Romansa Melayu Zaman Now

Romansa Melayu Zaman Now
16. Idealis Pecundang


__ADS_3

Di tangga rumah panggung besar kedua bujang itu tengah duduk merokok. Menunggu satu kawannya yang sedari tadi tidak tampak batang hidungnya.


“Mau minum kopi, Gus?”


“Dak usah repot-repot, Ram.”


“Aih, kau ni, memangnya kita baru kenal hari ini, apa?”


“Nantilah kalau Vio sudah datang baru bikin kopi.”


Rama duduk di samping Kiagus.


“Apa cerita hari ini sama Devrie?”


Kiagus menghela napas. Rasanya seperti tak enak. “Seperti itulah, Jok.”


“Aih, apanya yang seperti itu? Jelasilah, Jok!”


Kiagus mengingat-ingat kejadian sore tadi. “Kami sudah janjian mau ketemu, tapi cuma di tempatnya saja, katanya melalui SMS. Terus dikasihnya alamat kosnya. Sekitar jam lima aku sampai di sana. Rupanya dak jauh dari Masjid kos dia. Aku duduk di depan.Pas di sana, dia sibuk terus dengan HP-nya, Ram. Dak mau bicara sama aku.”


“Gus, Gus, bukannya kau ini pendiam?”


“Iya, tapi kan setidaknya, Jok, dia dak sibuk dengan HP-nya pas lagi ada orang yang ingin bicara dengannya. Aku banyak melongok seperti orang idiot. Sementara dia menunduk. Diam. Sibuk sendiri.”


Rama mengangkat bahu, lalu berbicara lembut pad Kiagus. Dan bujang yang sedang ditimpa bencana kegalauan ini mendengarkan dengan khidmat dan dengan hati yang menerima. Kiagus diam seolah sedang mendengarkan khotbah Jumat dan bakal bilang pada Devrieya tentang apa yang tadi disarankan oleh Rama.


“Sip. Terima kasih, Ram.”


“Itulah gunanya kawan. Kalau lagi ada masalah, cerita, jangan berdiam diri. Mau-mau kumpul dengan manusialah intinya.”


Sudah jam 8 lewat. Tapi Vio juga tak muncul-muncul. Berulang kali Rama dan Kiagus menelepon Vio. Tapi tak diangkat-angkat. Rama coba menghubunginya lagi.


TUUUT… TUUUT… TUUUT


Sambil mendekatkan HP-nya ke kupingnya, Rama menunggu cukup lama.


“Ayo Vio, cari HP-nya, cari HP-nya! Mungkin di kantung, atau di mana? Ayo cari HP-nya! Kalau sudah dapat, tekan hijau, Idiot!Ayo! Apa susahnya sih tekan hijau? Jangan tekan merah, bahaya, tahu dak kau?! Angkat teleponnya, Bodoh, angkat!”


Kiagus menatap wajah Rama yang aneh.


“Cepat angkat, nanti mutung. Agggrrrhhh! Bagaimana kau ni sih?!”

__ADS_1


Sementara di Silaberanti, pantat Dita yang bohai baru take off dari jok vespa butut itu. Gemerincing bunyi besi pagar yang beradu-adu seolah penutup dari cerita seru mereka malam ini. Vio mengucapkan terima kasih banyak. Terutama soal sudah menalangi anggaran belanja proses per-PDKT-an-nya. Lalu kepulan asap hitam beterbangan di sekitar kos. Pas tiba di jalan besar Vio mengecek HP-nya yang sedari terus berontak.


“Dua puluh tiga panggilan dak terjawab dan sebelas SMS. Rama tiga belas kali nelepon, Kiagus sepuluh. Wah, Rama masih unggul tiga angka. Kalau SMS… Rama, Rama, dari Rama, dari Rama, Kiagus, Kiagus…. Wah, Rama menang lagi, tipis, cuma seangka.”


Karena Rama sudah menang, jadi dia menghubungi Rama. Dia menempelkan HP-nya ke kuping. Tak lama, Rama yang lagi di Sekanak sana segera memencet tombol hijau dan siap menyemburkan ocehan. Benar saja, belum sempat Vio menyapa, Rama langsung mencuri start pembicaraan.


“Gilo kau ni, ke mana bae kau? Ditelepon dari tadi dak diangkat-angkat! Kami dari tadi nunggui kau. Mentang-mentang lagi sama cewek, lupa yeh sama kawan. Gilo nian kau nih!”


“Assalamualaikum.” Suara Vio terdengar halus, pelan, menghanyutkan, dan membuat Rama jadi terenyuh. Maka hilanglah amarah Rama.


“Wa’alaikumussalam.”


“Nah, kan lemak kalau seperti itu.”


“CEPATLAH SEKARANG KE RUMAH AKU!”


KLIK!


Vio terkejut hebat bak mendengar jeritan dinosaurus. Vio menarik gas dengan kencang. Angin malam menerpa-nerpa wajah kotaknya. Sehingga tulang di wajahnya jadi semakin terlihat. Rahangnya bertambah aneh kalau malam. Sementara lengannya yang kurus jadi semakin kurus karena cuaca yang dingin. Seolah hanya ada kulit yang melapisi tulang.            Suara vespa lenyap, ocehan Rama terbit.


Dari tangga Rama merepet. “Parah, gilo nian lanang sikok ini!” Dalam bahasa keren anak-anak gaul Jakarta, maksud Rama adalah: Parah, gila banget cowok satu ini!


“Harus lupa dengan kawankah?”


“Ya sudahlah, maaf, Kapten, maaf. Bikin kopi dulu, sana, baru ngocehlah sepuasnya sampai mulut kau berbusa.”


“Lancip nian.”


“Kawan?” Vio menunjuk-nunjuk Rama sambil berkacak pinggang. “Hm!”


“Gus, inilah yang namanya cinta memang buta. Membutakan mata, mata perkawanan.”


“Hooooaaaa….” Vio menguap. “Hm, enak ngopi malam-malam seperti ini.” Melihat ada bungkus rokok terkapar di tangga, dengan cepat Vio menyabetnya, mengambil sebatang, menyalakan rokok itu, maka diisapnyalah, ditahan sebentar, “Huuuuuu….” Asap rokok mengepul-ngepul.


Di dapur Rama menuangkan bubuk kopi hitam ke dalam tiga buah cangkir, lalu ditambahkannya gula dan air panas. Diaduk-aduknya ketiga cangkir kopi secara bergilir. Bak seorang waiter, dengan elok dia menurunkan nampandi dekat tangga.


Vio bersorak, “Woah, mantap! Ayam berkokok pagi-pagi. Kalau merokok, enaknya sambil ngopi.”


“Pasti,” jawab Kiagus.


“Ram, Ayu sudah tidur?” Vio bertanya.

__ADS_1


“Lagi belajar.”


“Tolong panggili.”


“Nak ngapai kau, Jok?”


“Aih, suruh sini. Jadi seperti di kafe-kafe. Ya, dak, Gus?”


“Pasti, seru itu, Jok. Tapi, memangnya kau sudah pernah ke kafe, Vi?”


“Belum.”


“Aih, sok tahu nian kau ni, Jok. Lancip nian ujung lapan kau ni,” kritik Kiagus.


“Ram, ayolah, Jok, suruh adik kau tuh ke sini. Kita ngobrol-ngobrol.”


“Diamlah!” bentak Rama.


“Ini kawan?”


“Ini sudah malam, Idiot. Dak baik. Lagi pula, dak sudi aku kalau kau jadi ipar aku.”


“Kelewatan omongan kau, Ram.”


“Aih, sudahlah, kita bahas masalah yang lain saja. Sekarang ceritai tentang tadi kau sama Dita.”


Vio meniup-niup kopinya yang panas sehingga butiran-butiran kopi yang timbul di permukaan itu bergeser. Dia mulai menyeruputnya dengan nikmat. Sleeeepppp.


“Mantap nian! Ini buatan adik kau, Ram?”


“CERITALAH!!!”


Omongan Vio soal kejadian tadi sore hingga malamini terus keluar melalui mulutnya. Sesekali dia terkekeh-kekeh, lalu melanjutkan ceritanya lagi. Sementara kedua kawannya serius menghayati.


Sepertinya Rama mesti libur malam ini mengkhayal akan kebahagiaan bersama Masayu. Pikirnya, mendingan Kiagus, yang meski pahit dijalani dan sesak dirasai, namun ada dan nyata. Maka dari itu ada sebuah intuisi yang terbit di dalam kepalanya untuk membuatnya bangkit dari dunia utopia yang jauh daripada logika lalu mengepakkan sayap dan terbang tinggi menuju dunia empiri yang nyata kemudian menjalani semua ala kadarnya sampai akhirnya menjadi orang yang mampu bersikap realistis akan kehidupan yang indahnya bukan main.


Meski dia mahir dalam mengeksploitasi imjinasi dan mengolahnya menjadi sebuah hiburan menarik bahkan memanifestasikannya bak serupa tontonan di otak kanannya, namun akhirnya Rama sadar akan ihwal yang dilakukanya. Sampai kapan menikmati sandiwara asmara di dalam lingkaran ilusi tak nyata? Sampai kapan berdiam diri menahan gejolak rasa, bila diungkapkan maka bahagialah bagi para pemilik hati?


Bagi Rama, seorang idealis pecundang itu, besok, ketika mentari telah terbit lagi, di sana akan terbit pula sebuah ihwal dalam menerima setiap realita yang meski pahit dia akan tetap menerima. Tidak akan lagi dia menjadi bujang yang asyik dalam keseruan menikmati rangkaian cerita fiktif nan subjektif yang disutradarai dan dilakoninya sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2