
Masayu menengok jam tangannya. Jam delapan lewat. Dia menjemur dirinya pagi ini di teras kos. Kedua gadis di dalam melanjutkan pekerjaan bermalas-malasannya dan rela tidak sarapan karena tak sanggup lagi menahan beratnya mata. Mereka berpesta hingga pagi. Jam empat subuh baru sampai di kos. Masayu pun sebenarnya mengantuk berat. Matanya merah dan badannya masih lesu.
***
Badan Kiagus yang besar dan gempal jadi dianggap kasur oleh Vio. Dan Kiagus yang sudah tak kuasa menatap langit kini tengkurap. Mimpi sudah membuatnya melupakan dunia. Sementara Rama persis tidur menyamping di dekat mereka. Tadi Molek baru saja melintas di ruang depan dan menyaksikan tiga bujang sedang teronggok lemas seperti korban bencana tsunami. Berbaris berangkaian seri.
“Krrroookkk… krrroookkk.”
Dengkuran Vio yang kesekian kalinya membuat Rama terbangun. Sepintas dia melayangkan tangannya ke arah sekenanya dan beruntung baginya sebab tangan itu mendarat tepat di pipi sebelah kirinya Vio. Bukan sadar dan marah karena ditabok, Vio malah tambah asyik mendengkur. Lantas Rama terbangun dan ingin menamparnya lagi, namun sebuah bersitan hinggap di pikirannya.
“Astaga!”
Rama mengucek-ngucek matanya dan berusaha mengumpulkan nyawanya. Begitu pikirannya lumayan segar, barulah dia benar-benar sadar, bahwa sekarang mesti ke Silaberanti. Dengan sempoyongan dan agaknya terhuyung-huyung seperti orang mabuk dia berjalan menuju kamar mandi. Dilihatnya jam dinding di ruang tengah, jam sembilan! Dia membuka pintu dan langsung melompat tanpa memedulikan anak-anak tangga. Kedua kakinya tertancap di tanah, lalu berlari kencang mendekati sepeda motornya. Dia melesat….
Rama merasa aman dan terhindar dari kemacetan karena jalanan sedang sepi. Belumlah sepeda motornya berhenti, dilihatnya Masayu sedang duduk manis dengan memampang wajah pahit.
“Maaf, Yu, tadi aku kesiangan.”
Di OPI, Masayu memberikan arahan. Katanya, rumahnya di Jalan Kutilang. Tepat di depan rumah mewah bertingkat dua. “Masuki saja motornya,” kata Masayu setelah turun dari motor. Dia membuka pagar rumahnya. Sekilas Rama memperhatikan sekitar, pepohonan dan rerumputan tampak rindang, sejuk. Tapi isi kepalanya tak sesejuk pemandangan yang dilihatnya sekarang. Bagaimana nanti dia bilang kepada papanya Masayu soal dia adalah pacarnya Masayu? Peninglah kepalanya.
Masayu memencet bel. Rama mendekat kepadanya. Pintu membuka. Seorang pria berbadan tegap dan wajahnya agak mirip dengan Masayu muncul dari balik pintu. Masayu mengucapkan salam kepada papanya. Dia masuk dan segera mandi. Sementara Rama masih berdiri memaku di beranda rumah. Masagus Setiabudi menjawab salam dan menyuruh Ramasegera masuk. Rama mengerling. Ada lukisan-lukisan sungai. Terus ada foto seorang gadis kecil berpakaian polisi. Masayu waktu masih TK rupanya imut dan menggemaskan.
“Raden, kan? Duduk.”
Rama nyaman duduk di sofa. Tapi berulang kali dia menata duduknya sebab sofa yang empuk ini tenggelam terlalu dalam. Barangkali dia biasa duduk di kursi kayu atau plastik sehingga dia agak merasa aneh sekarang. AC di atas kepalanya membuatnya sedikit kedinginan.
“Pulang di mana, Raden?” Wajah Masagus Setiabudi tampak terlihat dingin dan senyum di bibirnya membuat suasana hati Rama jadi terasa hangat.
“Di Sekanak, Om.”
“Di sana kampung Palembang. Banyak orang Palembang asli yang tinggal di sana. Oh ya. Kau mau minum apa?”
“Tidak usah repot-repot, Om.”
“Jangan sungkan-sungkanlah kalau main di rumah Masayu. Kopi?”
Kopi? Siapa yang tidak mau?
“Air putih sajalah, Om.” Kedua dengkulnya makin rapat saja.
“Tunggu sebentar.” Masagus Setiabudi beranjak meninggalkan ruang tamu dan menghampiri istrinya di dapur.
“Hah? Kok Masayu dak ngomong-ngomong kalau punya pacar orang Palembang, Pa?”
__ADS_1
“Itulah. Kalau Mama mau lihat dia. Ganteng, Ma. Tinggi, putih, dan kelihatannya anak baik-baik.” Masagus Setiabudi menilai itu karena pakaian Rama sekarang persis seperti orang kantoran.
Rama tahan meminjam celana dasar hitam dan baju batik bapaknya agar dia dinilai baik oleh keluarga Masayu. Sungguh, tadi pas masih di rumah dan sebelum pergi, Rama malu melihat dirinya sendiri. Sejauh ini Rama merasa situasi dan kondisi aman terkendali meskipun pembicaraan inti belum dimulai. Siti menaruh nampan yang di atasnya ada dua gelas air putih di atas meja. Rama sigap menyalami perempuan berkerudung itu. Wajahnya juga agak mirip dengan Masayu. Rupanya wajah Masayu adalah kolaborasi dari wajah kedua orangtuanya.
“Pacarnya Masayu mirip Junot. He-he-he.”
“Tante ni bisa nian.”
“Jangan panggil Tante. Panggil Cek Siti saja. Biar kena Palembang-nya.” Siti lebih menekan kata “Palembang”. Siti duduk di samping suaminya. “Sudah berapa lama pacaran?”
Daripada bohong meski manis, lebih baik jujur meski pahit. Jika jujur bahwa bukan pacarnya Masayu, berarti dia bohong, sebab semalam sudah bilang bahwa dia adalah pacarnya Masayu. Makin rumit, makin sesaklah kepalanya.
“Dari SMA?”
Waktu semakin terasa lama dan ruang semakin menyempit. Dia sedang berada dalam situasi yang paling menyulitkan seumur hidupnya. Ini lebih dari sebuah dilema, lebih dari makan buah simalakama. Bagaimana pun dia harus lepas dari situasi yang riskan ini. Apa pun akan diterimanya.
“Sebenarnya… saya… bukan pacarnya Masayu.”
Masagus Setiabudi terkejut. “Aih, kenapa malu-malu, Raden?”
“Saya cuma kawannya Masayu, Om. Nianlah.”
“Kenapa ngomong seperti itu, Raden?” tanya Siti.
“Belum jadian?”
Memang benar, belum jadian.
“Ya sudah, kamu berdua saling mengenal dulu pokoknya.”
Masagus Setiabudi menatap Rama lurus-lurus. Dan Rama melihat pandangan serius dari beliau.
“Ngomong-ngomong, Raden kuliah di mana?”
Oh, mengapa nanya soal itu?
“Ss… saya tidak kuliah, Om.”
Dari situ, keluarga Masayu mulai ragu.
***
Di sekitar pekarangan rumahnya Rama tengah membereskan bekas-bekas jagung dan tusuk-tusuk sate. Semalam mereka asyik bakar-bakaran. Karung yang berisi sampah dimasukkannya di kotak sampah di pinggir jalan. Dia masuk ke dalam rumahnya dan melihat Vio dan Kiagus masih saja ngorok. Sekarang posisi mereka berdua tidak lagi bertindihan, tapi menyamping. Wajah mereka tidak saling bertemu seperti dua suami-istri yang sedang jatuh talak. Rama sadar bahwa sekarang dia mesti mengganti kostumnya sekarang ini, sebab bila tidak, tentulah Vio dan Kiagus bakal tergelak menertawakannya. Masuklah dia ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Sembari melepas pakaiannya, terlintas di benaknya omongan papanya Masayu tadi:
Aku dulu juga sama seperti kau, Raden. Hidup susah. Tidak kuliah. Cuma berdagang di pasar. Orangtua aku, Oom ini, juga susah, tidak mampu memberikan dana kuliah untuk aku. Setahun jeda, di tahun berikutnya aku mulai kuliah dengan biaya sendiri sekaligus untuk membuktikan pada orangtua dari calon istri aku bahwa aku mampu, bahwa aku bisa. Jujur, kalau bukan karena dorongan dan doa dari istri, Oom tidak bisa sampai seperti sekarang ini. Yang kaya istri, bukan aku, Raden. Sekarang, yang penting jujur. Kalau kau serius dengan Masayu, jangan malu-malu seperti ini. Kami jadi bingung. Dan Cek Siti setuju nian dengan kau. Nianlah. Dia mengidam-idamkan Masayu berjodoh dengan orang Palembang.
***
“Jadi Raden Rama itu bukan pacar kau, Nak?”
“Cuma kawan, Pa. Maaf sudah bohong.”
Cek Siti berujar, “Ayu satu-satunya penerus di keluarga ini. Jadi jangan kecewai Papa dan Mama yah, Nak. Mama harap kau berjodoh dengan orang Palembang. Seperti Raden Rama itu. Dan Mama yakin dia orang baik-baik. Nantilah, bahas yang lebih jauh, sekarang kau fokus kuliah dulu, Nak.”
“Pa, Ma, malam ini Ayu minta ijin, mau jalan sama Rama. Terus Ayu nginap di kos Dita dan Devrie.”
Tak sedikit pun kedua orangtuanya menolak.
***
Rama melirik tangan yang sedari tadi melilit badannya. Meski di jalan sekarang ini amatlah dingin, rasanya hangat sekali pelukan dari Masayu.“Kau sudah pernah ke Center Stage?” tanya Rama sambil sedikit menoleh ke samping kiri. Kepalanya makin dekat dengan kepala Masayu yang tengah bersandar di pundaknya.
“Belum. Cuma tahu dari kawan. Terus searching di internet.”
Setelah melewati Palembang Trade Center, Jupiters MX hitam itu masuk ke Novotel. Eksterior dari hotel mewah ini seperti benteng pertahanan masa kerajaan. Terlihat kokoh dan tak banyak tampak motif rupa apa pun. Di sana Rama cuma melongok karena dia tak paham dengan tempat seperti itu. Terang saja Masayu yang memesan tiket dan yang membayarnya juga tentunya. Setelah itu Masayu dengan cepat menarik tangan Rama. Gadis yang berbusana ala pink dan bujang yang berbusana ala punk kini menikmati malam diiringi dentuman musik dalam gemerlap sebuah tempat hiburan bagi kaula muda.
Rama terpana melihat orang-orang yang sedang berjoget dan berdansa. Gerak tubuh baik laki-laki maupun perempuan di sini seirama dengan alunan musik yang disetel dan dimainkan oleh DJ. Tak ada orang yang bersedih di sini. Semuanya senang. Pancaran sinar lampu di tengah keremangan ruang membuat mata jadi silau. Kerlap-kerlip cahayanya berwarna-warna.Dentuman musik disko membuat pesta clubbing tambah semarak. Masayu duduk tepat di samping Rama. Tak sengaja Rama mendekap tubuh Masayu. Terasa oleh Rama gelang Masayu. Sesaat Rama menciumi rambut Masayu.
“Kita having fun malam ini, Ram.”
“Happy-happy.”
Rama meminum segelas wine. Terus, sampai kepala bujang itu makin berat. “Khhh… kau… jangan minum, Yu.”
Rama mengembuskan asap rokoknya. Masayu melihat jam tangannya. Sudah jam satu pagi. Tak terasa. Saat ini Rama yang mulai tersandar di pundak Masayu karena badannya mulai gontai. Masayu mengajaknya untuk gabung dengan orang-orang yang sedang bergoyang.
Rama menatap wajah Masayu lurus-lurus. Entah, lantaran pengaruh alkohol, atau perasaan dari hatinya, dia berbisik ke kuping Masayu, “I love you My Special One. I love you, Philo.”
Pas mengantar Masayu ke kos Dita dan Devrieya, tepat jam tiga pagi, Rama duduk terkapar di kursi yang ada di beranda kos. Di sekeliling tak ada orang satu pun. Ada suara jangkrik yang memecah hening. Dan ******* napas mereka yang mulai bentrok.
“Kau senang malam tadi, Yu?”
Mendadak Rama memegang leher Masayu dan dengan perlahan mendekatkan bibirnya pada bibir Masayu. Tapi Masayu mengelak.
“Kau tadi minum, Ram. Terus deras nian kau merokok.”
__ADS_1