Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
23. Tahun baru


__ADS_3

Tiga bulan berlalu.


Vio mendekati Kiagus yang baru saja menggelar lapak. Sesungguhnya dia malu karena kemarin-kemarin sempat membuat perkawanan mereka menjadi agak renggang. Untung saja Kiagus dan Rama tidak ambil hati.


“Lancarkah jualanan kau?”


“Alhamdulillah, Jok. Berguyur. Tumben main ke pasar.”


“Lagi kepengen bae, Jok. Bosen di rumah terus.”


PRIIITTT!!! PRIIITTT!!!


Si juru parkir menyongsong kehadiran Vio.


“Woooiii, Jok. Apo kabagh kau nih?”


“Baik, Kak Cik. Aman yeh motor-motor kito? Sehat, Kak Cik?”


“Sehat, Jok, beghguyughlah. Aih. Ketahuan nian yeh gawe kau ni makan-tedokbae.”


“Emang ngapo Kak Cik?”


“Sudah gemuk sekaghang. Pasti lamo kau nganggugh.”


“Aih. Kak Cik nih biso nian.”


“Caghilah gawe kau nih, Jok. Jangan galak jadi bujang buntu.”


“Santai Kak Cik, nikmati hidup dulu.”


“Wong Palembang nian kau nih.”


“Aih. Kejar setoran nian sepertinyo, Kak Cik.”


“Waktu itu mereka ke pasar, Jok.”


“Siapa, Gus?”


“Masayu, Dita, dan Devrie. Sekitar dua minggu yang lalu. Dita marah nian sama kau, Vi. Parah kau nih, sudah jarang ketemu sama dia, terus jarang pula SMS dan telepon.”


“Jadi?” Vio gugup.


“Dia nanya, ke mana saja Vio? Sudah jarang jemput. Sudah dak pernah lagi ngajak jalan. Terus jarang menghubungi lagi. Pokoknya dia kesal sama kau.”


“Besok-besok aku ke kampus dia. Emangnya mereka beli apa di pasar?”


“Mungkin untuk keperluan kuliah. Mereka mampir ke sini. Terus ngobrol-ngobrol. Serulah pokoknya.”


Beberapa saat mereka kembali sibuk mempersiapkan barang dagangan. Pasar mulai ramai meski tak terlalu terik. Sekarang sudah memasuki musim penghujan.


“Nanti kita bikin acara pas malam Tahun Baru. Kita buat kejutan buat cewek-cewek.”


“Aku ikut amin saja.”


***


Dimasukkannya sebuah kantong plastik kresek hitam ke kaki kanannya. Soalnya kalau tidak pakai kantong, susah sekali rasanya Rama mengenakan celananya yang amat sempit. Pasalnya kantong kresek ini licin, jadi supaya dengan gampang ujung celananya bisa dapat masuk ke pergelangan kaki. Kanan sudah, sekarang kiri pula. Dikenakannya kemeja hitam. Tas dukung dipikulnya. Rama mengenakan sepatu yang biasa dipakainya kalau sedang ingin keluar.


Pikirannya langsung mengarah ke kampus Masayu. Sebab sekarang ini dia sudah janji dengan Masayu untuk sama-sama belajar membuat puisi. Aih, sok romantis nian bujang satu ini!Rama memarkirkan sepeda motornya. Dia mengambil HP di saku celananya dan membaca sebuah pesan singkat dari Masayu.


Tunggu saja di kantin dekat Gedung C. Aku sebentar lagi ke sana. Kami pulang cepat soalnya ada dosen yang tidak masuk.


Rama berjalan di sekitar kampus dan mencari-cari tempat yang sudah diberi tahu oleh Masayu. Iringan langkah kakinya disambut hangat oleh tolehan dan lirikan mata cewek-cewek di kampus. Dia jadi pusat perhatian


“Manis nian cowok itu,” komentar seorang cewek yang lagi kumpul-kumpul di salah satu ruang kelas.


“Wah. Kau tahu dia jurusan apa?” komentar yang lain.


“Aku baru pertama kali lihatnya.”


“Dua kemungkinan,” timpal yang lain lagi. “Kalau tidak anak Olahraga, pasti anak Teknik.”


Omongan mereka terus berlanjut hingga Rama sampai tak terlihat lagi oleh mereka. Sembari berjalan dia melihat wajahnya di kaca mobil yang sedang terparkir. Dirapikannya rambutnya. Dia mendenguskan napas lega karena dia melihat tulisan “Gedung C”. Dan kantin itu tepat di samping gedung.


Badannya meliak-liuk melewati himpitan sepeda motor yang sedang terparkir. Dia sempat mengangkangi parit kecil sebelum tiba di kantin. Dia menebar pandang ke sekitar, tapi sepertinya tak ada Masayu. Rama duduk di salah satu kursi. Ada beberapa mahasiswa yang lagi makan mi ayam dan nasi goreng. Kantin ini tak terlalu luas. Sedikit pengap, tapi fan di sudut ruangan membuat ruangan menjadi sedikit lebih sejuk.


“Pesan apa, Dik?”

__ADS_1


Mati aku, duit ada lima belas ribu, apa cukup? Aaaggrrhh! Masayu pula, kenapa nyuruh ketemuan di sini? Mati nian.


“Mi ayam, nasi goreng, atau mi instan saja?”


“Eh, nanti dulu, Bu. Lagi nunggu kawan.”


Tapi, bagaimana nanti kalau Masayu mau mengajaknya makan? Tak terlalu dipusingkan Rama. Lagi pula Masayu tak mau minta yang aneh-aneh. Dan tak lama berselang tiga gadis gaul masuk ke kantin.


“Sudah lama, Ram?” tanya Masayu sedikit terengah-engah. Dia duduk tepat di samping Rama. Dita dan Devrieya duduk berhadapan dengan mereka.


“Aku jus jeruk,” cetus Masayu.


“Sama,” timpal Devrieya


“Aku jus alpukat,” kata gadis lain yang sedang merapikan rambut Emo-nya.


Ketiga gadis mengawasi Rama dan menunggu kira-kira Rama mau pesan apa. Dengan kendala ekonomi yang terpuruk, Rama berujar pelan:


“Aku dak haus.”


“Nian? Okelah, sama seperti aku saja.” Masayu memanggil bibi pemilik kantin. “Jus jeruk tiga, jus alpukat satu.”


“Yu, aku dak haus.”


“Sudah dipesan.”


“Yu, serius aku dak haus.”


“Sudah dibuat nah. Idak bisa dibatali.”


“Aih, nian aku idak haus.”


“Kami yang bayar.”


Sip. Ada acungan jempol di benak Rama.


“Kamu semua dak ada jam kuliah lagi yeh?” tanya Rama mengalihkan pembicaraan.


“Dosennya dak masuk, jadi pulangnya lebih awal,” kata Dita.


“Oh. Sekarang Vio lagi di pasar ngawani Kiagus jualan.”


“Sabar… sabar, Dit.”


“Kau enak, Dev, sama Kiagus. Kamu berdua juga.”


“Nanti kau ketemu saja dengan Vio, Dit. Apalagi bentar lagi Tahun Baru kan?” ujar Rama.


Dita menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya dan kedua siku lengannya menempel di atas meja. Mukanya cemberut.


“Bu, pesan mi ayamnya!” jerit Masayu, keempat jarinya mengacung ke atas.


Nah, mati nian.Rama mulai resah.


“Dak usah pakai bawang satu!” kata Dita.


“Tahun Baru kamu berdua mudik?” Rama bertanya.


“Sepertinya kami berdua tahun baruan di Palembang, Ram,” jawab Dita.


Empat mangkok mi ayam mendarat di atas meja. Masayu menggeser satu mangkok untuk Rama. Kedua gadis berebutan menciduk sambal cabe hijau sebab mereka berdua sama-sama hobi makan yang pedas-pedas gila. Rama yang paling terakhir makan. Entah, tidak tahu alasannya apa. Masayu melirik mangkok mi ayam punya Rama yang masih banyak isinya, sementara mangkok mi ayam punya dia sudah habis setengah. Dilihatnya Rama makan pelan sekali.


“Lagi dak nafsu makan?”


“Biaso bae ah.”


“Habisi, Ram.”


Rama bergumam. Mi yang disantapnya terasa ada yang mengganjal. Menghirup kuah? Aih, walau enak, rasanya kaku untuk menghirupnya.


“Kamu berdua langsung balik? Atau ada acara?” tanya Masayu.


“Ehem-ehem. Oke. Kami langsung pulang. Jangan sampai kami ganggu acara kamu berdua.Iya, dak, Dev?”


“Iya, kami pulang duluan saja.”


“Okelah,” balas Masayu. Lalu dia berdiri dan berjalan mendekati kasir. Rama memperhatikan itu. Masayu membuka dompetnya dan mengeluarkan duit seratus ribu rupiah. Rama memperhatikan itu. Masayu membayar semua makanan dan minuman. Rama memperhatikan itu. Masayu menerima kembalian. Dan Rama memperhatikan itu.

__ADS_1


Dita dan Devrieya berpamitan pulang. “Daaa….”


“Kita ngobrol-ngobrol di ruang kelas kosong saja yuk, Ram.”


***


Masayu mengajak Rama duduk di deretan kursi paling depan.


“Bagus-bagus dan keren-keren puisi yang kaubuat, Yu.”


Masayu malu mendengar pujian dari bujang yang berada tepat di sampingnya ini. Malu nian. Wajahnya yang berseri-seri berubah merah. “Bisa nian kau nih bikin aku terbang.”


“Katanya dak bisa buat majas hiperbola.”


“Mada’i?”


“Kalimat ‘bikin aku terbang’, itu kan sesuatu yang dilebih-lebihkan. Di-lebay-lebay-kan!”


“Kau pintar yeh, Ram. Bisa buatkan aku contoh dari aksimoron?”


Rama berpikir sejenak. Dia ingat apa yang pernah dikatakan Vio.


“Kesedihan yang menyenangkan.”


“Wah, hebat.” Padahal, Masayu tahu itu.


“Hiperbola lagi.”


Masayu tertawa.


Rama berceletuk, “Aih, nanti dulu. Kalimat itu susah dibedakan antara hiperbola dan sinisme.”


“Ram, kau yakin kalau buku puisi aku bagus. Padahal kan cuma karya yang isinya dak bermutu.”


“Nah, hm, itu… itu... itu litotes.”


“Kesenangan, kenyamanan, ketenangan, ketenteraman, semua larut dalam hati aku sekarang.”


Lalu keduanya serempak berucap:


“Asindeton!”


Sunyi.


“HA-HA-HA.”


Pikiran Rama melayang, seolah tak menunjukkan bahwa dia sedang berada di kelas ini. Menghadapi kenyataan meski pahit lebih baik daripada berkhayal walau itu senangnya bukan main.


“Tapi aku bukan mahasiswa, Yu.”


“Tunggu sebentar,” Masayu meletakkan ujung telunjukknya di kening, “Apa yeh? Aih! Emm… litotes lagi?”


“Aku serius, Yu.”


“Apa yeh?


“Serius. Mengapa rasanya aku jadi dak pantas duduk berdua di samping kau, Yu? Kau kuliah, aku idak. Aku malu.”


Masayu jadi diam. Kenapa tiba-tiba Rama berbicara demikian?


“Kalau boleh tahu, kenapa kau dak kuliah, Ram?”


“Ibu-bapakku menyuruh aku berdagang saja. Ditambah keluarga aku dak punya biaya untuk kuliah aku.”


“Kau serius pengen kuliah?”


“Iyalah. Aku kadang iri kalau sedang main di kampus kau.”


“Ngapa harus iri, Ram?”


“Entahlah.” Rama mengangkat wajahnya. Dia tersenyum lalu menoleh ke arah wajah Masayu. “Ayo kita lanjut lagi belajar. Bosan soal majas. Kan, katanya mau belajar bareng bikin puisi.”


Chemistry itu tidak hanya timbul dari khayalan yang dirangkai oleh Rama, tetapi juga timbul karena hal yang ada dan nyata seperti halnya sekarang yang dialaminya, sebuah realitas yang terbukti benarnya. Tapi apalah daya hatinya yang tak mampu untuk dipaksa. Sebab hati bukanlah pikiran yang bisa diatur-atur. Pikiran bisa saja diatur, seperti berkhayal dan berimajinasi. Itu adalah bagian dari cara berpikir yang bebas dikendalikan.


“Buku puisi kau nanti yeh aku baliki. Sudah lama nian nah. Kau hobi nian bikin puisi. Bikin cerpen juga. Mau jadi penulis?”


“Ya, hobi. Dak juga sih kalau mau jadi penulis. Rama, kau tahu, dak, kalau kau tuh seorang penyair yang hebat. Aku kagum dengan kau.”

__ADS_1


“Orang yang pandai bikin puisi belum tentu dikatakan seorang penyair. Orang yang pandai bikin cerpen belum tentu dikatakan seorang cerpenis. Seperti juga dengan orang yang pandai menulis novel, belum tentu dianggap seorang novelis. Bahkan seorang sarjana sastra pun belum bisa dikatakan seorang sastrawan.”


***


__ADS_2