Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
20. Dasi merah


__ADS_3

Rama berjalan ke ruang tengah. Tadi malam dia sudah bilang pada bapaknnya bahwa minta ditinggali duit untuk keperluannya hari ini. Tak ada suara apa pun di rumah itu karena semua anggota keluarga sudah sibuk masing-masing. Termasuk Rama yang sibuk menganggur. Ada uang kertas  tergeletak di dekat TV. Duit itu bergambar Rumah Limas dan dibaliknya lagi ada tokoh nasional asal Palembang: Sultan Mahmud Badaruddin II. Di dekat uang itu ada secarik kertas yang bertuliskan:


Bapak beri duit inilah. Cukuplah untuk beli bensin motor.


Rama meraup dan melungsurkannya ke dalam saku celana bagian kanan. Tak ada acara mengajak Masayu makan siang untuk hari ini, tak ada. Cukup beli bensin saja. Harus mau apa lagi? Berkunjung ke kampusnya Masayu tanpa membawa apa-apa kecuali selembar puisi. Dia masuk ke kamarnya lagi. Dia tegak di dekat jendela. Dilihatnya hari mulai siang. Diambilnya lagi kertas puisinya yang berjudul Harap, lalu dibacanya ulang. Sudah belasan kali dibacanya.


Aku sering ingat kau wahai gadisku


Kupandangi engkau dari gelap mataku


Kurasakan engkau begitu dekat di sisiku


Apa salah seorang bujang tak punya untuk mendekapmu?


Seorang yang lemah tanpa daya, mengharap rasa serupaku darimu


Bersitan berupa kata-kata terhambur semalam di kepalanya, namun dari itu semua, cuma isi dari isi puisi itulah yang tertuang. Sebuah penjelmaan dari apa yang berkecamuk di dalam relung jantungnya. Sebuah intuisi yang datang secara akut, yang kini diinterpretasikannya menjadi rajutan kata dan kalimat. Melalui pembicaraan lewat telepon tadi malam, Masayu bilang bahwa nanti kalau dia dibuatkan sebuah puisi oleh Rama, dia akan memperlihatkan puisi-puisi karyanya yang dibuatnya semenjak masih SMA hingga sekarang. Di telepon itu juga Masayu bilang bahwa dia akan menunggu Rama di tempat tempo hari mereka bertemu.


Petugas keamanan kampus mengatur kendaraan-kendaraan yang melintas di jalanan kampus. Suara peluit yang menjerit bercampur baur dengan suara klakson mobil yang sedang terjebak kemacetan. Sialan, pikir Rama, parfum Gatsby Urban Cologne Confidence yang tadi disemprotkannya di tubuh dan di kaos yang bertuliskan “The next rockstar” jadi hilang sia-sia karena keringat dan debu jalanan. Bangku itu masih kosong. Rama duduk sendirian. Sepertinya dia datang lebih awal. Atau karena Masayu ada jam kuliah tambahan. Lebih baik menunggu. Jadi dia lebih bisa mempersiapkan kata-kata yang bakal dilontarkannya kepada Masayu nanti. Keinginannya untuk kuliah jadi timbul lagi, impiannya untuk bisa belajar kini ada lagi. Tapi omongan dari bapaknya memupuskan semua impiannya.


Pendidikan yang baik tidak menjamin pembentukan watak yang baik.


Rama ingat perkataan dari Fonttenelle tersebut. Dia coba menafsirkan dengan akalnya. Banyak calon sarjana yang hanya menghabiskan duit orangtua. Tugas mereka sebagai mahasiswa lebih banyak untuk bersenang-senang, menikmati masa muda, pacaran, pergi ke tempat-tempat hiburan, dan sedikit untuk merelakan waktu emas mereka untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Bukannya memprioritaskan isi kepala dan otak yang encer, sebagian dari mereka malah lebih mengutamakan isi perut, mengedepankan nafsu dari masa mudanya, dan lebih menomorsatukan fashion dan soal permak wajah.


Sebagian mereka lebih mengutamakan soal gelar dan nantinya bakal kerja di mana daripada memperhitungkan perkara buah dari apa yang mereka petik selama duduk di bangku perkuliahan, semisal pembentukan karakter, mengambil sisi pragmatis dari ilmu yang mereka peroleh, mengaplikasikan dan mengamalkannya dalam kehidupan, mengajarkannya kepada orang yang membutuhkan, dan menjadikan buah yang dipetik itu tidak hanya untuk kepentingan independen dari keserakahan dan kerakusan diri sendiri, melainkan turut bercita untuk kepentingan keluarga, agama, serta membangun bangsa dan negara. Banyak mahasiswa cerdas yang ber-IPK setinggi langit, katakanlah, 3,5. Atau bisa jadi 4. Tapi akhlaknya ber-IPK 1,00; alias jongkok.


Sekonyong-konyong perkataan Kahlil Gibran melesat di kepala Rama. Sedikit pengetahuan disertai tindakan adalah lebih berharga daripada banyak pengetahuan namun tak ada tindakan apa pun.


Rama jadi ingat dengan tafsirannya yang tadi, yaitu mengaplikasikan dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan. Itulah yang terpenting di dalam pendidikan. Dan tiba-tiba dari sisi yang tak di sangka, tepat muncul dari himpitan sepeda motor, Masayu telah membuyarkan pikiran Rama. Masayu menyapa Rama sambil melempar senyum. Dia duduk tepat di samping Rama.


“Sendirian, Ram?” tanya Dita. “Dak sama Vio dan Kiagus?”


“Vio dak ada kabar. Pasti dia lagi di rumah. Kalau Kiagus biasa.” Rama mempersilakan Dita dan Devrieya untuk duduk, tapi kata Dita tidak usah sebab mereka berdua segera ingin pulang.


“Biasanya Vio jemput, Ram, tapi sudah dua hari ini dia dak jemput lagi.”


“Aih. Mesra nian dia mau jemput kau pulang kuliah.”

__ADS_1


“Kami juga pernah jalan.”


“Sombong nian, hm,” keluh Masayu.


“Harus itu. Bagaimana kau dengan Kiagus, Dev, lancarkah?”


“Terima kasih, Ram. Karena kau, kawan kau itu jadi berani. Maksudnya… karena kau sudah ngajari Kiagus untuk bilang sesuatu ke aku.”


Dita dan Devrie berpamitan pulang.


“Bagaimana kuliah hari ini, Yu?”


“Lancar, Ram. Oh ya, puisi karya kau kemarin, yang ikut diperlombakan itu dapat nilai sempurna. Juara satu lagi.”


“Bagus. Maju ke depankah satu-satu?”


“Iya.”


“Berarti bukan puisinya yang bagus, tapi cara penyampaian dari kau yang bagus pas di depan. Itu puisi tentang cara pembuatan sabun cair. Soalnya yang terbayang waktu menulisnya adalah itu.”


Tiba-tiba smartphone Masayu berbunyi dan bergetar. Panggilan dari Dodi! Masayu menyentuh layar berwarna hijau.


“Sudah.”


“Ke kantin sekarang, Yang. Kita makan siang bareng.”


“Aku belum lapar.”


Entah kenapa Rama jadi tenang. Plooong!


“Ayolah, Sayang. Aku tunggu di kantin sekarang. Kaubawa motor?”


“Nanti aku makan di rumah saja. Ya, bawa motor.”


“Nian?”


“Ya. Sudah dulu yeh. Aku lagi ngobrol sama kawan.”

__ADS_1


“Oke Sayang. Daaa.”


KLIK!


Masayu memasukkan smartphone-nya ke dalam tasnya.


“Siapa?”


“Oh, ya, mana puisinya, Ram? Kata kau sudah kaubuat?”


“Eee… ada, ada.”


Masayu mengulurkan tangannya. Sementara Rama membuka tasnya, lalu mengambil selembar kertas. Diberikannya kertas itu.


“Sip. Pasti bagus.”


“Mana buku puisi kau, Yu?”


“Nanti dulu. Aku baca sekarang ya puisi kau, Ram?”


“Boleh.”


Masayu membuka lipatan kertas itu. Diresapinya setiap kata.


“Ini untuk aku kan, Ram?”


“Jelas, Yu, dak mungkin buat cewek gendut yang susah berjalan di sana itu.”


Masayu tertawa kecil. Dia membuka isi tasnya dan memberikan buku puisinya kepada Rama. Sepintas Rama membuka lembaran pertama.


“Nanti di rumah saja bukanya. Aku ada sesuatu untuk kau, Ram.” Dia memberikan bungkus kantung berwarna putih.


“Apa ini? Makasih ya sebelumnya.”


“Ya. Ada pokonya. Supaya lebih mirip vokalisnya Green Day. Apa yang kau suka dari dia, Ram?”


“Rambutnya, gayanya, suaranya. Billie Joe Armstrong kalau lagi konser sering memakai dasi merah. Keren nian!”

__ADS_1


***


__ADS_2