
Sore nan permai di Taman Kambang Iwak Besak. Taman kota ini dijejeri pepohonan yang rimbun. Mahoni atau dalam bahasa Swietenia macrophylla dan trembesu atau Fragraea faargans roxb menjadi peneduh bagi setiap penat. Limpahan sinar mentari senja terhalang oleh kokohnya pepohonan nan rindang. Di tengahnya, air kambang/danau beriak-riak karena dorongan kincir kecil, bergelombang-gelombang, bahkan seolah berjingkat-jingkat menampilkan panorama kesejukan.
Rerumputan hijau dan gemerisik dedaunan bermegal-megol karena desau angin petang yang sendu, lembut, menggoda, berbisik, dan menenangkan. Banyak orang yang sedang joging di jalan yang melingkar di Kambang Iwak. Langkah kaki mereka saling beriringan untuk membuat raga jadi sehat, membakar kalori, membuat peredaran darah jadi lancar, dan tentu saja untuk menghibur jiwa di kala luang selepas seminggu lamanya berkantor. Sementara tiga bujang yang lagi nongkrong itu, kenapa tak joging?
“Proyek kita mesti cepat dijalankan,” ujar Vio sambil melempar batu kecil ke air. Sebuah tindakan terlarang selain dari memancing di sini.
“Kira-kira kapan kita mulai nge-band?” tanya Kiagus.
“Besok jadi. Tanganku sudah gatal rasanya karena sudah lama dak megang bass.”
“Ya sudah, besok kita mulai nge-band,” timpal Rama.
Vio memeras-meras jari-jari tangannya sembari berkoar memuntahkan omongan yang sedari kemarin-kemarin bersembunyi di dalam otaknya. “Sekarang ini di Indonesia sudah banjir band-band yang menyanyikan lagu-lagu cengeng. Dikit-dikit galau, dikit-dikit galau. Kita harus bertindak keras terhadap keterpurukan nasib para bujang. Kalau lagi galau, ya jangan dengar lagu galaulah, kan tambah galau jadinya. Kita harus ngubah pola piker pemuda-pemudi Tanah Air biar dak tercuci otak oleh serangan maut lagu-lagu galau!” Ocehan Vio terus berbalap-balapan dengan mulutnya yang termonyong-monyong. “Tak sudi aku dengan invasi dan serangan lagu-lagu yang membuat hati menjadi luluh tak terperi! Sudah saatnya kita membangun perubahan, dengan inovasi lagu-lagu punk!”
Sedari tadi Rama dan Kiagus memperhatikan mimik muka Vio yang serius. Ingin Rama angkat bicara, tapi Vio terus menerabas.
“Putus cinta, mulai dengar lagu galau, nyanyi lagu galau. Industri musik dikuasai oleh lagu-lagu berkasta cetek, membosankan!”
Segerombolan anak-anak punk, ramai sekali, belasan jumlahnya, lagi asyik nongkrong juga di Kambang Iwak. Rama mengawasi mereka dari kejauhan. Meskipun Rama hobi dengan punk, tapi dia tidak ingin berpenampilan lebih dan berkelakuan galak serupa halnya dengan anak-anak punk tersebut.
“Jangan sampai kita pakai piercing dan tato. Kita boleh berpenampilan punk. Tapi jangan sampai brutal dan anarkis,” tutur Rama.
Seringkali remaja-remaja tanggung yang berpakaian serba hitam itu mengganggu ketenangan sekitar, suka tawuran, mabuk, membuat onar, dan berkelakuan semaunya saja. Streetpunk, lebih tepatnya mereka. Anggotanya adalah remaja dan dewasa muda. Rata-rata mereka masih bersekolah, SMP dan SMA. Serta ada juga mereka yang tak mengenyam pendidikan sampai sederajat itu. Memakai anting dan menempelkan tato binatang, tengkorak, dan berbagai tulisan aneh tak asing bagi mereka. Kegiatan mereka cuma nongkrong, ngobrol-ngobrol, asyik merokok, minum minuman beralkohol, memakai drugs, dan bernyanyi serta berdansa ria.
Kalau mood mereka lagi bagus, syukur pada Tuhan. Kalau mood mereka sedang jelek, na’udzubillah. Nakal di dalam bus kota, jambret, begal, berontak, rusuh sehabis nonton bola dan membuat keributan di acara konser musik. Tindakan mereka tersebut bukan tidak beralasan karena mereka melakukan itu lantaran merasa terpinggirkan, ditindas oleh kemapanan orang-orang tinggi, merasa terbelenggu oleh aturan dan ketidakadilan dari para penguasa, dan hilangnya kepercayaan dari sekitar. Namun ada juga mereka yang aksis dan berkarya. Tidak suka membuat gaduh. Intinya mereka main aman. Yang diketahui oleh Rama ada istilah Skatepunk. Dilihat dari sebutannya, dia sudah tahu kalau anggotanya hobi berbusana ala punk dan senang bermain skate. Skatepunkers, itulah sebutan orang-orang yang mengikutinya.
Sejak tahun 1980-an punk merajalela di Amerika. Di sana dan ketika itu tingkat pengangguran dan kriminalitas tinggi yang dipicu oleh para penguasa dan pelaku politik. Oleh karenanya punk berusaha menyindir orang-orang yang sudah menyebabkan kemerosotan moral dengan musik keras dan kadang-kadang kasar. Lirik-lirik lagu mereka banyak bertema lingkungan, sosial, politik, dan agama, terutama sikap mereka terhadap para orang-orang yang tinggi. Karena itu punk merupakan sebuah gerakan perlawanan dari anak muda yang berdasarkan “We can do it ourselves”. Selain bentuk genre musik, punk juga termasuk fashion.
Punk lebih dikenal dengan style mereka, seperti berambut mohawk dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, memakai sepatu boots, bercelana hitam ketat, berbaju lusuh, memakai rompi hitam, berjaket kulit hitam menyeramkan, bertindik, dan bertato. Punk, selain identik dengan kekerasan, juga bersikap antikemapanan dan asosial. Maka dari musik dan gaya itulah punk mengandung nilai kesenian. Punker juga punya pola pikir: bahwa hebohnya appearances mesti disertai hebohnya ideas.
DO IT YOURSELF!
***
“Aih, capek aku. Istirahat dulu yuk!”
Masayu dan Dita masih bersemangat. Terus berlari. Tak peduli rengekan manis Devrieya.
“Dev, baru dua putaran,” keluh Dita.
Mereka berlari sambil berjejer-jejer. Sepatu mereka menghentak-hentak lantai jalan yang kering. Dedaunan yang tadi rontok tersepak-sepak oleh kaki-kaki mereka yang aduhai.
__ADS_1
“Selain di Kambang Iwak, di mana lagi kau biasa joging, Yu?”
“Di sekitar stadion Jakabaring, Dit. Kadang juga di sekitar kompleks.”
“Oh, pantas badan kau langsing, singset, dan… sexy.”
“Bisa nian kau ni, Dit.”
Devrieya yang imut dan jutek, masih dalam keadaan terengah-engah, mencoba untuk berbicara. “Berapa putaran lagi kita nih? Huh, huh.”
“Semangat dong, Dev, kapan lagi bisa lari-lari di taman kota? Biasanya kita lari-lari di kebun dan di hutan.”
“Iya deh, iya.”
“Kapan kau mulai pacaran sama Dodi, Yu?”
“Pas SMA kelas satu.”
“Lebih dari tiga tahun berarti.”
“Yap. Memangnya kenapa, Dit?”
“Dak apa-apa, cuma tanya. Apa yang bikin kau bisa cinta sama dia?”
“Jelasi coba!”
“Yang pasti ganteng, keren, macho, baik, perhatian, pengertian, sabar, dan bla… bla… bla… bla… berani!”
“Maksudnya berani, Yu?”
“Cuma dia yang berani nyatai cinta di hadapan aku. Secara langsung. Jujur, dulu waktu SMA banyak cowok yang naksir sama aku, tapi aku cuek. Sama Dodi pun juga begitu, awalnya aku cuek, Dit. Dia hebat nian! Terus berusaha walaupun sering aku cueki. Dia dak pernah putus asa buat ngejar cintanya. Dak kusangka dia setangguh itu. Jadi aku sudah percaya sama dia.”
“Oh, sudah pernah ketemu sama papa-mama kau, Yu?”
Masayu menggeleng.
“Kok belum?”
Masayu memperlambat larinya sambil mengembuskan napas getir.
“Nantilah, Dit, belum saatnya.”
__ADS_1
“Tapi kan setidaknya silaturahmi. Apalagi kalau kau yakin bahwa dia bakal jadi jodoh kau, Yu. Pacaran tiga tahun, tapi dak kenal calon mertuanya. Dia yang dak mau mengenal keluarga kau, apa kau yang dak ngijini?”
“Pokoknya, Dita, nanti dia pasti menemui keluarga aku. Titik!”
***
“Tengoklah cewek-cewek itu, mantap yeh? Woah, bukan main eloknya,” seru Vio sambil menaik-nurunkan alisnya. “Aku cewek yang berponi. Gus, kau yang mana?”
“Ketiga-tiganya berponi.”
“Aku yang paling kiri. Kau yang paling kanan saja.”
“Okelah, aku yang paling kanan.”
“Dilihat dari belakang, yang paling kiri itu yang paling bohai. Pasti mukanya cantik. Ya, dak, Gus?”
“Pasti, Jok.”
“Kalau yang paling kanan, bagaimana?”
“Menurut kau?”
“Sesuai dengan selera kau pastinya. Dari gaya larinya, seolah dia manggil-manggil nama kau, Gus.”
“Yo’i, Jok.”
“Pas nian dengan kita.”
“Pasti.”
Vio mengusap-usap dagunya. Mulai sok tahu. Berkoarlah dia, “Sepertinya mereka bertiga itu anak kuliahan.”
“Aku sependapat dengan kau, Jok.”
“Dari penampilan, gaya lari, dan goyangan mereka pas lagi lari, benar-benar menunjukkan kalau otak-otak mereka encer! Bukan main! Anak kuliahan, Jok! Kapan lagi kita bujang-bujang Palembang pengangguran ini bisa dapat pacar anak kuliahan yang keren?!”
“Sama, aku juga yakin kalau mereka itu kuliah.”
“Kaya pula.”
“E-e”
__ADS_1
“Rambut mereka sepertinya emo lagi. Bukan main!”
“Buka main!”