Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
29. Waktu di hari ini


__ADS_3

Jam setengah enam pagi.


Di Jalan A. Yani masih sepi. Dita dan Devrieya sedang menunggu bus yang menuju Muara Enim. Vio dan Kiagus tak mau kelewatan momen ini. Mereka rela bangun pagi-pagi untuk sekadar mengucapkan salam perpisahan sementara waktu. Dita dan Devrieya akan menghabiskan masa liburan semesternya di kampung halaman dan berkumpul sama keluarga sebab sekitar setengah tahun tidak berjumpa dengan sanak-saudara di dusun sana.


Mereka yang sedang duduk-duduk kini mulai beranjak pas bus berhenti di dekat halte. Vio menjinjing tasnya Dita dan Kiagus menjinjing tasnya Devrieya. Barang bawaan mereka tak terlalu banyak. Ada beberapa helai pakaian dan oleh-oleh khas Palembang. Kalau makanan ada pempek dan kalau pakaian ada T-shirt yang bergambar Jembatan Ampera.


“Jangan lupa oleh-olehnya dari dusun,” kata Vio.


Sesaat mereka berbincang di dalam sana.


“Omongi sama Rama. Kami berdua minta maaf. Kami emang salah,” ucap Dita.


“Iya, kami benar-benar minta maaf sama dia,” tambah Devrieya. Mereka berdua jadi meninggalkan masalah sebelum meninggalkan Palembang.


“Ya sudah jangan dipikiri lagi. Biar aku dan Agus yang ngurus itu. Iya, kan, Gus?”


“Pasti.”


“Kasih kabar kalau sudah sampai.”


Ada beberapa penumpang lain yang masuk. Vio dan Kiagus melambaikan tangan.


***


Jam tujuh pagi.


Masayu enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Matanya sayu, bukan hanya karena tidur sampai larut malam, tapi juga karena isak tangis yang terus menderanya tadi malam. Sampai-sampai dia berkantung mata. Ada sedih di hatinya karena telah melukai orang yang dikaguminya.Kagum akan karisma dari seorang maskulin itu. Dia ingin meminta maaf kepada Rama atas apa yang sudah terjadi. Sungguh Masayu tidak ingin semua ini terjadi. Namun apalah daya dia untuk menolak suratan yang mesti ditanggungnya. Kini penyesalan itu datang. Belum lagi urusan orangtuanya yang kepalang tanggung bersedia menerima Rama. Kalaulah dia pendek akal, tentulah goresan kaca atau pisau kini membuat nadinya putus. Tapi Masayu tak sebodoh itu. Rama pernah menasihatinya, sekiranya ada masalah, gunakanlah akal budi dengan sebaik-baiknya walaupun terkadang hati ini hancur berkeping-keping.


Namun, untuk seorang gadis, yang lebih pada merasa dengan hati ketimbang menggunakan akal untuk berpikir, Masayu terus bersedih dalam sedu sedan merasakan sakitnya hati di kala rasa bersalah telah terjadi. Jika boleh memilih, lebih baik dia tidak mengenal Rama sama sekali daripada mesti membuat sakit hati Rama. Dia menuju meja belajarnya. Diambilnya selipan beberapa lembar kertas yang berisi puisi yang pernah dibuatnya untuk Rama beberapa hari lalu. Dibacanya puisi itu. Dibacanya. Terbayanglah wajah Rama. Ingin rasanya Masayu menangis lagi, tapi derai air matanya tak mampu keluar. Kini matanya cuma sanggup berkaca-kaca. Mata yang teduh kini makin mendung saja. Tak ada hujan air mata, hanya hatinya yang bersimbah air rasa bersalah sehingga membuatnya makin pilu. Sebuah ratapan yang sarat akan sesal. Kemudian dibukanya gorden yang menutupi jendela kamarnya. Silau. Sedari semalam tak terkena cahaya, membuat matanya yang merah kini terasa perih. Hari ini cerah, tapi hatinya merana.

__ADS_1


***


Jam delapan pagi.


Bus itu sudah sampai di Prabumulih. Dita dan Devrieya membawa segudang cerita selama berada di Palembang. Dan tentunya tentang perkenalan dan kedekatan mereka dengan bujang Palembang. Tentulah senang keluarga mereka jika mendengar kabar bahagia itu.


***


Jam sebelas siang.


Cek Molek dan Rama sudah tiba di toko pempek di Pasar 26 Ilir. Siang selepas pulang dari kuliah, biasanya dia membantu ibunya berjualan. Rajin shalat, pintar ngaji, dan jarang keluar rumah.


Rama mengingat-ingat omongan Cek Molek.


Di dalam, Khadijah buru-buru memanggili puteri bungsunya yang sedang membaca buku. Terkejutlah Nyayu mendengar kabar dari ibunya, bahwa di luar sudah ada Rama. Ditaruhnya novel islami itu di atas meja. Dilihatnya Rama sedang duduk-duduk mengawasi jalan sekitar. Pas di pintu masuk, Nyayu menyapa Rama. Mendengar itu, Rama menengok ke belakang dan mendapati Nyayu sedang memaku.


“Siang ini ada waktu luang?” tanya Rama.


Rama berdiri dan menatap wajah Nyayu lurus-lurus. “Aku nak beli sesuatu di JM Pasaraya. Mau dak ngawani aku?”


Mendadak Nyayu membalik badannya. Dilihatnya ibunya sedang ngobrol-ngobrol dengan Cek Molek. Di balik itu, dia berusaha mencari jawaban dengan secepatnya.


“Bagaimana? Mau?”


Nyayu membenarkan posisi tegaknya lagi. “Iya. Tapi selepas Zuhur. Nanti aku minta ijin dulu sama Ibu.”


***


Jam setengah satu siang.

__ADS_1


Geliat aktivitas di Pasar 16 Ilir baru saja dimulai. Pengunjung berduyun-duyun menyesaki pasar. Vio tengah duduk malas sambil menyedot es kacang merah. Sementara Kiagus sedang merapikan barang dagangannya. Vio tak bergerak karena perutnya yang buncit sudah membuatnya makin malas. Vio sudah membuat sebuah program diet untuk menormalkan berat badannya dan menyesuaikannya dengan tinggi badannya, tapi nafsu makannya dari hari ke hari tak kunjung padam. Maka ketika di pasar, dia setidaknya dua kali makan, dan anggaran yang dipakai adalah kucuran dari dompetnya Kiagus. Vio, yang pandai mencuci otak orang lain agar orang lain itu menurui apa maunya, tentu tak susah dalam mempengaruhi Kiagus agar kebutuhan karbohidratnya tetap terjaga dan jauh dari dehidrasi selama berdinas di pasar.


Kiagus mengambil cangkir es kacang merahnya. Bagi mereka berdua dan Rama, es kacang merah adalah minuman pelipur haus sekaligus menjadikan orang yang meminumnya benar-benar berada di Palembang. Es kacang merah dalam sudut pandang lain bagi mereka adalah minuman yang merakyat dan sudah turun-temurun dinikmati nenek moyang mereka sejak dulu. Kiagus menghela napas lelah. Sesekali dia meluruskan lengannya agar otot-ototnya tidak tegang.


“Serius tadi Rama katek di rumah, Vi?”


“Iya, dak tahu dia ke mana. Aku telepon, dak diangkat. SMS, dak dibalas. Aku coba telepati, tapi dak nyambung-nyambung.”


“Jadi harus bagaimana, Jok?”


“Nanti malam kita ke rumah dia lagi terus sekalian jalan-jalan. Sekaligus ngomongi tentang kapan kita mulai latihan lagi. Terus persiapan sebelum kontes.”


“Oke.”


“Jadi bagaimana nasib Rama dan Masayu? Rama kan sudah bilang kalau dia sudah nyaman nian. Tahan ikut bapaknya jaga toko, ngumpuli duit untuk beli cincin perak, tapi Masayu seperti itu, menggagalkan semuanya. Maaatiii… gilo nian!”


“Sedih nian aku lihat Rama kemarin.”


“Kita harus hibur dia malam nanti, Jok.”


Tiba-tiba HP Vio bergetar. SMS dari Dita.


“Mereka sudah sampai.”


***


Jam satu siang.


Suasana di sekitar JM Pasaraya tak terlalu semrawut seperti halnya di Pasar 16 Ilir. Kali ini Rama benar-benar menjadi dirinya yang otentik sebab busana punk-nya kini terpampang. Sungguh kontras jika bujang yang tampaknya seperti berandal ini disandingkan dengan gadis islami yang berhijab. Ganjil sekali. Bukan Rama tak peduli dengan nasihat ibunya, namun dia tak ingin menutupi jati dirinya yang sebenarnya.

__ADS_1


Tadi Rama menyuruh Nyayu agar memakai kerudung pink. Dan Nyayu menuruti permintaan Rama. Mereka berdua berkeliling JM, dari lantai satu hingga lantai tiga. Tapi Rama tidak menemukan barang yang dicarinya, yaitu dasi berwarna merah yang ukurannya small, bukan dasi besar yang sering dikenakan anggota DPR. Saran Nyayu, cari saja di Pasar Enam Belas.


****


__ADS_2