
Dan hari itu pun tiba. Pelataran Benteng Kuto Besak disesaki oleh para penonton yang ingin menyaksikan calon-calon band indie yang sebentar lagi unjuk aksi. Pagi menjelang siang, mereka sudah tiba di sana, berkumpul bersama peserta-peserta yang lain. Pas mendaftar beberapa hari yang lalu band mereka mendapat nomor urut tiga puluh enam, mungkin sekitar sore nanti mereka baru unjuk gigi di atas pentas.
“Yang penting kita jangan gugup,” kata Rama. “Badan kita ini turut dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan. Jadi, jagalah mental kita sebaik-baiknya.”
Satu per satu nama band terus dipanggil dengan tertib agar segera mengisi panggung untuk menyanyikan dua buah lagu. Satu lagu bebas dan satu lagi lagu ciptaan sendiri. Tidak hanya pop, aliran seperti reggae, metal, dan rock, serta segala macam dari turunannya, semacam heavy metal, pop rock, dan sebagainya juga turut mengisi kemeriahan kontes yang disponsori oleh salah satu merek rokok ini. Mereka menampilkan performa dengan sebaik mungkin supaya dewan juri memberikan penilaian yang memuaskan dan memastikan mereka masuk sepuluh besar alias bisa maju ke babak selanjutnya. Selain dari Palembang, kontestan juga ada yang berasal dari luar kota, seperti Prabumulih, Indralaya, Lubuk Linggau, dan Muara Enim. Mereka semua rela datang jauh-jauh untuk mengikuti kontes. Bukan hanya karena hadiah uang yang lumayan banyak, sampai sepuluh juta rupiah untuk juara pertama, namun juga untuk mengawali langkah karier mereka ke depannya kelak, dan pastinya pun ingin band mereka dikenal di setiap penjuru Nusantara.
“Rencananya Dita dan Devrie bakal datang,” beber Vio,“Masayu juga.”
“Untuk apa orang satu itu datang?” sergah Rama.
“Peserta nomor tiga puluh enam. Philosophie!”
Sontak panggilan itu membangkitkan gairah mereka. Mereka naik ke atas pentas dan disaksikan ratusan penonton.
Vio mendekati Rama sambil berkata,” Semoga kau dak marah, maafi aku sebelumnya. Kau rela pakai celana yang ada koyak sekarang, terus dak mau pakai celana yang sudah diberi oleh Masayu. Okelah, kau masih marah sama dia, tapi jangan sampai gara-gara itu merusak penampilan berpakaian kita. Pakaian kita ini juga dinilai oleh juri, Jok. Sekarang, aku harap kau pakai dasi merah ini. Lupai dia! Ini soal band kita, Ram!”
Dia mendekatkan mulutnya ke mic. “Selamat sore. Perkenalkan, saya Rama. Bassist yang ganteng itu namanya Vio. Dan drummer namanya Kiagus. Untuk lagu pertama akan kami bawakan lagu Bukan Pahlawan, karya Superman Is Dead.”
Masuk lagu kedua. “Selanjutnya, lagu ciptaan kami bertiga.”
Dari verse pertama hingga masuk chorus, para pecinta punk di pelataran BKB melonjak-lonjak dan melompat-lompat mengiringi alunan musik yang disebut Rama dengan genre Emo Punk tersebut. Lagu usai, suara tepuk tangan bergemuruh.
Malam harinya langsung diumumkan nama-nama band yang masuk nominasi untuk mengikuti babak terakhir besok. Panitia mengumumkan kesepuluh band tersebut. Sudah lima band yang bersenang hati, sebab tadi nama band mereka disebut oleh panitia. Rama, Vio, dan Kiagus menunggu dengan perasaan was-was. Mereka berharap bisa masuk babak selanjutnya. Latihan selama berminggu-minggu, jika gagal, apalah artinya. Dan kontes semacam ini amat jarang diadakan, apalagi di Palembang. Impian besar mereka tertumpu pada waktu beberapa detik yang amat merisaukan ini.
“Nah, selanjutnya, band dari Palembang.”
Rama gugup.Vio menyekap matanya sambil jongkok.
“Band ini alirannya punk,” seru perempuan itu lagi. Suara gerombolan punk bergemuruh. “Selamat buat….”
“Dak mungkin kita,” desah Vio, skeptis.
Panitia melanjutkan, “Philosophie, nomor peserta tiga puluh enam.”
“Hah?” Rama tak percaya. “Jok… Jok… kita lulus.”Rama kembali mengenakan dasi merah tadi sempat dilepaskannya. “Alhamdulillah. Besok kita harus lebih baik dari sekarang ini, Jok.”
***
Di babak final ini bersama sembilan band peserta lainnya, Rama cs akan tampil habis-habisan. Kali ini mereka dan peserta lainnya hanya memainkan satu lagu. Dan mereka membawakan lagu Endank Soekamti, Semoga Kau di Neraka.
Dan semua orang tak menyangka, dan benar-benar tak menyangka sama sekali. Dari balik panggung tiba-tiba muncul I Made Putra Budi Sartika sangvokalis, lalu muncul juga I Made Eka Arsana si pemegang bass dan backing vocal. Terakhir muncul I Gede Ari Astina sang pemukul drum.
Sekonyong-konyong Rama berdiri dan semua orang yang duduk jadi berdiri, terperangah melihat band pujaan mereka ada di panggung sana. Panitia tidak memberi tahu kalau bakal ada Superman Is Dead.
“Jok… Jok… S.I.D, Jok,” seru Rama tak percaya.
Sang vokalis menyapa semua penonton yang tak kunjung diam. “Apo kabar Wong Kito Galo?”
Berdiri tegak menantang
Tak pernah menyerah
Tak mau mengalah
Berdiri tegak menantang
__ADS_1
Tak peduli setan
Takkan kulawan
Hentakan musik bergenre punk membuat semua penonton berjingkrak-jingkrak dan mengangkat tangan ke atas. Semua yang hafal lagu itu ikut bernyanyi dengan riang. Hingga pengujung lagu, sorak sorai penonton tak putus-putus.
Tapi kau selalu ada di saat ku merasa lemah
Jangan pernah menghi….
Langkahku tak berarti tanpamu
Kegembiraan ini takkan pernah ada
Suara tepuk tangan penonton melambung tinggi ke langit di malam yang sungguh hebat bukan main ini tatkala lagu yang berjudul Musuh Sahabatitu usai.
“Lagi… lagi… lagi!”
Namun, semua personel SID meninggalkan panggung yang dihujani cahaya lampu itu. Kemudian panitia mengisi panggung sekarang dan akan membacakan nama band peserta pemenang kontes. Rama, Vio, dan Kiagus, serta semua anggota personel dari band kontestan lainnya was-was. Mereka semua ketar-ketir menunggu hasil pengumuman.Sebagian dari peserta dan penonton berteriak girang setelah mendengar pengumuman tersebut.
“Sekarang, juara tiga, ini band beraliran reggae, dari Palembang. Musi Rasta! Selamat!”
“Yeeehhh!!!” jerit anak-anak reggae yang sebagian mereka berambut gimbal. Sang vokalis band itu membanggakan gambar Bob Marley di bajunya dengan menunjuk-nunjuknya. Warna kuning dan hijau semarak di antara mereka. “Rasta… rasta… is the best … for you and me. Yooo… maaan.”
Namun, Rama cs tak sesenang mereka. Panitia kembali membacakan nama pemenang untuk juara dua. “Akan mendapat bingkisan berupa T-Shirt keren dan uang senilai lima juta rupiah! Dan tak tertinggal pula, akan bisa masuk ke dapur rekaman seperti yang juara tiga tadi!”
“Kalau tadi reggae, sekarang band yang bergenre punk. Selamat buat… Philosophie.”
Rama dan Kiagus menghadap barat, lalu menempelkan keningnya di Bumi, bersujud syukur kepada Tuhan yang sudah memberikan hadiah berharga ini. Vio ikut bersujud syukur juga.
Mereka bertiga naik ke atas pentas. Tak henti-hentinya mereka bertiga bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada semua orang yang sudah mendukung dan mendoakan mereka hingga menjadi juara kedua.
“Dan untuk juara pertama, genre heavy metal. Selamat buat Moesi!”
Rama, Vio, dan Kiagus berangkulan dengan erat. Dan semua makin spektakulerketika SID kembali berada di atas panggung.
“Sebagai penghormatan,” kata I Made Putra Budi Sartika. “Kami akan membawakan lagu dari salah satu kontestan, yang berjudul Palembang Punk City!”
Rama menyekap wajahnya karena tak percaya sedikit pun.Vio mendorong-dorong Rama. “Ram… Ram… tabok aku… tabok aku, Jok! Apa aku mimpi sekarang ini, ha?”
“Idak, Jok, kau idak mimpi. Ini nyata.”
“Ram, sekarang kita mampu memijakkan kaki di Olympus!”
“Awesome! Bahkan kita menancapkan bendera di puncaknya!”
Lebih dari itu, mereka diajak untuk tampil bareng bersama SID. Bukan main! Bukan buatan! Rama memeluk sang vokalis.
“Kami melihat lagu kalian di Youtube, bagus banget lagu kalian ini. Patut diapresiasi.Kami sudah melakukan latihan dari semalam sampai sore tadi. Dan benar perkiraan kami, bahwa band kalian ini akan jadi juara.”
“Yang hafal lagu ini, kito nyanyi samo-samo.”
Janganlah berdiam diri
Ayo keluar
__ADS_1
Hilangkan kebosanan ini
Kita hepi-hepi
Buang risau kau itu
Kita bergegas
Menikmati indahnya kota ….
Yang tercinta
Nongkrong di Benteng Kuto Besak
Sungai Musi terhampar luas
Menara Ampera, menjulang tinggi
Palembang ….
OY OY!!!
Palembang ….
OY OY!!!
Palembang ….
OY OY!!!
Lihat langit yang permai
Wahai kawanku
Kita bernyanyi bersama
Berikan senyummu
Bila kau bersedih hati
Ada kami di sini
Kita berjalan menyusuri
Jalanan kota malam ini
Nongkrong di Benteng Kuto Besak
Sungai Musi terhampar luas
Menara Ampera, menjulang tinggi
Palembang ….
OY OY!!!
__ADS_1