Tetap bersamaku...
Seperti kelingking kecilmu"
Friends - BTS
- RING MY BELL -
"Goo Ahjumma, Soju!"
Teriak dari salah seorang pelanggan, yang secara sontak mengecai percakapan dua sahabat disudut dekat jendela.
"Bibi, tolong berikan aku sebotol minuman penghilang stress?!", Bisik Bella yang entah sejak kapan pun bagaimana bisa sampai ditempat yang bercorak 'Gilgu kedai' itu, tepat di rongga telinga Goo Ahjumma, CEO rumah makan ini, disaat wanita paruh baya itu sedang sibuk melayani pelanggan lain.
Di sudut pandang lain,
Berpangku ditempat duduknya, Jun hanya memeta setiap tingkah Bella dalam diam. Sedikit ada perasaan tidak nyaman dengan perilaku Bella yang dirasa kurang sopan.
"Astaga, kau ini! Berhentilah minum! Kau ini susah diberitahu", Tukas sang pemilik kedai dengan kegemasan atas tingkah pelanggan setianya itu, "Bella, kau sakit?", Gusar bibi Goo saat melihat perbedaan yang signifikan, dari air muka Bella yang biasanya gadis itu suguhkan dengan keceriaan dan kegembiraan—hari ini sedikit berbeda dari yang sudah-sudah.
Gurat muram yang di sulap dengan ekspresi konyolnya.
"Cepat ya, Ahjumma!", Pintanya yang menyelonong pergi meninggalkan raut kekhawatiran, pun berubah menjadi tak habiskan untuk berpikir akan polah Bella.
Lantas pribadi Kim itu menyimpuhkan bangun duduknya di atas papan kursi dengan juluran lengannya yang tergelepar di atas meja, sengaja diperuntukkan sebagai bantal tidurnya. Kendati telapak kanannya yang menari-nari di atas layar pintarnya, dengan kulit wajahnya yang terguyur cahaya ponsel.
Huft! Sudah bukan perkara mengejutkan lagi untuk Bella mengetahui sebanyak apa suami sialannya itu menghubunginya tanpa ada balasan dari sang istri—sengaja tak menerima panggilan telepon Yunki.
Sepanjang umpatan penuh kekesalan yang membumbung dalam benaknya—pucuk dicinta ulam pun tiba. Tanpa diduga pun secara tiba-tiba, gelaran gawainya memperdengarkan nada getarnya lantas memunculkan nama lelaki yang sudah Bella wanti-wanti sejak tadi.
"Jangan lupa nanti malam ada acara penting yang harus dihadiri. Jika kau sampai melupakannya, kau akan tahu akibatnya"
Terlampau terbiasa. Tanpa kata pembuka, ataupun salam jumpa yang Bella dapatkan. Jangankan basa-basi, permohonan secara sopan pun tak Bella dapatkan dari suaminya, Lee Yunki. Hanya ada kalimat perintah teramat memerintah, dengan cara yang paling kejam memperlakukan wanita yang sudah bertahun-tahun menasbihkan hidupnya untuk menjadi istri yang menempatkan diri sesuai kemauan Yunki.
Bahkan si brengsek Yunki itu tak mengizinkan Bella untuk menyanggah maupun memberi jalan untuk Bella mengutarakan pendapatnya—apa aku menjawab iya untuk perintahnya itu?!
Tch....
"Bisakah dia meminta dengan tulus?! Setidaknya rendahkan nada bicaramu itu, aku tidak tuli! Dasar, keparat Yunki!", Caci Bella yang langsung bersinergi dengan gebrakan ponselnya.
Tak berselang lama, disaat Bella ingin membangun rasa kantuknya. Gadis itu mendapati eksistensi manusia yang sangat dirindukan kehadirannya akhir-akhir ini, "Eugh?! hei, kemarilah!", Bella meminta.
Seolah amukan yang meraung keras dalam jiwanya, mampu diredam dengan kehadiran sosok yang satu ini.
Kendati pandangan Bella nampak berbinarer, tatkala mengikuti arah telapak kaki yang mendekati presensinya. Pun berhenti tepat didepan saat Bella masih setia dengan posisi awalnya—bermesraan dengan bangku kedai.
"Ini masih siang, kenapa sudah pulang sekolah? Ah, duduklah dulu!", Bella mempersilahkan sebelum menggelar sidang eksekusi. Lantas menegakkan tubuhnya berusaha menyatukan jalur bersamaan pribadi itu duduk di bangku sebrang, "Kau membolos sekolah? Hei, sudah berapa kali kubilang untuk menjadi anak baik, eoh?!", Hakim Bella.
Sosok yang mendapatkan penghakiman seperti tak menerima semua tuduhan tak berdasar itu. Terciptalah sebuah tatapan penuh penyangkalan terhadap gadis yang nampak kebingungan dengan sensor tajam lelaki dibawah usianya itu,
"Bukan itu. Maksudku... Hei, intinya kau tidak boleh membolos! Kau tidak kasihan kepada ibumu yang bekerja keras hanya untuk menyekolahkan mu? Seharusnya kau belajar deng—"
"Siapa yang bilang kalau aku membolos?!—tidak ada!, "Lagipula aku bukan kau, yang sering membolos waktu sekolahmu dulu!"—dasar, bocah!
Pengaduan dari pribadi muda itu mengingatkan Bella akan masa-masa dimana kata 'pembangkang' cocok dengan perangaian Bella belia.
Ya, perlu diakui secara gamblang jikalau Bella sewaktu SMA memanglah murid yang terbilang sangat buruk dalam bidang apapun. Hanya dua yang teramat Bella nantikan pun sukai disaat-saat otaknya dicerca formula senyawa kimia yang mengharuskan dirinya menjabarkan nominal dalam bentuk rumus yang telah tersedia, yaitu saat dering bell menyuarakan aspirasinya—istirahat dan pulang sekolah. Dan yang paling banyak menyumbangkan aura kebahagiaan bagi gadis belia itu, saat-saat Bella mempunyai secercah kesempatan untuk membolos sekolah bersama teman seperjuangannya—Jae dan Nam.
__ADS_1
Ah, saat itu sungguh hari-hari yang paling membahagiakan bagi Bella. Senang bisa memiliki kenangan yang tak banyak didapat oleh para pelajar seusianya. Lantaran harus selalu berkutat dengan tumpukan buku pun direpotkan dengan nilai raport yang memusingkan.
Astaga, bahkan Bella tak bisa membayangkan bagaimana cara pemuda di depannya ini, untuk mengikuti alur perjalanan sekolahnya.
"Woahh, lihatlah! Kau sekarang sudah dewasa. Sejak kapan kau setinggi ini, eoh?", kagum Bella dengan perubahan sosok itu dengan mengacak gemas surai sang kenalan—sengaja mengalihkan topik pembahasan.
"Hei, Bella! Bisakah kau berhenti melakukan hal memalukan seperti ini?!", decaknya dengan merapikan tatanan rambutnya seperti sedia kala, meskipun tak bisa lagi dalam bentuk semula.
M-memalukan?!
Tch, astaga!
"Jioo, bisakah kau juga tidak bersikap kejam terhadapku! Apakah sesulit itu memanggilku, Noona?! Eoh?!", sedih Bella yang jelas dibuat-buat, "Bisa dimaklumi. Mungkin aku tidak setua itu di matamu. Benarkan?!", Imbuh seraya mengerlingkan kedua binar matanya—sebagai pendukung atas ucapannya.
Ah, iya!—sebelum percakapan dua insan berbeda pandangan itu berlanjut tanpa tahu, siapa gerangan pemuda dingin nan menggemaskan yang membuat senyum Bella terukir merekah itu.
Perkenalkan!
Jiho—anak dari seorang pengusaha rumah makan yang Bella datangi sekarang ini—CEO Ahjumma. Goo Hyejin. Pun tanpa melupakan satu fakta bahwa lelaki belia itu tengah menjajaki kariernya di bangku sekolah menengah. Terlampau anak bau kencur untuk tidak memanggil Bella dengan sebutan 'Noona'. Wajar saja, masa-masa pubertas. Bella memaklumi hal itu.
Bisa dilihat secara keseluruhan, bahwa sepasang anak dan ibu itu sangat berbeda jauh dalam menyikapi perangaian makhluk hidup yang sering berkunjung ke tempat usaha mereka. Jioo—sapaan sayang Bella, lelaki sedingin kutub utara itu. Lantas sang ibu yang penuh kelembutan dan kesabaran menghadapi Bella.
Jika sudah selesai acara berbasa-basi.
Kembali kepada perbincangan sengit antar Bella dan Jiho.
Mendengar penuturan Bella yang terlampau sering ditangkap rungunya itu, Jiho hanya berdecak remeh dengan sejuta pesonanya yang tak ingin diruntuhkan, "Ah, sudahlah. Aku hanya malas meladeni ocehan tak pentingmu itu", ogah Jiho.
Lihatlah! Kejam terlampau menggemaskan bukan? Ingin rasanya Bella melampiaskan rasa gemasnya dengan menjitak surai Jiho—sekeras mungkin.
"Oh, terima kasih Ahjumma", alih Bella kepada ibu Jiho yang tengah mengantarkan pesanan spesialnya—sebotol Soju.
"Bagaimana bisa Ibu menolak pesanan pelanggan setia disini?", Kata ibu Goo berada di satu jalur dengan Bella—sepihak.
"Hei, bocah! Kau ini tidak tahu bagaimana minuman ini bisa menjadi pendamping yang sempurna disaat hidupmu terasa kacau", racau Bella saat sang pemilik kedai meninggalkan mereka berdua, "Tentu saja, kau tidak akan tahu bagaimana rasanya. Hidupmu masih panjang, dibandingkan hidupku yang sudah diujung tanduk ini", cerocos gadis itu yang telah menenggak minuman berarak itu langsung dari bibir botol.
"Hei...!", Bentakan yang tak juga mengganggu khalayak pengunjung itu mampu membuat Bella urung dalam mengalirkan cairan menyengat itu untuk kali kedua, lantas menanti Jiho melengkapi tuturnya, "Kau sudah memeriksakannya?", Tanya Jiho tidak ada keyakinan sepenuhnya.
Bella menggebrak meja dengan satu hentakan keras dari pantat botol, lantas mengangguk mengiyakan keraguan Jiho.
"Ada perkembangan?", Jiho bertanya lagi memastikan.
Belum ada komentar apapun dari yang bersangkutan, selain tatapan yang Jiho bisa tebak jawaban kali ini tidak akan sama dengan sebelumnya. Tidak. Jiho tidak ingin balasan negatif.
"Tidak?!", Kata Jiho ragu.
"Sudahlah, tidak penting untuk dibahas!", Bella dengan segenap hati memohon dalam benaknya.
"Bagaimana bisa seperti itu?! Tidak penting?! Kau ingin hidupmu berakhir kacau, dengan masalah yang kau anggap tidak penting itu?!", Suara Jiho mulai meninggi pun mendominasi hanya diantara mereka.
"Kau lapar? Kau ingin makan sesuatu?", Bella mengabaikan sensor menuntut Jiho, dengan sunggingan sudutnya yang jelas menyiratkan bagaimana hancur relungnya—Jiho memahami.
"Noona! Jangan mengalihkan pembicaraan! Apa kau menyembunyikan sesuatu?!", Jiho terus saja menyudutkan diri Bella. (panggilan dari laki-laki untuk kakak perempuan)
Untuk detik ini, Bella tidak menginginkan panggilan 'Noona' terucap dari bibir Jiho. Entah siapa yang menyangka, jikalau sebutan akrab itu akan terdengar berbeda dalam situasi mencekam seperti ini.
Meskipun terbilang masih kanak-kanak dalam hitungan umur, namun cara berpikir Jiho jauh lebih dewasa pun penuh pertimbangan dari ketidakpedulian yang Bella agungkan pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Bella ingin melampiaskan beratnya mengais oksigen, dengan meraung keras melenyapkan seluruh kemelut yang menggerogoti sistem pertahanannya. Hati Bella lemah dibuatnya manakala panggilan yang Jiho umbar menggunakan nada yang teramat dalam menyayat setiap sudutnya.
Bella hanya bisa terdiam dalam kubangan air yang terlarang itu memasuki kerongkongannya sekali lagi. Jiho geram, tentu saja. Gadis dihadapannya memang masih memiliki pola pikir kekanak-kanakan dalam menyikapi beban dalam hidupnya.
Bukan perkara ingin ikut campur dalam urusan orang lain, tetapi yang perlu ditekankan bahwa Bella bukanlah 'orang lain' untuk Jiho.
Kakak. Sahabat. Orang yang paling berjasa besar dalam hidupnya dan juga sang ibu. Bahkan musuh bebuyutannya dikala masalah adu pembenaran seperti ini tengah berlangsung. Bernilai seperti itulah Bella bagi keluarga kecil Goo itu.
"Berkelahi dengan siapa lagi kau kali ini?!", Jiho menggubah pembicaraan lantaran enggan membahas perihal yang sukar dirinya kulik jika alkohol menjadi orang ketiga dalam dialog mereka.
Sebelum bersimpuh tidak nyaman dihadapan Bella, Jiho sudah memperhatikan kondisi lutut Bella. Namun belum diketahui secara pasti penyebabnya, tak ayal membuat pribadi belia itu menanyakannya langsung.
Bella pun mengikuti arah pandang Jiho tertuju. Astaga! Sejak kapan goresan luka itu mengoyak balutan jeans nya?—Bella baru menyadarinya setelah lamanya waktu pergi berlalu.
Tanpa menunjukkan rasa kejutnya terlihat jelas, Bella lantas berujar dengan vokal yang seolah darah yang mulai mengering itu bukan perkara yang perlu digemborkan, "Oh, ini?!", Bella merangkum kondisi perpotongan kakinya, "Hanya terjatuh, bukan masalah besar", enteng Bella tidak perlu diperbesar.
"Sejak kapan kau menganggap masalahmu serius? Kau ini memang susah diberitahu!", Dongkol Jiho.
"Hei, apa kau baru saja ditolak oleh gadis yang kau suka? Kenapa jadi melankolis seperti itu, bocah?!", Timpal Bella dengan leluconnya.
"Eoh, dan gadis itu sangat payah!", cetus Jiho terhadap gadis yang memasang wajah bingung.
Jadi benar!—terkaan Bella tepat pada sasaran? Padahal gadis itu tak sengaja menumpahkan kalimatnya yang sempat melintasi benaknya—syukurlah, jika memang benar adanya!
Setidaknya Bella memiliki secercah bahan pembahasan untuk sebuah pengalihan.
"Dia tidak cantik?—Tch!, "Atau gadis itu bodoh?"—Astaga, dia tidak sadar diri atau bagaimana?!
"Apa dia menyakitimu lagi?", Random Jiho dalam mengajukan lantunan tanda tanya.
"Apa gadis itu tidak lebih kaya dariku?", Dera Bella.
Astaga, apa yang sedang mereka perdebatan? Kenapa melontarkan kalimat yang tidak sambung menyambung dengan pertanyaan mereka?
Bella pun Jiho tidak berniat menjawab kalimat tanya satu dengan yang lainnya, hanya mentransfer tatapan enggan membawa balasan. Pribadi Kim yang menerus berpaling atas sergapan sederet tanya, pun Jiho yang bersikukuh menguak hal-hal yang tersembunyi dari gadis yang lebih dewasa darinya itu—dari segi usia.
"Noona, aku tidak bercanda! Dan jawab pertanyaan ku, apa Yunki menyakitimu lagi?!", Jiho to the point.
"Tidak", Bella menyerah.
"Lantas apa yang terjadi dengan wajahmu itu?", Jiho lagi.
"Kenapa? Apa wajahku terlihat menua? Kurasa tidak. Seingat ku, aku sering perawatan wajah", cemas Bella dengan menjamah sudut parasnya, mencari titik kesalahan yang dimaksud Jiho.
"Wajahmu terlihat seperti orang yang—", Bella menunggu dengan kelopak yang berkedip dalam penantian.
"—kurang belaian", adalah kalimat yang membuat rahang Bella terperosok dalam bukaan mulut, tidak percaya dengan penjelasan Jiho barusan.
"A-apa?! Hei, kau ini—!"
Tawa Jiho meledak disaat Bella gencar ingin menjitak kepala anak muda itu.
Namun tidak mampu Bella realisasikan, tatkala kalimat Jiho memaksa gadis Kim itu menghentikan laju pembalasan dendam, "Sebentar... sebentar!",
"Aku hanya penasaran. Apa kau mengenal pria di sudut meja itu? Kulihat sejak tadi lelaki itu memperhatikanmu", lanjut Jiho menunjuk arah sasaran melalui sorot matanya, dengan gurat penasaran.
Tak lagi menggugah hati ingin merancang sebuah pembalasan atas tutur mengejek Jiho. Bella pun lebih berminat mencetak guratan diantara kedua alisnya—bingung.
__ADS_1
"Benarkah? Siapa?"
- RING MY BELL -