RING MY BELL

RING MY BELL
8. EverythinGoes


__ADS_3

"Persis seperti malam pergi dan pagi datang. Musim semi pergi dan musim panas datang, tetapi. Persis seperti bunga layu dan buahnya tumbuh matang. Semuanya harus melalui rasa sakit"


Everythingoes - RM (BTS)


- RING MY BELL -


Kemeriahan perayaan pernikahan yang terhelat, meliputi seluruh tamu yang berhilir mudik pun tak bosan-bosannya menjadikan topik bisnis dan yang lainnya untuk bercengkrama ria bersama kolega, yang sangat jarang tertangkap mata jika hari-hari biasa terjadi.


Kendati tak tampak nyata bagi gadis yang nampak tertegun dengan kenyataan pahit yang meliputi seluruh saraf pemahamannya. Seolah hanya dunianya sendiri yang sejajar dengan keheningan pun detik waktu yang dimilikinya mendadak berhenti berdetak.


Bella masih belum sepenuhnya memahami, apa maksud dari ucapan Jun yang berupaya menyudutkan dirinya bahwa hanya pribadi Kim itu yang bersalah atas keegoisannya.


"Apa kau berselingkuh dariku? Mungkin jika itu benar, aku bisa paham kenapa kau meminta putus dengan pria miskin sepertiku"


Perih hati Bella saat mengingat bagaimana cara Jun mengungkapkan kalimat itu dengan seringaian yang terdengar menghakiminya.


"Aku tidak selingkuh, Jun! Asal kau tau. Aku bukan gadis murahan seperti yang kau pikirkan!", Monolog Bella yang memberitahukan kenyataan yang sebenarnya. Meskipun hasilnya nihil, lelaki yang seharusnya mendengarkan pernyataan gadis itu tak lagi bisa menangkap suaranya.


Menangis, mungkin menjadi hal yang wajar terjadi jika seseorang dihadapkan dengan situasi tak berperasaan seperti ini.


Dan Bella salah satu orang yang ditempatkan dalam kondisi menyesakkan seperti ini.


"Kupikir Rabella Kim yang ku kenal berbeda dengan gadis lainnya. Namun perkiraan ku jauh dari kenyataan"


"Bagaimana bisa kau memutuskanku hanya karena ada lelaki yang jauh lebih kaya dari ku? Kau anggap apa aku selama ini?! Pelampiasan mu?! Atau demi segelintir pujian karena kau berhasil membodohi lelaki miskin sepertiku?!"


"Anggap saja diriku yang bodoh, karena mempertahankan gadis yang tak pernah menganggap keseriusanku nyata adanya"


"Aku memang pria bodoh. Karena telah melupakan fakta bahwa tujuan utamamu mendekatiku hanya karena sebuah permainan murahan yang kau dan temanmu lakukan"


"Membodohi pria miskin sepertiku?! Terdengar menantang untukmu, bukan? Selamat, kau berhasil memperdaya Jeon Jungkook, si pria miskin ini!"


Deretan kalimat yang Jun ucapkan dengan begitu lantang dan menantang dalam menyuarakan perasaannya itu, mengingatkan Bella akan rencana bodohnya di masa lalunya. Fase dimana pemikiran yang kekanak-kanakan masih setia dipergunakan sebagai kandidat keseharian Bella.


Dan masa itu kembali menyetel tombol replay pada jajaran memori yang berdampak terhadap sosok Bella dewasa.


Kejadian yang terjadi di tempat yang digunakan untuk memulihkan kondisi tubuh yang seharian sibuk berkutat dengan formula rumus aritmatika—kantin sekolah.


"Bell, kita punya tantangan untukmu", ucap teman Bella, yang kala itu mereka masih mengenyam dunia putih abu-abu.


Bella belia hanya termangu memandangi figur seorang yang merambah sebagai ketua kelas waktu dulu, dengan sayup-sayup tak tertarik mendengarkan celotehan para teman lelakinya, "Hei! Kau mendengarkan kita atau tidak, sih?!", Kata sahabatnya yang Bella kenali bernama Cho Namjoo. Pria yang cukup tampan. Ingat! Hanya cukup, tidak lebih—tanpa kata tawar menawar.


"Bisa tidak mulut kalian itu berhenti mencerocos tidak jelas?!", Bella menghakimi lantaran dirinya merasa waktu untuk mengenyangkan perut ratanya itu tak berkualitas dengan ocehan tak bermutu dari kedua sahabat lelaki didepannya.

__ADS_1


"Berhubung kau terlihat tertarik dengannya, kita—",


"Siapa bilang aku tertarik dengannya?!", Potong Bella pada siswa yang name tag-nya bertuliskan huruf Korea—Jaehyun Shin.


"Kau, siapa lagi?! Sejak tadi yang tak lepas memperhatikan ketua kelas itu kan dirimu. Masih mau mengelak?!", Ketus Jae.


"Lantas?! Berarti jika aku memperhatikanmu, aku jadi suka padamu, begitu?!", Elak Bella tidak membenarkan.


"Aku tidak bilang kau menyukainya. Aku hanya mengatakan kau tertarik padanya. Dan dua hal itu sangat jauh berbeda pengertiannya, Sayang!", seru pribadi Shin yang tetap bersikukuh dengan pemahamannya.


"Sama saja bodoh!", Celetuk Kim remaja.


"Wow, berarti benar kau menyukai siswa culun itu?", Namjoo menginterupsi dengan nada antusias dengan raut penuh tanya.


Dia tidak culun, bodoh!—ingin sekali Bella menyumpal mulut Nam dengan sendok dalam genggaman tangannya. Enak saja!


"Hah, tidak mungkin dan tidak akan mungkin! Kalian pikir aku gadis sembarangan? Tentu tidak! Rabella Kim tidak akan pernah jatuh hati pada siswa yang bernama Jeon Jungkook itu! Tidak akan pernah terjadi! Ingat itu!", Timpal Bella yang menjabarkan pemahamannya sendiri.


Teman Bella yang bermarga Cho masih mempertahankan perdebatan tak berujung ketiga sejoli itu. Pun tanpa permisi kepada sang pemilik hak makan, saat Namjoo dengan cepat mencomot komposisi empat sehat lima sempurna sang sahabat perempuannya, "Tapi anehnya, Rabella Kim yang kita kenal tidak akan mengingat nama seseorang yang tidak begitu penting dalam urusan hidupnya. Dan itu artinya..."


PLAK!


Betapa leganya saat dirimu bisa melampiaskan semua kekesalan mu dengan sekali sentakan yang terjalin pada kepala sang provokator. Lantaran dengan penuh keberanian telah meragukan perkataan mu dan membuat makan siangmu tak lagi berselera.


Lantas melempar sendoknya disembarang meja didepannya, berbarengan dengan dirinya yang menyilangkan kedua lengannya penuh busungan dada—arogan.


"Itu artinya... Kau harus melanjutkan apa tantangan yang harus kulakukan! Cepat katakan! Atau kau mau masuk rumah sakit karena pukulan dari perempuan? Tidak, kan?!", Cergas Bella.


"Aku juga murid yang terbilang sibuk. Jadi cepatlah, aku tidak punya cukup waktu untuk meladeni ocehan tak penting kalian!", Lanjutnya tanpa sajian toleransi.


Pribadi yang diberi perintah untuk melanjutkan perkataannya yang sempat tertunda itu, menunjukkan sikap acuhnya dengan suara rintih kesakitan pada tempurungnya, "Ishh, bagaimana bisa aku berteman dengan singa betina macam dia, huh?!", Gerutu Namjoo yang merasa jiwa kejantanannya telah diinjak-injak oleh sahabat sendiri—malu rasanya.


"Dia! Sebagai bayaran atas kekalahanmu, kau harus menaklukkan siswa itu! Buat dia jatuh cinta padamu, setelah itu campakkan dia! Bagaimana, kau sanggup?", Jae menjelaskan rincian yang dimaksud.


"Siapa? Jeon Jungkook? Siswa yang bisa bersekolah di tempat elite ini karena beasiswa itu?", Tanya pribadi Cho bingung.


"Seratus! Tidak sia-sia otakmu belajar sepanjang hari", tukas siswa Shin itu dengan telapaknya mengusap bangga pada belakang kepala sahabat sesama jenisnya itu, "Jadi, bagaimana? Kau terima tantangannya, atau menerima kekalahanmu dengan berhubungan badan denganku, sesuai perjanjian?", Imbuh Jaehyun yang ditujukan kepada sosok teman gadis satu-satunya diantara mereka.


"Baik, aku menerimanya", jawab Bella mantap seperti tak ada bahan untuk dipertimbangkannya—pun Terdengar ambigu.


"Yang mana? Tantangan atau bercinta denganku di ranjang?", Jaehyun menimpali dengan sudut bibirnya yang terangkat asimetris.


"Tch, jangan pernah berharap bisa mendapatkan tubuh premium ku ini, Tuan Shin!", Bella menunjukkan dominasinya, lantas mengukir sunggingan yang tak kalah meremehkan.

__ADS_1


Namun bagi pribadi Jaehyun, dirinya masih tak terkalahkan dengan dominan yang Bella agungkan, setelah Shin remaja kembali berujar penuh sarkasme, "Kita lihat saja! Apa kau berhasil menjalankan misi mu atau malah berakhir di bawah kungkungan ku, Nona Kim!"


Tatapan tajam penuh kebencian, Bella layangkan untuk Jae. Memaksa diri untuk 'gigit jari', saat sang sahabat yang sialnya memiliki ketampanan yang melebihi teman Cho-nya itu, di atas rata-rata lah, telah mengundang kemarahan gadis belia itu dengan menciptakan air muka bak diguyur kemenangan mutlak.


Bella remaja, kesal. Tentu saja. Geram tak tertolong. Tatkala Jae memunculkan sikap tak mau kalahnya, dan lebih membuat Bella naik pitam saat lelaki Shin itu mengulang kalimatnya yang menjerumuskan pada kegiatan 'ranjang'. Pun untuk pertama kalinya Kim remaja tak bisa menandingi ujaran Jae. Bella kalah telak. Dirinya mengakui itu.


Bersinergi dengan lelehan cairan mata yang semakin menderu, adegan masa remaja Bella bersama dua sahabatnya nampak hilang memudar dibawa pergi bersamaan usapan serampangan yang Bella lakukan untuk menghilangkan jejak tangisnya. Pun memulangkan kenangan pada tempat yang seharusnya menjadi keberadaaan nya—lenyap.


Kini dunia Bella sudah pulih kembali menyambut bentangan realita—berada di semesta dengan segala sesuatu yang nyata. Dengan kata lain—flashback off.


Dan ada satu kalimat yang Jun utarakan dikala sambungan mereka masih terhubung yang mampu menohok dinding pertahanan Bella—tiga detik sebelum lelaki Jeon itu dengan sengaja menekan tombol untuk mengakhiri koneksinya.


"*Ah, perlu kau ketahui! Aku bukanlah pria baik yang akan diam saja melihat kau bahagia, ditengah penderitaan yang ku alami. Entah itu balas dendam dalam bentuk apa, aku belum bisa memastikannya"


"Tapi, ingat! Akan ku pastikan kau menderita di bawah kendaliku. Tunggu saja*!"


Ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan, ataupun tak seenak meludah di sembarang tempat. Perkiraan Bella salah besar, bagaimana dirinya yang tak bisa membumihanguskan kumpulan kata yang Jun rangkai menit lalu—khusus teruntuk dirinya.


Akan ku tunggu, Jun!—apapun pembalasan atas penderitaan mu, yang kau rencanakan.


Bella tak mampu melawan hukum alam yang sejatinya sudah menjadi musuh bebuyutannya sekarang ini. Lantaran kalimat penghakiman Jun tetap bercokol dalam benaknya.


"Bella? Kau kenapa?", Tanya nyonya Jeon yang entah sejak kapan sudah berada di sisi gadis yang tengah berlinang air mata itu, "Kau baik-baik saja?", Tanyanya lagi yang merasa khawatir dengan perubahan sikap Bella yang dirasa sangat drastis, sejak kepulangannya dari tempat dimana terdapat sketsa penentu keberadaan wanita dan pria didalamnya—toilet.


"Mami—", Bella mengintrupsi dengan vokalnya yang terdengar sumbang—bergetar dengan deru isak yang tertahan. Sangat jelas tertangkap rungu bahwa dirinya sehabis menitikan air asin di pelupuk maniknya.


"Uhm, ibu mendengarkan. Katakan ada apa sebenarnya! Kenapa kau tiba-tiba menangis seperti ini, huh?", Ujarnya menengahi guguran deras bulir demi bulir yang membasahi rona wajahnya, tergantikan dengan air wajah nan sendu, "Sudah, jangan menangis!", Tegas nyonya Sunhi tanpa berniat mengintimidasi. Bersamaan jemarinya yang mengusap lembut buntalan lembab Bella.


Tanpa menggugah hati untuk menjabarkan segala fakta yang terjadi, Bella lebih memilih untuk mengulurkan tangannya didepan jangkauan sang ibu. Dengan kondisi indra perabanya yang menampilkan getaran tremor.


Pun pihak yang diberi uluran, hanya dapat mengernyitkan keningnya samar-samar. Kendati pandangan yang menyorotkan pertanyaan yang berhubungan dengan rasa aneh atas tingkah Bella.


Dalam sorotan yang berbeda, Bella paham jika wanita dihadapkannya ini tengah mengajukan pertanyaan lewat tatapan herannya, "Tadi ada yang menghubungi Mami."


Pun tanpa harus melanjutkan tutur informasinya. Dengan sekali tanggap, ibu dari sosok yang menyebabkan terjadinya pergantian emosi Bella itupun, langsung menarik suguhan ponsel dari gadis Kim. Kedua belah maniknya dipaksa untuk melebarkan bukaannya, tatkala ibu Jun dengan kesabaran yang tak lagi bersarang dalam benaknya itu membawa jarinya guna membuka tampilan layar. Bola keterkejutannya tengah menemukan selarik kalimat yang tertera pada beranda ponselnya.


2 panggilan tak terjawab dari 'anakku Jun'


Dan ada panggilan masuk yang telah diterima beberapa menit lalu. Sunhi pun tahu, siapa yang menjawab panggilan telepon dari Jun.


"Bella—"


Nyonya Sunhi kembali membawa sensor kejutnya guna menatap hazel Bella yang tampak sembab dengan hati yang trenyuh merangkum eksistensi gadis cantik dalam bukaan netranya itu. Memaksa Bella untuk membalasnya dengan senyum yang terlampau dipaksakan, tatkala dikemukakan oleh sorot sayunya.

__ADS_1


- RING MY BELL -


__ADS_2