Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
10. Cerpen


__ADS_3

Ketiga gadis turun dari mobil yang berwarna merah itu. Sementara satu bujang tak beranjak dari dalam mobil.


“Nian kau dak pengen ikut, Sayang?”


“Idak Sayang. Hati-hati. Kasih kabar kalau ada apa-apa,” jawab Dodi.


Dodi melambaikan tangannya. Lalu mobil itu berlalu.


“Mungkin-mungkin kamu berdua mau beli sesuatu?” tanya Masayu.


“Coba lihat-lihat dulu. Barangkali ada yang naksir,” jawab Dita.


Masayu berada di depan. Mereka berjalan melewati toko-toko. Lurus, belok kiri, berhenti celingak-celinguk, jalan lagi, awas kanan-kiri, mengerling-ngerling seperti mencari sesuatu. Mengherankan sekali kelakuan Masayu.


“Yu, kita ni mau ke mana sih?”


“Ikut saja.”


Dita melihat jam tangannya. “Hampir sejam kita keliling-keliling, tapi dak ada yang didapat.”


Masayu berhenti tepat di mana dia melihat bujang itu pernah digebuki waktu itu. Masayu memperhatikan sekitar, lalu mendekat ke beberapa pedagang di sana dan bertanya apakah kenal dengan orang yang dimaksud.


“Dia putih, tinggi, dak kurus dan dak pula gemuk, ganteng, rambutnya panjang dan berponi.”


“Ah, dak kenal, Dik. Lagi pula banyak di sini yang namanya Raden. Setahu Bibi, ada, tapi tukang sol sepatu. Sudah tua. Umurnya mungkin sudah 40-an.”


Dita dan Devrieya melongok dan saling pandang.


Masayu menghampiri seorang penjual makanan dan minuman ringan dan menanyakan hal yang serupa.


Penjual itu menggeleng-geleng jelas.


“Kita mau ke mana lagi, Yu?” tanya Devrieya yang mulai jengah. Keringat di dahinya menandakan bahwa dia mulai gerah.


“Coba kita ke arah gedung pasar sana.”


Kedua gadis yang menuntut di belakang cuma bisa mengangguk. Berjalanlah lagi mereka,namun tak juga Masayu melihat sosok bujang yang dicarinya, maka sedihlah hatinya siang ini. Bisa jadi firasat itu salah. Bisa jadi mimpi waktu itu juga salah. Bisa jadi pikirannya salah.


***


Kala malam tiba, di dalam kamarnya yang serba pink, yang dindingnya dihiasi gambar-gambar bunga dan tertera untaian kata-kata, Masayu menumpahkan segenap isi cakrawala perasaannya dalam bait-bait nan indah.


Kulihat dia merasa sakit, dipukuli


Tak tega aku dengan segala hal serupa itu

__ADS_1


Tak ada salah, tak ada dosa


Namun panah hujat telah menembus dadanya


Hingga dia merasakan sakit tak terperi


Ingin aku menjadi peri


Baginya


Tetapi aku menjadi duri


Menusuk-nusuk, menohok-nohok sanubari


Padanya


Ingin kuobati


Setidaknya berpandang mata


Setidaknya bersalamanan semata


Cukuplah, untuk memupus rasa ganjil di hati.


Dilipatnya lembaran kertas itu, lalu ditaruhkan di atas meja dekat buku-buku belajarnya. Dia yakin. Suatu saat bakal bertemu dengan Raden. Yakin seyakinnya. Masayu keluar dari kamarnya. Dilihatnya papa dan mamanya sudah duduk dengan rapi. Dia menghampiri mereka. Di dalam rumah yang besar lagi mewah tersebut hanya ada tiga orang saja. Masayu yang memakai piyama pink duduk berhadapan dengan papa dan mamanya.


“Lancar, Pa. Paling ada tugas-tugas yang bikin pening.”


“Kalau bisa nanti kamu tuh lanjut S-2 seperti Papa dan Mama.”


Masayu mengiyakan.


“Kalau ada keperluan,” kata Siti. “Bilang saja, Nak. Begitu juga masalah biaya kuliahmu. Bilang saja.”


“Iya, Ma. Pasti dong.”


“Sudah besar nian anak Mama satu ni. Kapanlah ada seorang bujang Palembang yang mau main ke rumah?”


“Kuliah dulu benar-benar, baru pacaran, Ma,” balas suaminya.


“Ya, Pa, tapi dilihat dari sekarang ini, tentulah bujang mana yang dak mau jadi pacar anak kita. Sudah cantik, pintar pula bikin puisi. Kau sudah berapa kali juara lomba puisi, Nak?”


“Sudahlah, Ma.” Masayu memain-mainkan jarinya, lalu mendesah menyebut angka-angka. “Tolong ambilkan kalkulator, Ma. Tujuh atau delapan kali. Nanti di kampus ada lomba puisi yang diadakan oleh Prodi. Nanti Ayu ikut, Ma. Tapi yang kali ini agak susah, soalnya puisi yang dilombakan bertema saintifik.”


“Semangat ya, Nak!”

__ADS_1


“Yang pasti jodohmu itu bujang Palembang. Karena Papa tidak mau punya menantu orang dusun. Keturunan kita orang Palembang semua, Nak. Jadi jangan sampai keluarga besar kita ini tercemar gara-gara kau dapat laki orang dusun. Dan tak tertinggal pula, calon laki kau itu, Nak, setidaknya bergelar sarjana. Karena malulah keluarga kita kalau dapat besan yang tidak berpendidikan.”


***


Motor matic berwarna pink berhenti di parkiran. Memang biasanya Masayu pergi ke kampus pakai kendaraan sendiri. Kendati Dodi sering menawarkannya agar dia pergi-pulang dengan dijemput pakai mobil, Masayu sering menolak karena tak ingin terus-terusan merepotkan pacarnya. Dan kalau saja ingin pergi ke kampus pakai mobil, tentulah saja dia bisa.


Pas sekali. Dia bertemu dengan Dita dan Devrieya yang lagi berjalan. Masayu menambah kecepatan jalannya. Seolah dia mulai memijak gigi tiga. Poninya yang terbentang jadi terpantul-pantul. Ranselnya bergoyang-goyang mengikuti iringan langkah kakinya.


“Haiii... haiii....”


Kedua gadis yang dipanggil menoleh ke belakang.


“Bagaimana tugas dari dosen killer, sudah kelar?”


“Gilo, Yu, pantas kepalanya makin botak, entah berapa hari dosen sangar itu bikin soal sesulit itu,” keluh Dita. Nanti aku lihat punya kau. Boleh?”


“Okelah. Memang kau belum selesai?”


Dita menggeleng sambil nyengir.


“Hm. Kirai sudah. Ya okelah nanti kita kerjai di kelas sebelum masuk.”


Iringan langkah kaki mereka bertiga disambut hangat oleh lirikan dan tolehan mata dari para cowok. Meski sebenarnya penampilan dari ketiga gadis itu tidaklah seksi nian, semisal tidak pakai anderok pendek sebatas dengkul, tidak pakai baju kaos ketat yang bagian dadanya seperti kekurangan bahan alias terbuka ke mana-mana, namun mereka bertiga telah membuat mata dari lelaki pencari cinta menjadi buta. Dan sekali lagi, kendati mereka tidak memakai sepatu aneh yang berpondasi di bawah tumit, tidak menor, tidak berhias berlebih-lebihan dan tidak pula berpenampilan vulgar, tapi sekali lagi, mereka mampu menyita perhatian cowok-cowok di kampus.


“Emo Pink” sebutan geng mereka. Sebenarnya bukanlah geng. Namun perkawanan biasa saja. Tapi karena mereka kompak, bergaya rambut sama, terus memakai kaos, kemeja, dan sweater serba hitam dan pink, sekaligus mengenakan aksesoris seperti gelang pink kadang ungu dan kalung. Mereka persis membentuk sebuah geng beranggotakan tiga spesies gadis keren. Mereka bertiga tak banyak bergaul dengan orang kebanyakan. Sehingga kalau lagi kumpul, ya bertiga saja. Kalau belajar, bertiga. Kalau makan di kantin, bertiga. Kalau asyik ngobrol, bertiga. Kalau jalan-jalan, bertiga. Kalau mau hunting, bertiga. Berfoto-foto, bertiga. Dan banyak lagi aktivitas seru mereka yang mereka jalani dalam bertiga. Bahkan kalau ada salah satu dari mereka yang ingin menghadap dosen pembimbing akademik untuk menanyakan persoalan kuliah, pun bertiga.


“Coba lihat foto cowok ini, Dit. Ganteng yeh? Anton juga cakep, tinggi, anak Olahraga, badannya atletis, Dit.Kemarin-kemarin ketua HMPS minta nomor HP-ku. Lumayan ganteng orangnya. Tapi malas ah. Cupu nian,” beber Devrie.


“Oh ya, nanti kawani aku ke Pasar Enam Belas lagi yeh?” kata Masayu.


Dita terkejut. “Hm, okelah. Tapi memangnya untuk apa kau ke sana, Yu?”


Masayu membalik badannya dan bercerita dengan ringkas.


“Hah? Kok bisa, Yu? Oh, jadi karena itu kau pengen ketemu dengannya. Kau yakin, dia kerja, atau jualan di sana?”


“Yakin. Kenapa sering terbersit bahwa aku mesti ke sana lagi, dan nemui orang itu?”


“Sulitlah, Yu. Apalagi Pasar 16 kan luas. Lagi pula belum tentu dia kerja di pasar.”


Hampir setiap pelosok pasar, deretan toko, ratusan penggelar lapak liar, dari arah masuk melalui Jalan Sudirman, Jalan Kolonel Atmo sampai Sayangan—mereka jelajahi.Sekitar dua jam lamanya mereka berkeliling. Masayu amat tak beruntung. Keinginanya untuk bertemu dengan Raden tak akan pernah tercapai.


***


Siti ialah seorang gadis Palembang tulen. Nenek moyangnya sudah lama bertinggal di Palembang. Begitu juga dengan suaminya, Masagus Setiabudi.Siti sewaktu dulu sering membuat cerpen. Salah satunya adalah cerpen yang berjudul “Raden dan Masayu”. Dan perlu diketahui cerpen tersebut dibuatnya pas beliau masih mengandung. Jika nanti punya anak bujang, maka akan diberi nama Raden, dan kalau yang lahir seorang gadis, beliau memberi nama Masayu. Dan ketika bayinya lahir dan beliau tahu bahwa bayinya itu perempuan, beberapa hari setelah kelahiran beliau langsung memberi nama anaknya Masayu Selly. Tak perlu diragukan lagi. Sampai akhirnya Siti dan suaminya tak bermaksud ingin punya anak lagi.

__ADS_1


Cerpen tersebut bercerita tentang kedua tokoh yang bertinggal di Palembang ketika tempo dulu. Di dalam cerita itu Raden ialah seorang anak dari bangsawan yang kaya raya, cerdas, bijaksana, dan pandai dalam dunia dagang, serta disegani oleh tetangga dan orang-orang yang mengenalnya. Sedangkan Masayu dalam cerita itu adalah seorang gadis yang juga berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya, anak dari seorang saudagar, cerdas, pandai dalam ilmu agama, dan taat beribadah. Dalam cerpen tersebut tak banyak konflik terjadi, tak ada plot cerita yang menggugah selera, sebab tak ada halangan bagi kedua tokoh untuk menikah dan hidup berbahagia.


__ADS_2