Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
30. Hipokrit


__ADS_3

Dengan cepat Rama menolak karena khawatir akan dipergoki oleh Vio dan Kiagus. Mereka terus mencari dan mencari, tapi tetap tidak ketemu. Akhirnya Rama berhenti di sekitar tempat yang banyak menjajakan kerudung. Kata Rama, “Kerudung itu bagus.” Nyayu menjawab, “Iya, tapi warnanya sama seperti kerudung aku sekarang, cuma beda sedikit. Yang itu ada motif bunganya.”


Rama bermaksud membelikan kerudung itu untuk Nyayu.


“Kau kan belum dapat gawaian, Rama.”


“Aku kadang ikut bapak buka took. Jadi aku punya sedikit duit. Tak apalah, ini hadiah untuk kau. Tak baik menolak rezeki.”


Selepas keluar dari sana Rama mengajak Nyayu untuk istirahat sebentar.


“Apa Nyayu bisa nerima penampilan aku seperti ini?”


“Setiap manusia bisa berubah, Raden.”


“Panggil Rama saja.”


“Memangnya kenapa kalau aku panggil kau Raden?”


“Aku dak senang.”


“Ya. Lagi pula, penampilan belum tentu mempengaruhi kepribadian seseorang. Banyak orang berpakaian bagus dan sopan, tapi akhlaknya buruk. Aku dak menilai kau dari cara berpakaian kau, Rama, tapi menilai cara berpikir, sikap dan bicara kau.”


Rama mengecilkan volume suaranya agar hanya Nyayu yang mendengar pembicaraan itu. “Tapi aku ini merokok. Terus, aku kadang suka minum. Aku sering keluar malam. Aku ini kotor. Aku merasa dak pantas kalau berjalan berdua dengan kau.”


“Mana ada orang baik yang ngaku dirinya baik.” Suara Nyayu amatlah pelan, lembut, dan menyentuh hati.


“Aku dak tahu ngapa kau mau berjalan berdua dengan aku, seorang bujang dak benar ini. Aku dak tahu apa alasan kau, Nyayu. Kalau bae kau tahu siapa aku sebenarnya.”


“Ram, aku tahu siapa kau. Cek Molek sering cerita tentang kau. Aku yakin kau berpenampilan seperti ini karena pergaulan. Kalaupun dak, itu cukup sebatas hobi. Dari itu semua dak mempengaruhi mindset dan akhlak kau. Aku yakin kau bakal berubah nanti, Ram, sebab ada saatnya kita ini mikir yang senang-senang saja, tapi yakinlah, besok-besok kita bakal insyaf dan menyadari semua kesalahan kita. Nanti ajari aku ngaji.”


“Hah? Ngaji?”


“Dak sekarang, tapi nanti.”


“Rupanya kau hobi melawak juga.”


“Aku serius.”


“Serius melawaknya?”

__ADS_1


“Hm, kau nih Ram.”


“Tapi, aku….”


Nyayu dengan cepat memotong, “Mana ada orang pintar yang mengaku dirinya pintar. Jangan ngomong kalau kau dak bisa. Nanti omongan itu bisa jadi doa.”


***


Jam empat sore.


Lara di lubuk hatinya tak kunjung padam. Maka Masayu bermaksud menulis sebuah surat.


Memang bintang itu sudah menyinari sisi yang lain, sudah lama. Dan maaf karena kau baru tahu sekarang. Aku tidak ada maksud untuk mempermainkan kau, atau membodohi, atau pun membohongi kau, Rama. Sungguh kalaupun aku bilang sedari dulu bahwa aku sudah punya pacar, tentulah kita tak sedekat ini, tidak bisa seakrab ini, dan aku yakin kita tidak bakal bisa saling bicara, tersenyum, tertawa, bahagia, menangis, dan saling memikirkan.


Sungguh aku minta maaf dari kau. Aku salah, sungguh aku salah, Rama. Maafkan aku. Tidak ada maksud dari aku untuk membuat kau jadi sakit hati. Nianlah, aku tidak ada maksud sedikit pun untuk membuat kau terluka. Bagaimana pun keadaanya, tetaplah aku yakin, bahwa kau adalah bagian dari rangkai hidup aku kelak.


Yang menyesali,


Masayu Selly


Dilipatnya surat itu. Diselipkannya sebuah dasi merah yang sering diperbincangkan Rama tapi tak pernah kesampaian ingin memilikinya. Masayu memesannya langsung dari Bandung melalui kerabatnya yang ada di sana. Sebenarnya dia ingin memberikan dasi itu satu hari sebelum Rama dan kedua kawannya tampil di kontes. Tapi, dirasa sekaranglah dia mesti memberikannya.


“Kawannya Kak Rama? Atau pac….”


“Ayuk kawannya Rama.”


“Dia masih di Dua Enam. Nunggu Ibu pulang. Sebentar lagi balik. Tunggu bae,Yuk.”


Masayu merogoh tasnya dan memberikan sesuatu. “Nanti beri ini ke kakak kau, Dik.”


“Dak galak ketemu dengan dia?”


“Tidak… tidak. Ayuk ada kerjaan lain. Ayuk permisi.”


***


Jam delapan malam.


“Pacarnya Masayu itu, ih, cuih!” Vio meludah. “Sok kejantanan pula. Badannya saja atletis, tapi hatinya helo kiti.Ah, bibirya agak merah, pasti dak merokok. Seperti banci. Aku dak tahu, ngapa bisa Masayu dapat cowok yang mukanya kayak homo seperti itu. Aih, gilo nian! Manusia bebas cacingan itu bisa jadi pacar Masayu, dak logis!”

__ADS_1


Kiagus ikut meludah. “Kalau dibedil badannya, barangkali warna jantungnya merah jambu.”


“Hahahaha. Iya, Gus. Ada rangakaian bunganya juga.”


“Pasti vegetarian dan kalau makan pempekdak hobi ngirup cuko.”


“Jauh dari diabetes.”


“Dak mungkin kena penyakit ginjal karena sungkan minum minuman beralkohol. Terus paham quotes dari Decimus Lunius Luvenalis, mens sana in corpore sano.”


“Paru-parunya sehat walafiat karena dak merokok. Hm, banci bae kadang-kadang merokok.”


“Iya, Vi. Minum air putih setidaknya delapan gelas sehari.”


“Gara-gara manusia sehat itu rumah sakit jadi sepi pengunjung.”


“Iya nian, Jok. Cuih!”


“Banci sispek yang seminggu sekali perawatan muka di salon itu sama seperti taik. Dak mengganggu, tapi menjijikkan.”


“Taik kucing hangat-hangat.”


Meski mereka terus berkoar dan berusaha menenangkan hatinya, Rama tetap terpekur. Lalu dia membuka bungkusan yang tadi diberikan oleh Masayu. Vio memegangnya dan tercengang.


“Maaatiii… giiilooo! Lapang kau, Ram. Lagi marahan saja diberi dasi bagus. Aku dak tahu kalau kau kawin sama dia, Jok.”


Dan bagi Rama, meski sangat butuh dasi merah ini, tapi tak kurang sebuah sampah baginya. Surat dari Masayu yang tadi dibacanya, meski sedikit menyentuh hati karena dia berusaha memberi maaf, baginya hanya sebatas angin lalu. Bergetar sedikit lalu enyah tanpa melekat.


“Buang saja dasi sampah tak berguna ini!” Rama membakar suratnya.


“Woi, Ram, apa-apaan kau ni?!” Vio merampas surat yang sudah separo terbakar, lalu mencoba memadamkan apinya dengan cara mengibas-ngibaskannya.


“Sini!” Rama merebutnya kembali dan menjauh dari Vio dan Kiagus yang mencoba menjegal perbuatannya. Dengan ketus Rama menyulut api kemarahan. Kertas ini menjadi serpihan-serpihan abu. Tercecer-cecer di pelataran Monpera. Rama menginjak-injaknya.


“Pembohong! Hipokrit!”


Rama mengisap rokoknya dalam-dalam. Bergelung-gelung asap itu keluar dari mulut dan hidungnya. Ditenggaknya anggur merah yang nyaris ludes. Tinggal sedikit lagi di botol. Seluruhnya dilibas oleh Rama dengan nafsu. Matanya merah. Napasnya tak beraturan. Tubuhnya mulai gontai karena efek dari alkohol yang menyerang otak dan badannya. Vio segera mengamankan dasi merahnya, karena kalau tidak, Rama pasti bakal membakarnya juga.


Rama mengeluarkan botol anggur merah lagi dari dalam kantong kresek hitam. Dibukanya botol dengan giginya. Ditenggaknya. Dia nyaris termuntah-muntah karena memaksa menghabisi setengah botol. Karena tak tega, Kiagus berjalan menghampiri Rama. Dirampasnya botol itu dari tangan Rama sambil berujar keras, “Jok, mabuk dak akan nyelesaikan masalah, tapi cuma ngilangi masalah. Itu pun cuma sesaat.”

__ADS_1


Suasana di pelataran Monpera remang. Semburat cahaya dari lampu berwarna hijau menerangi sekitar monumen bersejarah dan salah satu tempat wisata di Palembang itu. Di seberangnya suara lantunan yang baik-baik terdengar dari Masjid Agung. Di atas, bintang gemintang mempertontonkan panorama malam yang permai, bak lukisan yang indah, langit biru yang berselimutkan beberapa awan adalah hiasan dari jagat raya. Namun di sini, di pusat kota ini, seorang bujang sedang bermuram durja menghadapi badai nestapa yang sudah mengobrak-abrik rasa percayanya.


__ADS_2