Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
13. Last night on earth


__ADS_3

Wah, lemak nian yeh kalau kuliah. Coba saja aku jadi mahasiswa seperti orang-orang ini. Bangga nian rasanya, bukan main!


Vio tersentak dan pembicaraan dengan dirinya sendiri terputus karena teguran dari kawannya.


“Woi, Vio. Kau kuliah di sini?”


“Woi, Mario, apa kabar? Aih, dak, Jok, aku dak kuliah.”


“Baik, kau apa kabar? Jadi, untuk apa kau di sini, Jok?”


“Baik juga. Mau ketemu sama kawan. Jemput dia pulang.”


“Cewek?”


“Jelas! So pasti!”


“Kirai kuliah di sini. Apa kabar kawan yang lain?”


“Mereka ada yang masuk Unsri, ada juga yang kuliah di kampus swasta. Dan Rama, dia sama seperti aku, Jok, dak kuliah.”


“Ya. Kalau sempat, kita kumpul-kumpul lagi dengan kawan-kawan SMA, Jok.”


“Siplah.”


Mario menarik gas motornya dan berlalu.


Siang ini, tepat di dekat gerbang kampus, Vio duduk di atas vespanya dan menunggu kedatangan Dita. Tak hanya bertemu dengan Mario, dia tadi juga sempat bertemu dengan kawan-kawannya yang lain, seperti Febri, Rian, dan Siswanto. Banyak kawannya yang kuliah, rupanya.Tak lama berselang tibalah Dita bersama Devrieya.


“Sudah lama?” tanya Dita.


“Lumayan. Mana Masayu?”


“Idak tahu. Tadi katanya ada kerjaan di kampus.”


“Aku pulang duluan,” ujar Devrieya.


“Idak dijemput Kakak Lop?” tanya Vio.


“Siapa?”


“Ehem-ehem.Ya Kiagus. Siapa lagi kalau bukan dia?’


“Dak. Sudah, aku pulang duluan.”


“Dev, dak apa-apa kan aku pulang bareng Vio?”


“Ya, Dit, dak apa-apa.”


“Jangan merajuk.”


Bunyi si Karbon menyeruak ke mana-mana. Dita membekap mulut dan hidungnya dengan cekatan.


“Maaf, maaf, si Karbon lagi bengek. Jadi tolong harap maklum. Besok-besok aku bawa dia ke dokter untuk pengobatan intensif. Bila perlu rawat inap di rumah sakit. He-he-he.”


Pantat Dita landing di boncengan belakang. Dita ngeri karena sesekali Vio jahil dengan menancap gas. Ngebut.


“Oh, ini kos kau, Dit?”

__ADS_1


“Iya, Vi. Pengen mampir?”


“Kita ngobrol-ngobrol di depan saja. Dak usah di dalam. Kan dak enaklah. Aku pengen ngajak kau jalan-jalan, Dit.”


“Ke mana? Mal?”


Duit dari mana?


“Ke Jakabaring. Di sana enak.”


“Emang makanan, enak?”


“Maksudnya bukan begitu, Dit. Ya, di sana nyaman. Banyak pemandangan. Jauh dari keramaian. Pokoknya enaklah! Dijamin!”


“Boleh-boleh.” Dita mengawasi vespa yang terparkir di luar pagar. Dia jadi agak ragu.


“Kami sering nongkrong-nongkrong di sana. Apalagi kalau malam Minggu.”


“Pergi bareng-bareng, atau berdua saja?”


“Berdua saja dulu. Nanti Rama dan Kiagus bikin kacau saja.”


“Kau ni, lebih pas kalau kita pergi ramai-ramai.”


“Yang penting bisa jalan sama kau, Dit.” Dia menyodorkan senyum riang yang tak terbilang.


***


Rama mengangkat cangkir kopinya lagi. Kiagus menjadi pendengar yang baik.


Berkoarlah Vio, “Kebanyakan orang yang kuliah itu dari dusun. Rupanya mereka bosan berkeliling hutan dan mengawani kerbau membajak sawah. Pernah kudengar ada cowok di kampus Dita yang bilang kalau dia ingin mengenakan jas dan dasi yang melilit lehernya. Orang dusun juga ingin sekali pakai sepatu pantofel hitam mengilat. Salut sama orang dusun. Mereka punya nomor rekening. Sementara kita, ketemu dengan mbak-mbak manis di bank saja belum pernah.”


Rama menimpali, “Tak sedikit bagi mereka yang ingin berpacaran dengan orang Palembang. Merasakan setiap denyut asmara dalam bercumbu mesra. Mengaduk kasmaran di tengah pengap tanpa oksigen di dalam mobil. Mereka setidaknya punya tiga macam aplikasi sosial media yang berbeda untuk memenuhi semua aktivitas komunikasi dan sosialisasi mereka.”


“Kalau lapar, mereka melangkahkan kaki dengan anggun ke tempat makan mahal dan mewah untuk memenuhi isi lambung mereka. Seperti di KFC. Atau apalah. Terus yang pasti ada wifi dan bisa berfoto-foto dengan riang. Terus diumbar di sosial media tadi. Kalau dompet kosong, segera mereka menelepon keluarga mereka untuk membuat dompet mereka gendut lagi.”


Kalau para urban makan gurami asam manis, kerapu steam kecap, kakap bakar, bahkan ikan belida yang amat mahal dan langka, ketiga anak sungai itu cuma bisa mancing ikan gabus atau ikan-ikan air tawar di pinggiran Sungai Musi lalu cukup menggorengnya dengan asam garam. Usus mereka tak kenal dengan udang mayonnaise, atau pun cumi cabe garam, atau pun seafood yang mantap-mantap di restoran yang biasa dinikmati oleh orang-orang berduit.


“Bagaimana dengan bujang-bujang Palembang seperti kita, Jok?” tanya Rama.


“Kita bertiga cuma sekali seumur hidup masuk Palembang Square. Tidak pernah memencet tombol-tombol aneh di mesin ATM. Tidak pernah nonton bioskop. Tidak berteman akrab dengan kesejukan AC. Pantat kita tidak pernah berlabuh di jok mobil yang nyaman. Kita tidak pernah makan pizza sebab dompet kita tidak pernah merestui.” Tiba-tiba Vio ngakak sendiri. “Apa kita pernah buang air besar di toilet duduk?”


***


Nokia layar tak berwarna itu ditaruhnya lagi di atas meja. Dia menunggu, lima menit berlalu, sepuluh menit berlalu, lima belas menit berlalu, Kiagus galau bertalu-talu. Dia lihat HP. Tak ada balasan SMS dari Devrieya. PDKT mereka lebih banyak melalui ketikan SMS dan obrolan melalui telepon. Sebab Kiagus lebih banyak berjualan di pasar dan Devrieya sibuk kuliah.


TIT… TIT… TIT!!!


Masih bergetar, HP itu langsung disambar Kiagus.


“Ya.” Balasan dari Devrieya.


Peninglah kepalanya sebab tadi dia mengirim SMS yang panjang bukan main, tapi mendapat balasan yang amat teramat singkat. Sungguh menyebalkan, pikirnya. Kiagus coba memberikan sedikit perhatian pada Devrieya dengan cara menanyakan apakah sudah makan atau belum.


Setengah jam menunggu, balasan yang dia dapat adalah:


“Sudah.”

__ADS_1


Dia mengetik SMS lagi untuk Devrieya, sedang apa sekarang. Lebih dari setengah jam dia menunggu dan balasannya adalah:


“Guling-guling.”


AGGGRRRHHH!!!


Kiagus sebal nian.


***


Siluet Masayu tampak di dinding karena diterpa oleh lampu belajarnya yang temaram.


Di kala jumpa, tak kusangka itu dia


Sosok yang kunanti, kutungggu, selama ini


Rasa apakah ini?


Aku tak tahu


Namun yang pasti, dia adalah bintang yang menerangi


Di malam ini.


Dia ingat beberapa penggalan kalimat pada cerpen mamanya.


Raden dan Masayu duduk berdua di sebuah rumah panggung besar yang menghadap Sungai Musi. Damailah hati mereka berdua, sedamai senja serupa itu. Sembari menyaksikan air dari hulu, sewaktu itu pula rajutan kasih mereka terus melaju hingga akhir waktu.


Masayu mengembuskan napas panjang-panjang. Lantas dia mengempaskan badannya di atas divan.


Kata orang, kalau sedang memikirkan seseorang, maka seseorang itu bakal teringat pula dengan orang yang memikirkan tadi.


Agaknya, anggapan ini ada benarnya. Karena malam ini di kamarnya yang gelap Rama juga tengah memikirkan orang yang memikirkannya. Dia berkhayal duduk berdua dengan Masayu di Kambang Iwak sambil bermain gitar dan menyanyikan lagu punk yang romantis, Last Night on Earth, karya Green Day.


My beating heart belongs to you


I walk for miles till I found you


I’m here to honor you


If I lose everything in the fire


I’m sending all my love to you


Oh, romantis nian, batinnya.


Sampai-sampai Rama berkhayal tangan kanannya memegang tangan kanan Masayu dan gadis itu tak tahu kalau tangan sebelah kiri yang bersembunyi di balik punggung itu memegang seikat mawar merah dan sebuah kotak yang berisi sepasang cincin perak. Setelah itu, janji setia, sehidup dan semati pun diikrarkan. Dan ditutup dengan kecupan manis ke kening Masayu.


Merpati-merpati beterbangan, menjadi saksi bisu romantika ini.


Amatlah pandai Rama berkhayal. Dalam gelap pandangnya, masih ada banyak lagi keinginannya kalau nanti Masayu bisa dapat merasakan hangatnya rangkulannya. Rama ingin sekali agar Masayu merasakan hangatnya pelukanya, mesranya dekapannya, terbaring nyaman di atas pangkuannnya.


Oh, rangkai hatiku, dekatlah pada Kakanda


Oh, rajutan jiwaku, ke sinilah dengan membawa cinta


Seberapa panas bara api

__ADS_1


Akan Kakanda lalui demi untukmu apsari


Puisi nan klise ini diutarakannya pas dia memberikan seikat mawar merah dan sebuah kotak yang berisi sepasang cincing perak kepada Masayu. Dan tetap, itu masih dalam khayalannya.


__ADS_2