
Kesal nian Rama pada Vio sebab sedari tadi dia menelepon tapi tak sekalipun diangkat. Rama menelepon Kiagus dan katanya Vio tak ada di pasar.Sepeda motor Rama berhenti di sekitar halaman rumah Vio dan dia melihat si Karbon sedang teronggok. Otomatis Vio ada di rumah.
TOK! TOK! TOK!
“Assalamualaikum.”
TOK! TOK! TOK!
Tak ada jawaban.
“Vio Karbonat!” Rama mengetuk pintu lagi, bahkan sampai menggedor-gedor.
Sepuluh menit berlalu. Akhirnya ada sahutan dari dalam rumah. Pintu membuka. Vio nongol sambil bergumam-gumam tidak jelas. Wajahnya muram sekali. Setelah disuruh masuk, Rama beringsut masuk ke dalam. Dia melihat jam dinding. Jarum panjangnya berhenti tepat pada angka dua, begitu juga dengan jarum pendeknya.
“Jam seperti sekarang ini baru bangun?” Rama terperangah. Alisnya naik setengah senti. Ada tiga kerutan di keningnya.
Vio menguap dan bergumam-gumam lagi, lalu ke kamar mandi. Rama tidur-tiduran di kamar Vio. Bungkusan yang diberikan oleh Masayu sedang dipegangnya. Vio, yang baru saja segar habis membasuh mukanya yang kusut, terkejut melihat kawannya satu itu tampak rapi, memakai ransel, dan tadi menenteng bungkusan.
“Dari mana kau, Jok?”
“Dari kampusnya Masayu.”
“Bungkus apa itu? Untuk aku yeh?”
“Aih. Ngomong kotor kau. Tadi Masayu yang beri ini untuk aku. Buka ah.”
“Sini aku saja yang buka. Hebat nian kau, Ram, dapat hadiah dari cewek. Anak kuliahan pula.”
Vio merampas bungkusan itu dari tangan Rama dan membukanya. Dia menyobek kertas kadonya dan mendapati sesuatu di dalamnya.
“Celana jins hitam. Dasar karet. Lepis. Wah, menang banyak kau, Jok.”
Rama melihat merek Levi’s tertera di sekitar saku belakang sebelah kanan dari celana itu.
“Pasti mahal, Ram. Bagus nih buat nge-punk.”
“Nanti ke tukang jahit dulu nak kecili ukuran bawahnya.”
“Pasti. Perasaan, ulang tahun kau sudah lewat, Jok.”
“Memang.”
“Tembaklah!”
“Pakai apa, Jok?”
“Senapan angin untuk membunuh tikus got. Bodoh nian kau nih. Maksud aku, kauungkapkan cinta pada dia. Kau cinta kan sama dia?”
“Malu, Jok. Dia kuliah, aku idak. Pasti dia anak orang kaya.”
“Bagus kalau dia kaya. Memperbaiki keturunan, Ram. Kata orang, jodoh kita itu biasanya mirip dengan kita. Nah, muka kau itu mirip sama Masayu, nian.Kalau rambut kau panjang lagi, atau lebih bagus kalau kaupakai jilbab, kau bakal jadi bujang cantik, Jok.”
“Gilo nian kau ni.”
“Tembaklah! Belum pacaran saja sudah diberi celana Lepis. Apalagi pacaran nanti. Bisa-bisa kau diberi motor Kawasaki Ninja. Bertunangan, diberi mobil. Nikah, diberi rumah. Aih, lemak nian.”
__ADS_1
“Sudahlah. Bisa gilo aku gara-gara sampah yang keluar dari mulut kau ini.”
Vio pergi ke dapur dan mengambil makanan, lalu kembali lagi ke kamarnya. Ada nasi, dua ekor nila goreng, satu mangkok sayur asam, sambal goreng terasi, dan kerupuk kemplang. Pas nian, pikir Rama, dia lagi lapar sebab belum makan siang. Mereka berdua makan dengan lahap. Dan yang paling semangat makan ialah Vio. Dengan kebijakan kuliner yang telah ditetapkannya secara independen, apalagi ini adalah rumahnya sehingga dia mempunyai otoritas, maka dia berhak untuk bersantap ria sekehendak hatinya saja. Mau tidak mau Rama yang menjadi tamu cuma makan ala kadarnya.
Rama terperanjat tatkala melihat Vio makan dengan ganas. Seolah kawannya itu sudah tidak makan dua hari. Dan Rama makin tak percaya sebab Vio menambah sepiring nasi lagi, sementara nasi di piring Rama baru setengah yang lenyap. Vio mengamuk dan menumpahkan kuah sayur asam ke piringnya sampai-sampai ikan nila goreng itu berenang-renang di dalam piring. Seharusnya Vio makan dengan mangkok, bukan piring. Dengan rakus Vio menciduk sambal goreng terasi dan mencemplungkannya ke piring.
Maka seperti ada gunung nasi yang sedang meletus, mengeluarkan material vulkanik berupa sambal goreng terasi, dan menyemburkan lahar dingin berupa kuah sayur asam. Kerupuk kemplang itu terus log in ke dalam mulutnya yang sedari tadi menganga. Sendok, tak berguna bagi Vio, karena tangan kanannya sudah tak mampu dikontrol lagi. Sampai-sampai dia berkeringat. Dia meneguk air putih dengan kesetanan karena mulutnya yang monyong kepedasan. Mereka berdua serempak berhenti makan, padahal Vio sudah habis dua piring nasi, satu setengah ekor nila goreng, tiga per empat mangkok sayur asam, tiga sendok sambal goreng terasi, dan lima kerupuk kemplang yang krenyes-krenyes.
“Tadi pagi kau dak sarapan?” Rama menggaruk jidat.
“Sarapan. Mi dua bungkus telornya dua.”
“Gilo!”
“Itu baru ngemil. Sarapan sesungguhnya jam sepuluh pagi tadi. Nasi padang.”
“Nian?”
“Badan boleh kurus, tapi mesti hobi makan. Aku banyak peliharaan di perut aku ni. Tadi baru saja beri makan dinosaurus. Terus ada peternakan hewan yang hobi makan lainnya.”
“Kau mau mati kekenyangan, hah?!”
“Aku mau bae makan puas sampai tolol.” Vio menjilat-jilati jari-jarinya dari ibu jari hingga kelingking. “Minggir. Aku mau beres-beres dulu. Habis itu mau tidur siang.”
“Parah! Tadi kau bbb… bar….”
“Apa?”
“Kau tadi baru bangun, Idiot. Mau jadi koala lagi?”
Sehabis dari dapur, Vio melompat ke kasur.
***
Hingga sampai di halaman belasan. “Cinta pada Pandang Pertama” atau “Geliat Mata yang Menusuk Hati” atau “Hujan nan Mesra” atau “Pelukan Pertama” atau “Di Kala Rindu”. Dan masih banyak puisi lagi.
Aku merasa nyaman dengan hadirnya
Saat merasakan dia ada, aku bahagia
Saat dia jauh, tak tertahankan godaan rindu
Cukup berdua saja, aku dan dia, saling mencinta
Saling mengasih, di atas satu kursi cinta
Pikirannya langsung melayang dan kentaralah tentang semuanya. Terus Rama membuka lembaran demi lembaran buku puisi itu. Ada puisi lagi.
Aku cinta mati
Aku cinta mati
Aku cinta mati
Sama dia
__ADS_1
Sampai kapan pun dan apa pun yang terjadi
Aku tetap cinta mati
Sama dia
***
“Ngisi berapa, Gus?” tanya Sofyan.
“Full!”
“Memangnya bensin apa, Jok?!”
Kiagus mencatat nomor HP-nya.
“Sepuluh saja, Yan. Dak usah banyak-banyak, nanti operator untung banyak pula. Kadang aneh yeh, pulsa yang kita pakai terus habis, itu hilangnya ke mana, Yan? Sama seperti bensin, dipakai, habis, diisi, dipakai, habis, hilang entah ke mana. Kau tahu, dak?”
“Tanya sama Rama saja, Gus. Haha.”
Dilewatinya jalan-jalan di Tangga Buntung. Kampung ini juga berada persis di dekat Sungai Musi. Berada di arah barat dari Sekanak. Dia sampai di rumah panggungnya. Rumah yang dinding dan lantainya dari papan kayu, besar dan panjang. Isi di dalamnya lumayan banyak. Salah satunya ada lemari yang berukiran khas Palembang berwarna kuning emas yang berkilau. Terdengar suara sayup-sayup TV yang berada di ruang tengah. Bapaknya menonton sebuah acara berita politik di salah satu saluran TV swasta. Suara itu makin hilang pas Kiagus sudah masuk ke kamarnya. Diambilnya HP dari kantung celananya. Layar HP-nya lalu menampilkan bekas panggilan keluar. Ada nama Devrieya di sana.
“Halo, Dev?”
“Ya, halo. Sampai di mana tadi, Gus?”
“Mancing.”
“Oh iya. Kau, terus Rama dan Vio, hobi mancing yeh? Biasa mancing di mana?”
“Dekat rumah aku. Kadang di sekitar Sekanak, dekat rumah Rama. Pernah juga mancing di pinggiran BKB.”
“Biasa mancing apa?”
“Ikan, kadang juga udang.”
“Kalau ikan duyung?”
“Sudah sering kalau itu. Juga pernah mancing antu banyu!”
Antu banyu adalah istilah lain dari hantu air, sesosok jelmaan hantu yang bertubuh kecil dan rambutnya panjang, suka menyedot isi otak manusia. Antu banyu menjadi populer di kawasan kota karena sering terjadi peristiwa ditemukannya manusia yang mati di Sungai Musi dan terlihat bekas sobekan di bagian kepala. Orang-orang pasti bakal men-judge bahwa orang itu tewas dibunuh oleh hantu yang pandai berenang itu.
“Wong Palembang nian kau nih, Gus. Besok ke pasar lagi?”
“Iya, jualan seperti biasa.”
“Ngomong-ngomong, sekarang lagi apa?’
“Lagi tiduran.”
“Di mana?”
“Di tengah jalan.”
“Biasanya di tengah sungai tidur-tidurannya, Gus. Kok sekarang idak?”
__ADS_1
“Bosen di sungai. Coba di jalan raya, sekali-sekali.”
“Ada-ada saja kau nih.”