
Karena malu sudah lama menganggur dan sadar akan nasihat-nasihat ibu-bapaknya, Rama akhirnya memutuskan untuk mencari kerja sendiri, dia datang ke Pasar 26 Ilir. Di pasar yang tak jauh dari kompleks rusun itu Rama berulang kali mendatangi beberapa los dan kios. Semuanya tak membutuhkan karyawan. Ada lapak yang menjajakan ikan, persis yang dulu pernah ditawarkan oleh ibunya, namun dia tidak mau. Di siang yang bedengkang ini Rama terus berjelajah. Dan akhirnya pemilik sebuah toko manisan sedang membutuhkan pegawai. “Dua puluh ribu sehari, makan diberi, mau?”
Meski perawakan Mang Cik Mamat agak antagonis, tapi hatinya putih. Perutnya buncit karena banyak makan.
“Besok kau datang pagi, jam enam.”
Hah? Giiilooo… alangkah paginya.
“Tapi siang ini kau mulai begawai, Dik. Soalnya ada barang masuk.”
Sesaat Rama duduk-duduk dan merokok. Dan dia terkesiap saat melihat mobil pick-up mendekat ke toko.
“Kauangkuti ke dalam, Dik!”
Belasan kardus yang berisi makanan instan dan minuman dibawanya, dipikulnya, ditentengnya, lalu disusunnya ke dalam toko.
“Sekarang kauhitungi barang-barang itu, terus catat. Terus kauladeni pembeli yang datang.”
Dia merangkap segala jenis pekerjaan di sini, kecuali satu, yaitu jadi juragan yang kerjanya cuma memberikan arahan. Sesekali dia bertanya pada Mang Cik Mamat soal harga barang yang diperdagangkan. Di sini Rama diajarkan cara melayani pelanggan dengan baik. Kata Mang Cik Mamat, harus ada 2 S: Senyum dan Sapa.
Sore harinya, semua terbayarkan sudah. Dia menerima upah yang tak seberapa. Upah dari setengah hari bekerja. Rama pulang dengan berjalan kaki. Dan sebelum melewati gerbang pasar, tepat di depan toko pempek punya Cek Khadijah, Rama berhenti sebentar. Dia bermaksud ingin pulang bareng dengan ibunya. Dan rasa lelahnya tambah terbayar pas melihat Nyayu yang sedang duduk manis di dalam toko. Rama mendekat ke sana.
“Rama, mampir dulu. Tadi Cek Molek baru saja balik.”
“Sudah hampir Maghrib, Yu. Aku balik saja. Besok-besok mampirnya.”
“Ya sudah. Hati-hati, Ram.”
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Setelah menyeberang jalan, Rama berhenti di dekat gerobak jualan roti bakar. Rama tahu kalau adiknya suka cokelat, tapi duit di sakunya cuma ada sepuluh ribu. Roti bakar rasa cokelat harganya dua belas ribu.
“Rasa nanas saja, Kak.”
Rama sampai di rumahnya.
“Dari mana kau, Nak? Dari pagi tadi kau keluar.”
Rama membuka sepatunya. “Rama… begawai, Pak. Di Pasar Dua Enam.”
Beliau tak perlu menanya ulang karena sudah percaya pada anaknya. Rama duduk di dekat bapaknya. Dia menceritakan pengalaman kerjanya di hari pertama ini. Beliau mengusap kepala Rama dengan tulus. “Mandi sana, Nak, terus shalat.”
Rama mengetuk pintu kamar Ayu. “Dik, Kakak ada sesuatu buat kau nah.”
“Apa, kakak aku yang ganteng?” Dengan sigap Ayu membuka pintu.
“Roti bakar.”
“Wah, pasti duit yang diberi bapak.”
“Itu upah Kakak hari ini, adik aku yang manis.”
Esok harinya Rama bangun pagi-pagi. Setelah shalat Subuh, dia siap-siap kembali bekerja. Raden Muhammad terkejut melihat anaknya sedang santai sambil menyeruput kopi hitam. Raden Muhammad tersenyum. Baru jam setengah enam.
Dihirupnya udara pagi yang fresh dan siap menyambut hari ini dengan semangat. Mang Cik Mamat baru saja membuka tokonya.
“Mang Cik, maaf nian, aku terlambat.”
“Kau dak terlambat, Dik. Ayo sini bantu Mang Cik.”
Setelah membuka toko dan menyiapkan barang dagangannya, Rama membersihkan sekitar areal toko. Dibuangnya sampah ke dalam tong sampah yang tak jauh dari toko.
Aktivitas di pasar mulai mengendur. Tapi tidak, mendadak suasana hatinya menjadi bergemuruh. Dari kejauhan Rama melihat ada seorang gadis cakep berkerudung.
“Nyayu…,” desisnya tak percaya. Dengan cepat Rama memperbaiki tatanan rambutnya yang tadi urak-urakan dan dilapnya keringat dan minyak di wajahnya. Dan, Nyayu berhenti tepat di depan toko manisan itu.
__ADS_1
“Beli sagu dua kilo.”
Rama mengeluarkan batuk jaim sesaat. “Sagu saja, dak sekalian orangnya? He-he.”
“Kau ni, Ram.”
“Jauh nian beli di sini. Jangan-jangan, karena pengen ketemu aku yeh?”
“Ge-er.”
Rama menimbang sagu. “Sagunya dua kilo… hm… cintanya… dua ton.”
“Raaamaaa….”
“Memangnya di surga dak ada warung?”
“Hm?”
Rama memperhatikan badan Nyayu. “Rupanya bidadari dak bersayap. Aku kira bersayap.”
“Aih, kau ni, Ram.”
“Aku baru tahu kalau ada bus TransMusi jurusan Kahyangan-Palembang.”
Nyayu tak berkutik.
“Rupanya… bidadari itu lebih elok dari yang aku bayangkan.”
Nyayu kian bergeming.
“Nyayu jual pempek juga di kahyangan sana?”
Nyayu masih menunduk. Tapi diam-diam dia melirik kaki kanan Rama yang sedari tadi tumitnya menghentak-hentak. Semacam style seorang penggombal pasar yang lihai mengumbar buaian.
“Tak disangka nian hari ini bisa ketemu bidadari molek. Pakai kerudung lagi. Oh, terpesona nian aku.” Rama memberikan kantong dan Nyayu membayarnya. “Besok-besok ke sini lagi yeh.”
“Wa’alaikumussalam. Nanti aku main ke kahyangan.”
Pikirannya terbagi dua, antara kuliah dan kerja.
Dia membayangkan ada Socrates di hadapannya sekarang dan berkata padanya, “Bekerjalah dulu, baru berharap.”
Setelah itu seolah ada Plato yang sedang jongkok tepat di depan biji matanya sambil berujar, “Orang bergembira harus menyukai kelelahan akibat bekerja.”
Setelah kedua filsuf tadi berlalu, muncullah Aristoteles sambil menyedot es kacang merah, kemudian menasihatinya dengan bijak, “Kesenangan di pekerjaan menempatkan kesempurnaan dalam pekerjaan.”
Lengkap sudah. Maka Rama mengambil hikmah untuk dirinya agar menjadi lebih baik. Citius, Altius, Fortius—lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat. Mendadak perkataan yang pernah dilontarkan oleh orang nomor satu di Republik ini yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Gubernur DKI kini berkelebat di pikirannya.
Kerja… kerja… kerja!
***
Rama segera kembali ke 26 Ilir karena tadi Nyayu mengajaknya untuk shalat Maghrib di langgar yang ada di sana. Dengan tetap memakai setelan punk, dia berpamitan kepada ibu dan bapaknya. Saat di jalan, adzan Maghrib pun berkumandang. Dia menambah kecepatan jalannya. Setelah mengambil wudhu, dia segera masuk ke dalam langgar. Jamaah yang ada di sana merasa aneh dengan penampilan Rama. Mereka kira Rama adalah seorang berandal yang baru bertobat, atau preman insyaf, atau pun anak punk yang baru dapat ilham, bahkan parahnya mereka menduga Rama adalah orang stres. Mereka menilai semua itu dari cara berpakaiannya yang terlihat tidak pantas untuk shalat.
Rama melipat ujung celananya yang sempit sehingga mata kakinya tertampak.
“Jok, habis kebanjiran?” celetuk seorang laki-laki bersarung biru.
“Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka.”
Seorang laki-laki lain yang memakai baju koko warna putih dengan cengengesan mengejek, “Omongan bapak kau, Jok?”
“Itu omongan Nabi. Riwayat Bukhari. Itu hadits shahih.”
Laki-laki yang bersarung biru tadi kembali menceletuk dengan berbisik, “Anak punk bisa juga ceramah.”
Iqamah dikumadangkan. Rama shalat di shaf depan. Tak jauh dari belakang imam. Dia berusaha untuk khusyuk selama beribadah. Setelah shalat, dia berzikir sendiri dengan melirihkan bacaannya. Sementara jamaah lain berdzikir bersama dan mengeraskan suara.
__ADS_1
Rama keluar dari langgar. Dilihatnya Nyayu sedang menunggunya.
“Di rumah aku saja belajar ngajinya.”
Mereka berdua berjalan di Jalan Mujahiddin. Sinar kekuningan dari lampu jalan membuat bayangan mereka jadi tampak di aspal.
“Ngapa orang-orang itu kalau shalat, berzikir, dan berdoa suka mengeraskan suara, bahkan nyaris seperti berteriak? Padahal kan Tuhan kita Maha Mendengar, Maha Tahu, dan Tuhan kita dekat. Jadi kita dak usah mengeraskan suara. Tuhan kita dak tuli. Aku harap Allah memberikan hidayah kepada kita semua.”
“Amiiin,” balas Nyayu.
Nyayu menggelar tikar dan mempersilakan Rama untuk duduk. Rama memperhatikan sekeliling. Ada kaligrafi tulisan Arab, dan tak ada satu pun foto atau gambar makhluk yang bernyawa, baik itu manusia atau hewan. Dari sini Rama tahu bahwa Nyayu paham akan nilai-nilai agama, sebab malaikat tidak mau masuk ke dalam rumah yang di dindingnya ada foto atau gambar semacam itu, kecuali kalaupun ada, gambar dari kepala makhluk itu harus ditiadakan.
Nyayu yang juga ditemani oleh kawan kuliahnya duduk seperti duduk saat tahiyat akhir. Agak jauh dari Rama. Dia memberikan kitab suci itu kepada Rama.
“Kita tadarusan saja, Yu. Tak enaklah kalau ada di antara kita yang saling ngajari. Lagi pula dak mungkin akungajari anak kuliahan seperti kau.”
“Tapi perhatikan cara aku membaca, Ram. Kalau ada yang salah panjang pendeknya, nasihati aku.”
Rama mengangguk. “Kau dulu yang baca.”
“Kau dulu saja.”
“Ah, aku jadi dak enak, Yu.”
“Dak apa-apa, Ram. Kau duluan saja membaca.”
Rama membuka Al-Quran dengan pelan dan mengucapkan ta’awudz. Setelah membaca basmallah, Rama membaca Surah Muhammad. Dan Nyayu menyimak dengan khidmat setiap bacaan yang lembut itu. Maka Nyayu kian hanyut dalam untaian firman Allah dan jiwanya makin tergetar sampai Rama menyelesaikan satu surah penuh.
“Benar apa kata ibu kau, Ram.”
“Kalau pujian itu bisa membuat aku tambah rajin ibadah, tak apalah, tapi kalau membuat aku jadi riya’, janganlah kau ngomong seperti itu, Yu.”
“Maafi aku.”
“Tak apalah. Sekarang giliran kau, Yu.”
“Kau saja yang ngaji lagi. Aku malu, Rama.Suara aku jelek. Aku belum bisa nian ngaji.”
“Mana ada orang pintar yang mengaku dirinya pintar. Jangan ngomong kalau kau dak bisa. Nanti omongan itu bisa jadi doa.”
“Ra… maaa.”
Karena terus disuruh Rama, akhirnya Nyayu membuka Al-Quran itu dan membaca Surah Muhammad juga. Tapi Nyayu cuma membaca sampai lima ayat.
“Ngapa berhenti?”
“Aku malu, Ram. Kau sajalah yang baca.”
Hingga adzan Isya berkumandang, barulah Rama menyetop bacaannya.
***
Kalau siang, misal Nyayu tidak berkunjung untuk membeli sesuatu di toko tempat dia bekerja, pastilah Rama berjalan-jalan di sekitar Pasar 26 Ilir sekadar melihat dan ngobrol-ngobrol dengan Nyayu. Suatu siang, sepulang dari kuliah, Nyayu membawakan es teh manis untuk Rama. Kala senja tiba sering mereka berbincang-bincang di Taman Jeramba Karang sambil memandangi kendaraan yang berlalu-lalang. Bosan di sana, mereka berjalan kaki di atas trotoar Jalan Merdeka, menikmati akhir senja sambil memandangi Sungai Sekanak.
“Aku beri saran kepada Mang Cik Mamat agar memperbaiki gerobaknya yang sudah bau tanah. Atau sebaiknya ganti yang baru. Karena sulit nian pas mendorongnya.”
“Aku kadang kesal dengan dosen yang jarang masuk. Padahal kan, sudah susah-susah berangkat kuliah, jauh-jauh, tapi katek hasil yang didapat.”
Rama pun menceritakan bahwa dia punya dua kawan akrab, yang sama-sama punya mimpi punya band punk terkenal. Nyayu dengan senang hati mendengarkan walaupun dia tak sedikit pun paham soal musik punk. Nyayu menceritakan soal kejiwaan seseorang yang dipengaruhi oleh genre musik yang disenangi.
“Kau ni berarti orangnya keras.”
“Orang keras yang puitis.”
Nyayu tertawa. “Rama, kalau kau tahu masa depan, apa kau akan mengubahnya?”
“Semua sudah tertulis. Kalau Tuhan menakdirkan dari awal sampai akhir, itu kehendak-Nya. Dan kalau pun Tuhan menyuruh kita untuk memilih, itu juga kuasa dan kehendak-Nya.”
__ADS_1