
Petang ini Kiagus pergi ke kos Devrieya. Dia sudah tahu apa yang akan dilakukan Devrieya ketika bersamanya.Ya, benar saja, Kiagus awalnya membuka pembicaraan soal perkuliahan Devrieya dan gadis itu menjawab ala kadarnya saja. Seolah isi lidahnya amat mahal sekali harganya. Terbersit dalam benak Kiagus bahwa dia sepertinya tidaklah dipedulikan. Padahal dia menaruh respek besar.
Roti bakar, es sop buah, cokelat, dan pernah juga memberikan seikat bunga mawar merah untuk Devrieya. Terakhir dilihatnya bunga itu layu karena tak terurus. Dari segi ekonomis, banyak sudah yang dikeluarkan Kiagus untuk segenap keperluan masa PDKT-nya. Dari segi sosiologis, dia sering menaruh perhatian melalui SMS dan telepon, ditambah beberapa kali berkunjung ke kos Devrieya. Dari segi keilmuan? Atau dari segi politis? Tak perlu dijelaskan lagilah.
Kiagus menelan ludah pahit. Ingin rasanya dia bilang sesuatu yang sudah direncanakannya dengan matang dari semalam, pagi tadi, tadi siang di pasar, sampai sekarang, tapi terasa berat. Dia takut omongannya akan menyinggung perasaan Devrieya. Empedu yang pahit tak usah dikunyah, langsung telan saja.
“I fear the day that technology will surface our human interaction. The world will have a generation of idiots.”
Tak sedikit pun omongan Kiagus meleset. Devrieya paham betul omongan tadi karena mood-nya sekarang langsung tiba-tiba berubah. Tak perlu dia meminta pada Kiagus untuk mengulangi.
“Dari mana kau dapat omongan itu, Gus?”
“Dari Rama. Dan katanya, itu quotes dari Albert Einstein.”
Devrieya memasukkan android-nya ke saku celana. Kembali melintas satu kata terakhir tadi: Idiots!”
“Dev, kita harus pintar-pintar menempatkan sesuatu pada waktu dan tempat yang pas. Kalau lagi berdua seperti sekarang, atau kalau lagi kumpul-kumpul dengan kawan-kawan, dak enaklah kalau kita sibuk dengan HP. Lebih enak kalau kita ngobrol-ngobrol. Nanti, kalau lagi sendiri dan ada luang di kos, kan kau bisa, Dev, main-main HP lagi.”
Sejenak Devrieya diam. Dia mengiyakan perkataan Kiagus. Dia menunggu. Karena omongan orang pendiam layak untuk ditunggu.
“Karena terlalu sering sibuk dengan dunia maya, kita jadi melupakan dunia nyata. Kita jadi orang yang individualis dan asosial di dunia nyata dan di tempat tinggal sekitar kita. Karena kita terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial itu. Mungkin bisa dikatakan punya banyak teman di dunia maya, tapi kita mengucilkan diri dari pergaulan sekitar, menyendiri, asyik sendiri.”
Dada Kiagus berdebar-debar karena gugup. “Kita harus pintar-pintar, Dev, dalam menjalani hidup sekarang ini. Kemajuan teknologi itu tentu ada sisi positif dan negatif. Baiknya kita ambil dan buruknya kita jauhi. Banyak manfaat yang bisa kita ambil dari internet dan media sosial. Contoh, kita bisa dengan gampang berkomunikasi. Kita juga dengan cepat dan praktis mencari informasi. Kita pun bisa banyak belajar dan mencari ilmu. Tapi, Dev, berkomunikasi verbal dengan bertatap muka itu jauh lebih baik daripada lewat obrolan di dunia maya. Masalah mencari informasi dan menambah wawasan, mending kita baca koran dan majalah daripada membaca sebuah informasi dari status yang dibuat orang. Dan apalagi untuk mencari ilmu, lebih baik kita baca buku atau lebih bagus belajar langsung kepada yang ahlinya. Sebab tingkat validitasnya jauh lebih terjamin.”
Kiagus seolah berbicara dengan lantai karena sedari tadi dia menunduk dan tak mampu untuk menatap wajah Devrieya. Melirik pun tidak. “Terlalu sering bermain HP juga akan membuat kesehatan fisik kita terganggu, Dev. Misal, karena sering menunduk, kita bisa bungkuk. Jari-jari kita juga akan terganggu, terutama jempol dan telunjuk karena terlalu sering menyentuh layar dan memencet tombol HP. Yang pasti mata kita akan lelah, tegang, dan kering karena terlalu lama menatap layar dengan durasi yang lama. Pernah kudengar istilah sleep deprivation alias gangguan tidur. Ujung-ujungnya kita jadi penderita insomnia.”
Kiagus menghela napas dan mencoba menggali ingatan-ingatannya. “Pagi buka mata, cek HP. Terus seharian kita main HP. Sampai sebelum tidur tangan kita tidak pernah lepas dari benda itu. Kalau sudah jadi kebiasaan, kita bakal terkena candu dan susah untuk lepas dengan hal seperti itu. Akibatnya kita akan merasa cemas, khawatir, takut, dan badan kita akan gemetaran kalau satu jam saja dak megang HP.”
“Ya juga sih, Gus. Makasih penjelasan dan nasihatnya. Dak disangka kau mampu berpikir sejauh itu.”
“Sebenarnya, itu semua pernah aku dengar dari Rama. Asal kau tahu, Dev, dia bagi kami adalah seorang pemikir hebat. Di balik itu,” Kiagus menatap mata Devrieya dengan pandangan aneh. “Rama adalah seorang pemimpi level mentok dan pengkhayal tier legend. Anehnya, dia kadang menceritakan pada kami apa yang dikhayalinya.”
Mulai menarik.
__ADS_1
“Apa? Coba jelasi.” Devrieya tak sabar menunggu.
“Pernah waktu itu dia menceritakan pada kami tentang pengalamannya bermimpi bertemu dengan Socrates. Katanya, seorang filsuf kawakan dari Yunani pada abad sebelum Masehi. Socrates tersesat di Sungai Musi dan bingung mau ke mana. Mereka berbincang-bincang sambil makan pempek dan minum es kacang merah di atas perahu. Katanya, mereka semakin akrab dan Socrates mengapresiasi makanan khas Palembang yang lagi disantapnya dan dengan lahap menikmatinya. Kalós* nian, kata Socrates. Aku minta pada Rama, nanti kalau bermimpi lagi bertemu dengan Socrates, tolong disampaikan salam.
Dua hari setelah itu Rama bilang pada aku bahwa dia kembali bermimpi bertemu dengan seorang filsuf dari Yunani. Katanya, ‘Semalam, aku kira Socrates. Ingin aku sampaikan salam dari kau, Gus, tapi rupanya bukan. Dia itu Plato, muridnya Socrates! Orang Yunani rupanya ganteng, tinggi, keren, tubuhnya atletis, perutnya ada otot kotak-kotak, rambutnya ikal, dan hidungnya mancung nian. Aku belajar filsafat darinya dengan berbahasa Yunani. Hebat nian. Plato mengatakan bahwa esensi mempunyai realitas dan realitasnya ada di dalam idea. Dari sanalah aku belajar menjadi seorang idealis sejati yang mempunyai ide-ide unik dan cita-cita setinggi langit’. Aku katakan pada Rama kalau nanti bertemu lagi dengan Plato, tolong disampaikan salam. Oke, katanya.”
Devrieya nyengir.
“Lama nian aku menunggu cerita dari Rama lagi. Hampir sebulan. Pas aku dan dia lagi di pasar, dia kembali bercerita. Kata Rama, ‘Tepat semalam aku nyaris dak bisa tidur padahal semalam hujan deras. Aku merasa aneh nian. Badanku gemetar. Aku takut. Sampai jam dua malam, aku lupa dengan apa yang terjadi di kamar. Aku mimpi ketemu dengan dia. Murid dari Plato. Lengkap sudah. The King of Three menemui aku! Dalam mimpi aku semalam, ada orang yang menggedor pintu rumah aku malam hari. Aku yang buka pintu. Aku terkejut nian, Gus, awalnya aku merasa asing dengan tamu yang datang itu, tapi tebakan aku dak meleset sedikit pun. Dia Aristoteles! Aku cium tangannya dan berpelukan dengannya. Aku bertanya padanya mengapa bisa sampai ke Palembang dan dia menjawab bahwa ingin sekali makan pempek buatan Wong Palembang. Malam sekitar jam delapan aku langsung mengajaknya ke toko-toko jualan pempek di 26 Ilir. Aku bercakap-cakap dengan Aristoteles dalam bahasa Yunani. Bukan main hebatnya. Aku yang traktir dia makan karena dia sudah dak punya duit sepeser pun. Sambil makan pempek, pria tampan yang berambut ikal itu menjelaskan pada aku tentang cara berpikir dengan silogisme. Logika berpikir yang masih dipakai hingga sekarang walau ada beberapa tambahan untuk penyempurnaan’. Tolong ambilkan aku pena dan kertas, Dev.”
Kiagus menulis:
Orang Palembang hobi makan pempek (premis mayor)
Rama adalah orang Palembang (premis minor)
Rama hobi makan pempek (konklusi)
“Kata Rama, ‘Aristoteles menulis itu setelah tahu semua tentang aku, apa pun. Rupanya Aristoteles hobi makan pempek dari segala macam variannya, seperti pempek lenjer, pempek telur, pempek ada’an, pempek keriting, pempek kapal selam, bahkan mau nian mencicipi mi celor, model, tekwan, laksan, lakso, burgo, dan celimpungan. To latrévo*, katanya’. Terus Rama mengatakan bahwa Aristoteles menjelaskan secara lugas, cara semacam itu disebut dengan logika deduktif, yang mengukur valid atau tidaknya dari suatu pemikiran. Katanya, ‘Dari sini aku mulai menjadi seorang rasionalis pemula’. Terus aku omongi pada Rama, nanti kalau bermimpi lagi berjumpa dengan Socrates, Plato, atau pun Aristoteles, tolong nian sampaikan salam dari aku. Rama mengiyakan permintaan aku.
Untuk seterusnya selama berbulan-bulan, waktu masih SMA dulu, dia dak pernah lagi bermimpi bertemu dengan ketiga filsuf itu. Sering Rama cerita tentang mereka, bukan di mimpi, tapi dia ngayal. Ada-ada saja khayalannya. Aku rasa kawanku sudah dak waras alias sinting. Kalau lagi kumpul,” bisik Kiagus, dia melihat sekitar. Tidak ada orang. “Tapi jangan bilang siapa-siapa, Dev.”
“Iya, Gus, iya.”
“Rama sering ngayali Masayuuuuuu….”
“Kok tahu?”
Kiagus memajukan kursinya.
“Dia suka curhat kalau kami lagi asyik ngumpul. Paraaaahhh! Gilo nian!”
Kiagus menjelaskan khayalan-khayalan Rama yang pernah didengarnya.
__ADS_1
“HUA-HA-HA-HA.”
***
“Obat cacing keluarga. Dosis sekali minum”.
Tulisan itu tertera di bungkusnya. Dilungsurkannya dua butir obat mujarab ke telapak tangannya. “Bismillah,” desis Vio. Dia menenggaknya dan menghabiskan air putih dari gelas. Cukup setengah jam, efek obat cacing langsung bereaksi. Matanya terasa berat. Ngantuk sekali. Dia melompat ke kasur, telentang, tidur lelap. Pagi harinya efek dari obat cacing itu makin terasa. Vio mual. Dia merasa bahwa cacing-cacing di perutnya mulai berontak dan melakukan semacam long march, memprotes kebijakan yang diambil oleh Vio untuk mengusir mereka. Segala macam jenis cacing membawa anak-anak merekadan melakukan demo besar-besaran.
Itulah dugaan Vio.
Dia tidak sarapan karena nafsu makannya hilang. Dia masih saja mengantuk. Jadi malas mandi. Karena lapar, dia jadi keringat dingin. Badannya lemas. Rupanya obat cacing dan obat gemuk sudah ditakdirkan untuk bersama karena efek obat cacing yang menyusahkan itu bisa diatasi dengan mengonsumsi obat gemuk, alias biar nafsu makan Vio kembali mencuat. Seharian bujang itu di rumah saja. Dia pergi ke WC dan bermaksud mengecek apakah ada cacing yang mau check out dari perutnya. Tapi dia tidak mau berak. Ah, sudah susah payah dia mengeluarkan tenaga dalam untuk mengeluarkan sesuatu dari duburnya namun hasilnya nihil. Pas sore hari, sedang asyik di kamar dengan diiringi lagu Why Don’t You Get a Job karya The Offspring, bujang pengangguran itu merasa ingin BAB. Pergilah dia ke WC. Jongkok sebentar. Vio amat berterima kasih pada gravitasi sehingga tinja bisa terjun dan tercemplung tepat sasaran. Diperhatikannya feses itu.
Mana cacingnya? Apa dia keluar?
Biji matanya makin lekat dengan poop itu. Tapi dia tidak melihat sesosok binatang yang dicari-carinya. Bom berikutnya dijatuhkan lagi.
Pluk!
Atau lebih keren kalau bunyinya begini:
Uiiing… bedegaaaaarrrr!!!
Dilihatnya puing-puing bekas dari serangan tadi.
“Aih. Mano pulo cacingnyo ni?”
Setelah bercebok dan mencuci tangan, Vio keluar dari WC dengan perasaan gamang. Dia berhenti dan menoleh ke belakang. Diawasinya kloset jongkok itu. Kakinya berjinjit sedikit dan kepalanya menjuntai ke atas, memperhatikan benteng yang terkena sasaran bom yang tadi dijatuhkannya. Tidak ada tanda-tanda bahwa ada cacing yang get out dari ususnya. Dia mulai muak. Malam harinya Vio siap menjalani langkah kedua. Lupakan soal cacingan. Mungkin besok-besok cacingnya enyah dari tubuhnya. Atau bisa jadi dia tidak cacingan. Lagi pula tidak setiap cacing di perut itu brengsek. Ada mereka yang berbudi pekerti dan taat pada aturan sistem pencernaan sebab dengan kehadiran binatang itu pencernaan jadi lancar.
Vio membuka tutup kemasan obat gemuk ramuan orang Cina, dan halal tentunya. Dilungsurkannya satu butir obat yang ampuhnya bukan buatan itu ke telapak tangannya. Dijejalkannya ke dalam mulutnya. Diteguknya air putih untuk mendorong obat tadi sampai ke lambung.
“Tidurlah, Nak. Sudah malam.” Suara Nyimas yang bersumber dari dapur menyelusup masuk ke kamarnya.
Vio segera mengamankan bungkusan-bungkusan di atas meja, lalu memasukkannya ke dalam lemari. Proyek untuk menaikkan berat badannya ini tak boleh diketahui oleh manusia mana pun termasuk emak yang dicintainya, kecuali dirinya sendiri. Misinya sudah dijalankan. Sementara visinya belum terwujud, yaitu: Menjadikan badan gemuk setidaknya sebelum Tahun Baru nanti untuk menuruti apa mau Dita, sehingga gadis itu menjadi pacar aku.
__ADS_1
Agaknya sedikit menantang visi yang dikobarkan oleh Vio. Jika visinya sudah terwujud, berbahagialah bujang yang tengah rebahan ini. Diawasinya langit-langit kamarnya yang temaram. Terbayang-bayang bentuk badan ideal. Badan dia sendiri tentunya. Angka 50 melompat ke angka 70 kg. Tinggi badan naik lima senti, jadi 175. Ukuran lingkar celana tidak lagi 27, tapi sudah bisa memakai celana berlingkar 30. Bila berkaca tidak malu lagi karena pipi sudah tidak kempot lagi. Biasanya pakai kaos lengan panjang untuk menutupi tulang, sekarang pakai singlet sehingga lengan yang berisi dan berotot patut dibangga-banggakan. Kalau perlu ke mana-mana pakai kolor sajalah karena saking PD-nya.
Bayang-bayang tubuh ideal hilang karena efek dari obat gemuk mulai terasa. Matanya terpejam, dan… Vio terlelap tidur. Bahkan sampai ngorok.