
Berkatalah Bu Salimah, “Ibu sarani, supaya kau dak berlebihan, Nak. Kita tunjukkan saja kita ini apa adanya. Usahlah menutup-nutupi.”
“Tapi, Bu, dia sudah telanjur tahu kalau aku ni orang berduit. Pas kuliah di Palembang, aku sering pinjam mobil kawan aku kalau mau jalan sama dia.”
“Jadi kau bohong sama dia?”
Dodi diam.
Berkatalah Pak Muslimin, “Ya sudah, Mamang bakal turuti apa mau kau, Dodi. Semoga nasib kau dak seperti Mamang ni.”
“Apalagi Bapak kan Kades di sini, setidaknya dengan itu keluarga dia lebih segan.”
“Tidak,” balas Pak Saleh. “Bapak dak mau kau bawa-bawa nama baik Bapak selaku kepala desa di sini. Kalaulah lamaran kau ditolak, betapa malunya Bapak. Tentulah pamor Bapak bakal rusak. Bapak ngijini kau melamarnya. Tapi jangan sekali-kali bawa nama Bapak selaku kepala desa.”
Tiga hari setelah pertemuan malam itu, tepat di hari Sabtu, Dodi bersama ibu dan mamangnya pergi ke Palembang. Pak Saleh sengaja tidak mau ikut karena ada tugas di desa. Karena itu beliau hanya sebatas merestui keputusan Dodi dan mendoakan supaya dapat hasil yang terbaik. Selain itu beliau juga rela mengeluarkan duit lebih banyak untuk proses lamaran dan menikah nanti, sehingga keluarga Masayu lebih terkesan dan mau menerima lamaran tersebut.
Pak Muslimin pun rela menjual tanahnya di dusun demi keperluan segala biaya untuk proses lamaran serta acara nikah nanti jika lamaran tersebut diterima. Pak Saleh dan Pak Muslimin serta adik beradiknya yang lain memang termasuk kalangan orang berduit. Tanah mereka banyak, kebun mereka luas, sehingga mereka mampu menabung untuk segala keperluan anaknya nanti, terutama biaya nikah yang tidak murah.
Maka sampailah mereka di Palembang. Setelah shalat Zuhur barulah mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju perumahan OPI. Walau belum pernah ke rumah Masayu sekalipun, Dodi tahu alamatnya sebab Masayu pernah memberi tahunya. Fortuner hitam itu masuk ke Jalan Kutilang. Dan berhentilah mobil mewah itu tepat di depan pagar dari rumah bertingkat dua. Di pekarangannya ada pohon jambu dan beberapa tanaman hias. Dodi bersama Bu Salimah dan Pak Muslimin turun dari mobil.
Dodi dan Pak Muslimin berpakaian rapi dengan baju batik yang dominan warna merah dan celana dasar hitam. Sementara Bu Salimah juga berpakaian rapi dengan memakai kebaya warna hijau terang dan kerudung hijau mencolok. Kesan mereka seperti orang kaya. Pak Muslimin mengetuk pagar besi, berulang kali, dan tak lama kemudian seorang laki-laki yang bercelana pendek dan berkaos oblong putih keluar dari pintu.
__ADS_1
“Assalamualaikum,” sapa Pak Muslimin, dilanjuti oleh Dodi dan ibunya.
“Wa’alaikumussalam. Masuk.” Masagus Setiabudi mempersilakan tamunya duduk. Pertama-tama Pak Muslimin memperkenalkan diri. Lalu langsung masuk ke inti pembicaraan. Sesekali Bu Salimah angkat bicara dan membagus-baguskan anak bujangnya. Di balik ruang depan, tepat di ruang tengah, Masayu yang hendak keluar karena sepertinya ada tamu, tiba-tiba berhenti, lalu berusaha menguping pembicaraan hingga selesai. Matanya memerah. Segera dia berlari dan menaiki tangga. Di kamardia membuka lemari. Diambilnya satu buah bingkai foto. Dipeganginya foto dia bersama Dodi ketika masih memakai seragam SMA. Tergetar hatinya, Masayu langsung merengkuh foto itu. Tak sanggup dilepaskannya seorang lelaki yang sudah mengisi hari-harinya. Masayu terenyuh. Cuma secarik kertas dan goresan-goresan kata yang sarat akan makna itulah yang mampu mengobati hatinya. Dia terbayang dengan nama Dodi, wajah Dodi, senyum Dodi, suara Dodi, tingkah Dodi, cinta Dodi, Dodi ... Dodi... Dodi... dan Dodi.
***
“Yu, keluar dulu, Nak.” Perlahan Siti membuka pintu, lalu terkejut melihat anaknya.“Kau nangis, Nak?”
“Tidak, Ma, tadi Ayu ketiduran, jadi matanya agak merah dan sembap.”
“Ada yang mau Papa dan Mama omongi sama kau, Yu.”
Duduklah dia di samping mamanya.
Berkatalah Siti, “Ibu dari Dodi bakal memberi kau duit seratus juta untuk maskawin saja. Dan janji bakal melangsungkan resepsi pernikahan di gedung hotel mewah kalau lamaran mereka diterima.”
“Ada-ada saja wong dusun ni. Dak nyadar apa?! Dak ngaca apa?! Alangkah hebat nian. Berani nian bujang uluan itu mau melamar kau, Nak. Seberapa kaya pun mereka, seberapa berduit pun mereka, terus seberapa besar pamor mereka di dusun sana, tetap tidaklah berarti di mata kita. Sudah Papa bilang jauh-jauh hari, kalau Papa dan Mama ni cuma setuju kalau kau berjodoh dengan Wong Palembang saja.”
Masayu menahan hati. Dikamarnya, dia menangis sejadi-jadinya.
***
__ADS_1
Terpisah, di waktu yang sama, Fortuner hitam itu sudah tiba di Gunung Megang dan baru saja sampai di sekitar pekarangan rumah Pak Saleh. Dodi bersama ibu dan mamangnya pulang dengan tangan hampa. Dodi menangis di hapadan keluarganya. Dia malu, malu nian karena sudah lancang tidak mau menuruti perkataan orangtua dan mamangnya. Barulah dia sadar, bahwa dirinya amat tak pantas menjadi seorang jodoh dari Masayu.
Dodi meminta maaf kepada ibu-bapaknya. Dia menciumi tangan orangtuanya sambil meringis-ringis menahan tangis. Maka terharulah kedua orangtua itu melihat anaknya bersedih. Pak Muslimin berusaha menyabarkan keponakannya agar jangan sampai terlalu sedih dan jangan sampai pula hal demikian membuatnya jadi terus kepikiran. Maka ingatan Pak Muslimin kembali ke tahun-tahun yang lalu, saat dia berusaha ingin punya bini orang Palembang, namun nasib membawanya dalam jeruji kesedihan. Malam ini Dodi menelepon Masayu. Dan Masayu tak tega mengangkatnya. Untuk ketiga kalinya barulah Masayu mengangkat telepon itu. Sungguh pelan dan terdengar sangat sedih sekali. Dodi berhenti menjelaskan karena mendengar suara tangis Masayu yang tak bisa ditahan-tahan.
“Sayang…,” lirih Dodi.
Masayu mengatakan bahwa sudah tahu tentang kejadian tadi siang di rumahnya.“Maafi aku, Dodi.”
“Aku yang minta maaf karena memaksa ego aku. Terus aku tidak ngomong sama kau sebelumnya, Yu. Aku langsung ke rumah kau tanpa ijin dulu dari kau. Ini salah aku. Ini salah aku.”
“Dodi….”
“Bagaimanapun aku tetap sayang sama kau, Yu.”
“Aku juga sayang sama kau, Dodi.”
“Kalau jodoh, dak mungkin ke mana.”
Masayu menahan tangisnya. “Kita dak bakal ketemu lagi, Dodi. Papa dan Mama dak mau menganggap aku ni anaknya kalau kau dekat dengan aku. Selama ini aku sudah bohong sama Papa dan Mama. Menutupi hubungan kita. Aku dak mau bikin mereka merasa dibohongi lagi. Terus aku dak mau mengecewakan mereka lagi. Dak mau buat mereka kecil hati. Apalagi kalau sampai Papa dan Mama marah. Aku sayang dengan Papa dan Mama. Jangan buat aku mengkhianati mereka lagi.”
Betapa kesalnya Dodi. Sebab mustahil baginya, perkara perbedaan bisa memutuskan hubungan cinta. Bagaimana mungkin perasaan dia dan Masayu yang sudah terjalin bertahun-tahun bisa putus lantaran urusan perbedaan. Karena kepongahan itulah, karena kesombongan itulah, karena sok merasa dirinya lebih tinggi itulah, semua impiannya bersama Masayu untuk masa depan yangindah jadi sirna. Diskriminasi bisa membuat hubungan cinta jadi mati. Maka Dodi amat benci dengan orang yang semena-mena membuat jurang pemisah berupa perbedaan dan benci sekali dengan orang yang suka merendahkan keluarganya lantaran dia orang dusun. Sekat, tabir, dinding, atau apalah sebutannya, sudah menjadi batas pemisah antara dia dengan Masayu, sehingga cinta yang gugur tak mungkin bakal kembali bersemi; cinta yang lekas pergi tak mungkin balik lagi.
__ADS_1
Dia khilaf, bahwa dia itu serupa bangkai yang ingin terus diendus oleh orang-orang.