
"You're the truth and the reason
Tell em you're my lady
Whatever other people say, whatever this world tells you
You're the best to me just the way you are"
21st Century Girls - BTS
- RING MY BELL -
Menit yang dimiliki Bella termakan oleh kebosanan selama acara berlangsung. Tak pernah terkira bagi gadis dengan balutan stilleto setinggi tujuh sentimeter itu, bilamana dirinya akan dirundung rasa kantuk. Berterimakasih atas dekapan high heels, tatkala Bella memiliki alasan untuk dirinya sendiri agar mengistirahatkan kakinya yang kebas lantaran menumpu beban hidupnya itu, di bangku duduk yang tersedia.
Menunggu. Memang satu hal yang harus Bella singkirkan dari kamus kehidupannya. Menyebalkan sekalipun dirinya selalu menjunjung penuh kesabarannya untuk tidak meninggalkan radarnya, tanpa persetujuan dari pihak yang memaksa gadis itu larut dalam kegiatan yang hampir tak diketahui pasti oleh Bella apa tujuan sebenarnya diadakan pesta seperti ini—membuang-buang waktu tidurnya saja.
Perlu diketahui, bahwasanya acara telah usai beberapa waktu yang cukup memakan untuk Bella menunggu dalam kejenuhan. Sudah tak terhitung banyaknya menit yang Bella habiskan hanya untuk menanti lelaki yang sialnya adalah suaminya itu.
"Kemana keparat itu?! Kenapa belum datang juga?!", Bella bertanya kepada satu onggok orang yang setia mengekorinya acap kali gadis itu beralih tempat, bahkan untuk menarik udara kehidupan saja tidak semudah kenyataannya.
Jae suka. Teramat sangat bahagia saat meringkas bibir bersemu merah Bella melantunkan ayat-ayat serapahnya—terutama saat makian itu tertuju pada Lee Yunki, kakak tiri sialannya.
Sunggihan asimetris melambung dengan perasaan tak habis pikir—seorang istri yang mengumpat tentang betapa brengseknya sang suami didepan saudara beda ibu itu.
"Mungkin...sedang melampiaskan hasratnya bersama wanita lain di hotel?!", Jae menerka, ah tidak, lebih tepatnya menguji apakah gadis dalam rangkumannya itu akan tergugah hatinya untuk merutuki kelakuan bejat Yunki, dari pengaduan Jae yang diterima Bella.
Apa harus segamblang itu?! Disini?! Didepan Bella?! Didepan istrinya?!
Cemburu?
Tentu...
Tentu saja, tidak!
Tidak akan pernah!
Oh, ayolah. Jangan bercanda! Kata itu bahkan sudah Bella lenyapkan dari lembar kehidupannya. Pun bisa dibilang, kata menjijikkan itu tak sekalipun singgah dalam benak Bella. Tidak ada alasan bagi gadis bersetelan formal itu untuk mengungkapkan perasaan yang sama sekali tak memiliki nilai yang menguntungkan.
Bukan Bella namanya jika dirinya terpancing emosi ataupun termakan oleh omongan tak bermutu Jae—Dia mau memanas-manasi ku atau bagaimana, huh?! Tentu tidak ada dalam lembar catatan Bella, untuk dirinya terpengaruh oleh kelakuan bejat Yunki yang tak lagi bisa membuat Bella mengapresiasikan keterkejutannya.
"Syukurlah! Kuharap ****** itu segera hamil, dan brengsek Yunki tidak lagi mempunyai alasan untuk mengatur semua hal yang ingin dan enggan kulakukan dalam hidupku!", harap Bella dengan segala ketidakpeduliannya.
"Apa sebenci itu kau dengan Yunki Hyung? Aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa kau mau menikah dengannya selagi kau membencinya?", Bingung Jae.
Ah, dengan senang hati Bella ingin membungkam mulut Jae dengan bibir gelas berisi Vodka digenggaman nya. Bagaimana bisa tanpa beban yang menggelayuti nya, lelaki didekatnya itu menabur garam di atas luka hatinya yang belum mengering selama cincin pernikahan mengikat status Bella?!
Alasan, ya?!—Tidak ada satu alasan pun untuk Bella berani mengambil resiko untuk kali pertama menjadikan dirinya sebagai seorang istri dari lelaki yang sama sekali tak ditaruhnya dalam hati Bella. Bahkan rasa benci sudah tak lagi memiliki kapasitas yang tinggi untuk menginterpretasikan perasaan Bella terhadap Yunki.
Perasaan Bella sudah mati. Bahkan Bella pun sejauh ini tak pernah bisa menghidupkan hatinya sendiri. Hati rapuh Bella sudah dibawa pergi bersama kenangannya bersama Jun.
Ah, sudahlah! Jangan mengingat lelaki masa lalunya itu! Tidak ada gunanya bagi Bella, bila pun sampai detik dirinya yang kembali mengosongkan cairan pekat ke dalam pencernaannya, masih merasakan sensasi penyesalan yang teramat mendalam itu.
"Kau ingin tahu alasannya?", Ujar Bella selagi dirinya memberi sebuah pengharapan akan Jae, "Tanyakan saja, kepada kakak kebanggaan mu itu!", Sontak jawaban atas kebimbangan yang Jae nantikan, larut dalam ketidakberdayaan menghadapi gadis yang dirasa begitu lihai bermain dengan kata-kata.
Drrrrrttt...!!
Ah, siapa pula yang mengganggu detik tak berharga Bella, eoh?!
Disisi keengganannya untuk menindaklanjuti dering ponselnya. Bella juga didera rasa penasaran, untuk apa lelaki itu menelpon jika pada akhirnya akan bertemu juga—di acara antar pemegang saham yang dihadirinya. Dan ini sudah tenggat waktu untuk Bella mendudukkan tubuhnya pada hiruk pikuk acara.
__ADS_1
Apa benar Yunki sedang bersama simpanannya di hotel—maka dari itu suami Bella menelpon untuk tidak menunggunya dan langsung menyuruh sang istri untuk pulang. Sendiri pula. Ah, tidak. Bersama Jae, tentu saja.
Oh, begitu?!
Awas saja kalau hal itu benar adanya. Bella akan—entahlah, apa yang harus dirinya perbuat pada Yunki sialan itu.
Memaki? Tentu tidak akan mempan.
Lalu, apa?!
Oh, iya. Untuk detik ini seharusnya Bella memastikan—ada urusan apa Yunki menelepon?!
Tidak biasanya.
Pentingkah?! Atau hanya ingin menguji kesabaran Bella dengan rentetan kalimat tak berfaedah.
📞 🔇▶- Keparat Yunki -🔽
"Uhm?!"
"Kemarilah! Akan ku perkenalkan kau dengan seseorang"
"Kemana, yang jelas?!
"Jae tahu tempatnya... Cepatlah, kutunggu!"
"Tunggu du...Tut Tut Tut!"
Sejauh yang Bella ingat, percakapan yang dilaluinya dengan Yunki lewat jalur penghubung intercom, detik tadi merupakan lantunan kalimat terpanjang dalam sejarah panggilan seluler mereka. Bahkan dengan tumbennya, Yunki seolah bermurah hati dalam mengizinkan Bella membuka dialog mereka.
Dan lebih tidak masuk diakal, saat Yunki dengan berjiwa besar, akan melakukan hal yang tabu dilakukannya untuk Bella.
"Keparat itu mau menunggu ku?", Ujar Bella bergumam dalam ketidakpercayaan terhadap sikap sang suami.
Lebih tepatnya, tidak mau percaya!—tch, yang benar saja!
Orang gila mana yang akan bermurah hati percaya dengan pembual itu. Tentu Bella tidak ingin bersanding dengan pihak yang tidak mempunyai kapasitas kecerdasan rata-rata.
Tetapi, tetap saja. Sulit sekali untuk sekedar melenyapkan seluruh praduga buruk yang terlintas dalam benak Bella.
Tak ayal memaksa Bella untuk memasang buku-buku pertahanannya agar siap siaga, pun mengajak sertakan otaknya untuk bermanuver mencari—petaka apa yang akan Yunki berikan kepadanya.
Ada apa ini?! Kenapa perasaanku tidak enak?!
- RING MY BELL -
"Kenapa? Apa ada yang ingin kau tanyakan?"
Agaknya sosok di atas meja penumpang tengah dilanda kesenjangan pemahaman. Jae tahu akan hal tersebut, maka kalimat tanya itu mengudara dengan dirinya yang mematrikan fokusnya pada pelataran jalan didepannya.
Pasalnya, sejak mengecai jalanan malam, gadis disampingnya nampak sesekali melirik tajam ke arahnya dengan ekspresi seperti seorang predator yang ingin menerkam mangsanya.
Ah, senang rasanya jikalau memang benar terealisasi—di atas ranjang maksud Jae.
Jae menyinggung tawa simpul.
"Bee, apa kau tahu? Ekspresimu yang seperti itu malah menuntut ku ingin menerkam mu disini, sekarang juga", dengan intonasi yang terdengar seolah tak lagi bisa menahan buncahan hasratnya.
Bella berdecak jengkel dengan kedua lengannya yang terlingkar didepan dada.
__ADS_1
"Kau menyembunyikan sesuatu?", Sergap Bella tanpa menoleh lawan bicaranya.
Entah kenapa Jae teramat sangat bahagia tatkala melihat potret Bella yang tampak menyembunyikan segudang kedongkolan—entahlah, kepada siapa raut menyeramkan itu diperuntukkan.
Bermain-main sebentar dengan gadis berkepala batu itu, nampaknya tidak akan menjadi perkara masalah.
"Eoh. Sebenarnya aku tidak sanggup menyembunyikannya lagi, tapi semua ini demi kebaikanmu. Aku tidak boleh gegabah", Jae menjelaskan.
"Demi kebaikan ku?! Ayolah, Jae. Kau hanya akan memperburuk keadaan jika kau terlalu lama memendam sesuatu dariku. Katakan saja! Aku tidak peduli dengan segala alasanmu. Karena aku yakin, sesuatu yang kau sembunyikan itu hanya akan menguntungkan dirimu saja. Tidak lebih", ketus Bella panjang lebar turut bersinergis dengan amarah yang membeludak di relung jiwanya.
*Begitukah?
Baiklah jika itu maumu, Nona Kim*.
"Kau mau melakukan sesuatu yang ku sembunyikan itu, jika aku berkata jujur padamu?", Tukas Jae dengan sorot mata yang berbinar.
Bella pun menghujam binaran Jae, dengan pandangan nyalang seraya menambahkan seringaian disalah satu sudut bibirnya. Terlampau paham jika akan ada hal-hal brengsek yang keluar dari mulut sang pengemudi.
Geram bukan main, melihat kedua alis Jae yang naik turun—mempermainkan keadaan.
Ya, setidaknya kadar kesabaran Bella mampu menampung lebih banyak lagi. Jadi untuk kali ini—
"Terserah!", Kata Bella acuh.
Jae aman.
"Okey, kau sudah berjanji. Jadi tidak boleh mengingkarinya, apapun alasannya", Jae mengikat perjanjian yang diikrarkan seorang diri.
Bella pun menuntut kejujuran dari sorot pandangnya. Dengan satu alis yang menukik bingung. Lagi-lagi harus membendung rasa sabar lebih lama lagi.
Sedangkan Jae nampak menghirup udara penghidupan dengan sejuta ketentraman, "Baiklah—", jeda Jae disengaja lantaran memperbanyak amunisi sebelum benar-benar menerjunkan kata per kata dengan berdehem, guna menetralisir ketegangan yang tak terkendali di sana—di bawah.
"Kau tidak lihat—?", Jae membuang detik dengan sorot yang tertuju pada area yang diapit oleh kedua pahanya.
Tuh, kan.
Memang benar, firasat Bella sejak awal tidak lain menjurus kepada hal-hal menyebalkan—jika bersangkutan atas nama bapak Shin yang terhormat.
"Kau tidak mengasihaninya?! Sudah lama sejak kita bersama tadi, dan aku berusaha mati-matian untuk menyembunyikannya darimu. Tapi jika kau bersedia bertanggung jawab", Jae menggendikkan sepasang pundaknya, setelah mobil berkelok ke kanan, "Apa boleh buat. Aku akan menerima dominasi mu, Nona Kim"
Tidak bisa.
Ini tidak bisa dibiarkan terdampar begitu saja. Kemarahan Bella sudah membara di atas ubun-ubun. Bella naik pitam.
PLAK!
Sejurus dengan kekehan renyah dari Jae, telapak Bella sedikit menyenggol kepala belakang lelaki pengendali mobil. Ah, bukan hanya menyenggol. Tetapi menampar keras atas tengkuk Jae, guna melampiaskan sesak yang melanda.
Dari lubuk hati yang terdalam, Bella merasa menang telak. Tatkala melihat Jae yang meringis kesakitan, tatkala salah satu telapak mengusap-usap pada titik yang terkena bombardir.
Bella tahu itu memang akan menghasilkan sensasi membakar, lantaran gadis itu melakukan serangan dengan keadaan sadar.
Memang itu tujuan utama Bella—memberi pelajaran yang setimpal.
Tetapi, bukannya layangan protes. Jae malah menyodorkan sederet kalimat yang membuat kegeraman Bella semakin menggondok.
"Astaga, Bee. Kelakuanmu yang seperti ini malah semakin membuatku bersemangat untuk mengendalikan mu di atas ranjang", Jae menyeringai lebar dibumbui tatapan penuh godaan.
Brengsek, bukan?!
__ADS_1
- RING MY BELL -