
"Aku menyesal karena aku dan kamu tidak lagi menjadi kita"
- RING MY BELL -
Tungkai berselimut Converse merk tertentu itu terdengar mengecai bentangan Incheon airport, yang senantiasa telah mempersiapkan diri secara lahir dan batin untuk memantapkan hati pun tak akan lengah perihal bisikan yang menyuruhnya untuk menetap di Seoul.
Namun, sebelum sepenuhnya memasuki luasan bandara. Debar jantungnya tersentak tidak percaya akan sesuatu yang tersaring ruang dengarnya. Sejenak mendiamkan diri untuk mengisi kebenaran dalam keraguannya di atas pelataran bandara.
Tidak. Tidak salah lagi. Ruang rungu Jun jelas mendengar seseorang tengah meneriakkan namanya dari kejauhan. Tetapi, saat menolehkan kepalanya menyusuri bentangan kebisingan di sudut jalan, tak ada sosok yang diharapkan. Hanya ada kerumunan orang yang nampak menarik atensi setiap pengguna jalan.
Ah, kecelakaan.
Pemikiran Jun diperkuat dengan adanya pihak kepolisian dan juga mobil ambulance yang ada di area kejadian.
Merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan pun diperhatikan, Jun hanya menggendikkan kedua bahunya acuh.
Ah, sudahlah.
Dirasa bukan urusannya, Jun pun kembali menyambut bentangan keramik bandara dengan sedikit banyaknya rasa ragu akan kemungkinan yang bertengger dalam benaknya.
*Apa mungkin—?
Ah, tidak. Tidak mungkin*.
Pun seperti bandara pada umumnya, sosok itu melalui proses perjalanan menuju ruang tunggu sebelum pesawat yang membawa dirinya lepas landas. Dengan suasana yang tak Jun sukai disaat-saat menyulitkan bagi pikiran sekarang ini—ramai pun bising. Bahkan bunyi tapak kaki yang dihasilkan oleh orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya, membuat Jun dilanda kecemasan yang berlebihan—entah apa penyebabnya.
Itulah mengapa pribadi Jeon lebih mematrikan fokusnya pada alunan musik yang menenangkan dari celah headphone, yang terpasang nyaman pada dua sisi daun pendengarannya.
Entah apa yang ada di benak lelaki bersetelan cassual itu, tatkala dirinya bersikap seperti sedang menunggu seseorang datang sebelum detik-detik keberangkatannya. Menit demi menit yang berlalu tanpa kepastian, pun sepasang manik risaunya melulu tertuju pada area dimana pintu keluar masuk utama berada.
Diantara barang bawaan Jun yang dirasa sebuah kewajiban jika melakukan perjalanan jauh—passport dan tiket, ada satu benda yang bertengger manis pada ruas lentik Jun. Sebuah photo yang memamerkan keindahan yang terekam dalam kedua figur, senyum kelewat batas bahagia terumbar jelas pada secarik lembar persegi itu.
Foto yang menggambarkan bagaimana dunia hanya milik satu pria dan satu gadisnya. Jepretan kamera yang maknanya tak akan pudar dimakan zaman. Sebuah tangkapan mata kamera yang tak lekang menghuni relung hati Jun.
Jika ditilik lebih teliti dalam pandangan, terdapat coretan tangan yang menginformasikan bagaimana sejarah bidikan polaroid itu tercipta—tinta hitam yang tergores dibagian belakang.
Bee mine—sesimple itu. Goresan pena yang terukir pada foto bergambar sepasang kekasih.
Pecahan sinema masa lalu, dengan tidak sopan nya, kembali melintasi jalur penghubung antara ingatan dan imajinasi yang bercampur aduk dalam organ berpikir Jun.
Benak Jun tentu meragukan bahwa gadis yang berpose tengah mencium gemas pipi tembabnya itu pernah menasbihkan sepanjang tahunnya sebagai kekasih yang menemani kesehariannya.
Binar tak nampak bersemangat itu tengah memunculkan kilauan kacanya. Lantaran Jun tak dapat menahan bagaimana tawa penuh kebahagiaan tergurat pada visual Bella, telah memenuhi ruang memorinya—hal sederhana yang mampu meledakkan ribuan kembang api dalam diri Jun.
Entah kenapa, denyut hidup Jun bertalu begitu berat pun terasa nyeri jika dipaksakan untuk menyelami dunia hidupnya yang sudah jauh berlalu. Kenapa pula harus gadis itu yang memblokade gerbang pertahanannya? Bahkan dengan tak berdosanya, Bella telah berjaya mendominasi seluruh rasa sakit yang Jun rasakan pun dapatkan.
Ada perasaan aneh yang melayang dalam benak Jun, sebelum dirinya benar-benar tenggelam dalam hiruk pikuk bandara. Getaran frekuensi yang hanya dapat Jun rasakan saat Bella berada dekat dalam jangkauannya. Namun lagi dan lagi jiwa keraguan Jun mulai berkoar, tatkala pemahamannya menegaskan.
Tidak mungkin gadis itu jauh-jauh datang kemari hanya untuk menemui mantan pacar yang tak berguna ini!
- RING MY BELL -
"Sebenarnya siapa orang yang kau cari sejak tadi, huh?"
__ADS_1
Entah bagaimana awal mula Jae dengan mudahnya memenuhi kemauan Bella untuk menepikan mobilnya di ujung jalan. Jarak tempat pemberhentian sementara mereka dengan tujuan utama Bella, yaitu bandara. Terbilang cukup memakan langkah.
Namun apa boleh buat. Bella hanya ingin memastikan bahwa kondisi hentakan pada pemompa hidupnya dalam keadaan baik-baik saja. Bisa dikatakan, Bella tengah mempersiapkan diri untuk merangkai kalimat perjumpaan, sebelum bertemu dengan Jun untuk kali terakhir dalam beberapa tahun ke depan.
Meskipun demikian tidak ada celah di antara perih dalam relungnya. Bella bisa apa? Selain merelakan kepergian Jun untuk waktu yang belum bisa dipastikan.
"Pria tampan, kenapa?!", Timpal Bella dengan pandangan yang beredar menyusuri keadaan.
Bentangan aspal pada malam hari, sepertinya masih terbilang cukup menyita banyak jalan. Sangat ramai. Bahkan riuh klakson mampu membuat Bella berdecak kesal di atas pangkuan kursi penumpang.
Jae terkekeh mendengar penuturan Bella yang tampak dipertanyakan kebenarannya, "Apa aku tidak terlihat di sini?!", Ujarnya seolah memberitahu nafsinya.
Apa-apaan dia?!
Sindrom kepercayaan diri yang terlampau meruah.
"Aku mencari pria tampan, bukan pria bodoh", decak Bella yang masih mengalihkan atensinya pada hamparan lokasi sekitar bandara yang masih jelas terangkum jangkauan.
"Bukankah pria bodoh ini mempunyai sisi ketampanannya sendiri?", Kukuh pribadi di balik pengendali mobil.
"Itu dia!", Kata Bella berseru.
"Kau tidak perlu memperjelas nya. Aku memang—"
Belum sempat menuangkan detik untuk merealisasikan kalimat panjangnya. Jae harus menelan bulat-bulat, apa itu sebuah kekosongan.
Jae terabaikan.
Bella. Gadis itu lebih dulu menghilangkan presensinya, beranjak keluar dari naungan besi bertunggang.
Sesaat setelah menyelesaikan penjelajahan mencari eksistensi Jun. Bella kira dirinya akan dipermudah oleh situasi. Tetapi, nampaknya sang penyelamat tak selalu menghabiskan waktu hanya untuk dirinya seorang.
Masih banyak pihak yang membutuhkan keberuntungan diluar sana. Bella tahu itu.
Tapi, bisakah semesta juga mendukungnya kali ini saja? Setidaknya luangkan sedikit menit untuk Bella memaparkan kalimat perpisahan, sebelum benar-benar tenggelam dalam lautan kerinduan yang amat sangat menyesakkan relung hatinya.
Tidak, tidak.
Berikan saja sedikit kesempatan untuk Bella memeluk tubuh gagah itu untuk kali terakhir. Ah, baiklah. Bella tidak akan berharap terlalu banyak. Setidaknya berikan detik untuk Bella menguntai—
Sampai jumpa.
Sebelum rasa penyesalan merenggut seluruh kewarasan Bella.
"Astaga, kenapa lama sekali?!", Gerutu Bella ditengah kegusaran yang merangkai benaknya.
Bagaimana bisa skenario begitu mahir dalam memutarbalikkan keadaan?
Jalanan kota dipenuhi oleh penunggang kuda besi. Tanpa mencipta celah untuk raga Bella menyelinap ke ujung jalan sana.
Rambu untuk pejalan kaki belum ada tanda-tanda mempertunjukkan sinar hijaunya. Bahkan hiruk pikuk pengeras klakson mampu memberikan kecemasan bagi Bella.
Sedangkan jalanan raya yang didominasi oleh tunggangan beroda empat itu, nampak berlalu lalang. Seolah menjadi penunjang akan kegagalan yang melambai pada Bella.
__ADS_1
Apa boleh buat?!
"Astaga, bisakah dia berhati-hati?!" Gusar Jae yang setia mengeratkan simpuhnya pada bangun jok.
Sekecil apapun kecemasan yang mendera benak Jae. Namun, pria dalam kemudi itu tak setitik pun mengait niat untuk keluar menghampiri Bella. Lantas mengguyur gadis itu dengan petuah bijak agar tidak bertindak ceroboh.
Di sana. Jae melihat dari balik kaca mobil, bahwasanya gadis dalam balutan gaun pesta itu tampak seperti gadis bodoh yang termakan oleh jerat cinta.
Tergambar jelas, seperti tak menginginkan kepergian sang kekasih tanpa pelukan terakhir.
Tch, dasar bodoh!
Tungkai tanpa perlindungan alas kaki itu, terlihat sembrono melintasi kawasan terlarang. Tidak sepenuhnya tidak diperbolehkan, sebenarnya. Hanya saja lampu hijau untuk pejalan kaki belum berpendar, menggantikan peringatan untuk berdiam diri menunggu instruksi.
"Jun!!", Teriak Bella tak memperdulikan eksistensinya yang menjadi bahan keheranan bagi segelintir pihak—teriak-teriak tidak jelas.
Dan dengan kebodohan yang hakiki. Tanpa perhitungan bahkan tanpa peduli, Bella menerobos jalur raya dengan kecemasan yang melanda.
Bahkan pekikan klakson tak berhenti menjejali gendang rungunya, seberapa keras Bella berjuang untuk mendapatkan titik tujuannya.
Nyaris diujung maut.
Tatkala Bella sedikit lengah dengan kendaraan yang berhilir mudik di sekitarnya. Gadis itu hampir tertabrak mobil.
Dan untuk kali kedua tubuh dibalut kekalutan itu, satu kali lagi ingin dihantam oleh mobil saat Bella ingin menghindari tabrakan pertama.
Jae yang melihat kecerobohan Bella, ingin keluar dari hunian nyaman di dalam mobil. Lantas mencecar gadis itu dengan sejuta omelan.
"Astaga, gadis itu benar-benar membuat... TIDAK!", tangan Jae yang masing mencengkeram pintu mobil itu mendapat tremor. Diiringi dengan jantung yang terhenyak meniti kepanikan.
Nahas.
Perhitungan Bella nampak salah sejak pikirannya hanya berselimut keegoisan.
Tidak sepenuhnya salah, sebenarnya. Bella bahkan terbilang sukses mengindari tabrakan kedua. Namun tragedi seolah bermain-main dengan nyawa manusia bernama Bella. Gadis itu gagal melawan takdir. Tatkala tanpa diduga, tubuhnya mendadak dihempas oleh tunggangan bermotor, yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Seketika—
Tanpa melibatkan detik mematut waktu.
Tubuh Bella terpelanting jauh dari tempat kejadian. Bahkan tempurung kepalanya terhantam keras tepat di pinggiran trotoar. Sangat serius, hingga kepala yang terantuk benda keras itu mengeluarkan banyak cairan merah pekat.
Bella mengalami kecelakaan yang melibatkan banyak darah yang menghiasi bahu jalan.
Denting waktu terasa melambat, dengan kesadaran Bella yang semakin terenggut oleh kebisingan yang memenuhi lokasi.
Tepat saat Jae mampu menggedor pertahanan Bella untuk tersadar dari detik-detik terakhir memejam mata di atas rasa sakit pada tubuhnya, terkhusus pada aset kecerdasannya.
Namun sebelum benar-benar terlena dalam ketidaksadaran, sayup-sayup terdengar permohonan atas pendaran mata Bella, yang merangkum bagaimana panik telah menerjang seluruh sudut paras Jae.
"Kumohon, bertahanlah!"
Dan Bella sukses menutup mata.
__ADS_1
- RING MY BELL -